NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: GARIS DARAH DI ATAS ASPAL

Darah merembes cepat melalui sela-sela jari Sasmita, membasahi kain taktis hitam yang ia kenakan. Rasa panas yang membakar di bahu kirinya perlahan berubah menjadi denyutan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di belakangnya, gudang server di Cikarang itu masih bising oleh suara teriakan anak buah Agatha dan raungan Aris yang tak terima dunianya runtuh dalam satu ketikan jari.

"Nona! Bertahanlah!" Sakti merangkul pinggang Sasmita, memapahnya setengah menyeret menuju mobil van yang terparkir di kegelapan semak-semak.

Bramasta mengekor di belakang mereka, langkahnya gontai, napasnya memburu. Pria itu tampak hancur, namun ada kilat tekad di matanya yang belum padam. Begitu mereka masuk ke dalam van, Sakti langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan kepulan debu dan kemarahan Agatha Waskita di belakang.

"Sakti... jangan ke rumah sakit umum," bisik Sasmita, kepalanya bersandar pada jendela yang bergetar. Kesadarannya mulai naik turun seperti gelombang pasang.

"Saya tahu, Nona. Semua rumah sakit di radius lima puluh kilometer sudah pasti dipantau oleh jaringan informan Agatha. Kita ke klinik dr. Gunawan di pinggiran Bekasi. Dia orang lama Tuan Wirya yang berhutang nyawa," jawab Sakti, matanya fokus menembus kegelapan jalan tol yang sepi.

Sasmita memejamkan mata sejenak. Di balik kelopak matanya, ia masih melihat wajah Agatha yang kaku saat menyadari aset Waskita terkunci. Ia telah melakukan langkah yang sangat berisiko: menjadikan dirinya sendiri sebagai satu-satunya "kunci hidup" bagi triliunan rupiah. Itu adalah jaminan nyawa, sekaligus undangan terbuka bagi para pembunuh bayaran.

"Sasmita..." suara Bramasta terdengar serak di sampingnya. Pria itu menyodorkan sebotol air mineral dan kain bersih untuk menekan luka Sasmita. "Kenapa kamu melakukannya? Kamu bisa saja memberikan kode itu pada Agatha dan lari ke Malta seperti keinginan ibumu."

Sasmita membuka matanya sedikit, menatap Bramasta dengan sorot mata yang dingin namun lelah. "Lari tidak akan pernah mengakhiri ini, Bram. Agatha tidak akan membiarkanku hidup meski aku memberikannya seluruh dunia. Baginya, aku adalah bukti hidup dari aib Hendra. Satu-satunya cara untuk benar-benar bebas adalah dengan memegang leher mereka, bukan dengan membelakangi mereka."

Bramasta menunduk, rasa bersalah kembali membayangi wajahnya. "Aku yang membawa Aris ke dalam hidupmu... Aku yang gagal menjaganya tetap lurus."

"Berhenti meratap, Bram," potong Sasmita. "Aris memilih jalannya sendiri. Dan sekarang, fokus kita adalah bagaimana menggunakan aset yang terkunci ini untuk menghancurkan cengkeraman Agatha pada hakim-hakim yang menangani kasus Ayah. Aku ingin Hendra tetap di penjara, tapi aku ingin nama Wirya Janardana dibersihkan dari tuduhan korupsi yang dibuat Agatha."

Mobil van itu melambat saat memasuki sebuah kawasan perumahan tua yang rimbun dengan pepohonan besar. Di ujung jalan yang buntu, berdiri sebuah bangunan dua lantai yang tampak seperti rumah tinggal biasa, namun di dalamnya terdapat peralatan medis lengkap.

Dokter Gunawan, seorang pria tua dengan kacamata tebal, menyambut mereka dengan wajah cemas. Tanpa banyak bicara, ia segera membawa Sasmita ke ruang tindakan darurat.

"Pelurunya tidak menembus tulang, tapi merobek otot bahu cukup dalam. Kamu beruntung tidak mengalami pendarahan hebat," ujar dr. Gunawan sambil menyiapkan peralatan bedah minor. "Aku harus menjahitnya tanpa bius total, Nona. Kita tidak punya waktu untuk menunggu kamu bangun jika orang-orang itu datang."

"Lakukan saja, Dok," ujar Sasmita sambil menggigit sepotong kain kasa.

Rasa sakit yang menyusul kemudian hampir membuat Sasmita kehilangan kesadaran. Setiap tusukan jarum terasa seperti kawat berduri yang ditarik melalui dagingnya. Namun, ia menolak untuk berteriak. Ia menggunakan rasa sakit itu untuk tetap terjaga, untuk memetakan langkah selanjutnya di dalam kepalanya.

Di ruang tunggu yang remang-remang, Sakti dan Bramasta berjaga dengan waspada.

"Apa rencana kita selanjutnya, Mas Sakti?" tanya Bramasta pelan.

Sakti menghela napas, jempolnya mengelus gagang senjata api yang terselip di pinggangnya. "Nona Sasmita sekarang adalah target nomor satu di Asia Tenggara. Agatha tidak akan tinggal diam. Dia akan menggunakan 'kontak-kontak' internasionalnya. Kita harus memindahkan Nona ke tempat yang lebih aman sebelum fajar menyingsing."

Tiba-tiba, suara getaran ponsel terdengar di atas meja kayu. Itu ponsel milik Sasmita yang ia tinggalkan di tasnya. Sakti mengambilnya. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang hanya berisi angka nol.

Sakti ragu sejenak, lalu mengangkatnya dan menyalakan speaker.

"Halo, keponakanku yang cerdas," suara Agatha Waskita terdengar begitu jernih, seolah ia berada di ruangan yang sama. Tidak ada kemarahan dalam suaranya, hanya nada dingin yang menghina. "Kamu pikir dengan mengunci aset itu, kamu menang? Kamu hanya baru saja mengubah dirimu menjadi bom waktu. Dalam dua puluh empat jam, jika akses itu tidak dibuka, sistem akan memicu protokol 'Scorched Earth'. Semua dana itu akan disumbangkan ke organisasi-organisasi terlarang yang akan membuat Interpol mengejarmu hingga ke lubang semut."

Sasmita, yang mendengar dari dalam ruang tindakan, memaksa dirinya untuk duduk tegak meskipun dr. Gunawan memprotes. Ia mengambil ponsel itu dari tangan Sakti.

"Protokol itu tidak akan pernah dipicu, Tante Agatha," ujar Sasmita dengan napas yang memburu. "Karena aku sudah menanamkan logic bomb tambahan. Jika ada upaya paksa untuk mereset sistem, foto-foto pernikahanmu yang asli dengan pria dari kartel Meksiko dua puluh tahun lalu akan tersebar ke seluruh dewan direksi Waskita Group pagi ini."

Hening di seberang telepon. Untuk pertama kalinya, Sasmita mendengar Agatha menarik napas dengan tajam. Rahasia itu adalah kartu as yang ia temukan di dalam kotak baja ibunya—rahasia yang bahkan Hendra pun tidak tahu.

"Kamu... benar-benar darah Waskita yang menjijikkan," desis Agatha.

"Kita satu keluarga, bukan? Kita tahu cara menghancurkan satu sama lain," balas Sasmita. "Aku ingin kesepakatan baru. Lepaskan semua tekananmu pada pengadilan Wirya Janardana. Biarkan dia bebas dari tuduhan korupsi. Jika itu terjadi, aku akan memberikan satu digit pertama dari kode enkripsinya."

"Satu digit? Kamu bercanda?"

"Ada enam belas digit, Agatha. Pilihannya ada padamu: Kehilangan kehormatanmu pagi ini, atau mendapatkan kembali hartamu secara perlahan seiring dengan kebebasan ayahku. Aku beri waktu sampai jam enam pagi."

Sasmita mematikan teleponnya. Ia jatuh kembali ke tempat tidur medis, keringat dingin membanjiri tubuhnya.

"Nona, itu terlalu berbahaya. Agatha tidak akan membiarkan Anda hidup setelah Anda mengancam kehormatannya," ujar Sakti khawatir.

"Dia memang tidak akan membiarkanku hidup, Sakti. Tapi dia akan menunda kematianku. Dan penundaan itu adalah waktu yang kita butuhkan untuk menyerang balik," Sasmita menatap langit-langit ruangan yang retak.

Ia teringat bab-bab awal perjalanannya. Garis merah yang ia buat di lantai mansionnya dulu terasa sangat kekanak-kanakan sekarang. Kini, garis itu tertulis dengan darahnya sendiri di atas aspal jalanan Jakarta. Ia menyadari bahwa untuk mengalahkan monster, ia harus menjadi monster yang lebih besar.

Pukul 05.30 pagi. Suasana di klinik semakin tegang. Cahaya matahari mulai mengintip dari balik celah gorden. Sakti sedang memantau frekuensi radio polisi saat tiba-tiba ia mendengar sesuatu.

"Nona, ada pergerakan di dekat gedung pengadilan. Hakim ketua kasus Tuan Wirya baru saja mengundurkan diri secara mendadak karena 'masalah kesehatan'. Jaksa penuntut umum juga dikabarkan menarik beberapa barang bukti kunci."

Sasmita tersenyum lemah. "Dia memilih hartanya. Tipikal seorang Waskita."

Namun, kemenangan kecil itu segera dibuyarkan oleh suara deru mesin mobil yang banyak di depan klinik. Bukan satu, tapi setidaknya empat mobil berhenti mendadak. Suara pintu mobil dibanting terdengar serempak.

"Mereka di sini!" seru Bramasta, ia segera mengambil posisi di dekat jendela dengan sebilah kayu.

"Sakti, bawa Nona lewat jalur belakang! Aku akan menahan mereka di sini!" teriak dr. Gunawan, ia mengambil sebuah tabung oksigen besar dan pemantik api. "Rumah ini sudah saya siapkan untuk kemungkinan terburuk."

"Dokter, jangan!" Sasmita mencoba bangkit.

"Pergilah, Nona! Selesaikan apa yang sudah dimulai Tuan Wirya!" dr. Gunawan mendorong mereka menuju pintu rahasia di balik lemari obat.

Sakti merangkul Sasmita yang terluka, membawa kotak baja dan tas perlengkapan mereka. Mereka berlari menembus lorong bawah tanah yang sempit tepat saat suara ledakan pertama menghantam bagian depan klinik.

Di dalam kegelapan lorong, Sasmita bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu dengan suara reruntuhan di atas sana. Ia baru saja kehilangan satu lagi sekutu setianya. Rasa sakit di bahunya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa perih di hatinya.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!