Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Setelah kejadian mengejutkan kemarin, di mana semua orang yang dahulu tidak akrab dengannya tiba-tiba datang menjenguknya kecuali Fabian, karena memang mereka sudah cukup akrab waktu itu. Ditambah lagi sekarang Sarah benar-benar tidak menyangka, melihat kehadiran Marvin tepat pada pukul 05.00 sore, laki-laki itu sekarang sedang duduk sembari berkutat dengan laptop di samping ranjang rumah sakit dimana dirinya di rawat.
Apakah di kehidupannya kali ini Sarah benar-benar dikutuk?
"Kok lo bengong mulu sih?" Tanya Marvin karena merasa Sarah tidak bergerak sama sekali.
"Ha?"
Marvin mengalihkan tatapannya dari laptop ke arah Sarah." Lo itu bego atau gimana sih? Setiap gue ngomong pasti jawabannya cuman haheho terus."
"Ya habisnya lo gak jelas." Tukas Sarah dengan kesal.
"Nggak jelas apanya? Gue kan Udah nyuruh buat buka buku matematika. Apanya yang nggak jelas?"
Sarah terpaku, sekarang ini dirinya yang tidak fokus atau Marvin yang memang menyebalkan. Tapi tunggu....
"Buka buku Lo cepetan!"
Sarah segera membuka buku matematikanya yang sudah tadi berada di pangkuannya.
"Eh bentar-bentar, lo mau ngajarin gue matematika nih?" tanya Sarah dengan mata berbinar.
"Ya menurut lo?"
Sarah menutup mulutnya tidak percaya." Serius nih?"
Marvin menghela napasnya karena mulai merasa kesal." Lo tanya sekali lagi, gue pergi." Ujar Marvin bersiap akan beranjak.
"Eh, bentar dong. Emosian amat si."
Sarah segera menahan lengan Marvin ketika laki-laki itu terlihat akan beranjak.
"Ini gue udah buka bukunya nih. Tuh liat kan?"
"Buka halaman tiga puluh enam,"titah laki-laki itu.
Saragon segera membuka lembar demi lembar buku paket matematika itu hingga sampai di halaman tiga puluh enam."
"Coba kerjain soal nomor satu," titah Marvin lagi.
Sarah melirik ke arah Marvin sebentar kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah buku di hadapannya. Dia fokus membaca soal yang ditunjuk oleh laki-laki itu. Kepalanya perlahan-lahan menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang berpikir. Padahal nyatanya jangankan menjawab, mengerti maksud dari soalnya tidak. Tapi Sarah memilih diam, dia gengsi jika harus bilang bahwa dirinya tidak mengerti soal yang mungkin mudah di mata laki-laki itu.
"Kalau gak bisa bilang, gak usah sok mikir."
Sarah menoleh ke arah Marvin kemudian menunjukkan deretan giginya. Lagi-lagi Marvin hanya bisa menghela napas. Ia menggeser laptopnya dan mendekat ke arah Sarah, dia mengambil alih buku yang ada di pangkuan Sarah. Marvin kemudian mulai menjelaskan soal yang ada di buku tersebut.
Sarah menatap wajah Marvin yang sedang menjelaskan, sejenak dia terpesona dengan keseriusan laki-laki itu itu. Sedetik kemudian Sarah menggelengkan kepalanya.
Sial! Fokus Sarah fokus!
Sarah kembali memfokuskan diri pada buku dan mulai mendengarkan dan mencoba memahami penjelasan Marvin.
"Gue udah jelasin, soal nomor satu sampai lima itu masih pakai cara dan rumus yang sama. Coba Lo kerjain lagi."
Marvin kembali menggeser tubuhnya ke posisi awal. Ia pun sudah kembali berkutat dengan laptop miliknya. Sedangkan Sarah segera mengerjakan soal yang diperintahkan Marvin.
Sembari mengerjakan soal, sesekali Sarah mencuri-curi pandang ke arah Marvin. Begitu banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan kepada laki-laki itu, tapi ia ragu. Sarah berdecak, ia membuka mulutnya berniat untuk berbicara tapi urung. Ia kembali melirik ke arah Marvin yang masih fokus dengan laptopnya.
"Vin." Panggil Sarah pelan.
"Hmm?" Guman Marvin tanpa mengalihkan fokusnya dari laptop.
"Aku mau tanya boleh?"
"Ya?"
"Kenapa Lo tiba-tiba mau ngajarin gue?"
Suara ketikan yang saudari tadi terdengar tiba-tiba terhenti sebentar, hanya beberapa detik hingga kemudian Marvin kembali melanjutkan kegiatannya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sarah.
"Sebagai permintaan maaf," jawab Marvin.
"Oh," Sarah mengangguk paham.
Harusnya dari awal Sarah tahu bahwa laki-laki itu tidak mungkin dengan sukarela mau mengajarinya, apalagi ada rasa perhatian terhadap dirinya. Sarah secepat itu menjadi terbawa perasaan hanya karena Marvin mau bertemu dengannya, bahkan duduk di sampingnya seperti ini. Mungkin di kehidupan sebelumnya hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.
Sarah menghela nafas kecewa. Setidaknya tujuannya untuk lulus ujian mata pelajaran matematika mungkin bisa terwujud dengan bantuan Marvin.
Kali ini Sarah harus lebih fokus lagi pada tujuannya, tapi...
Tidak salah kan kalau dirinya masih berharap?
.....
Tak terasa satu minggu telah berlalu. Sarah menjalani hari-harinya di rumah sakit dengan belajar dan tentu saja ditemani oleh Marvin yang setiap harinya datang tepat pukul 05.00 sore untuk mengajarinya.
Sama seperti hari ini, Marvin yang duduk di samping ranjang rumah sakit seperti biasa dengan laptop yang selalu dia bawa dan Sarah yang fokus mengerjakan soal dengan tangan kanan yang masih dalam kondisi di gips. Menurut dokter, gips yang dipasang di tangan kanannya masih harus dipakai hingga satu bulan ke depan tergantung bagaimana proses penyembuhan tulangnya.
"Nyokap lo datang jam berapa?"tanya Marvin.
Sarah kemudian mengambil ponsel miliknya." Sebentar gue tanya dulu." Ujarnya kemudian mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
"Nyokap gue hari ini pulang agak telat dari biasanya," ucap Sarah kemudian menaruh kembali ponselnya di atas nakas.
Marvin pun mengangguk. Tidak lama Sarah merasa perutnya sakit, ia pun pamit menuju toilet. Setelah urusannya di toilet selesai, begitu keluar Sarah tidak melihat keberadaan Marvin di dalam ruangan itu. Laptop yang biasa digunakan laki-laki itu juga tidak ada, tapi tas laki-laki itu masih tersimpan rapi di atas kursi.
" Vin?" Panggil Sarah beberapa kali namun tidak ada jawaban.
Tidak ingin ambil pusing, Sarah kembali ke ranjang dan melanjutkan kegiatannya mengerjakan soal. Cukup lama ia bergelut dengan soal-soal itu, Sarah merasa sudah cukup lelah hingga akhirnya dia memilih untuk berhenti sejenak. Lalu bola matanya kembali menatap ke arah tas yang pemiliknya belum juga muncul kembali.
Cara melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Apakah laki-laki itu sebenarnya sudah pulang tapi lupa membawa tasnya?
"CK! Setidaknya kalau mau pulang pamit dulu kek!" Cibir Sarah.
Tiba-tiba perutnya berbunyi, pertanda bahwa perutnya meronta meminta untuk diisi. Gadis itu menghela napas lalu mengambil sebuah dompet yang ada di bawah bantalnya. Ia berencana ingin membeli beberapa roti di kantin rumah sakit.
Saat berjalan di lorong rumah sakit, ia tidak sengaja melihat seorang gadis remaja dengan wajah pucat keluar dari salah satu ruang kamar inap. Mereka sempat bertatapan, kemudian Sarah kembali melanjutkan langkahnya ke arah lift dan kebetulan gadis remaja itu juga berdiri di sana. Keduanya berdiri berdampingan menunggu lift terbuka.
Setelah menunggu beberapa menit, lift pun terbuka mereka berdua pun. Saat itu hanya ada mereka berdua di dalam lift, sesekali Sarah melirik ke arah gadis itu. Sebenarnya selama berada di rumah sakit, Sarah seringkali melihat gadis itu sendirian. Biasanya dia hanya berdiam di depan kamar atau berdiam diri di dalam kamar enaknya sambil menatap langit dari jendela.
Setelah pintu lift kembali terbuka, gadis berwajah pucat itu pun keluar. Sarah melihat angka lantai yang dituju oleh gadis itu. Lantai tiga belas ya itu lantai paling atas. Tidak lama live kembali tertutup, Sarah merasa heran untuk apa gadis itu ke lantai paling atas sendirian?
"Iya nggak mungkin bunuh diri kan?"cara bertanya pada dirinya sendiri, pertanyaan konyol yang tiba-tiba saja terlintas di pikirannya. Mungkin saja gadis itu hanya ingin mencari udara segar atau suasana baru.
Sarah tidak ingin ambil pusing, ia pun berjalan menuju kantin dan membeli beberapa roti di sana. Setelah itu ia kembali ke kamar. Namun saat dirinya melewati kamar dari gadis pucat tadi, melalui kaca pintu, Sarah tidak menemukan sosok itu di sana.
Sebenarnya perasaan Sarah sudah tidak enak sedari tadi. Apa pikiran konyolnya itu akan terjadi? Cara menggelengkan kepalanya, berharap apa yang ada di pikirannya tidak terjadi.
"Gak mungkin kan?" Tanyanya pada dirinya sendiri.