NovelToon NovelToon
Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumling

Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.

Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Mau

"Rayya, jaga diri mu dengan baik. Mama harus pulang."

Kini keluarga Rayya harus pulang, dan wanita yang baru saja menjadi istri Marsel itu harus kembali seorang diri tanpa orang yang Ia anggap menenangkan, tidak seperti orang-orang yang ada di kediaman besar itu, Rayya selalu was-was selama tinggal di sana.

"Iya, kalian hati-hati. Tidak usah mencemaskan Rayya di sini," kata Rayya sambil tersenyum walau hati dan perasaan nya berkata lain. Ia ingin ikut pergi dengan keluarga nya dan tidak pernah kembali di sana.

"Lex, antar mereka keluar," perintah Marsel pada Alex. Pria itu patuh dan segera menuntun kelurga Rayya keluar.

Setelah mereka pergi, Marsel merangkul pinggang istrinya membawa wanita itu semakin dekat dengan dirinya.

Namun Rayya risih dan dengan pelan melepaskan rangkulan tersebut.

"Rayya, kamu sudah menjadi Istri Marsel anak saya. Bagaimana kalau ngobrol dulu dengan Mona dan ibu Mama Lily," sahut Maksim, Ayah Marsel.

'Oh, ini Papa Marsel, ya? Berarti Papa mertua ya' batin Rayya melihat Maksim memang ada kemiripan dengan Marsel.

Ia melihat Lily berdampingan dengan Maksim dan Ia menebak itu adalah Ibu mertua, di samping Lily ada Mona yang sudah pernah Rayya lihat sebelumnya, tepat nya saat Mona pergi ke rumah mereka tempo hari.

"Oh, iya," jawab Rayya dan dengan cepat melepaskan rangkulan Marsel. Marsel memperlihatkan wajah seram saat wanita itu menyingkirkan tangannya.

"Kalau masih mau di sini jangan menggangguku."

Marsel kembali menarik pinggang istrinya dengan kuat dan kasar membuat wanita itu terkejut.

"Marsel, kami hanya ingin mengenal menantu lebih dekat," kata Lily lembut namun Marsel tahu itu hanya sandiwara. Pria yang baru menikah itu nampak malas menanggapi.

"Rayyaku tidak mau."

"Aku mau!" sahut Rayya cepat mau untuk mengobrol agar menghindar dari Marsel dan langsung menjauhi Marsel membuat pria itu marah namun tertahan. Ia langsung pergi dari sana karena tidak mau mendengar obrolan yang tidak ada artinya.

'Dia langsung pergi?' batin Rayya menatap Marsel yang pergi begitu saja.

Sebenarnya apa yang Rayya harapkan, bukankah bagus kalau Marsel tidak berada di dekat nya?

'Sudahlah, malah bagus' batinya lagi berdebat sendiri.

"Marsel memang begitu, kamu harus memakluminya ya," kata Maksim pada Rayya.

"Iya, tidak apa-apa," balas Rayya seadanya.

"Tidak usah sungkan, panggil saja aku Papa seperti Marsel dan Mona. Bukankah kita sudah menjadi keluarga?"

Maksim dengan ramah seperti Ayah mertua baru pada umumnya. Dirinya berharap Rayya bisa betah dan merasa nyaman dengan segala bentuk keburukan Marsel.

"Iya Pah."

Rayya tersenyum. Ternyata Maksim cukup baik. Begitulah kesan Rayya terhadap Ayah mertuanya itu.

"Papa tinggal dulu ya. Kalian mengobrol lah dulu," kata Maksim meninggalkan mereka dan tersisa lah Lily, Rayya dan Mona.

Lily tanpa kata berjalan mendekati sofa besar bak megah dan duduk di sana di ikuti oleh Mona.

Melihat dua wanita itu duduk, Rayya ikut bergabung namun di sofa lain karena Lily dan Mona berdampingan.

"Pelayan. Tuangkan teh," perintah Lily pada pelayan yang berdiri di sana.

Salah satu pelayan melakukan apa yang di minta oleh Nyonya Rumah. Setelah itu para pelayan di beri isyarat untuk segera pergi dari sana.

Setelah kepergian para pelayan itu, raut wajah ramah yang tadi terlihat pada dua ekor ular berbisa itu hilang seketika. Tapi Lily masih mempertahankan postur elegan nya, namun tidak seramah sebelumnya. Berbeda dengan Mona yang langsung menatap sinis Rayya.

'Ada apa dengan mereka?' batin Rayya memperhatikan dirinya sendiri. Mungkinkah ada yang salah dari dirinya?

"Apa sebenarnya yang kau harapkan setelah menjadi Istri Marsel? Sebelum Marsel melenyapkan mu, aku bisa membantu untuk mewujudkannya," kata Lily tiba-tiba dengan pertanyaan dinginnya tersebut.

Rayya sampai diam di tempat setelah mendengar perkataan wanita yang belum baya itu.

'Apa dia pikir aku menikah ini karena uang? Cih, siapa juga yang mau uang kotor mereka' batin Rayya, rupanya dua orang wanita itu hanya berlagak baik di depan saja. Namun setelah nya mereka malah ingin menikam begini.

Apa mereka pikir dirinya takut? Rayya memang sudah memprediksi bahwa di rumah itu tidak ada orang waras, semuanya gila, tanpa terkecuali Maksim, karena Rayya belum mengenal mereka dengan baik.

"Saya ingin mayat Marsel, apa kalian bisa memberikannya? Saya akan langsung pergi tanpa mau apa-apa lagi," balas Rayya dengan yakin pada kedua wanita itu.

Lily terlihat mati kutu, bukankah tadi dia dengan sok nya mengatakan agar Rayya mengutarakan keinginannya? Rayya bahkan sangat berharap agar Lily bisa memberikan hal tersebut. Akan sangat baik jika Ia diberikan mayat Marsel, arwah adiknya akan lebih tenang dan dirinya juga akan lebih bebas.

"Kau gila ya?!"

Mona berteriak setelah mendengar permintaan Rayya yang sungguh tidak masuk akal.

"Kenapa?"

Rayya melipat tangan di depan dada meremehkan mereka.

"Bukannya tadi ada yang bertanya saya ingin apa? Apa yang gila dengan permintaan ku," lanjutnya sambil tersenyum mengejek.

Ternyata Marsel memang sangat di takuti, bahkan oleh seluruh keluarganya. Baru begitu saja sudah kelihatan syok.

'Sepertinya mereka ini harus ku hindari' batin Rayya tidak mau menambah masalah. Tapi Ia juga tidak mau ditindas begitu saja. Baginya, di sana adalah penjara yang banyak binatang buasnya, hanya bisa menjaga diri agar tetap bertahan hidup.

"Jangan nggak tau diri ya. Dirimu kira karena Marsel nikahi, kau mau berbuat sesuka hati di sini," balas Mona dengan nada kesal.

"Loh, memang nya kenapa? Aku kan Istri nya."

Sejujurnya Rayya tidak yakin dengan perkataan tersebut. Kalau Marsel mendengar pasti kepalanya langsung didor dengan peluru.

Mereka tidak tahu saja, saat ini Marsel memperhatikan mereka di balik layar. Pria itu ingin tahu bagaimana jika Rayya menghadapi dua ular berbisa itu seorang diri.

"Cukup tangguh," gumam nya tersenyum tipis di salah satu sudut bibirnya.

Kembali ke Rayya dan dua ular berbisa di layar yang sedang Marsel tonton melalui cctv.

"Kamu kira Marsel suka wanita seperti dirimu ini. Biar ku kasih tau. Kak Marsel cuma menghindari Monica saja," kata Mona.

Padahal itu hanya kalimat yang tidak ada kebenaran nya. Jelas-jelas Marsel memang tidak suka pada Monica.

'Monica? Sepertinya itu adalah pacar si gila itu' pikir Rayya.

'Aku harus mencari cara agar bertemu dengan orang yang bernama Monica itu' lanjut nya membatin.

Sepertinya Rayya ada peluang untuk bebas dari Marsel.

"Apa yang ada di pikirannya?"

Marsel memperhatikan gerak gerik Rayya dengan cermat, yang seperti merencanakan sesuatu setelah mendengar perkataan Mona mengenai Monica. Marsel hanya tersenyum tipis, Ia yakin Rayya pasti mengira bisa lari darinya.

"Kenapa diam, pasti kecewa dengan kenyataan ini kan?"

Karena melihat Rayya tidak membalas perkataan nya. Mona mengira Rayya akhirnya tersadar kalau dia tidak bisa berbuat apa-apa di rumah ini dan jangan sok karena telah menjadi Istri Marsel.

Tentu saja dirinya lebih harus disegani ketimbang Rayya yang hanya orang miskin dan jelata.

Memikirkan hal tersebut, Mona menyinggung kan senyumnya.

"Ya, Aku kecewa sekali," jawab Rayya dengan nada ejekan dan berlalu dari sana.

"Ma. Dia berani sekali!"

Mona ingin menghadang tapi Lily menahannya.

"Sudahlah. Mungkin sekarang dia merasa hebat. Tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya," kata Lily.

"Apa rencana mama?" tanya Mona antusias.

"Tenanglah. Kamu akan segera tahu."

Lily tersenyum misterius dan Mona mengangguk, tidak sabar menunggu hari perkataan Lily tersebut.

1
Ruth Berliana
bagus ceritanya tp msh sepi yg baca nya
Jumli: makasih ❤️
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!