NovelToon NovelToon
The Nethermist

The Nethermist

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Clevareus

( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )

Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

expedition to a fallen kingdom

10 Februari

Matahari terbit dengan cerah di atas Kerajaan Nightdoom. Udara musim dingin masih terasa menusuk, sementara para prajurit sibuk mempersiapkan keberangkatan yang telah dinantikan selama beberapa hari terakhir. Pedang-pedang diasah hingga mengilap, perlengkapan diperiksa berulang kali, dan persediaan makanan dihitung dengan cermat agar cukup untuk perjalanan panjang menuju Peak Cavalry, kerajaan dataran tinggi yang hingga saat ini belum diketahui nasibnya.

Di halaman utama istana, Leoric berdiri mengenakan zirah hitamnya. Jubah hitam khas keluarga kerajaan menjuntai di belakang tubuhnya. Di sampingnya berdiri Cortinus yang menundukkan kepala dengan hormat ke arah Raja Rasdinand. Hari itu bukan sekadar keberangkatan biasa. Bagi Nightdoom, perjalanan ini menjadi langkah pertama menghadapi dunia yang telah berubah sejak langit pecah tiga hari lalu.

Rasdinand yang sebelumnya hanya bisa menerima keadaan dengan pasrah kini terlihat jauh lebih tegas. Ia memahami bahwa jika mereka terus menunggu, maka kerajaan hanya akan tenggelam dalam ketakutan dan ketidakpastian. Karena itulah ia memutuskan mengirim ekspedisi menuju Peak Cavalry untuk mencari jawaban.

Beberapa pendeta kerajaan berdiri di depan rombongan. Mereka membacakan doa-doa panjang untuk keselamatan para prajurit yang akan berangkat. Kepala-kepala tertunduk dengan khidmat, sementara angin pagi berembus pelan melewati halaman istana.

Setelah doa selesai, Rasdinand melangkah maju dan mulai berpidato.

“Perjalanan ini akan menjadi awal dari era baru bagi Kerajaan Nightdoom.”

Suaranya terdengar jelas hingga ke barisan paling belakang.

“Kalian akan berangkat menuju Peak Cavalry untuk mengetahui kondisi kerajaan tersebut. Jika skenario terburuk terjadi dan kerajaan itu telah runtuh, maka misi kalian berubah menjadi pencarian para penyintas.”

Rasdinand berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Prioritas utama adalah menemukan Putri Clarissa Fountaine dan keluarga kerajaan Fountaine. Selain itu, selamatkan siapa pun yang masih bisa diselamatkan.”

Para prajurit mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Ekspedisi ini dipimpin oleh Leoric Nightvale. Cortinus Nightvale akan bertugas mengatur pengiriman laporan dan surat. Anastasya Nivero akan menjadi Elite Guard pribadi Leoric. Basten Nahan akan mendampingi Cortinus. Leonard Lionheart akan memimpin urusan tempur bersama dua puluh prajurit pilihan kerajaan.”

Tatapan Rasdinand menyapu seluruh anggota ekspedisi.

“Saya, Raja Rasdinand Nightvale, berharap keberhasilan perjalanan ini menjadi pintu menuju masa depan yang lebih baik. Semoga Tuhan senantiasa melindungi kalian semua.”

Untuk beberapa detik, sang raja membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang akan mempertaruhkan nyawa di luar perbatasan kerajaan.

Sorakan para prajurit segera menggema memenuhi halaman istana.

Matahari kini telah sepenuhnya muncul dari balik pegunungan. Cahaya keemasannya menyinari gerbang utama Nightdoom.

Leoric menaiki kuda hitamnya dengan tenang. Di pinggangnya tergantung pedang hitam yang sebenarnya adalah Sarioth yang sedang menyamar. Para prajurit lain menaiki kuda maupun kereta yang telah dipersiapkan sejak dini hari.

Leoric menarik napas panjang. Embun tipis keluar dari mulutnya karena dinginnya udara pagi.

Ia mengelus leher kudanya sebentar sebelum mengangkat pedang ke udara.

“Pasukan perjalanan!”

Semua perhatian langsung tertuju kepadanya.

“Berangkat!”

Suara derap kaki kuda segera memenuhi jalan utama kerajaan saat rombongan mulai bergerak meninggalkan Nightdoom.

Dari balik jendela istana, Fiona memperhatikan kepergian mereka dengan ekspresi datar seperti biasanya. Tidak jauh dari sana, Emily berdiri di samping Rasdinand sambil menyaksikan rombongan yang perlahan menghilang di kejauhan.

“Dunia ini benar-benar berubah ya,” ucap Emily pelan. “Tanpa kusadari, anak-anak kita juga berubah.”

Rasdinand tersenyum tipis.

“Ya. Mereka jadi lebih dewasa.”

Ia menatap ke arah jalan yang mulai kosong.

“Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali menggendong mereka.”

Belum sempat percakapan itu berlanjut, Gideon berlari tergesa-gesa ke arah mereka.

“Yang Mulia!”

Rasdinand langsung menoleh.

“Ada apa?”

“Pangeran Fabian tiba-tiba pingsan di taman kerajaan!”

Ekspresi Emily dan Rasdinand langsung berubah.

“Apa?”

Tanpa membuang waktu, keduanya segera mengikuti Gideon menuju kamar Fabian.

Fabian telah dipindahkan ke kamarnya. Tubuhnya terbaring lemah di atas ranjang dengan napas yang terdengar berat.

Begitu Emily menyentuh dahinya, wajahnya langsung memucat.

“Panas sekali...”

Demam Fabian terasa tidak normal. Keringat membasahi hampir seluruh tubuhnya seolah ia baru saja berlari selama berjam-jam.

Rasdinand segera memerintahkan para pelayan.

“Siapkan kain dingin sekarang juga!”

Para pelayan bergegas memenuhi perintah tersebut.

Tidak lama kemudian, tabib kerajaan tiba dan mulai memeriksa kondisi Fabian. Setelah melakukan pemeriksaan cukup lama, sang tabib akhirnya menyampaikan kesimpulannya.

“Sepertinya ini demam akibat syok emosional yang berat.”

“Syok?” ulang Rasdinand.

“Ya, Yang Mulia. Kemungkinan besar karena keberangkatan kedua kakaknya yang tidak ia ketahui sebelumnya.”

Rasdinand mengusap pelipisnya.

“Memangnya dia sedekat itu dengan Leoric dan Cortinus?”

Ia menghela napas panjang.

“Padahal usianya sudah lima belas tahun... sepertinya aku memang harus lebih memperhatikan anak-anakku.”

Emily tidak langsung menjawab. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang janggal. Sulit membayangkan Fabian jatuh sakit separah ini hanya karena mengetahui kakaknya pergi.

Namun untuk saat ini, mereka tidak memiliki pilihan selain menunggu.

Di sisi lain, masih di Nightdoom, para bangsawan Tanah Rasava sedang mengadakan rapat darurat.

Rapat tersebut dihadiri oleh empat baron yang memimpin desa-desa utama di wilayah tanah Rasava.

Baron Rotosa Sarakiel dari Desa Anagi.

Baron Mousa Hikaru dari Desa Fenos.

Baron Hibio Esaena dari Desa Bluesa.

Dan Baron Hoffen Sledey dari Desa Terio.

Mereka berkumpul membahas satu masalah yang sama.

Lahan pertanian Rasava sedang sekarat.

“Tanah di Anagi sudah tidak bisa digunakan,” ujar Rotosa dengan wajah muram. “Darah manusia dan darah monster mencemari hampir seluruh area pertanian.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Kemarin aku melakukan percobaan. Aku menanam beberapa tanaman baru di lahan yang tercemar.”

Rotosa mengepalkan tangannya.

“Semuanya mati hanya dalam hitungan jam.”

Baron Mousa mengernyit.

“Bagaimana kalau kita menggunakan pupuk kualitas tinggi?”

Namun Hoffen segera menggeleng.

“Itu hanya akan menghabiskan anggaran jika ternyata tidak berhasil.”

Ia menatap semua orang di ruangan itu.

“Bagaimana jika seluruh Tanah Rasava memang sudah tidak bisa ditinggali?”

Kalimat itu membuat suasana semakin suram.

Baron Hibio kemudian ikut berbicara.

“Di Bluesa ada warga yang jatuh sakit setelah meminum air sumur.”

Semua orang langsung menoleh.

“Aku curiga pencemaran tanah juga memengaruhi sumber air.”

Tak seorang pun memiliki jawaban.

Rotosa menghela napas panjang.

“Jika Rasava kehilangan pertaniannya, maka ekonomi Nightdoom juga akan ikut jatuh.”

Tidak ada yang membantah pernyataan tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, para bangsawan Rasava merasa benar-benar tidak memiliki solusi.

Sementara itu, ekspedisi Leoric terus bergerak menuju Peak Cavalry.

Perjalanan berlangsung cukup tenang hingga mereka mulai menyadari sesuatu yang aneh.

“Bukankah seharusnya kita sudah melewati desa independen itu?” tanya Cortinus.

Leonard Lionheart menoleh ke sekeliling.

“Aku juga memikirkan hal yang sama.”

Ia menyapu pandangan ke area sekitar.

“Kalaupun desa itu hancur akibat insiden tanggal tujuh, seharusnya masih ada sisa bangunan atau puing-puing.”

Leonard mengerutkan kening.

“Di sini tidak ada apa-apa.”

Navigator perjalanan langsung membela diri.

“Kita tidak tersesat. Saya sudah berkali-kali melalui jalur ini saat mengantar rombongan menuju Peak Cavalry.”

Perdebatan kecil pun mulai muncul.

Di tengah semua itu, Leoric tetap diam.

Karena saat itu ia sedang berbicara dengan seseorang yang tidak bisa didengar orang lain.

Sarioth.

Melalui telepati, suara tengkorak berjubah itu terdengar di kepalanya.

"Ada yang mengawasi kita."

Leoric tetap menatap lurus ke depan agar tidak menarik perhatian.

"Manusia atau monster?"

Sarioth terdiam beberapa saat.

"Manusia."

Leoric sedikit mengernyit.

"Berapa jumlahnya?"

Jawaban yang diterimanya justru membuatnya semakin waspada.

"Aku tidak yakin."

Leoric menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Hawa buruk mereka tidak teratur."

Suara Sarioth terdengar lebih serius dari biasanya.

"Seolah yang mengincar kita bukan satu kelompok... melainkan beberapa kelompok berbeda."

Leoric merasakan firasat buruk mulai muncul.

Dan tepat ketika Sarioth selesai berbicara—

Terdengar suara dari balik pepohonan.

Krek.

Leoric, Anastasya, dan Cortinus menoleh ke arah yang sama secara bersamaan.

Di antara bayangan hutan, seseorang sedang berdiri memperhatikan mereka.

Atau lebih tepatnya...

Sesuatu.

Makhluk itu memiliki senyum yang terlalu lebar untuk disebut normal. Matanya menatap lurus ke arah rombongan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Seolah-olah ia telah mengikuti mereka sejak lama.

Dan lebih buruk lagi...

Seolah-olah ia senang karena akhirnya mangsanya menyadari keberadaannya.

1
AngkaSatu
Epic
AngkaSatu
Wah jadi inspirasiku nanti.
𝐊𝐚𝐞𝐥
cliffhanger yang sangat menarik
𝐊𝐚𝐞𝐥
hm, lagi-lagi terlalu banyak perkenalan karakter. saranku, klo mau dikenalin di satu bab, mending pakai percakapan antar tokoh dan beri ciri khasnya.
DreamXimaginatioN😴
hmm. aku kurang setuju dengan sikap leoric, di suruh mundur eh beneran mundur ternyata, baru udah ada korban berjatuhan balik lagi ke medan perang. jadi kurang epic deh kemunculannya, maaf 😅 ini hanya dalam pikiran ku saja
DreamXimaginatioN😴
wuihh dapat senjata, kayak nya MC bakal OP nih karena si sarioth kalau di lihat mungkin saja termasuk para petinggi monster2 itu 😁
DreamXimaginatioN😴
wah ini ketambahan spasi ya, malah jadi paragraf baru. Segera di perbaiki author 👍😄
ShikiSlurx
parah bangsawan bangsawan disini kayaknya kejam banget deh
WER
semangatnya 💪💪💪
Clevareus: siapp
total 1 replies
𝐊𝐚𝐞𝐥
secara tata bahasa aman sejauh ini. plot-nya juga lumayan. tapi info dump-nya cukup parah. terlalu banyak sejarah yang dijelaskan dalam satu bab. karakternya juga terlalu banyak diperkenalkan.

semangat!
Quinnela Estesa
chapter awal, jangan langsung dikasih adegan tempo tinggi😊 nanti setelahnya bakalan kehabisan bahan bakar deh.

seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.
Clevareus: oke makasih masukannya
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
haha nice lah pokoknya 🔥🔥🔥. Tengkorak 💀 apa itu di belakang nya.../Shame/. Hanya saran sedikit saja, monster-monster yang keluar tidak terlalu di jelaskan ya, jika emang gitu niat author tidak masalah namun setidaknya berikan sedikit jenis garis besar nya aja seperti ada yang bisa terbang/ ada yang berotot atau yang lainnya, gitu aja.
Clevareus: okee siapp
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
uhh... seram nya oii😬
AngkaSatu
Oke sejauh ini masih oke tetapi ada beberapa hal yang bisa diperbaiki. Ini adegan bisa dibuat lebih baik lagi misalnya disaat kedua kekasih itu ingin mengucapkan sumpah setia mereka langit tiba tiba retak dan ada mata yang melihat mereka dari atas tersebut semua orang yang menjadi tamu undangan berlarian kesana kemari. Oke segitu dulu dan maaf jika kritikan ku sedikit nyingung🙏
Clevareus: malahan aku berterimakasih kalau ada yang ngasih saran disini🔥
total 2 replies
DreamXimaginatioN😴
hmm comenter ku seperti kebanyakan pembaca lainnya yaitu terlalu banyak informas tapi bagian tengah sampai akhir mulai menarik kok😁. Aku menyarankan agar kata dan paragraf bagian awal bab pertama pada novel di buat semewah/ sebagus mungkin, buat mancing pembaca. Tapi kembali ke author sendiri sih mau di edit atau tidak. Aku menilai bab ini sudah cukup menarik di tambah tata bahasanya rapi, sudah berkelas ini 👍😁.
AngkaSatu
Pendapatku tentang Clarissa. Menurutku Clarissa itu belum diperkenalkan dengan baik. Orang orang akan bilang "Oh oke dia trauma karena perang" Tetapi bila buat Clarissa nya diperkenalkan dulu kasih dialog dulu maka orang orang akan merasa sedikit perihatin. "Oh kasian sekali Clarissa."
AngkaSatu
Menurutku terlalu banyak informasi yang dilemparkan sekaligus. Orang orang bisa lupa nanti tokoh tokoh pentingnya nanti
Clevareus: oke kak, makasih pendapatnya yaa
total 1 replies
Not Not
Gak tau mau komen apa lagi 😹 udah bagus kok
Clevareus: makasihh 🔥
total 1 replies
Not Not
terlalu banyak info dump diawal/NosePick/ mendingan ditunjukkan lewat adegan
WER
semangatttt authorrrrrr 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!