Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.
Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.
Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))
ig: @chiccacaaa
tidak update setiap minggu ;))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuil- 12
Setelah puas berkeliling Zora kemudian memilih kembali ke dalam istana. Ia dan Ambar masuk secara mengendap-endap ke gerbang istana. Saat mereka sudah memasuki area istana mereka lalu bernapas lega karena ternyata tidak ada yang mencari keberadaan mereka. Mereka lalu kembali ke kamar milik Zora untuk beristirahat.
•••
Saat ini Ambar sedang disibukkan dengan memakaikan pakaian yang akan Zora kenakan untuk pergi ke kuil nanti. Ambar juga memasang beberapa pernak-pernik yang ditambahkan ke leher, telinga dan kedua tangan milik Zora tetapi tetap saja Ambar tidak bisa menggelung rambut Zora karena yang memiliki rambut hanya ingin pergi jika rambutnya masih terurai dengan indah.
Zora menatap ke arah cermin, memoleskan sedikit pewarna merah ke arah bibirnya. Ia lalu mengecap-ngecap bibirnya agar warna yang ia tempelkan bisa merata. Zora tersenyum saat melihat penampilannya sendiri. Wajah putri Zora tidak jauh berbeda bahkan sama dengan wajah Zora yang berada di zaman modern.
"Sempurna" kata itu terlukis di bibir Zora saat ia melihat penampilannya sendiri.
"Ndoro sangat cantik pasti pangeran Auriga menyesal dulu pernah melepaskan Ndoro" ucap Ambar mengomentari penampilan Zora.
"Hei, aku yang melepaskan Auriga bukan dia yang melepaskanku" ucap Zora merevisi ucapan Ambar sambil tersenyum.
"Iya Ndoro. Mari, kita keluar" ucap Ambar yang menuntun Zora turun dari tempat rias yang lumayan tinggi itu.
Di depan istana sudah terlihat sangat ramai. Banyak kereta kuda berjejeran di depan sana. Zora tidak menyangka jika ia akan melihat dan merasakan suasana seperti ini di dalam hidupnya. Ia berharap setelah dari kuil ia bisa berdoa dan kembali ke zaman dimana seharusnya ia berada.
Ambar menuntun Zora untuk menuju sebuah kereta yang terlihat lebih besar dari kereta yang lain. Zora terperangah melihat bagian dalam kereta yang terlihat luas itu. Ia lalu melihat jika Prabu Adyatama dan Ratu Anindita sudah ada di dalam, ia lalu menghampiri mereka. Setelah memberi salam Zora kemudian memilih untuk duduk di belakang di bagian yang dekat dengan jendela.
Setelah beberapa saat, Zora mendengar suara laki-laki yang sedang tertawa dan kereta juga terasa sedikit bergoyang. Zora mengalihkan pandangannya menuju pintu masuk. Ia melihat kedua pangeran kembar sedang memberi salam kepada ayah dan ibunya. Pangeran Rafandra kemudian mengajak kembarannya untuk duduk di bagian belakang yang berada dekat dengan Zora. Bagian belakang memang menjadi favorit pangeran Rafandra.
"Putri Zora bolehkah kami duduk disini?" tanya pangeran Rafandra yang dibalas anggukan kepala oleh Zora.
"Tumben sekali kau duduk di belakang" ucap pangeran Rafandra sambil mendudukkan dirinya.
"Benar, padahal biasanya kau akan duduk di depan, di dekat tempat duduk Kang Mas Auriga" timpal pangeran Ravindra.
"Itu kan dulu, saat itu aku masih bodoh dan sekarang kalian lihat sendiri jika aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya" ucap Zora.
"Memang sekarang kau sudah pintar?" tanya pangeran Ravindra sambil tertawa yang membuat dengusan keluar dari bibir Zora.
Pangeran Auriga mulai memasuki kereta tak lama setelah itu munculah seorang gadis kecil yang tak lain adalah putri Kirana yang masuk ke dalam kereta itu.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Prabu Adyatama memerintahkan kusir untuk menjalankan kereta kuda yang ditumpanginya. Kereta kuda yang berada di luar juga mulai mengikuti kereta utama yang sudah berjalan untuk menuju kuil.
Di sepanjang perjalanan hanya suara tawa dari ketiga orang yang ada di bagian belakang yang dapat didengar. Mereka saling bercanda satu sama lain yang membuat suasana di kereta menjadi hangat bahkan Prabu Adyatama dan Ratu Anindita sesekali juga tertawa saat mendengar kisah dari tiga orang yang terdengar konyol itu.
Zora merasa sangat senang. Selain Saka, ternyata ada dua orang lagi yang bisa ia jadikan teman disini. Selera humor serta umur yang hampir sama membuat Zora serta kedua pangeran kembar menjadi cepat akrab.
Tak terasa kereta sudah berhenti. Kereta bagian belakang juga tidak terdengar suara apapun. Mereka kemudian turun satu per satu dari sana.
Zora masih berada di dekat kereta. Ia berdiri di samping Ratu Anindita dan Ambar. Di depan kuil ada beberapa biksu yang membawa sebuah nampan. Semua orang kemudian memasuki kuil satu per satu. Sebelum masuk, para biksu memberi doa kepada setiap orang yang ada disana.
Zora lagi-lagi dibuat terperangah dengan kuil yang ada disini. Interior dalamnya ternyata menggunakan lapisan emas murni. Zora masih melihat sekelilingnya sampai ia tak sadar jika ia menjadi perhatian seluruh orang yang sudah berada disana.
"Ndoro putri duduklah disana" ucap Ambar menunjuk salah satu tempat kosong yang berada agak jauh dari Ratu Anindita.
Zora pun duduk disana sedangkan Ambar kemudian berbalik badan mengikuti tempat yang seharusnya ditempati oleh para pelayan.
Saat duduk ternyata Zora baru menyadari jika orang yang berada di sebelahnya adalah Ayara dan seorang wanita paru baya. Dan di seberang sana ada pangeran Auriga yang selalu menatap ke arah Ayara. Ayara pun juga sesekali mencuri pandang kepada pangeran Auriga dan saat mata mereka bertemu mereka langsung menundukkan pandangannya dan tersenyum malu.
"Terlihat sekali jika mereka saling mencintai" ucap Zora di dalam hatinya.
Saat Zora sedang menatap kedua orang itu tiba-tiba ada yang mengajak Zora berbicara.
"Apa kabar putri Zora?" tanya wanita itu.
"Saya baik dan anda siapa?" tanya Zora dengan sopan.
"Saya nyonya Gayatri, ibunya Ayara" ucap orang itu dan Zora hanya membalas dengan anggukan.
"Putri terlihat berbeda sekali dengan orang lain yang ada disini? Apakah putri ingin menjadi sumber perhatian seperti biasanya?" tanya Nyonya Gayatri.
Zora terlihat agak terkejut dengan pertanyaan wanita yang duduk tak jauh darinya itu. Orang-orang mulai memandang mereka semua.
"Maaf? Maksud nyonya?" tanya Zora.
"Setelah putri lupa ingatan putri menjadi lebih mencari perhatian daripada sebelumnya" ucap Nyonya Gayatri lagi.
"Saya tidak pernah mencari perhatian dan jika seluruh orang memperhatikan saya berarti saya memang yang menjadi bintang di seluruh kegiatan" ucap Zora sambil tersenyum.
Nyonya Gayatri terlihat agak emosi mendengar perkataan Zora ditambah orang-orang yang sedikit memertawainya membuat emosinya semakin bertambah.
"Mungkin saat kepala putri terbentur batu, putri kehilangan juga sopan santunnya" ucap Nyonya Gayatri lagi.
Sedangkan Zora masih tertawa menanggapi ocehan Nyonya Gayatri ini.
"Jika anda mengatakan saya kehilangan sopan santun maka anda salah. Saya sudah menerapkan sopan santun kepada siapapun dan jika Nyonya merasa saya tidak memiliki sopan santun kepada anda maka Nyonya lah yang harus dipertanyakan adabnya menghargai orang lain" ucap Zora tersenyum puas.
Saat Nyonya Gayatri ingin kembali memojokkan Zora tiba-tiba pangeran Auriga datang dan langsung menarik tangan Zora untuk berdiri.
"Maaf untuk semuanya. Saya rasa putri Zora harus berpindah tempat dari sini" ucap pangeran Auriga.
Pangeran Auriga kemudian meminta Ambar untuk membawa Zora ke sisi lain kuil. Mereka kemudian berjalan menuju tempat yang diminta oleh pangeran Auriga. Sedangkan Ratu Anindita terlihat emosi dan bingung kenapa pangeran Auriga meminta Zora untuk pergi padahal Zora tidak memiliki salah apapun.
"Apa yang kau lakukan? Dia tidak bersalah" ucap Ratu Anindita kepada pangeran Auriga.
"Ibunda, aku hanya tidak ingin keributan terjadi disini. Ibunda tau kan aku tidak mungkin meminta Nyonya Gayatri yang pergi? Acara ini merupakan acara yang suci jadi tidak baik jika ada keributan disini" bisik pangeran Auriga kepada ibunya.
Ratu Anindita yang mengerti keadaan pun memilih diam. Ia kembali ke tempat duduknya sambil menunggu para biksu untuk masuk ke dalam kuil ini dan melangsungkan acara seperti pada bulan-bulan sebelumnya.
•••
jangan lupa vote komen rate dan like
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"
Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.
Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘