Aku ingin menjadi satu-satunya tempat pulang yang paling kau rindukan.
Untuk kita saling merawat dan membenahi kepingan hati yang hancur karena cinta masa lalu mu.
Aku adalah satu-satunya jiwa yang bahkan tidak memperdulikan tekanan batinku sendiri demi cinta yang telah ditakdirkan untukku.
Aku akan menaklukan hatimu, melepas lelah mu, mengukir tawamu, membuang duka mu.
Hingga kita bahagia.
Kisah ini mengisahkan pengorbanan seorang istri dalam meyakinkan hati suaminya. Berperang dengan masa lalunya. Dan menerima perjodohan yang telah di atur matang oleh kedua keluarga berketurunan Ningrat.
Sanggupkah seorang Roro Dwini Hadiningrat memperjuangkan cintanya...?
Mari, ikuti kisah ku.
Terima Kasih🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : PERTEMUAN
Tapi... ia menyadari bahwa ia adalah seorang konselor. Yang mesti harus selalu profesional menghadapi kliennya.
"Hallo...ada yang bisa saya bantu?" tanya Dwini langsung.
"Mbak Dwini... Ini mas Bimo. Besok bisa kita beremu...?" Sontak suara dan isi perkataan di seberang sana membuat Dwini tergagap dan mendadak gagu.
Tidak ada jawaban dari Dwini.
"Hallo...
Halloo...
Apa masih ada orang di sana...?" lagi suara dari seberang sambungan telepon itu terdengar.
Iya... Mas Bimo. Saya masih di sini." Jawab Dwini seadanya, setelah dapat menenangkan hatinya sendiri.
"Besok pagi jam 10 pagi, kosongkan waktumu untuk bertemu denganku, Sebelum aku kembali ke tempat ku bekerja. Untuk di mana kita bertemu, nanti saya kirim alamatnya." Ucap Bimo terdengar dengn singkat dan jelas.
"I..Iya mas. Baiklah. Sa..." Belum selesai Dwini bicara dengan Bimo . Sabungan telepon itu sudah terputus.
Dwini hanya bisa menghela nafasnya.
Untuk hal-hal lain ia merasa tak perlu berburuk sangka. Sebab ajakan bertemu dengan Bimo adalah hal yang sangat ia nantikan selama ini.
Tepat pukul 10 tamp seorang pria tampan nan gagah berbalut pakaian casual tengah berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada sebuah mobil jaguar hitam, menambah pesona tampannya semakin maksimal.
Bimo telah memutuskan untuk menyambangi Dwini di tempatnya bekerja, lalu mengajaknya berbicara empat mata di tempat lain. Yang sepertinya telah ia tentukan. Itu mereka sepakati melalui obrolan via whatsapp singkat.
Tidak ada yang mereka bicarakan selama di perjalanan. Keduanya tampak sibuk dengan pikiran mereka masing- masing. Sehingga suasana kaku itu begitu kental antara mereka.
Bimo dan Dwini telah tampak duduk di sebuah taman terbuka, namun karena masih pagi. Tempat itu masih sangat sepi.
"Mbak... Dwini maaf aku langsung saja ke topik pembicaraan. Apakah mbak menerima perjodohan kita...? Bimo tampak sudah tidak ingin menunda waaktu lagi untuk membuka obrolan mereka.
"Iya..." jawab Dwini singkat.
"Mengapa...? Apa mbak yakin?" tanyanya nampak seperti orang bingung.
"Apa alasan yang membuat aku tidak yakin dengan pilihan terbaik orang tua kita...? Dwini balik bertaya.
'Mbak...kita tidak hidup di jaman Sit Nurbaya. Masa mbak mau di jodoh-jodohkan seperti ini?" tanya Bimo yang sudah mulai menunjukkan maksud pertemuan ini.
"Di jodohkan itu hanya salah satu cara yang terdengar memaksa, tetapi jika di jalankan terlebih dahulu pasti akan dengan sendirinya akan dapat di jalani dengan ikhlas." Jawab Dwini setenang mungkin.
"Apakah mbak tidak memiliki kekasih, sehingga begitu tenang menerima perjodohan ini...?"
Dwini hanya diam menatap keduaa bola mata milik Bimo yang juga tampak sedang mencari suatu kebenaran di bola mata Dwini.
"Terus terang saja, saya sudah memiliki kekasih di Surabaya. Dan saya serius dengan hubungan kami. Justru ke pulanganku ini adalah untuk meminta restu pada ayah dan ibu, untuk mengijinkan kami melanjutkan hubungan kami ke jenjang selanjutnya."
Jedeeerr...
Bagai petir di siang bolong. Dwini terhenyak atas pengakuan yang lolos keluar dari mulut seorang Bimo pria yang hampir sepuluh tahun ia tunggu untuk melamar dirinya.
"Oh... jadi maksud pertemuan ini adalah untuk memastikan bahwa mas Bimo meminta perjodohan ini di batalkan. Karena mas telah memiliki kekasih...?" ekspresi Dwini tidak berubah. Seolah ia tidak terkejut juga tidak kecewa. Padahal di dalam sana. Hatinya hancur, patah dengan sebuah kenyataan yang ada di hadapannya.
"Ya... demikian. Tetapi, aku tidak bisa membatalkannnya sendiri. Aku ingin mbak bekerja sama denganku. Agar kita bersama mengatakan pada kedua orang kita untuk membatalkan perjodohan konyol ini."
"Mengapa harus aku yag ikut membantu mas mengatakannya, bukankah mas tinggal bilang bahwa mas telah punya calon istri pilihan sendiri, maka semuanya pasti akan selesai." Jawab Dwini seolah tanpa beban.
"Tidak semudah itu menghadapi ibu, mbak Dwini...." jawabnya seolah frustasi.
"Mengapa...?"
"Ibu tetap menginginkan mbak Dwini yang menjadi istriku." Jawabnya dengan singkat.
"Mungkin mas belum mengenalkan calon istri mas pada ibu saja, sehingga beliau belum bisa menerimanya. Bukankah pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang mas. Jadi sebaiknya... mas perkenalkan saja dulu calon istri mas itu pada ayah dan ibu. Mereka orang tua yang pengertian mas, pasti bisa menerima wanita pilihan mas Bimo." Dwini mengandaikan jika pria di hadapaannya ini adalah seorang klien, yang harus iaa hadapi dengan profesianal. Sebab jika tidak demikian, ia pastikn ia akan mewek karena patah hati.
"Bagaimana aku mengenalkannya... kekasihku di Surabaya. Dan ia wanita baik-baik yang tidak bisa dengan mudah di bawa kemana-mana sebelum halal. Satu-satuya jalan ialah, ayah dan ibu yang ke sana untuk melamarnya terlebih dahulu."
"Maaf jika Dwini salah. Jika wanita itu juga serius pada hubungan kalian, ia pasti akan mau mengalah untuk di ajak menemui kedua orang tua mas terlebih dahulu. Tentang ia wanita baik- baik atau tidak, itu tidak ada kaitannnya. Semua wanita itu jelas menjunjung tinggi harga dirinya, juga rasa malu akan kodratnya yang harus menunggu. Tetapi, mas mengajaknya ke sini kan, demi kelancaran hubungan selanjutnya. Ya... tentu saja dia lah yang mengalah untuk terlebih dahulu menemui orang tua mas. Jika Dwini boleh bertannya... apa alasannya tidak ingin di ajak ke sini." Dwini tampak begitu profesional menaanggapi hubungan Bimo dan kekasihnya.
"Ya... itu tadi. Dia tidak bisa di ajak sebelum halal." Jawab Bimo dengan nada yang terdengar meragu.
"Justru ia datang ke sini untuk di halalkan."
"Dia bukan wanita sembarangan yang mudah di ajak macam-macam."
"Benar... kan mas ngajaknya ketemu calon mertua. Bukan di ajak maksiat. Masa dia tidak mau...? tanya dia sekali lagi, apakah itu alasan sebenarnya atau hanya cara halus menolak mas saja." Ujar Dwini enteng.
Bimo tampak berpikir.
Ia kembali terbayang sosok wanita yang beberapa bulan terakhir menguasai seluruh hati dan pikiranya. Anin.
Anin yang memang tampaknya tulus dan tidak ada tanda-tanda ingin mempermainkanya. Hanya Bimo sedikit tersiksa dengan kekasihnya yang bahkan hanya membolehkan Bimo hanya memegang tangannya.
Apa lagi untuk di ajak bepergian jauh. Apa benar yang Dwini katakan...? jika Anin tidak serius akan hubungan mereka. Belum lagi semalam, ibunya sudah menolak dan menentang hubungan mereka berdua saat pekenalan mereka via udara.
"Ah... nantilah aku pikirkan cara lain untuk membawa kekasih ku menemui ibu dan ayah. Yang terpenting sekarang. Mbak Dwini bantu saya... demi kita mbak. Masa kita harus menjalani sebuah pernikahan tanpa cinta nantinya." Ujar Bimo seolah menemukan alasan untuk memutuskan perjodohan mereka.
"Tidak perlu bantuanku, pastikan saja pada kedua orang tua mas bahwa wanita itu lebih baik dari pilihan mereka. Dan yakinkan kedua orang tua mas bahwa hubungan kalian layak untuk di perjuangkan." Dwini seolah menantang.
Bersambung...
*semua kesalahan suami diperjelas salah dan dibuat dicap kesalahan fatal dan harus dapat balasan dulu
tapi kesalahan istri malah dibenarkan dan dianggap bukan kesalahan
ini lah contoh pemikiran munafik wanita yang dibawa kedalam karya novel
dsini dengan pria lain ketemuan, berintrkasi sebagai teman yang fakta sudah sangat keterlaluan dianggap hal biasa
emang susah kalau pemikiran wanita egois dibawa kedalam novel