NovelToon NovelToon
Sunyi Yang Berisik Season 2

Sunyi Yang Berisik Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Misteri / Horor
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: kucing samge

Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.

Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.

Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 4: "KONFLIK YANG MEMBESAR" part 1

RUMAH JAY - RUANG TAMU - MALAM

Jay kembali ke rumah setelah beberapa hari keluar. Ruangan terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun lampu bohlam lama di langit-langit sudah menyala dengan terang. Dia lagi main game bareng Malakos—makhluk gaib itu sekarang duduk di samping Jay, tubuhnya yang seperti kabut hitam pekat membentuk sosok yang bisa duduk di kursi kayu yang sudah lapuk. Bayangannya hitam pekat menyatu dengan bayangan kursi, sementara gambar permainan yang bergerak cepat tampak jelas di layar televisi. Tangan Jay bergerak lincah memegang kontroler, sementara mulutnya penuh dengan keripik singkong yang renyah.

Tiba-tiba, tanpa ada peringatan apapun, buku tua itu mulai mengeluarkan bunyi dengungan rendah yang menusuk telinga—suaranya seperti geram binatang buas yang terkurung. Kulit buku yang sudah lapuk mulai mengelupas dengan sendirinya, mengeluarkan aroma tanah basah dan sesuatu yang membusuk seperti mayat yang terkubur dalam waktu lama. Buku itu mulai bergetar dengan sangat kuat, hingga lembaran-lembarannya bergesek satu sama lain membuat suara seperti bisikan makhluk dalam rasa sakit. Tulisannya perlahan berubah warna menjadi merah pekat seperti darah yang baru keluar, setiap hurufnya seolah berdenyut seperti jantung yang sedang berdebar kencang.

Getarannya semakin ganas hingga buku itu melayang terbang dari atas meja kayu dengan kecepatan tiba-tiba, menabrak langit-langit lalu jatuh ke tengah ruangan sebelum mengambang di udara. Saat itu, lembaran-lembarannya terbuka dengan sendirinya dengan suara seperti raungan makhluk yang kesakitan, mengeluarkan kabut merah pekat yang membuat udara terasa lengket dan sulit dihirup. Huruf-huruf yang tadinya tidak dikenal kini terbaca jelas, menyala dengan cahaya kemerahan yang menyilaukan—setiap huruf seolah memiliki mata kecil yang berkedip-kedip, mengintai setiap sudut ruangan dengan pandangan yang menusuk tulang.

"𝘈𝘛𝘜𝘙𝘈𝘕 𝑫𝑼𝑵𝑰𝑨 𝙼𝚄𝙻𝙰𝙸 ᴛᴇʀʟᴀɴɢɢᴀʀ OLEH MAKHLUK 𝓖𝓐𝓘𝓑 ᎽᎪΝᏀ 𝗜𝗡𝗚𝗜𝗡 MÈñGÚħÄÌ 𝑺𝑬𝑴𝑼𝑨 𝒟𝐼𝑀𝐸𝒩𝒮𝐼. 𝘒𝘖𝘕𝘍𝘓𝘐𝘒 𝖸𝖠𝖭𝖦 ɮɛռǟʀ-ɮɛռǟʀ 𝐵𝐸𝑆𝐴𝑅 ɑׁׅƙׁׅɑׁׅ݊ꪀ 𝕄𝕌𝕃𝔸𝕀."

Suara gema dari tulisan itu bergema di seluruh rumah dengan getaran yang mengguncang setiap sudut ruangan—bunyi seperti lonceng mati yang berdentang tanpa henti. Getarannya membuat kaca jendela bergetar keras, sedangkan lampu bohlam lama mulai berkedip-kedip dengan irama yang tidak teratur. Malakos yang tadinya duduk di samping Jay tidak lagi tenang—tubuhnya yang seperti kabut hitam pekat mulai mengeras, bagian tubuhnya yang menyentuh kursi kayu mengeluarkan asap hitam yang menyengat. Semua bagian tubuhnya kini hanya titik-titik cahaya putih yang berkedip-kedip dengan cepat, seperti nyala api yang akan padam setiap saat, dan matanya yang tadinya tidak terlihat kini muncul sebagai dua titik hitam pekat yang menatap langsung ke arah buku tua yang masih mengambang di udara.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dengan kuat tanpa disentuh, membuat angin sejuk yang membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih amis masuk ke dalam ruangan. Kala datang dengan wajah serius bersama beberapa makhluk gaib dari dimensi lain—di antara mereka ada makhluk yang bentuknya seperti ular besar dengan kulit hijau menyala yang pernah bertemu Jay di Pulau Kelapa, kini matanya penuh dengan rasa khawatir dan ketegangan. Ada juga makhluk dari dimensi bola cahaya kuning, yang kini tampak lebih redup dan tubuhnya seperti akan meleleh.

KALA: "ꋬ꒯ꋬ ꀘꏂ꒒ꄲꂵꉣꄲꀘ ꂵꋬꀘꁝ꒒꒤ꀘ ꌦꋬꋊꍌ ꂵꏂꋊꌦꏂꃳ꒤꓄ ꒯꒐ꋪ꒐ ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ 'ꉣꋬꇙ꒤ꀘꋬꋊ ꀘꏂꃳꏂꃳꋬꇙꋬꋊ'—ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꃳꏂꋪꉣ꒐ꀘ꒐ꋪ ꋬ꓄꒤ꋪꋬꋊ ꒯꒤ꋊ꒐ꋬ ꁝꋬꋊꌦꋬ ꃳ꒤ꋬ꓄ ꂵꏂꋊ꒻ꏂꃳꋬꀘ ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꒯ꋬꋊ ꒐ꋊꍌ꒐ꋊ ꂵꏂꋊꍌꁝꋬꋊꉔ꒤ꋪꀘꋬꋊꋊꌦꋬ ꋬꍌꋬꋪ ꃳ꒐ꇙꋬ "ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꇙ꒤꒯ꋬꁝ ꂵꏂꋊꌦꏂꋪꋬꋊꍌ ꃳꏂꃳꏂꋪꋬꉣꋬ ꓄꒐꓄꒐ꀘ ꒯꒐ꋬꂵ ꒯ꋬꋊ ꂵꏂꂵꃳ꒤ꋬ꓄ ꃳꋬ꓄ꋬꇙ ꋬꋊ꓄ꋬꋪ ꒯꒐ꂵꏂꋊꇙ꒐ ꋪꏂ꓄ꋬꀘ ꉣꋬꋪꋬꁝ. ꀘ꒐꓄ꋬ ꁝꋬꋪ꒤ꇙ ꂵꏂꋊꍌꁝꏂꋊ꓄꒐ꀘꋬꋊ ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꇙꏂꃳꏂ꒒꒤ꂵ ꓄ꏂꋪ꒒ꋬꂵꃳꋬ꓄!"

꓄꒤ꃳ꒤ꁝ ꂵꋬꋊ꒤ꇙ꒐ꋬ ꇙꏂꉔꋬꋪꋬ ꃳꏂꃳꋬꇙ."

Suara Kala terdengar serius dan tegas, berbeda dari biasanya. Dia melihat ke arah buku tua yang masih mengambang di udara, lalu menatap Jay dengan mata yang meminta bantuan. Tapi Jay hanya mengangkat bahu sambil masih terus fokus pada layar permainan, tangannya tidak berhenti bergerak.

JAY: (masih ngemil) "Ya sudah lah, kenapa harus ribet begitu? Kalau bisa hidup damai aja kan lebih baik." Keripik yang ada di tangannya hampir habis, dia meraih bungkus besar di sebelahnya dan mengambil lagi secangkir keripik dengan tangan yang tidak terganggu sama sekali.

KALA: "ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꇙ꒤꒯ꋬꁝ ꂵꏂꋊꌦꏂꋪꋬꋊꍌ ꃳꏂꃳꏂꋪꋬꉣꋬ ꓄꒐꓄꒐ꀘ ꒯꒐ꋬꂵ ꒯ꋬꋊ ꂵꏂꂵꃳ꒤ꋬ꓄ ꃳꋬ꓄ꋬꇙ ꋬꋊ꓄ꋬꋪ ꒯꒐ꂵꏂꋊꇙ꒐ ꋪꏂ꓄ꋬꀘ ꉣꋬꋪꋬꁝ. ꀘ꒐꓄ꋬ ꁝꋬꋪ꒤ꇙ ꂵꏂꋊꍌꁝꏂꋊ꓄꒐ꀘꋬꋊ ꂵꏂꋪꏂꀘꋬ ꇙꏂꃳꏂ꒒꒤ꂵ ꓄ꏂꋪ꒒ꋬꂵꃳꋬ꓄!"

Saat kata-kata Kala keluar, pintu belakang rumah tiba-tiba terbuka dengan suara dentuman yang mengguncang lantai. Rara datang dengan cepat dan membawa berita bahwa Titik Diam di Desa Cemara dan Citra Mall sedang dalam bahaya. Rambutnya kacau dan wajahnya memucat, dia terengah-engah saat masuk ke ruangan, tangan kanannya masih memegang sebatang kayu kecil yang tampak seperti tongkat perlindungan.

"Desa Cemara sudah hampir hancur!" teriak Rara dengan suara yang sedikit bergetar. "Mereka merusak semua batasan yang ada di sana—makhluk-makhluk dari berbagai dimensi sudah mulai keluar secara sembarangan dan membuat kekacauan!"

Sebelum ada yang bisa menjawab, suara deru yang mengerikan mulai terdengar dari luar rumah. Makhluk dari Pasukan Kebebasan mulai muncul di rumah Jay—mereka punya bentuk yang sangat mengerikan dan suara yang kasar. Ada yang bentuknya seperti manusia tapi tanpa wajah, hanya lubang hitam di bagian wajah yang mengeluarkan suara mendesis. Ada juga yang lebih besar, tubuhnya seperti daging yang membusuk dengan tangan yang panjang dan berisi cakar tajam. Mereka muncul dari balik pagar, dari bawah tanah, bahkan dari balik cermin di dalam rumah.

PASUKAN KEBEBASAN: "ꁝꋬꋊꉔ꒤ꋪꀘꋬꋊ ꋬ꓄꒤ꋪꋬꋊ! ꃳꏂꃳꋬꇙꀘꋬꋊ ꇙꏂꂵ꒤ꋬ ꂵꋬꀘꁝ꒒꒤ꀘ! ꀘ꒐꓄ꋬ ꉣ꒤ꋊꌦꋬ ꁝꋬꀘ ꒤ꋊ꓄꒤ꀘ ꁝ꒐꒯꒤ꉣ ꇙꏂꉣꏂꋪ꓄꒐ ꂵꋬꋊ꒤ꇙ꒐ꋬ!"

Suara mereka bersatu menjadi deru yang menyakitkan telinga, membuat dinding rumah bergetar dan plafon mulai mengeluarkan serpihan tanah dan pasir. Mereka mulai merusak pagar bambu di rumah Jay dan membuat benda-benda terbang ke sana kemari. Kursi kayu terbang ke arah jendela, pecahkan kaca dengan suara keras. Meja makan terbalik dan piring-piring yang ada di atasnya pecah bertebaran di lantai. Malakos mencoba menghalangi mereka dengan membentuk tembok dari kabut hitam, tapi tembok itu langsung hancur saat terkena sentuhan makhluk-makhluk itu.

Tapi Jay hanya mengangkat badan dengan malas, mengambil bungkus snack dan botol minuman yang masih utuh, lalu cuma pindah ke kursi lain yang terletak di sudut ruangan yang lebih aman. Dia menyelaraskan bantal di belakang punggungnya agar lebih nyaman, lalu lanjut makan snack sambil masih melihat ke arah layar televisi yang masih menyala meskipun gambarnya sudah mulai bergoyang karena getaran rumah. Setelah mengambil beberapa biji snack lagi, dia akhirnya menatap ke arah Pasukan Kebebasan dengan tatapan yang tidak terlalu peduli dan bilang:

JAY: "Kalau kalian merusak aturan, semua dimensi akan saling bertabrakan dan dunia ini tidak akan jadi hiburan lagi lho. Kalian juga tidak akan bisa hidup dengan damai kan?"

Suaranya terdengar tenang dan pelan, tapi cukup jelas untuk terdengar di tengah deru suara makhluk-makhluk itu. Beberapa dari mereka berhenti sejenak dan menatap Jay dengan mata yang menyala merah. Saat itu juga, tiba-tiba buku tua itu menyala terang dan menampilkan gambar tentang asal mula Pasukan Kebebasan—mereka adalah makhluk yang pernah dicoba untuk di bantu oleh Titik Diam yang gagal dan jadi frustasi.

Gambar-gambar muncul di udara dengan cahaya putih menyilaukan—melihat mereka yang dulu datang dengan harapan untuk hidup damai bersama manusia, tapi ditolak karena aturan yang dianggap terlalu kaku. Melihat mereka yang berusaha beradaptasi tapi selalu mendapatkan kesulitan, bahkan beberapa di antaranya dipermalukan atau diserang oleh manusia yang takut akan keberadaan mereka. Gambar terakhir menunjukkan mereka yang berkumpul di bawah kepemimpinan makhluk yang bentuknya lebih besar dan mengerikan dari yang lain, dengan mata yang penuh dengan dendam dan hasrat untuk membalas semua yang telah mereka alami.

Udara di dalam rumah menjadi semakin berat dan penuh dengan rasa kesedihan yang menusuk. Jay masih duduk dengan rileks di kursinya, tapi kini dia sudah berhenti makan snack dan mulai menatap gambar-gambar itu dengan tatapan yang lebih fokus. Malakos mendekat ke arahnya, bayangannya menyelimuti kursi dengan lembut seolah ingin memberikan perlindungan. Kala dan Rara berdiri berjajar, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya, sementara Pasukan Kebebasan masih berdiri di tengah ruangan, antara keinginan untuk menyerang dan keraguan yang mulai muncul di hati mereka.

Tiba-tiba, salah satu pemimpin Pasukan Kebebasan—makhluk dengan tubuh seperti daging membusuk yang sudah berdiri paling depan—mengeluarkan suara raungan yang menggema. "ꀘ꒐꓄ꋬ ꓄꒐꒯ꋬꀘ ꋬꀘꋬꋊ ꃳꏂꋪꁝꏂꋊ꓄꒐ ꇙꏂꃳꏂ꒒꒤ꂵ ꋬ꓄꒤ꋪꋬꋊ ꒐꓄꒤ ꁝꋬꋊꉔ꒤ꋪ!" ucapnya dengan suara kasar yang membuat lantai bergetar. Tak lama kemudian, semua makhluk dari kelompok itu mulai menghilang dengan cepat seperti kabut yang terpangkas angin, hanya menyisakan aroma amis dan puing-puing dari pagar bambu yang mereka rusak.

Buku tua itu perlahan turun ke atas meja, cahayanya mulai redup tapi tulisan merah masih jelas terlihat. Jay akhirnya bergerak dari kursinya, mengambil bungkus snack yang sudah terbuka dan mengeluarkan satu biji keripik lagi ke dalam mulutnya. "Kayaknya besok harus keluar lagi ya," gumamnya dengan nada yang tetap malas, meskipun matanya sudah menunjukkan bahwa dia tahu konflik yang akan datang tidak akan sesederhana yang dia kira.

Di luar jendela, langit yang tadinya cerah dengan bulan mulai tertutup awan hitam pekat yang tidak bisa dikenali bentuknya. Sesekali ada kilatan cahaya merah yang menyambar dari balik awan—tanda bahwa perang antar dimensi sudah semakin dekat dan tidak bisa dihindari lagi.

1
EvhaLynn
Lari Mbak🏃‍♀️
EvhaLynn
oh pantesan🤭
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
baik benar Jay
リズキ・サントソ
👍👍
リズキ・サントソ
santoso 🗿
T28J
gimana nyanyinya, hihihihihi....
Pengabdi Uji
tp klo g galak gpp jg
Pengabdi Uji
kumpulan paracenayang khh🫣
Pengabdi Uji
hmm pantess trnyta?emg ky spesial itu
Pengabdi Uji
hooh pantes ajaa ya trnyta g mngancam
Pengabdi Uji
ini knp dy?? apa di pngaruhi
Tati Hartati
keren banget kak
M. T🌻
keren thor👍
Jing_Jing22
Seperti reuni makhluk halus dan para tuannya.
Jing_Jing22
Cantik loh tulisannya.
Jing_Jing22
Kalau kamu kan udah terbiasa Jay berbeda dengan Dinda
Sishrye
takut nya kalau tetiba makhluk itu berubah jadi jahat
~SasMaya ✧
Thor, baca adegan ini .. jadi inget film Shinbi house ... pemberantas makhluk-makhluk
Sishrye: oh iya bener juga ya kak. btw aku juga sering liat film itu di net tipi😂
total 1 replies
~SasMaya ✧
aelah si Jay, cikinya pasti ga ketinggalan 😂
Mingyu gf😘
mereka ini orang jawa ya ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!