ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUKUNGAN IBU
Perilaku Andi Shadam terhadap Ibnu memberikan dampak yang cukup signifikan bagi hubungannya dengan Alda. Bukan semakin menjauh, akan tetapi membuatnya semakin mendekat.
Satu hal yang dipahami oleh Alda, bahwa dia memiliki ketertarikan terhadap Ibnu. Hingga dia pun tak mengendurkan intensitas komunikasinya dengan pria tersebut. Kadang kala, Alda meminta tolong untuk diantarkan dan dijemput tanpa merasa sungkan.
Ibnu pun menerima dengan sepenuh hati. Pemikirannya, bahwa ada resiko yang harus dibayar demi meraih posisi di hati wanita itu. Mencoba mengumpulkan puing-puing percaya diri yang tercecer oleh sikap penolakan Andi Shadam.
Ibnu juga berusaha membagi bebannya kepada Sang Ibu. Mencari solusi dari hatinya yang dilanda kebimbangan.
"Selalu ada harga yang dibayar dari setiap keinginan, Nak."
"Kali ini beda, Bu."
Bu Hilda tersenyum. "Katakan perbedaan itu!"
Ibnu memperbaiki posisi duduknya dan menghela napas berat. Pria itu memutar memori ingatan, awal mula pertemuannya dengan Alda hingga tercipta benih-benih perasaan diantara keduanya.
"Putri Andi Shadam Marolah," ucapnya dengan suara parau.
Bu Hilda terdiam. Dia mencerna baik-baik nama tersebut. Mengulang berkali-kali suara putranya yang terekam baik oleh otak. Sungguh, nama yang tidak asing.
"Seorang yang berpengaruh di kota ini."
Penjelasan Ibnu membuat Ibu Hilda menjangkau seraut wajah mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah beberapa tahun lalu.
"A-apa ibu tidak salah dengar?" sekali lagi untuk memastikan.
Ibnu menggeleng. Ia menunduk seraya mengusap wajah, kemudian melipat bibir. Kelancangan telah membawa dirinya dalam pusaran dilema.
Lalu, wanita paruh baya itu?
Terdengar hembusan napas panjang dari Bu Hilda. Dia sama sekali tak menyangka akan hal tersebut. Tentu berbicara perbedaan, ini tidak lah sedikit.
"Ibnu ...."
Keduanya saling bersitatap.
"Sejak kapan kalian kenal?" tanya wanita paruh baya itu dengan suara lembut. Mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Belum lama ini."
"Apa yang membuatmu jatuh hati?" kali ini, diiringi dengan senyum manis seakan mengikis ketegangan yang sempat melanda.
Tak disangka, kekehan kecil pun sebagai balasan dari Ibnu. "Dia ... wanita yang istimewa, Bu. Cara dia memperlakukan Ibnu dengan baik tanpa memandang status Ibnu sebenarnya."
"Hanya itu?" pungkas Ibu Hilda.
Ibnu kembali menerawang. "Dia ... cantik, Bu. Hatinya pun sangat cantik."
Bu Hilda tertawa. "Cantik mana dibanding Ibu?" Kedua alisnya terangkat menggoda.
Rona merah tampak di wajah Ibnu Rajab. Menggambarkan sosok Andi Alda Marolah membuatnya lupa bahwa, dia sedang berbicara dengan Sang Ibu.
"Oke katakan! Kapan Ibu bisa bertemu dengannya?"
"Tap-"
"Jangan memikirkan sesuatu yang membuatmu tak percaya diri, Nak. Kita memang berbeda dengan keluarga itu. Tapi tak ada salahnya kita mencoba."
Sederet kalimat Ibu Hilda membuat Ibnu menelan ludah. Rasanya begitu menyejukkan di tengah kegundahan menantikan keajaiban yang terjadi.
"Ibu akan membantu semampu Ibu. Jika memang wanita itu memiliki rasa yang sama, segera tunjukkan kediaman Andi Shadam. Ibu akan melamarkan untukmu."
DEG!
Ibnu membelalakkan mata.
Melamar?
Setelah mengetahui siapa keluarga Alda dan bagaimana mereka, ia belum mampu memikirkan hal tersebut. Tapi respon yang diberikan Ibu Hilda, sungguh membuat Ibnu merasakan kelegaan berkali lipat. Keyakinannya mulai dipupuk kembali dalam sekejap.
"Ibu serius?"
"Apa Ibu tampak bercanda?" Ibu Hilda kembali melempar pertanyaan.
Pria tampan itu menegakkan duduknya. Ada euforia kebahagiaan yang ia rasakan. "Maksud Ibnu ...."
"Sudah! Ibu tidak mau dengar maksud kamu. Lebih baik fokus dan berdo'a. Perjuangkan jika memang itu patut untuk diperjuangkan. Ingat! Masalah hasilnya, serahkan pada yang di Atas."
Ibnu meraup Ibunya dalam dekapan. Menciumi setiap sisi wajah Ibu Hilda membuat wanita paruh baya itu berpura-pura protes
"Hei!" seraya memukul lengan putranya.
"Terima kasih banyak Ibuku ...."
"Iya ... tapi lepaskan Ibu." Berusaha melerai pelukan.
Ibnu mengabulkan dan membiarkan ibunya terbebas. Ingin rasanya ia melompat kegirangan dan berteriak. Namun sekuat tenaga ia tahan.
.
.
.
.
.
Author AAH♥️ datang lagi🤭
Mohon maaf readers tersayang, belakangan ini jadwal update semakin lama. Maaf🙏
Author memiliki kesibukan lain yang menuntut untuk segera diselesaikan.
Yang ngikutin Instagram AAH pasti tahu tuh. Dan belum berteman dengan Author di sosmed yok! Follow Instagram 'asriainunhasyim'.
Salam Sayang
AAH♥️
smg ibnu jg bisa mncintai nana