Membelenggu Liarmu dengan Mahar
Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.
Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.
Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.
Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR
BAB 12: "Antara Kitab Kuning dan Aroma Apel Malang"
Lampu belajar di meja kecil kamar mereka masih menyala terang, kontras dengan kegelapan malam di luar yang hanya dihiasi suara jangkrik dan sesekali lantunan ayat suci dari asrama santri yang melakukan darusan. Shania duduk bersila di atas karpet bulu merah muda yang ia bawa dari Jakarta, dikelilingi oleh tumpukan kertas karton warna-warni dan spidol glitter.
Di depannya, sebuah "Peta Harta Karun" buatan tangan sedang dalam proses penyelesaian. Bukan peta menuju emas, melainkan peta biografi empat Imam Madzhab.
"Ayo Shania, fokus! Ini demi tas idaman dan panggilan 'Sayang' seharian penuh di Malang!" gumamnya menyemangati diri sendiri.
Ia menuliskan nama Imam Abu Hanifah dengan tinta emas besar-besar. Di bawahnya, ia memberi catatan kaki: Si Jenius dari Kufah, pengusaha kain sutra yang logikanya sepedas oseng mercon kemarin. Kemudian beralih ke Imam Malik, ia menggambar ilustrasi pohon kurma kecil: Penjaga Sunnah Madinah, yang sangat hormat pada hadits sampai-sampai nggak mau naik kuda di kota Nabi.
Langkah kaki yang mendekat membuat Shania refleks menutupi kertas karton itu dengan bantal. Zain masuk ke kamar setelah menyelesaikan tugas administrasinya di kantor pusat pesantren. Pria itu tampak lelah, namun matanya langsung tertuju pada istrinya yang tampak "mencurigakan."
"Belum tidur, Dek?" tanya Zain.
Suaranya rendah, dan panggilan 'Dek' itu masih sukses membuat perut Shania terasa seperti dikelitik ribuan kupu-kupu.
"Belum, Mas. Sedikit lagi. Mas Zain kalau capek tidur duluan aja, jangan intip-intip 'senjata rahasia' aku," sahut Shania sambil menjulurkan lidah.
Zain tersenyum tipis. Ia berjalan menuju lemari, mengambil sarung bersih untuk shalat malam nanti.
"Saya, tidak mengintip. Saya hanya memastikan istri saya tidak ketiduran dengan spidol terbuka dan berakhir dengan wajah penuh coretan tinta."
"Ih, ngeledek! Liat aja besok pagi. Mas Zain bakal kaget betapa pintarnya Shania Ayunda Salsabilla ini."
“Ujian di Beranda Pagi”
Pukul 05.30 WIB, setelah jamaah Subuh dan pengajian kitab pagi, Zain menemukan Shania sudah duduk rapi di kursi rotan beranda belakang rumah mereka. Di depannya tersedia dua cangkir teh melati hangat dan sepiring pisang goreng yang aromanya menggoda iman.
"Sudah siap ditagih janjinya?" tantang Shania saat melihat suaminya mendekat.
Zain duduk dengan tenang, melipat tangan di depan dada.
"Silakan. Empat Imam Madzhab. Nama lengkap, tempat lahir, dan karakteristik utamanya. Tanpa teks."
Shania menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu mulai berbicara dengan nada seperti presenter berita papan atas.
"Pertama, Imam Abu Hanifah. Nama aslinya Nu'man bin Thabit. Lahir di Kufah. Beliau ini rajanya logika atau Ahlul Ra’yi. Beliau sangat mandiri, bahkan menolak jadi hakim demi menjaga integritasnya. Beliau wafat di dalam penjara, tapi ilmunya membebaskan jutaan orang dari kebingungan."
Zain mengangguk sekali.
"Lanjut."
"Kedua, Imam Malik bin Anas. Lahir di Madinah. Beliau ini penulis kitab Al-Muwatta. Orangnya sangat disiplin dan sangat mencintai Rasulullah. Kalau mau bicara hadits, beliau mandi dan pakai wangi-wangian dulu sebagai bentuk hormat. Beliau adalah guru dari imam selanjutnya."
"Siapa?" pancing Zain.
"Imam Syafi'i! Nama lengkapnya Muhammad bin Idris asy-Syafi'i. Lahir di Gaza, Palestina. Beliau ini pengembara ilmu sejati. Hafal Al-Qur'an usia tujuh tahun, hafal Al-Muwatta usia sepuluh tahun. Beliau itu jembatan antara logika Abu Hanifah dan tradisi Imam Malik. Madzhab beliau yang paling banyak dianut di Indonesia, termasuk oleh Mas Zain yang kaku ini," goda Shania sambil mengerlingkan mata.
Zain berusaha menahan senyumnya.
"Terakhir?"
"Imam Ahmad bin Hanbal. Murid Imam Syafi'i yang paling teguh pendiriannya. Lahir di Baghdad. Beliau sangat kuat memegang hadits dan pernah disiksa karena mempertahankan keyakinannya tentang Al-Qur'an adalah Kalamullah. Beliau itu definisi 'Sabar' yang sesungguhnya."
Shania membuka matanya, menatap Zain dengan binar kemenangan.
"Gimana, Mas Ustadz? Lulus?"
Zain terdiam sejenak, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya. Shania, gadis yang dulunya mungkin hanya tahu cara menginjak pedal gas dalam-dalam, kini bisa menjelaskan pilar-pilar keilmuan Islam dengan penuh semangat.
"Lulus," ucap Zain pendek.
"Bergegaslah. Kita berangkat ke Malang tiga puluh menit lagi."
Shania bersorak kegirangan, hampir saja ia memeluk Zain jika pria itu tidak cepat-cepat berdiri untuk menghindar—meskipun dengan wajah yang kembali memerah.
“Diplomasi "Sayang" di Kota Apel”
Perjalanan menuju Malang ditempuh dengan mobil operasional pesantren yang lebih nyaman. Sepanjang jalan, Shania menagih janji Zain.
"Mas, janjinya mana? Panggilan 'Sayang' seharian penuh. Dari tadi Mas cuma manggil 'Dek' atau 'Shania' doang," protes Shania saat mereka mulai memasuki wilayah Batu yang sejuk.
Zain yang sedang fokus menyetir berdehem berkali-kali.
"Sabar, Shania. Di sini banyak orang."
"Lho, kan Mas janji. Di rumah atau di luar, janji tetap janji. Ayo dong, Mas. Sekali aja sekarang."
Zain menarik napas panjang. Ia melirik kaca spion, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan. Dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan, ia berucap,
"Mau makan di mana... Sayang?"
Shania langsung memegangi pipinya yang terasa panas.
"Lagi, Mas! Sekali lagi tapi lebih keras!"
"Tidak ada pengulangan beruntun," sahut Zain cepat, kembali ke mode formalnya, meski tangannya di setir mobil tampak sedikit gemetar.
Mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan ternama. Shania melangkah dengan riang, namun kali ini ia tidak langsung menuju toko tas branded. Ia justru menarik Zain ke sebuah toko buku dan perlengkapan ibadah yang besar.
"Lho, katanya mau beli tas?" tanya Zain heran.
"Nanti, itu bonus. Aku mau beli kitab Al-Muwatta dan biografi lengkap empat imam tadi yang versi bahasa Indonesia yang bagus. Aku mau pelajari lebih dalam, Mas. Ternyata seru juga tahu sejarah mereka," ujar Shania tulus.
Zain terpaku di tempatnya berdiri. Ia melihat Shania yang sibuk memilah-milah buku. Di balik cadarnya, ia tahu istrinya sedang tersenyum. Sesuatu di dalam dada Zain terasa hangat. Inilah hidayah; ia tidak datang dengan paksaan, melainkan dengan sentuhan kasih sayang dan teladan.
Setelah dari toko buku, Zain benar-benar menepati janjinya. Ia mengantar Shania ke gerai tas impian istrinya. Shania memilih sebuah tas ransel kulit berwarna cokelat tua yang tampak elegan namun praktis.
"Ini aja, Mas. Biar kalau aku bawa kitab-kitab dari Mas, tasnya nggak cepat jebol," canda Shania.
Saat di kasir, Zain mengeluarkan dompetnya. Petugas kasir tersenyum melihat mereka.
"Istrinya cantik ya, Pak. Serasi sekali."
Zain melirik Shania, lalu kembali menatap petugas kasir.
"Terima kasih. Dia... memang anugerah terindah yang saya miliki."
Shania hampir saja menjatuhkan tasnya. Zain Malik Muammar baru saja mengeluarkan kalimat puitis tanpa disuruh!
“Konflik di Balik Keindahan”
Kebahagiaan mereka sore itu sedikit terusik saat mereka sedang menikmati jagung bakar di Alun-alun Batu. Dari kejauhan, Shania melihat sekumpulan wanita muda yang mengenakan seragam khas pesantren yang sangat ia kenal. Mereka adalah beberapa santriwati senior dan pengurus putri yang sedang melakukan pengabdian masyarakat di Malang.
Shania mengenali salah satunya, Ustazah Sarah, yang terkenal cukup vokal mengkritik gaya berpakaian Shania di awal Shania masuk pesantren.
"Eh, itu bukannya, Ustadz Zain?" bisik salah satu dari mereka, namun suaranya cukup keras untuk terdengar oleh Shania.
"Iya, sama istrinya. Wah, gayanya... tetap saja ya, ke Malang cuma buat belanja barang mewah. Kasihan Ustadz Zain, harusnya uang pesantren atau uang dakwah bisa buat yang lebih manfaat," sahut yang lain dengan nada sinis.
Tangan Shania yang sedang memegang jagung bakar mendadak kaku. Kata-kata "uang pesantren" dan "beban" kembali terngiang. Padahal, tas yang dibelinya tadi menggunakan uang tabungan Zain sendiri—yang merupakan hasil dari royalti buku-buku agama yang ditulis Zain, bukan uang umat.
Zain yang menyadari perubahan raut wajah istrinya langsung mengikuti arah pandang Shania. Ia melihat rombongan itu. Tanpa menunggu lama, Zain berdiri.
"Mas, mau ke mana?" tanya Shania cemas.
Zain tidak menjawab. Ia berjalan tegap menuju rombongan santriwati tersebut. Shania mengikuti dari belakang dengan perasaan was-was.
"Assalamualaikum," suara Zain menggelegar, penuh wibawa namun tetap sopan.
Para santriwati itu tersentak kaget. Mereka langsung menunduk dalam-dalam, wajah mereka pucat pasi.
"Wa... waalaikumussalam, Ustadz."
"Saya, tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian tadi. Dalam Islam, Husnudzon atau berprasangka baik adalah kewajiban. Apa yang istri saya beli adalah haknya, dan apa yang saya berikan adalah kewajiban saya sebagai suami dari hasil keringat saya sendiri, bukan dari dana yang kalian asumsikan," ujar Zain tenang namun menusuk.
Ustazah Sarah mencoba membela diri.
"Maaf Ustadz, kami hanya... kami hanya khawatir Ustadz Zain terbebani dengan gaya hidup yang berbeda."
Zain menoleh ke arah Shania, lalu kembali menatap mereka.
"Kalian khawatir saya terbebani? Justru saya merasa terbebani jika santri-santri saya lebih sibuk mengurusi urusan privat orang lain daripada mengamalkan ilmu yang mereka pelajari. Istri saya hari ini baru saja menyelesaikan hafalan biografi empat Imam Madzhab dengan sangat baik. Bagaimana dengan hafalan kalian? Sudah sampai mana penerapan kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim dalam lisan kalian?"
Suasana menjadi sangat hening. Beberapa santriwati mulai terisak kecil karena malu dan takut.
"Pulanglah. Fokus pada tugas pengabdian kalian. Jangan biarkan lisan kalian membakar pahala yang kalian kumpulkan dengan susah payah," tutup Zain.
Zain berbalik, meraih tangan Shania—kali ini benar-benar menggenggamnya erat di depan umum—dan menuntunnya pergi dari sana.
“Kelembutan di Balik Ketegasan”
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke Kediri, Shania hanya diam. Ia menatap ke luar jendela yang mulai gelap.
"Mas... makasih ya," bisiknya pelan.
"Untuk apa?"
"Untuk membela aku tadi. Tapi... apa Mas nggak takut citra Mas jadi buruk karena terlalu membela aku di depan santri?"
Zain menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi. Ia mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Shania.
"Shania, dengarkan saya. Menjadi suami bukan hanya soal memberi makan dan tempat tinggal. Menjadi suami adalah menjadi benteng. Kalau saya membiarkan orang lain merendahkanmu, berarti saya gagal menjadi pemimpinmu. Dan soal citra... biarlah Allah yang menilai. Saya lebih takut kehilangan kepercayaanmu daripada kehilangan pujian mereka."
Shania merasakan air mata jatuh membasahi cadarnya. Ia merasa sangat kecil, namun sekaligus sangat dicintai.
"Mas Zain..."
"Tadi di pasar, saya berjanji akan memanggilmu 'Sayang' seharian penuh kan?"
Zain mengulurkan tangannya, menghapus air mata di sudut mata Shania yang tidak tertutup cadar dengan ibu jarinya secara lembut.
"Iya," jawab Shania sesenggukan.
"Jangan menangis lagi, Sayang. Air matamu terlalu berharga untuk komentar orang-orang yang tidak mengenal hatimu."
Malam itu, di bawah langit perbatasan Malang-Kediri, Shania menyadari bahwa belenggu mahar yang dulu ia benci, kini telah berubah menjadi ikatan yang paling ia syukuri. Dan Zain, sang ustadz es batu, ternyata memiliki kehangatan yang mampu melelehkan segala keraguan di hatinya.
"Mas?"
"Ya?"
"Besok tantangannya apa lagi? Aku siap hafal apa aja, asal hadiahnya... Mas Zain jangan berhenti panggil aku kayak tadi."
Zain terkekeh, suara tawa yang kini terasa begitu akrab dan menenangkan.
"Besok? Hafalkan 10 Sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Kalau berhasil, saya akan ajak kamu memancing di sungai belakang pesantren."
"Deal! Siapkan diri Mas, karena Shania si pembalap bakal jadi Shania si penghafal kitab!"
Mobil kembali melaju, membelah malam dengan doa-doa yang mulai menyatu.
Bersambung ....
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething