Kegagalan dari Cinta Pertama terkadang membuat kita terpuruk dan sulit untuk memulai cinta yang baru ... Perasaan takut gagal, kecewa dan sedih kembali terus menghantui.
Begitu juga dengan Intan, kegagalan Cinta Pertamanya membuat ia trauma hingga ia menutup rapat hatinya. Ia membangun sebuah pintu besi yang sangat kokoh.
Lantas, adakah sosok yang mampu mendobrak pintu besi dari hati Intan?
Update tiap hari pkl 05.00 dan 17.00 WIB😁✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Kali ini Intan benar-benar dapat jackpot!"
Sebelum menjawab pertanyaan dari Ifa, Setya menutup matanya sejenak sembari menarik nafas dalam, seolah mencari sebuah kekuatan.
"Ya! Benar tebakanmu bahwa sikapku tadi bukan hanya sekedar rasa tanggung jawab. Alasan lain kenapa aku sangat mencemaskan Intan adalah ... Karna aku menyukainya ... Tidak! Perasaan ini bukan lagi sekedar suka ... Aku mencintainya!" Jawab Setya dengan sorot mata penuh keyakinan bahkan terdengar dari nada bicaranya pun sangat serius.
Ifa dan Bayu yang mendengar jawaban dari Setya pun saling tatap bingung, namun mereka sama sekali tak bisa meragukan jawaban dari Setya. Dapat mereka lihat bahwa saat ini Setya sama sekali tidak bercanda.
"Bagaimana kakak bisa menyukai Intan? Kakak belum lama ini melihatnya saat jam olah raga. Bahkan, baru pertama tadi kakak bertatap muka dan mengobrol dengan Intan. Itu pun tidak berjalan lancar ... Bagaimana? Bagaimana bisa kakak yakin bahwa kakak mencintai Intan?" Tanya Ifa menuntut penjelasan.
Ia bahagia jika memang Setya mencintai Intan, namun ia harus memastikannya lebih dulu, supaya sahabatnya itu tak kembali bersedih.
Setya tersenyum mendengar pertanyaan Ifa.
Sedangkan Ifa dan Bayu semakin bingung dibuatnya. Akhirnya, Setya menjelaskan semua secara garis besar pada Ifa dan Bayu, karna jika ia jelaskan secara detail mungkin butuh waktu yang sangat lama.
15 menit berlalu.
"Aku akan membantu kak Setya untuk mendekati Intan!" Seru Ifa yakin menatap Setya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku juga! Aku gak nyangka, kau sekeren ini Setya. Aku akan membantumu kawan!" Seru Bayu menambahkan sambil menepuk bahu Setya yakin.
Ifa menjulurkan tangannya kedepan kemudian diikuti Bayu, ia meletakkan tangannya diatas tangan Ifa. Melihat itu Setya tersenyum dan ia mengikuti apa yang dilakukan kedua orang dihadapannya ini.
"Club SI (Setya-Intan) resmi didirikan. Misi utama adalah menyatukan Intan dan kak Setya!" Seru Ifa semangat.
"Makasih." Ucap Setya tulus.
"Kalau begitu langkah awal adalah memperbaiki citra kak Setya dimata Intan. Aku lihat setelah kejadian di UKS tadi, Intan sudah sedikit merasa bersalah dengan sikapnya pada kakak tadi. Sekarang, kakak harus muncul lagi kehadapan Intan dan tinggalkan kesan yang mendalam untuknya." Usul Ifa.
"Aku harus seperti apa?" Tanya Setya bingung.
"Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Jangan berpura-pura menjadi orang lain. Buat Intan mencinta 'Setya yang sebenarnya' bukan orang lain." Saran Bayu.
Kemudian, mereka pun berunding dan merencanakan strategi. Tak terasa itu membutuhkan waktu 10 menit.
"Ah, aku harus kembali ke kelas sekarang. Intan pasti sudah menungguku." Seru Ifa terkejut saat melihat jam dipergelangan tangannya.
"Ya, baiklah. Hati-hati." Ucap Bayu sedangkan Setya hanya tersenyum.
Ifa segera berlari menuju kelas, karna sudah lama ia pergi. Sudah hampir 1 jam dong, bisa-bisa ia kena marah Intan.
"Ahahahaha"
Ifa menghentikan langkahnya saat mendengar tawa Intan yang begitu kencang sampai terdengar ke luar kelas. Ia segera memasuki kelas dan ia melihat Intan sedang bersama Toni, mereka sedang melihat sesuatu di ponsel milik Toni dan itu membuat Intan tertawa lepas.
"Hahaha, konyol! Ini konyol sekali. Hahaha." Seru Intan tak dapat menahan tawanya.
"Apa yang sedang kalian lihat?" Tanya Ifa nimbrung.
"Stand up comedy." Jawab Toni.
"Oh, aku juga tau. Pantesan, Intan ketawa kenceng banget." Ucap Ifa mengerti.
"Huh! Mau bagaimana lagi, ini karena seseorang yang meninggalkanku begitu lama. Ku rasa dia pingsan di kantin. Baru saja aku mau telpon ambulans biar mengangkutnya pergi.!" Sindir Intan kesal.
"Hehe. Maaf ... Tadi keasyikan ngobrol sama ibu kantinnya." Bohong Ifa kikuk.
"Oh ... Ku kira lagi pacaran sama Pak Kebun dibelakang." Seru Intan masih terlihat kesal.
"Maaf-maaf ... Lagian, kamu juga gak sendiri kan, bahkan ketawa-ketawa kenceng gitu." Sindir Ifa balik yang tak mau kalah dengan Intan.
"Ya itu karna ada Toni. Untung ada Toni , kalau enggak beneran ku telpon ambulans tadi." Seru Intan membela diri.
"Ya aku yang salah, ok?! ... Nih, bolu coklatmu!" Seru Ifa mengalah sambil memberikan pesanan Intan berharap kekesalan Intan bisa berkurang.
"Untung aku baik hati. Kalau tidak sudah ku jodohin kamu sama Pak Kebun!" Seru Intan dongkol.
"Baiklah maaf, kamu memang baik hati." Rayu Ifa dengan menggoyangkan lengan Intan dengan manja.
"Huh!" Dengus Intan.
"Btw, bukannya hari ini bukan jadwal kamu piket deh Ton?" Tanya Ifa bingung.
"Oh, dia gantiin Radit." Jawab Intan sembari memakan bolu coklatnya.
"Radit? Bukannya Radit ..."
"Ah, aku harus segera pulang. Aku duluan ya. Bye!" Seru Toni memotong ucapan Ifa.
"Bye! Hati-hati jangan ketawa sendiri dijalan, nanti kamu bisa-bisa diangkut ke RSJ. Hahaha." Ucap Intan sembari tertawa.
"Ku rasa itu juga berlaku untukmu." Sindir Toni sembari pergi meninggalkan kelas.
Ifa menatap kepergian Toni dengan bingung. Ia merasa ada yang aneh. Bagaimana, Radit mau digantiin? Anak itu selalu tak mau jika harus bertukar jadwal piket. Tapi, tidak tahu kenapa kali ini Toni berhasil membujuk Radit. ifa jadi penasaran apa yang dilakukan Toni sampai Radit mau digantikan.
"Yuk, kita juga pulang. Sepertinya, sebentar lagi akan turun hujan." Ajak Intan.
"Ya ... Btw, Toni tadi bantuin kamu?" Tanya Ifa yang masih penasaran.
"Ya, bahkan aku rasa dia yang lebih banyak mengerjakan piket sedangkan aku cukup santai." Jawab Ifa sambil mengingat sikap Toni sebelumnya.
"Oh My! Apakah Toni menyukai Intan? ... Wah, jika benar kali ini Intan benar-benar dapat jackpot! Hari ini aku mengetahui ada 3 pria yang sama-sama tengah mengejarnya ... Luar biasa! ... Kak Setya, sepertinya kamu harus lebih bekerja keras. Apalagi, Toni. Dia cukup baik, walaupun terlihat acuh." ... Ucap hati Ifa menerawang.
"Hei, kamu ngelamunin apa?" Tanya Intan saat melihat Ifa diam saja.
"Ah tidak. Aku hanya ... Ehm, lapar!" Seru Ifa asal.
"Benar-benar kamu ya, padahal baru jajan loh." Ucap Intan tak habis pikir.
"Yah mau gimana lagi, perut kita beda tampungannya. Haha ... Btw, itu bus aku sudah datang. Aku duluan ya. Jangan kangen!" Seru Ifa sembari menyenggol tangan Intan.
"Tidak akan. Hahahaha!" Tawa Intan.
Setelah bus berhenti tepat di depan halte Ifa pun segera pergi meninggalkan Intan seorang diri.
"Huh! Kenapa bus yang aku naiki selalu lama datangnya." Gerutu Intan sebal sambil memandang langit yang sudah sangat gelap, bukan karna malam tapi karna langit tengah membawa beban berat yang sepertinya sebentar lagi akan dijatuhkan.
Benar saja dugaan Intan, tak berselang lama hujan pun turun. Awal hanya rintik namun semakin lama semakin deras. Intan menatap hujan dengan tatapan sendu. Padahal dulu ia selalu menatap hujan dengan senyuman, tapi semenjak kejadian satu tahun yang lalu, Intan tak pernah sama lagi dalam menatap hujan.
"Huffftt"
Intan menghembuskan nafas dalam. Kemudian ia menunduk menatap kakinya. Tiba-tiba datang sepasang kaki yang mendekat padanya. Intan merasa tak asing dengan sepasang kaki itu. Sampai suara berat seorang pria mengejutkannya ...
"Boleh aku duduk disini?" Tanya suara pria itu. Dan itu sukses membuat Intan mendongak untuk menatap pemilik suara itu.
.
.
.
Bersambung..
--------------------------
Bonus Visual (2)
>>Dharma<<
Ketua kelas yang sempurna 🙄
.
.
>> Toni <<
Si jail 🙄
...
krna ak gak suka dgn perselingkuhan
dtunggu updatenya ka
ak pikir kmu gak kan nulis cerita lagi sekian lama menghilang hemm...
ywdh semangat bwt cerita baru yg pastinya seru juga yaaa semangat
aku tunggu ka hehe