Kisah cinta seorang wanita yang berlumuran dosa yang dipertemukan dengan lelaki sholeh
Thara dijodohkan dengan Ayaz lantaran tidak tahan dengan sikap anaknya yang liar dan diluar kendali. Surya yang merupakan ayah dari Thara memilih Ayaz, yang merupakan murid teladannya dulu. Dia yakin bersama Ayaz, Thara akan berubah menjadi wanita baik-baik. Mengingat reputasi Ayaz yang gemilang dan juga ke shalehannya.
Namun keluarga Ayaz tidak setuju anaknya dinikahkan dengan wanita liar seperti Thara. Ibunya takut hal itu akan membuat malu nama baik keluarga. Namun karena Surya banyak berjasa pada Ayaz. Membuat pria itu mau tidak mau menyetujui perjodohan itu.
Lalu bagaimana rumah tangga mereka, mengingat sifat mereka yang sangat jauh bertentangan.
Apakah Ayaz mampu mendidik istrinya? membuat Thara jatuh cinta atau malah menyerah karena tidak tahan dengan wanita itu.
"Tidak ada yang menginginkan pernikahan ini! untuk apa ditanggapi dengan serius. Urus, urusanmu sendiri. Jangan ikut campur dengan urusanku!!"
"Memang kita tidak menginginkan pernikahan ini, tapi ketahuilah bahwa segala sesuatu yang terjadi atas kehendak ALLAH. Kau adalah amanah dari ayahmu untukku, Thara. Dan tanggung jawabku begitu besar terhadapmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aff18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12-
THARA POV
Jidah terus mengajakku mengelilingi panti ini. Begitu besar dan mewah. Namun ternyata penduduknya pun bukan hanya anak-anak. Melainkan ada beberapa remaja dan wanita dewasa. Aku melihatnya dari kejauhan. Mereka nampak baru saja pulang dari sekolahnya.
"Kamu tahu, bangunan besar yang ada disebelah panti ini?" aku kembali menatap kearah jidah. Dan segera menggeleng karena tidak memperhatikan bangunan apa yang dia maksud.
"Itu adalah pondok pesantren yang didirikan oleh suamimu. Lebih tepatnya, dia adalah pemegang sahamnya. Dan orang lain yang mengelolanya. Dengan maksud dan tujuan, agar anak-anak yatim yang tidak mampu juga bisa merasakan bersekolah di pondok pesantren. Mengingat biaya pendidikan sekarang mahal, Ayaz berinisiatif untuk membantu para anak yatim untuk menuntut ilmu agama dengan mudah tanpa harus mengalami kesulitan."
Aku terpaku. Tentu saja aku kagum sama suamiku itu. Disini jidah terus menjelaskan. Dan aku hanya mendengarkan dengan seksama. Biasanya aku paling males dengerin orang cerita yang nggak penting kayak gini. Tapi kali ini, aku cukup tertarik mengenal lebih dalam sosok Ayaz.
"Satu hal yang membuatku kagum padanya. Dia ingin agar semua anak-anak mendalami ilmu agama. Setidaknya dengan cara mereka bisa mengaji, mereka bisa mendoakan orang tua mereka. Menghadiahkan ayat-ayat suci Al-Quran untuk orang tua mereka yang telah tiada."
Apa? kali ini aku terhenyak. Demi apapun! aku benar-benar tertampar dengan ucapan itu. Ya Allah... bagaimana nasibku yang nggak bisa mengaji sama sekali? bagaimana caraku untuk menghadiahkan Papi sama Mami disana.
Tanpa terasa, air mataku menetes. Dadaku rasanya begitu sesak. Aku merutuki kebodohanku sendiri karena telah menyia-nyiakan waktuku hanya untuk perbuatan maksiat. Bagaimana nasib orangtuaku di alam sana?
Ya Allah.... apakah sudah terlambat bagiku untuk memulai kembali semuanya. Mengubah hidupku menjadi lebih berguna...?
Saat aku mengangkat wajahku. Aku tertangkap basah sedang menangis dalam diam. Ternyata jidah memperhatikanku sejak tadi. Aku langsung menghapus air mataku.
"Apa orang tuamu juga sudah tiada, Nak...?"
Pertanyaan itu...
Semakin membuat air mataku luruh. Semakin deras hingga membuatku semakin terisak. Dan Jidah langsung memelukku.
"Tidak apa. Kamu bukan satu-satunya anak yang kehilangan orang tua didunia ini. Lihatlah mereka..." jidah menunjukkanku pada segerombolan anak-anak yang sedang tertawa ceria.
Hah! bisa-bisanya mereka tertawa lepas seperti itu?
"Mereka kehilangan orang tua sejak bayi. Tidak sedikit pula dari mereka yang bahkan belum pernah sekalipun melihat orang tua mereka. Tapi lihatlah... mereka tersenyum bahagia. Mereka saja bisa melewati hari-hari mereka, lalu kenapa kamu tidak bisa? terlalu meratapi orang yang sudah meninggal itu tidaklah baik. Akan lebih baik jika kamu mendoakannya. Hanya doa anak-anak yang sholeh dan sholehah yang mereka harapkan saat ini di alam sana."
"Aku mengerti sekarang. Terimakasih jidah."
Jidah mengusap air mataku. Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua kebaikan orang tuaku. Aku tidak akan membuat hidupku tidak berguna lagi.
Tapi...
Apakah pintu taubat itu masih ada? Aku malu... aku benar-benar malu, saat berhadapan dengan Tuhanku, disaat diri ini penuh dengan dosa. Aku malu setiap kali mengingat kemaksiatan yang dulu aku lakukan.
Apakah Tuhan akan memberiku ampunan?
"Thara? kita pulang sekarang." suara Ayaz yang lembut, membuat lamunanku buyar. Aku mengangguk patuh.
"Jidah, kami pulang dulu."
Aku juga berpamitan dengan jidah. Wanita itu memelukku dan mengusap punggungku. Dia kembali menyalurkan kekuatan untukku.
"Sering-seringlah berkunjung kesini."
"Tentu."
****
"Kamu kenapa?"
"Enggak ada. Emangnya kenapa?" Aku tahu sejak tadi Ayaz memperhatikanku. Meski dia fokus pada kemudinya. Tapi sesekali dia melirik kearahku.
"Bener?"
"Iya."
Hening.
Kami berdua akhirnya hanyut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya nggak terasa kami sudah sampai dirumah.
"Assalamu'alaikum."
Mama menyahuti dari dalam. Seperti biasa dia suka menghabiskan waktunya di ruang keluarga. Dengan majalah ditangannya.
Kami segera menghampirinya. Ayaz mencium punggung tangan Mama Gina. Setelah itu, aku juga berniat ingin melakukannya. Namun sayangnya Mama Gina malah mendengus. Tanganku ditepis dengan kasar, kemudian pergi kekamarnya dengan perasaan kesal.
Ya Allah...
Sakit sekali rasanya nggak diterima sama mertua sendiri. Gimana aku bisa beradaptasi dengan baik disini. Aku juga pengen berubah, tapi jika sikap Mama Gina terus kayak gini. Aku takut emosiku tak terkendali dan akan membuat hubungan kami semakin memburuk.
Di sela perasaanku yang remuk. Ayaz merangkul bahuku. Dia tersenyum tipis dan sesekali mengusap nya. Seketika saja rasa sakitku hilang. Benar-benar obat yang mujarab. Senyumannya bahkan menular padaku.
****
AUTHOR POV
Mereka sholat isya bersama. Seperti biasa Ayaz memimpinnya sebagai imam. Dan Thara berdiri dibelakang sebagai makmum.
Sepanjang gerakan sholat. Air mata Thara terus saja luruh. Mulai dari awal sampai sujud terakhir. Air matanya jatuh membasahi sajadah. Air mata penyesalan seorang hamba yang sadar akan dosa dan kesalahannya selama ini. Setiap kali Thara melakukan gerakan sholat. Dia teringat akan dosanya.
Sampai akhirnya mereka berada disujud terakhir. Disinilah puncaknya. Thara menangis sejadi-jadinya. Hingga suara isak yang sejak tadi dia pendam seorang diri, tanpa sengaja didengar oleh suaminya. Ayaz tersenyum dan memperlama waktu sujud terakhir mereka.
Sementara Thara. Dia memohon, dia memelas. Dia menyesal. Dia benar-benar menyesal. Dia menikmati sujud itu hingga sajadahnya basah oleh air mata.
Setelah selesai. Ayaz langsung berbalik dan menatap wajah istrinya yang sudah penuh dengan air mata.
Ayaz mendekatinya. Menyentuh wajah istrinya dengan lembut dan memeluknya. Tangisan Thara semakin menjadi. Tubuhnya bergetar hebat karena isaknya.
"Ayaz... apa Tuhan menerima sholat seorang pendosa sepertiku? aku bahkan malu setiap kali menghadapnya."
Ayaz melepaskan pelukkannya. Mengusap lembut air mata yang membasahi pipi istrinya.
"Apa ini? air mata penyesalan kah? Allah menyukai ini, Thara. Tangisan seorang hamba yang rindu akan Tuhannya. Jika didalam hatimu masih terbesit sebuah penyesalan, itu artinya Allah masih menyayangimu. Kamu tahu, dimana dosa manusia diletakkan saat dia sedang sholat?" Ayaz menepuk bahunya.
"Sesungguhnya, tatkala seorang hamba berdiri shalat, didatangkanlah seluruh dosanya, kemudian diletakkan di atas kepala dan kedua bahunya, maka ketika ia (dalam posisi) ruku’ dan sujud, dosa-dosa tersebut akan berguguran."
Thara tertegun. Isaknya sudah menghilang. Ada perasaan senang didalam dirinya. Entah memiliki keberanian dari mana, Tiba-tiba saja Thara memeluknya.
"Ayaz, Thara mau belajar ngaji." Sontak hal itu membuat mata Ayaz berbinar bahagia.
"Tentu. Aku akan membawamu menemui ustazah Khalifah besok. Mulai besok kegiatanmu akan ikut pengajian." Thara mengangguk antusias. Ayaz tidak bisa berhenti memandang wajah istrinya yang begitu polos dan memerah.
'Aku akan membantumu, Thara... sepertinya ilmu yang aku dapatkan melalui kebaikan Pak Surya, itu ditakdirkan untuk anaknya juga. Dan aku sekarang yakin, Allah sudah merencanakan ini untuk kita.'
thara menag banyak juga, masah bersenang2, sex bebas, hura2, poyah2, dan akhiratnya dapat lelaki yang mencintanya, dan menerima dia apa adanya, bahkan berjuang untuknua
atas lelaki sejati,
fatma miris, berjuang mendapatkan hati lelaki pujaanya tapi miris pujaannya malah nikah dengan wanita lain, dan dia dihujat karena mencinta suami orang, dan miris sekali hidupnya author hukum dia dengan diperkosa dan diperlakukan sangat hina dan kasar
satu kesalahan besar fatma bukan mencintai suami orang tapi fatma mencinta suami pemeran utama wanita karena dasarnya author dan readernya wanita jadi mereka ngehalu diposisi pemeran utama wanita jadi pelakor mereka laknat habis tapi pebinor mereka jaga
*saat fatma melakukan kesalahan mereka beramai menhujat, melaknat dan memaki fatma
tapi
*saat viky melakukan kesalahan meraka diam, tidak mempermasalahkan itu
inilah sikap egois wanita yang dibawa reader dalam berkomentar
*mereka akan melaknat wanita yang menyukai suami alias pelakor
*tapi memaklumi dan terkesan baper dengan lelaki lain yang menyukai mereka, jadi semua kelakuan lelaki itu mereka maklumi bahkan mbenarkan
aku tunggu ucapan thara "maafkan karena tidak sempurna dan Terima kasih suamiku karena ikhlas menerima aku apa adanya" ucapan ini simple tapi sangat banyak maknanya
*membuat suami merasa dihargai dan dianggap
*membuat thara merasa bersukur dan berterima kasih
*membuat thara naik derajatnya karena peka terhadap perasaan suami
*membuat thara naik derajat karena sadar akan kesalahannya
tapi sayang sekali thara tidak pernah mengucapkan kalimat itu