NovelToon NovelToon
Wanita Kedua

Wanita Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Tamat
Popularitas:374.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sun Shine

Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.

Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.

Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.

Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit

"Apa yang telah kulakukan!" Evans berteriak dalam hati sambil mengemudikan mobilnya. Dia benar-benar menyesal telah bersikap brengsek. Belum pernah dia bersikap kurang ajar seperti ini dengan perempuan. Yang ada perempuanlah yang selama ini selalu menggodanya. Dan dia semakin kacau karena pria itu memeluk Erika. Apakah Evans cemburu? Dia sendiri tidak tahu. Yang pasti, dia benci melihat pria itu!

Hanya kata putus yang bisa terucap untuk meredam kemarahannya yang ternyata sama sekali tak berdampak baik untuknya. Bahkan Evans tak sanggup membalas pukulan pria itu karena rasa bersalahnya pada gadis itu.

***

"Erika, lihat Kakak," ucap Danish sambil menghapus air mata di pipi adiknya itu. Saat ini mereka duduk berdua di ranjang kamar Erika. Erika menatap sendu pada Danish.

"Evans itu pria brengsek. Jangan lagi bertemu dengannya. Dia sudah melecehkanmu. Rasanya Kakak ingin sekali melaporkannya ke polisi." Danish berucap dengan penuh penekanan. Sebenarnya dia ingin marah-marah karena Erika salah memilih teman. Tetapi kemudian dia berpikir, untuk apa lagi marah? Apalagi adiknya sudah sampai menangis seperti ini.

"Jangan, Kak. Jangan lapor," jawab Erika yang masih terisak sambil menggeleng cepat. Tentu saja tidak mungkin Danish melapor, mengingat Evans berasal dari keluarga berpengaruh. Apapun bisa saja diputarbalikkan faktanya, bukan? Bisa-bisa Danish juga dituntut karena melakukan tindak kekerasan. Sementara mereka sendiri hanyalah keluarga miskin.

"Ada apa ini? Kapan kamu pulang, Erika? Kenapa nangis?" tanya Ibu Wilma terkejut sembari masuk ke dalam kamar melihat kedua kakak beradik itu sedang berbicara serius.

"Aku melarang Erika bertemu Evans lagi, Bu. Dia bukan pria baik," jelas Danish.

"Apa yang dia perbuat makanya kamu nangis?" tanya Ibu Wilma. Keningnya mengerut.

Danish pun menjelaskan pada ibunya apa yang terjadi atas Erika karena Erika tak sanggup berkata apa-apa. Tentu saja, ibunya terkejut sekali dan marah.

"Mulai sekarang jangan lagi kamu berhubungan dengan si Evans itu! Walaupun kita miskin tapi kita punya harga diri," ucap Ibu Wilma penuh emosi.

***

Di kamar sendirian, Erika masih menangis. Dia menahan suara tangisnya lantaran sudah tengah malam takut mengganggu kakak dan ibunya. Hatinya sakit sekali. Baru pacaran sudah langsung putus beberapa jam kemudian. Siapa gadis yang tidak terluka hatinya apalagi sebelum putus malah mendapat perlakuan kasar penuh nafsu seperti itu dari pria yang sangat disukainya, dari cinta pertamanya?

"Apa karena aku miskin makanya dilecehkan seperti ini? Padahal aku tulus padanya. Apa orang kaya seperti itu, sesuka hati mereka memperlakukan orang?"

Erika mengingat jelas bagaimana Evans melecehkannya, bagaimana Evans dengan rakusnya menciumi bibirnya. Bahkan dengan kurang ajarnya menjamah ****nya. Air mata mengalir, dihapus lalu mengalir lagi sampai akhirnya Erika tertidur karena terlalu capek menangis.

Lalu...

Di pagi hari yang cerah, Erika terbangun. Membuka mata dan melihat pakaian luar milik Evans yang ada di hadapannya. Terletak begitu saja di tempat tidur. Diraihnya pakaian luar itu dan dipeluknya seraya menutup mata. Teringat dia akan kelembutan Evans sewaktu memakaikan pakaian luar itu pada dirinya. Dua kali Evans melakukan itu. Walau sederhana, tapi sangat menghangatkan hati baginya.

Beberapa saat kemudian, Erika bangkit dari tidurnya. Matanya tertuju pada belanjaan yang dibelikan Evans padanya. Ada beberapa potong pakaian indah beragam warna dan sepatu yang imut. Erika sempat bertanya, kenapa Evans memilih sepatu itu? Evans menjelaskan, ada ukiran kucing di permukaan sepatu itu. Evans suka dengan kucing. Itu sebabnya Evans memilih sepatu itu karena baginya itu sangat cocok jika dikenakan sama pacarnya yang manis ini. Raut wajah Erika semakin sedih ketika kemudian dia teringat sewaktu Evans berjongkok dan memasangkan langsung sepatu itu pada kakinya.

***

Setelah membersihkan diri, Erika bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.

"Sarapan dulu, Erika." Kata Danish.

"Iya, Kak." Erika langsung mengambil piring dan duduk.

"Hmmm, jangan lagi kamu pikirkan si Evans itu!" kata Wilma. Erika mengangguk pelan sambil menaruh nasi dan lauk di piringnya.

***

"Evans mana , Vin?" tanya salah seorang teman yang mampir ke kelas.

"Tidak tahu. Lagi sakit katanya," jawab Revin singkat dan pergi meninggalkan kelas. Sambil berjalan dia melihat seorang gadis datang berjalan ke arahnya.

"Eh, itu kan?"

"Halo, Kak. Selamat Siang," ucap gadis itu dengan canggung.

"Iya. Kamu kan yang...?" ucap Revin yang sebenarnya ingat betul kalau gadis ini adalah gebetan Evans.

"Saya Erika, Kak. Kakak temannya Kak Evans, kan? Saya beberapa kali lihat Kakak bareng Kak Evans."

"Oh iya, saya Revin. Ada apa, Erika?" tanya Revin ramah.

"Apa saya boleh minta tolong ke Kak Revin? Maaf kalau tidak sopan, Kak," ucap Erika sedikit ragu.

"Tak usah sungkan. Apa itu?"

"Saya minta tolong Kak Revin mau mengantarkan ini pada Kak Evans." Erika memberikan barang yang sudah disusun rapi.

"Apa ini? Oleh-oleh buat Evans? Kenapa tidak langsung saja? Hehheh." Revin melihat ke arah bungkusan itu. Erika hanya menggeleng.

"Minta tolong ya, Kak. Kak Revin mau kan?" Wajah Erika tampak memelas.

"Baiklah, akan kusampaikan," ucap Revin sambil menerima barang itu.

"Makasih ya, Kak Revin," kata Erika lembut.

"Oke. Hehehe. Mau pulang sekalian kuantar?" tawar Revin.

"Tidak usah, Kak. Makasih ya. Sampai jumpa, Kak Revin." Tolak Erika lembut sambil berlalu meninggalkan Revin.

"Oke." Revin melihat Erika berlalu. Wajahnya sedikit bingung dengan situasi barusan.

***

Evans terlihat duduk bersandar di ranjang. Matanya terpejam. Beberapa kali dia mengingat saat ciuman itu, saat ketika dia mereguk manisnya bibir Erika. Jantungnya berdesir. Entah kenapa bisa seperti itu. Padahal bukan sekali, dua kali dia berciuman dengan perempuan.

Tok tok tok

"Evans, Mama masuk ya?"

"Masuk saja, Ma."

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Nyonya Ducan sambil memegang punggung tangan anaknya.

"Sudah baikan, Ma."

"Kamu masih tidak mau cerita ke kami, Evans?" Evans menggeleng.

"Ya sudah. Revin ada di bawah. Katanya dia mau jenguk sekalian ngantar titipan untukmu."

"Titipan apa, Ma?"

"Mama nggak tahu. Kamu lihat saja sana ke bawah atau mama suruh Revin ke mari?" tawar Nyonya Ducan.

"Tidak usah, Ma. Aku saja yang turun."

Evans turun melalui lift. Melewati ruang keluarga lalu menuju ruang tamu.

"What the..? Kamu kenapa babak belur gitu?" ucap Revin terkejut ketika melihat Evans.

"Aku malas cerita," ucap Evans sambil duduk.

"Ini makanya kamu tidak masuk ke kampus? Astaga. Pasti itu sakit banget. Kok ada manusia yang berani buat begitu ke kamu ya? Hahahah. Cari mati kali dia?" Revin tergelak. Evans diam tanpa kata.

"Udah jangan merengut. Aku ada titipan untukmu." Revin meletakkan barang di atas meja.

"Apa ini? Dari siapa?" tanya Evans sambil meraih barang itu.

"Ya nggak tahu. Aku tidak membukanya, soalnya kan untukmu. Itu dari Erika lho. Heheheh." Revin sedikit menggoda.

"Erika?" Evans langsung membuka bungkusan barang itu dan...

Deg..!

Evans terdiam.

"Kenapa?" tanya Revin sambil melihat barang itu. Terlihat ada sepatu wanita di dalamnya. Revin mengernyitkan kening.

"Bisakah kamu pulang aja?" kata Evans, matanya masih tertuju pada barang itu.

"Oke. Aku juga tak bisa lama-lama. Aku cabut dulu," jawab Revin cukup mengerti keadaan. Evans hanya mengangguk.

***

Di kamar, Evans membuka bungkusan itu. Terdapat beberapa potong pakaian wanita dan satu sepatu imut. Evans hanya diam untuk beberapa lama. Lalu kemudian mengumpulkan semua menjadi satu dan meletakkannya di atas meja kosong. Setelah itu, dia berjalan menuju ranjang. Dia berbaring pelan-pelan karena tubuhnya masih terasa sakit akibat pukulan-pukulan itu, lalu kemudian tampak dia menghela nafas berat.

***

Visual Revin👆

Jika ingin berlanjut ke episode berikutnya, jangan lupa beri like di episode ini ya. Dan jika ingin mendukung karya ini, kamu bisa kirim vote atau hadiah seikhlas kamu. Terima kasih 😊

1
Anonim
bgsss bgtt
Pitriya BiMe
Evans bodo banget yaa,, tanpa konfirmasi udah nyimpulkan sesuatu yg jelas2 itu salah..
Aisyah Nabila
aku mampir thor smoga bgus ceritanya dan gk bnyk typo
Diana Susanti
dibukak nggak bisa
Sumini Harrni
peran semuanya ga ada yg aku sukai . semangat thor
Sumini Harrni
putus aja aku ga suka karakter Evan aku juga ga suka karakter Erika..putus dulu biar Evan. memantapkan rasanya dia cinta Erika apa ga
Sumini Harrni
putus Evan itu ga cinta erica.pria plin plan
🇮🇩Imelda🇰🇷
ada ya saking cinta rela jadi yg kedua
Mamanya Vin Van
up
Yanti Palamani
Erika yg bodoh.
Han Yonggi
Visual Evans tdk keren !
Sun Shine: khayalin tokoh lain aja, kak..
total 1 replies
Redflow
erika kekanak kanakan sekali..terlalu bucin sampai ga inget keluarga...
Redflow
erika kok lama lama ngeselin..gak inget perjuangan kakaknya...gak ada kasihan ma kakaknya yg di penjara gara2 dia
arin
akhiry bahagia,semoga ngga ad kuman amiin
arin
mabok dech si Evans,semoga bucin trs ngga jdi nkhin Alexa...😍
arin
semoga Evan ngga jdi nikahin alexa
arin
haha ad ya yg kaya gni,demi cinta rela jdi yg kedua...klo sy wlpun cinta bngt mah ogah jdi yg kedua🤣
Riski Agustika
akhirnya 😘😘😘
dayutz 💕
makasih kk udah nulis cerita yg bagus,aq tunggu cerita revin dan lisa😊
Kusuma Wardhani Wiwin
makasih kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!