Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Dimas masih menahan senyum. "Maaf, Pak. Tapi saya baru sadar... sejak Bu Calista masuk kerja, Bapak jadi lebih sering keluar dari ruang kerja."
Arga menyandarkan punggungnya ke kursi. "Itu karena ada banyak pekerjaan."
"Iya, Pak."
"Jangan berpikir macam-macam."
Dimas mengangguk cepat. "Siap."
Meski begitu, begitu keluar dari ruangan, senyum Dimas justru semakin lebar. "Pak Arga jatuh cinta..." gumamnya pelan.
Sementara itu...
Di ruang arsip... Calista sedang menyusun map berdasarkan nomor dokumen. Tangannya bergerak cepat namun tetap rapi.
"Nomor A-127... Sudah."
"Berikutnya... Nomor A-128."
Seorang rekan kerja memperhatikannya sambil menggeleng kagum. "Calista."
"Iya, Kak?"
"Kamu nggak capek?"
Calista tersenyum. "Capek sih... tapi senang."
"Senang?"
"Karena akhirnya saya bisa bekerja lagi."
Rekan kerjanya ikut tersenyum. "Kamu memang beda."
Belum sempat Calista menjawab, ponselnya bergetar pelan. Nomor tak dikenal.
Ia meminta izin sebentar lalu mengangkat telepon.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Suara di seberang terdengar hangat. "Calista... ini Bu Rini."
Mata Calista langsung berbinar. "Bu Rini?"
Bu Rini adalah tetangga lama yang dulu sering membantu ayahnya.
"Alhamdulillah akhirnya nomor kamu aktif lagi."
"Iya, Bu."
"Kamu sehat?"
"Alhamdulillah sehat."
Bu Rini tersenyum lega. "Ibu cuma mau kasih kabar... beberapa hari lalu ada laki-laki datang ke rumah lama kamu."
Jantung Calista berdegup. "Laki-laki?"
"Iya."
"Siapa, Bu?"
"Kayaknya... suamimu."
Calista membeku. Tangannya perlahan mengepal.
"Dia mencari kamu."
Calista tidak langsung menjawab. "Ibu bilang saja tidak tahu kamu tinggal di mana."
"Calista?"
"Iya, Bu."
"Kamu tidak apa-apa?"
Calista menarik napas panjang. "Alhamdulillah... saya baik-baik saja."
Setelah mengucapkan terima kasih, sambungan telepon pun berakhir.
Beberapa saat... Calista hanya memandangi layar ponselnya. Danis... Mencarinya? Untuk apa? Bukankah laki-laki itu yang dulu paling ingin ia pergi? Ia menggeleng pelan.
"Tidak..."
Kini ia harus fokus pada hidupnya sendiri. Masa lalu... biarlah tetap menjadi masa lalu.
*
Di ruang CEO...
Arga sedang menandatangani beberapa dokumen ketika Dimas kembali masuk.
"Pak."
"Ada apa lagi?"
"Bagian administrasi baru saja menyelesaikan laporan bulanan lebih cepat dari target."
Arga mengangguk. "Bagus."
"Supervisor bilang... sebagian besar karena bantuan Bu Calista."
Arga berhenti menandatangani. "Dia lembur?"
"Tidak, Pak."
"Lalu?"
"Dia datang lebih pagi setiap hari. Bahkan sering membantu rekan kerja yang kesulitan."
Arga tersenyum tipis. "Perempuan itu memang rajin."
Dimas mengangguk. "Iya, Pak."
Arga menatap keluar jendela. Dalam hati ia semakin kagum. Banyak orang berubah ketika hidup sedang sulit. Namun Calista justru tetap menjaga akhlaknya. Itulah yang diam-diam membuatnya semakin tertarik.
Di sisi lain kota...
Danis masih berada di dalam mobil. Mobil itu berhenti di tepi jalan, tepat menghadap sebuah taman kota. Ia menatap orang-orang yang berlalu-lalang. Setiap perempuan berhijab yang lewat... Selalu membuat jantungnya berdegup. Namun setiap kali wajah mereka terlihat jelas... Harapannya kembali hancur.
"Pak..." Sopir memberanikan diri membuka suara. "Mungkin sebaiknya Bapak pulang."
Danis menggeleng. "Sebentar lagi."
"Sudah hampir tiga jam kita berkeliling."
Danis hanya terdiam. Matanya tampak sembap. Ia mengeluarkan dompetnya. Di sela-sela dompet itu masih terselip sebuah foto pernikahan yang mulai terlipat. Foto yang dulu hampir ia buang. Kini justru menjadi satu-satunya benda yang selalu ia bawa.
Danis mengusap wajah Calista dalam foto itu dengan ibu jarinya. "Aku baru sadar... Satu-satunya perempuan yang benar-benar mencintaiku... justru perempuan yang paling aku sakiti."
Kalimat itu diucapkannya dengan suara yang begitu lirih. Tak jauh dari tempat itu... Sebuah bus kota melintas.
Di dalamnya... Calista sedang duduk di dekat jendela sepulang bekerja. Bus itu melewati jalan yang sama dengan mobil Danis. Hanya terpisah beberapa meter.
Namun... Takdir belum mempertemukan mereka.
Danis menunduk memandangi foto di tangannya.
Sedangkan Calista sedang menatap ke arah langit yang mulai berwarna jingga.
Keduanya begitu dekat... Namun tak satu pun menyadari keberadaan yang lain. Bus yang ditumpangi Calista terus melaju membelah keramaian kota. Dari balik jendela, ia memandangi langit yang mulai berubah jingga keemasan. Angin sore yang masuk dari celah jendela membuat beberapa helai hijabnya bergerak pelan.
Hari ini melelahkan. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia pulang dengan membawa rasa syukur.
Pekerjaan yang halal. Penghasilan dari jerih payah sendiri. Itu sudah lebih dari cukup. Bus kemudian berhenti di sebuah halte.
"Halte Melati!" seru kondektur.
Calista segera berdiri. "Permisi."
Ia turun sambil menggenggam tas kain kecil berisi bekal makan siangnya.
Di saat yang hampir bersamaan...
Mobil Danis akhirnya meninggalkan taman kota.
"Ke kantor, Pak?" tanya sopir.
Danis menggeleng. "Pulang saja."
"Baik, Pak."
Mobil berbelok ke arah yang berlawanan dengan bus yang tadi ditumpangi Calista. Takdir sekali lagi mempermainkan jarak. Hanya beberapa menit... Namun mereka gagal bertemu.
Malam harinya...
Kontrakan kecil Calista tampak sederhana seperti biasa. Ia membuka pintu perlahan.
"Assalamu'alaikum."
Tak ada jawaban. Memang tidak ada siapa-siapa. Namun sejak kecil, ayahnya selalu mengajarkan untuk tetap mengucapkan salam ketika memasuki rumah.
Calista tersenyum tipis mengingat pesan itu. Ia meletakkan tasnya di atas kursi plastik. Kemudian menuju dapur kecil.
Malam itu menu makanannya sangat sederhana. Nasi hangat. Telur dadar. Dan tumis kangkung. Sambil memasak, bibirnya terus melantunkan istighfar pelan.
Tak ada keluhan. Tak ada penyesalan.
Meski hidupnya jauh berbeda dibanding saat tinggal di rumah keluarga Arganta.
Justru kini... Hatinya terasa lebih damai.
Di rumah keluarga Arganta...
Ratna keluar dari kamar sambil mengomel. "Bi Minah! Tolong buatkan teh!"
Pembantu itu segera datang. "Baik, Nyonya."
Beberapa menit kemudian... Secangkir teh disajikan.
Ratna baru menyeruput satu tegukan. "Kok kemanisan?"
Bi Minah langsung panik. "Maaf, Nyonya."
Ratna mendengus. "Lain kali pakai perasaan!"
Bi Minah buru-buru membawa kembali cangkir itu.
Rania yang melihat hanya menghela napas. "Ma, Bi Minah kan baru kerja lagi."
Ratna tidak menjawab. Entah mengapa... Lagi-lagi ia teringat seseorang.
Calista.
Perempuan itu tidak pernah sekalipun salah membuat teh. Tidak pernah salah menyeduh kopi. Tidak pernah lupa menyiapkan obat. Bahkan sebelum diminta.
Ratna segera menggeleng keras. "Cih! Kenapa sih akhir-akhir ini aku terus mengingat perempuan itu?"
Namun semakin ingin melupakan... Bayangan Calista justru semakin sering muncul.
Keesokan paginya...
Di PT Arga Pratama Group...
Calista datang seperti biasa. Pukul tujuh lewat dua puluh. Masih terlalu pagi. Beberapa lampu ruangan bahkan belum dinyalakan. Ia melihat ruang administrasi masih sepi.
"Masih belum ada orang..."
Ia pun mengambil sapu yang berada di sudut ruangan.
Menyapu lantai. Mengelap meja. Merapikan berkas-berkas yang sedikit berantakan.
Tak lama kemudian... Supervisor divisinya datang. Beliau menghentikan langkah begitu melihat Calista.
"Kamu datang jam berapa?"
Calista tersenyum malu. "Baru saja, Pak."
Supervisor itu memandang ruangan yang sudah bersih. "Kamu yang mengerjakan semua ini?"
"Iya, Pak."
"Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan petugas kebersihan."
Calista menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Pak."
"Kalau tempat kerja bersih, kami juga lebih nyaman bekerja."
Supervisor itu tersenyum kagum. Jarang sekali ia menemukan karyawan baru dengan sikap seperti itu.
Dari kejauhan... Tanpa sengaja... Arga yang baru keluar dari lift menyaksikan semuanya. Ia tidak mendekat. Hanya berdiri beberapa meter dari sana.
Tatapannya tertuju pada Calista yang sedang mengelap meja dengan senyum tulus. Tidak ada yang menyuruhnya. Tidak ada yang melihatnya. Namun perempuan itu tetap bekerja dengan sepenuh hati.
Arga tersenyum tipis. "Dimas."
"Ya, Pak?"
"Kalau seseorang bekerja baik hanya saat diperhatikan..."
"Itu biasa."
"Tapi kalau dia tetap berbuat baik saat tidak ada yang melihat..."
Arga menghentikan ucapannya. "Itu namanya karakter."
Dimas mengikuti arah pandangan atasannya. Melihat Calista yang masih sibuk merapikan ruangan. Kemudian ia tersenyum kecil. Dalam hati ia semakin yakin.
Perasaan Pak Arga kepada Calista... bukan lagi sekadar rasa kagum. Melainkan mulai tumbuh menjadi cinta yang diam-diam semakin sulit disembunyikan.