COVER FROM PINTEREST
Max Winston menikahi Elena Gilbert bukan semata-mata untuk mempertahankan mansion tua nan mewah milik keluarga Gilbert. Tanpa Elena ketahui, Max telah jatuh cinta padanya sejak lama dan terus memperhatikannya selama 7 tahun. Mansion tua keluarga Gilbert memang salah satu alasan, tapi alasan terbesarnya hanya Max yang mengetahuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[11] Dari Mata Turun ke Hati
MAX POV
Kepalaku terasa pening. Beberapa jam yang lalu ketika aku menghubungi Tina untuk memberitahunya tidak bisa pulang cepat, Tina bilang Elena terlihat sangat pucat. Awalnya aku dan Aaron harus memeriksa kembali kerja sama dengan salah satu stasiun TV swasta, tapi akhirnya aku urunkan dan segera kembali ke rumah.
Aku tahu beberapa hari ini dia sulit sekali makan. Bahkan ketika bersamaku, dia semakin terlihat ragu untuk memakan semua makanan yang pelayan sajikan. Rasa trauma kemarin pastinya membekas dipikirannya. Ketika malam, dia juga tidak bisa tidur. Ketika pagi, aku lihat dia sudah berada di balkon memperhatikan taman yang indah.
Ternyata benar apa yang orang katakan. Ketika kita mencintai seseorang, rasa apapun yang dia rasakan pasti bisa kita rasakan juga. Semenjak Elena hadir di hidupku, jadwal kerjaku jadi berantakan. Aku ingin terus pulang meski akses rumah sudah aku ketatkan. Aku tidak ingin siapapun bahkan keluargaku sekalipun datang menginjakkan kaki ke rumahku ketika aku tidak ada di rumah. Aku tidak mau Elena kembali mengalami hal menyeramkan kemarin untuk ke dua kalinya.
““Max! Tidak bisa! Kita tidak bisa bersama! Aku tidak mau menikah denganmu! Mereka akan semakin menyakitiku. Aku takut! Aku tidak mau mati! Aku mau pulang! Aku mohon!” teriaknya membuat hatiku merasakan sakit sembilu yang dalam.
Tuhan! Tidak bisakah kami mencintai satu sama lain? Ketika orang di luar sana bisa mencintai kekasihnya dengan mudah tanpa ada halangan. Aku di sini harus meyakinkan Elena kalau aku bisa melindunginya. Aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku. Aku mencintainya. Sungguh mencintai dirinya. Aku ingin membuatnya terikat padaku. Bagaimanapun caranya, aku ingin dia berada di sisiku.
“Tuan, ada apa?” tanya Tina membawa bubur dan juga vitamin yang aku minta.
Aku pun melepas kunci kamar kami dan memberikannya pada Tina. “Aku percayakan padamu. Temani dia hingga tenang. Aku akan bekerja di ruanganku. Jika ada sesuatu kau bisa menemuiku,” ucapku dan Tina mengangguk.
“Oh ya, bagaimana mengenai Jon?” tanyaku mengingat anak sulung Tina yang sudah kuputuskan untuk menjaga Elena belum juga datang. Aku rasa, ini udah saatnya dia bekerja.
“Saya sudah memberitahunya, Tuan. Tapi Jon masih tidak bisa jauh dari keluarganya,” kata Tina menjelaskan membuatku lupa kalau Jon punya anak dan istri.
Selang setahun setelah kejadian Jon melukaiku. Mereka pun menikah di lapas tahanan dengan sederhana. Ryan, anak mereka pun selamat dan berhasil menjalani operasi. Aku tidak begitu tahu siapa yang akhirnya bisa meminjamkan uang pada Jon, tapi aku rasa itu bukan Ronald. Ronald tipikal pria yang keras kepala dan tidak peduli. Jadi aku yakin bukan dia yang memberikannya, tapi itu bukan urusanku.
“Mereka semua bisa datang ke sini. Selama Jon bekerja, istrinya bisa bekerja sebagai pelayan dan pendidikan Ryan aku yang biayai.”
“Terima kasih, Tuan. Terima kasih! Saya akan memberitahu ini,” kata Tina pastinya sangat senang karena bisa bertemu dengan cucunya setiap hari.
Aku pun segera pergi meninggalkan Tina. Namun sebelumnya aku tidak lagi mendengar suara Elena yang berteriak. Sementara Tina membuka pintu kamar dengan pelan.
***
Flashback
“Max?” aku dengar suara seseorang memanggilku.
Saat ini aku berada di kantor Irene. Ayah bilang keluarga Gilbert adalah musuh kami. Mereka yang membunuh ibuku dan kini saatnya aku membalaskan dendam pada mereka. Tentunya, aku akan membuat anak Gilbert jatuh cinta padaku lebih dulu. Sedikit demi sedikit, aku akan membuatnya tersiksa karena sudah membunuh ibuku.
“Irene?” tanyaku mengulurkan tangan pada wanita bernama Irene.
Rambutnya sebahu, matanya sangat tajam dan sekilas saja aku bisa lihat dia sangat ambisius.
“Senang bertemu denganmu! Ayah bilang, dulu ayahmu bersahabat dengan ayahku. Kita sering main bersama, tapi aku tidak begitu ingat kapan tepatnya, ha ha ha,” tawanya dan aku hanya bisa tersenyum.
Apakah baginya lucu? Ayahnya mencintai ibuku dan berusaha memisahkan ayahku supaya bisa menikah dengannya yang jelas-jelas sudah mempunya istri. Ayah bilang, Gilbert adalah orang yang serakah! Ibuku memang sangat cantik. Karena itu, Gilbert sangat tertarik pada istri sahabatnya sendiri yang akhirnya berujung kematian. Jika dia saja tidak bisa menikah dengan ibuku, maka siapapun termasuk ayah, tidak akan bisa memilikinya.
“Oh ya maaf, silakan duduk,” kata Irene mempersilakanku duduk. “Mei, tolong bawakan minum untuk Max,” katanya, tapi aku langsung melambaikan tanganku.
“Oh tidak usah, aku tidak bisa lama-lama. Kebetulan aku hanya ingin mengajukan proposal kerja sama dengan perusahaanmu.”
“Hm oke, aku rasa kau tidak perlu jauh-jauh ke kantorku. Kita bisa bertemu di luar supaya lebih santai,” ucapnya kali ini dengan senyuman yang lebar.
Aku tidak bisa bohong kalau dia cukup cantik, tapi rasanya tidak begitu membuatku tertarik dengan tawarannya untuk makan di luar.
“Kakak!” Baru saja aku ingin mengatakan sesuatu, aku melihat seorang wanita berambut panjang sepunggung berlari ke arah Irene.
Baru kali ini, aku seperti melihat sosok bidadari cantik yang baru saja pulang sekolah. Pakaian sekolah anak SMA yang khas dan juga senyumannya yang mengembang membuat dadaku merasakan sesuatu tidak keruan.
“El, kakak kan sudah bilang untuk selalu ketuk dulu! Kakak sedang ada tamu!” ucap Irene khas dengan nada kesalnya.
“Max, maaf! El memang sulit diperingati sekali!” Irene menyengir ke arahku seraya menepuk bokong wanita yang dia panggil El itu seperti isyarat untuk meminta maaf padaku.
Sementara Elena mencemberutkan bibirnya dan membalikkan tubuhnya ke arahku. “Maaf,” katanya menundukkan kepalanya, tapi aku hanya mampu tersenyum melihatnya.
“Tidak apa-apa. Bagaimana jika besok kita ketemu di luar?” tanyaku.
“Baiklah! Sementara aku terima dulu proposalmu, besok kita bicarakan lagi,” kata Irene dan aku meminta Leo, tangan kanan ayah untuk memberikan proposalnya.
“Bagaimana jika besok adikmu ikut juga?” tanyaku pada Irene yang membuatnya terkejut.
“Oh itu, Elena harus les privat sampai sore,” kata Irene dan Elena terlihat kembali mencemberutkan bibirnya.
Elena. Nama yang cantik! Sesuai dengan orangnya yang sangat cantik. Rasanya gemas sekali dan entah kenapa hatiku mengatakan bahwa keluarga Gilbert bukanlah orang yang jahat. Mereka adik-kakak tapi Irene terlihat sangat bertanggung jawab pada adiknya meski orang tua mereka sudah tiada.
“Kak tapi aku mau makanannya ya!” kata Elena membuatku menahan tawa.
Aku ingin sekali memiliknya. Gadis kecil! Suatu saat kau akan menjadi milikku!
“Iya, iya nanti kakak bawakan untuk kamu. Kamu bisa ke sini ya besok setelah belajar,” Irene mencubit hidung adiknya.
Rasanya tenang melihat mereka berdua. Wanita bernama Elena ini membuat dadaku berdesir hebat. Sejak saat itu, aku sering menggali informasi tentangnya. Menyimpan berbagai foto dan sering diam-diam cemburu ketika melihatnya bersama orang lain. Terutama ketika dia sering sekali bertemu dengan pria bernama Arnold.
Flashback End
***
Banyak tanda-tanda bintang gitu. Just ignore it geys, gak tahu kenapa muncul. Nah itu pertemuan pertama Max sama Elena. Elena gak tahu kalau Max sebenarnya udah suka dia dari kapan tau... Awalnya Max percaya kalau yang bunuh ibunya itu ayahnya Irene dan Elena, tapi kok dia merasa aneh. Akhirnya dia nyelidikin dulu dan jeng jeng jeng... cerita kita masih panjang. Akan terungkap satu persatu geys~ ditunggu!