Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Keputusan Zinnia.
Beberapa saat berlalu, napas mereka perlahan kembali teratur meski masih terasa sedikit berat dan terengah-engah. Rion akhirnya mengangkat kepalanya, wajahnya kembali menempel dekat di bahu Zinnia, hidungnya terus menghirup aroma khas yang melekat di tubuh gadis itu, seolah tak pernah cukup.
" Sampai kapan kita akan seperti ini Zinnia.. aku tak lagi bisa sabar denganmu.. aku ingin memilikimu seutuhnya.. "
DEG!
Satu kalimat itu membuat jantung Zinnia berhenti berdetak sepersekian detik, lalu berpacu cepat tak karuan. Dia menelan ludah, matanya gelagapan tak tahu harus menatap kemana, tangan yang tadi masih mencengkeram bahu Rion perlahan mengendur.
" Kenapa? Apa semua ini tidak cukup? " tanyanya dengan suara kecil dan bergetar.
Rion menggeleng perlahan, kepalanya masih bersandar di bahu gadis itu.
" Aku mau semuanya.. " Bisiknya, nada bicaranya kali ini terdengar manja dan mendesak, berbeda dari biasanya.
".. E.. Eh.. tapi aku perlu waktu. " jawab Zinnia terbata-bata.
" Aku tahu.. hanya saja aku tak bisa terlalu sabar menunggu."
Zinnia terdiam. Perlahan dia mengangkat tubuhnya, memperbaiki posisi duduknya, dan Rion pun ikut bangkit lalu duduk bersisian di sofa, wajahnya masih terlihat lelah tapi tatapannya tak pernah lepas dari wajah gadis di hadapannya.
Dia mulai sadar, mungkin selama ini sikapnya memang keterlaluan. Berubah-ubah suasana hati, bersikap manja seenaknya, kadang dingin kadang panas, meminta ini itu seolah semua adalah haknya. Tapi Rion selalu menerima, selalu menuruti, selalu menahan segalanya. Bahkan tadi, saat dia sudah hilang kendali dan menindihnya di sofa, saat hasratnya sudah membakar habis akal sehatnya, dia tetap berhenti. Dia bisa saja mengambil segalanya, merenggut apa yang dia inginkan saat itu juga, tak ada yang bisa menghalangi, tapi dia memilih menahan diri, memilih berhenti demi perasaan gadis di hadapannya.
" Maaf ya.. aku keterlaluan.. " ucap Zinnia pelan, nada bicaranya penuh rasa menyesal.
Rion tak menjawab apapun. Wajahnya terlihat datar dan tak terbaca, matanya menatap keluar lewat kaca jendela, memperhatikan kerlap-kerlip lampu gedung dan kendaraan di bawah sana yang mulai menyala seiring masuknya malam.
" Tak apa. aku suka.. tapi aku ingin lebih dari itu. "
Setelah berkata begitu, Rion bangkit berdiri, melangkah menuju dinding kaca besar, berdiri tegak disana sambil terus memandangi pemandangan kota yang mulai terlihat indah di malam hari.
Zinnia juga ikut beranjak dari sofa, berdiri tepat di samping lelaki itu. Dia diam sejenak, pikirannya berputar cepat mengingat segala hal yang terjadi sejak pertama kali mereka bertemu, mengingat segala sikap dan tindakan Rion padanya, dan akhirnya dia memutuskan sesuatu.
" Rion.. "
Rion menoleh sedikit, tatapannya masih dingin dan datar.
" Kenapa? mau pulang ya? "
" Bukan.. aku hanya ingin bilang.. "
" Bilang apa? katakan saja aku tak akan marah. "
Zinnia menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam mata lelaki di hadapannya, mengucapkan setiap kata dengan tegas dan jelas.
" Berikan padaku satu bulan untuk mengenalmu.. dan jangan ditahan, keluarkan saja sikap aslimu.. aku mau lihat semua. Jika dalam sebulan kamu masih menyukaiku maka aku siap menikah denganmu.. "
Seketika suasana menjadi hening.
Rion tertegun kaku, matanya melebar tak percaya mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Zinnia. Dia menyangka gadis itu akan meminta waktu lebih lama, menyangka dia akan terus menolak atau berkata belum siap, tapi justru dia mendapatkan jawaban yang jauh melebihi ekspektasinya.
" Itu artinya kamu mau jadi pacarku? " Tanya Rion sedikit ragu.
" Ya, aku mau. " Jawab Zinnia pasti.
Rion tersenyum, jarinya mulai membelai lembut wajah cantik di hadapannya itu.
" Kau tahu Zinnia.. Kamu terlalu cantik untuk aku abaikan.. Entah kenapa kehadiranmu seperti magnet yang terus menarikku mendekat. "
Zinnia tak menjawab, tapi ekpresinya tampak nyaman saat sentuhan hangat itu membelai kulit wajahnya.
Di satu sisi Rion cukup terkejut, tak menyangka hal ini akan terjadi secepat ini. Tapi di sisi lain, rasa bahagia meledak-ledak di dalam dadanya, sampai rasanya mau berteriak keras ke seluruh dunia, sampai jantungnya terasa sakit karena terlalu senang. Seluruh ketegangan dan kegelisahan yang selama ini dia pendam seketika lenyap, digantikan rasa hangat yang memenuhi seluruh tubuhnya.
Dia kembali menatap wajah Zinnia, dan kali ini tatapan dinginnya sudah hilang total, digantikan tatapan lembut, penuh haru dan rasa memiliki yang tak terbendung. Perlahan dia mengangkat kedua tangannya, memegang kedua sisi wajah gadis itu, lalu menunduk dan mencium keningnya lama dan lembut.
" Satu bulan.. Apa waktunya tidak terlalu lama ya.. Tapi, baiklah. " bisiknya, suaranya bergetar karena menahan rasa bahagia.
" Dan ingat Zinnia.. kamu sudah berjanji. Mulai detik ini, tak ada jalan mundur lagi. Kamu pacarku sekarang. "
" Iya. Tapi.. Sudah malam, aku mau pulang. Bi Ijah pasti mengkhawatirkanku.. "
" Tentu saja aku akan antar kamu pulang, itu hal mudah. Tapi tunggu sebentar lagi aku masih ingin bersama Mu. "
Zinnia tak membalas dia hanya mengangguk setuju. Perlahan tangan besar Rion mulai menarik tengkuk Zinnia, menariknya kembali pada ciuman panas darinya.
***
Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah besar keluarga Cavendish. Rion turun lebih dulu, lalu membantu Zinnia turun dari kendaraan, dan sebelum gadis itu sempat melangkah masuk, dia menarik pinggang Zinnia mendekat, menundukkan kepalanya lalu mencium bibir gadis itu lama dan lembut, seolah tak mau berpisah sebentar saja.
" Masuklah. " ucap Rion setelah melepaskan ciumannya, jemarinya masih mengusap lembut pipi Zinnia.
" Nanti kalau ayah ibuku pulang aku akan kenalkan kamu pada mereka. " Ucap Zinnia sambil menatap wajah lelaki di hadapannya.
" Ya. " jawab Rion singkat tapi pasti, matanya berbinar mendengar itu.
" Kenalkan aku juga pada orang tuamu ya.. " tambah Zinnia lagi.
" Tentu saja. Kamu akan jadi menantu kesayangan mereka, aku pastikan itu. " jawab Rion sambil tersenyum miring.
" Kamu mau pulang? " tanya Zinnia tiba-tiba, nadanya terdengar agak kecil dan tak berani menatap langsung.
Rion mendekatkan wajahnya lagi, bibirnya hampir menyentuh telinga gadis itu saat menjawab dengan nada menggoda.
" Kenapa? Kamu mau aku menginap? "
Sambil bicara tangannya kembali menarik pinggang Zinnia makin dekat sampai tubuh mereka benar-benar menempel rapat, tak ada jarak sama sekali.
" Bukan begitu hanya saja.. " bantah Zinnia cepat, wajahnya langsung memerah habis.
" Masih kangen ya.. " potong Rion dengan nada makin menggoda, senyumnya makin lebar melihat reaksi gadisnya.
" B.. Bukan.. hanya saja.. aku.. " Zinnia makin gelagapan, lidahnya terasa kaku tak bisa menyusun kata yang tepat.
" Katakan saja.. " desak Rion pelan, menikmati setiap detik wajah malu dan bingung itu.
" Jangan salah paham, aku tidak.. ah tau lah.. kesal deh jadinya. " akhirnya Zinnia pasrah, memalingkan wajah kesal dan membiarkan lelaki itu tertawa puas melihatnya.
Rion tertawa lepas, suara rendahnya terdengar jelas di telinga Zinnia, dia merasa gemas sekali melihat tingkah gadisnya.
" Baiklah aku masuk sebentar. "
Mendengar itu, senyum puas langsung terbit di bibir Zinnia meski dia berusaha menahannya. Dia langsung menarik tangan Rion masuk ke dalam rumah, dan saat melewati ruang tengah dia berpesan pada pelayan yang ada disana.
" Bi Ijah buatkan dua gelas teh hangat ya. "
" Baik non. "
Mereka lalu duduk berdampingan di sofa ruang tamu yang luas dan nyaman. Kedua orang tua Zinnia memang masih di luar kota mengurus proyek bisnis besar, jadi rumah terasa sepi dan tenang, tak ada yang mengganggu mereka berdua.
Saat sedang menunggu teh datang, Zinnia tiba-tiba teringat sesuatu, dia menoleh menatap Rion.
" Rion kemarin kamu marah setelah bertemu ibumu, itu ada alasannya kan? "
Rion mengangguk perlahan.
" Ya.. "
" Coba ceritakan padaku.. " desak Zinnia penasaran.
" Hm.. Itu masalah sepele, ibu bilang aku telat datang dia marah karna makanan yang ia siapkan sudah dingin, aku jadi balik marah dan memutuskan pergi. " jawab Rion santai seolah itu hal kecil saja.
Mendengar itu alis Zinnia langsung berkerut, dia menepuk pelan lengan Rion dengan wajah tak setuju.
" Kenapa? kasihan ibumu dong harusnya kamu bujuk dia minta maaf sama dia. "
Rion tertawa melihat reaksi gadisnya, lalu menggeleng-geleng kepala.
" Iya.. tapi ibuku memang sifatnya kayak begitu, mirip kamu kalau di pikir-pikir. Sama-sama manja, sama-sama gampang ngambek, sama-sama kalau sudah mau sesuatu harus dapat. "
" Ya tetap saja kamu harus meminta maaf sama dia. " tegur Zinnia lagi, masih tak terima dengan sikap lelaki itu.
" Sudah selesai. Aku sudah minta maaf ngasih dia bunga dan lain-lain.. Pokoknya ngambek dia mirip kamu. " jawab Rion pasrah sambil tersenyum, matanya tak berkedip menatap wajah Zinnia.
Zinnia tertawa kecil mendengar itu, dia menggeleng tak habis pikir.
" Kamu bisa aja. "
Suasana hening sebentar, sampai Rion yang memulai lagi pembicaraan. Dia mencondongkan badan sedikit, tatapannya jadi lebih serius.
" Lalu soal kamu, kenapa selama ini kamu menolak orang yang lamar kamu? Katanya kamu tak mau terikat, tak mau punya pasangan kan? "
Zinnia terdiam sejenak, jemarinya memainkan ujung baju dressnya, lalu menjawab jujur.
" Itu.. karna gak ada yang menarik, semua sama saja. Ketemu sekali langsung dekat-dekat, langsung minta pegang tangan, langsung minta cium, aku gak suka. Rasanya kayak mereka cuma mau badan dan wajahku saja, bukan aku sebagai orangnya. "
Rion mendengar jawaban itu lalu tertawa pelan, matanya berbinar penuh godaan.
" Tapi kamu gak nolak saat aku cium kamu duluan waktu itu.. bahkan kamu malah membalasnya dengan semangat... "
" Ya.. itu... entahlah. " jawab Zinnia cepat, wajahnya langsung memerah sampai ke telinga, matanya melirik kemana-mana enggan menatap ke arah Rion, lidahnya terasa kaku tak bisa menjelaskan apapun.
Melihat ekspresi gadisnya yang bingung, malu dan tak bisa menjawab itu, Rion makin tertawa puas, dia mendekatkan wajahnya lalu mencubit lembut pipi Zinnia.
Ya, kamu memang beda dengan yang lain Zinnia... gumamnya dalam hati. Dan aku tahu, aku juga beda dengan semua orang yang pernah mendekatimu. Itu sebabnya kamu jatuh padaku, sama seperti aku jatuh padamu.
***