Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.
Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...
Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membohongi Perasaan
Dengan kapasitas otak yang masih penuh, aku berangkat ke kampus untuk melaksanakan mata kuliah siang ini, jujur dalam benakku ingin sekali bertemu dengan wanita yang akhir-akhir ini mulai menguasai perasaanku. Tatakala aku keluar dari parkiran kampus yang berada di bawah tanah, aku mendongak menatap langit biru dengan lautan awannya, melihatnya terkadang aku ingin tahu apa jadinya jika langit biru itu menertawakanku yang berpijak di bumi ini.
“Hei”. Aku terperanjat sebab bahuku ditepuk oleh seseorang yang kukenali.
“Kaget”. Gumamku sembari mengelus dadaku, aku tidak terlalu menggubris seseorang yang mengagetkanku ini, sampai gadis bersurai merah yang mengagetkanku ini menyodorkan sebuah kartu kepadaku.
“Untuk?”. Aku menatapnya penuh tanya dengan sebelah alisku terangkat. “Untuk investasi menjaga Elisia”.
Sontak aku berdecak seraya melempar kartu tersebut ke sembarang tempat, pikirku untuk apa menjaga kalau tidak mendapatkannya, dia juga sudah milik orang lain, karena aku lebih suka mengenang meski menusuk dari belakang, sebuah pemikiran yang miris.
“Aku tahu kamu menyukainya, bagaimana kau bisa memenangkan hatinya kalau tidak mengetahui apapun tentangnya”. Usai wanita bersurai merah yang tak lain adalah Neil mengucapkan beberapa patah kata secara alami aku berhenti dan berbalik menatap nyalang Neil.
“Aku tidak menyukainya”. Sahutku dengan nada yang terkesan dingin.
“Mulut boleh berbohong, mata boleh berdusta bahkan telinga boleh menghirau tapi hati dan tubuhmu tidak demikian”. Ujar Neil diiringi asap yang mengepul dari segulung nikotin yang candu.
“Kamu jangan sok menasehatiku dan perlu kau ingat, aku Kaisar tidak menyukai siapapun”. Timpalku.
“Kan sudah kubilang mulut boleh berbohong mata...”. Belum usai Neil melontarkan perkataannya yang sudah ia katakan sebelumnya.
“Jangan kau perpanjang pembicaraan ini, perasaan itu milikku, otak dan tubuh juga milikku, apa tahunya dirimu?”. Sergahku yang mungkin membuat marah Neil karena berikutnya ia melenggang pergi tanpa meninggalkan
Sepatah kata apapun lagi.
‘AAAAARRGH’
Aku mengerang frustasi sembari mngacak-acak rambutku yang diterpa semilir angin. “Bangsat”.
Sialnya aku belum bisa untuk jujur di depan publik, jikalau aku memang menyukainya, bahkan di fase akan cinta, maka bagaimana denganku saat di depan Elisia.
***
Karena Neil sudah merusak mood-ku tadi, pada akhirnya aku memutuskan untuk ke ruang musik yang berada di samping ruang BEM, mengapa aku memilih ruang musik?, pasti akan menanyakan hal itu.
Karena di ruang inilah Club Invesment yang kubangun bermarkas, mungkin mereka melihatnya hanya ruang musik biasa tapi tidak bagiku ruangan musik ini saksi dimana aku memiliki sahabat akrab yaitu Kenny, Gavin, dan Yhovi.
Aku memasukkan kedua tangan di saku celana sembari menyandarkan punggung didinding, aku sedikit merasa aneh seperti ada sesuatu di saku celanaku. Saat aku mengeluarkannya spontan langsung menghela napas diiringi seringaiku, ternyata itu kartu yang diberikan oleh Neil tadi, tanpa kusadari ternyata aku memungutnya kembali, sepuluh menit berlalau kemudian aku mendekati alat musik harpa, dengan melodi yang minor aku memainkannya sampai tanpa kusadari seseorang telah duduk dibelakangku dan mengamatiku bermain alat musik harpa.
“Suaramu bagus kak”. Timpal seseorang tadi, aku hanya terdiam tanpa membalikkan badan karena aku sangat mengenali suara ini, aku kesusahan menelan salivaku.
“Untuk apa kau disini?”. Tanyaku dingin tanpa menatap apalagi berbalik badan. Sialnya, perasaanku berkecamuk tatkala mendengar suaranya saja.
“Memangnya salah, aku juga anak club invesment, kata kak Gavin kamu ada di ruang musik”. Dengan kesadaran penuh aku memintanya untuk keluar dari sini, meski dia tidak mau, aku tak tahu harus berbuat apa.
“Aku hanya ingin bertanya kepadamu”. Imbuhnya.
Tidak, aku tidak bisa, untuk kali ini aku sangat mengesampingkan urusan perasaan karena hal lainnya masih menungguku untuk menyelesaikannya. Tapi entahlah, pikiran manusia sering berubah-ubah.
“Kalau tidak penting pergilah”. Tidak ada jawaban darinya namun tiba-tiba dia melangkah cepat pergi dari ruang musik ini. Aku menatap punggungnya yang kian menjauh dan lenyap dibalik pintu, detik berikutnya pintu terbuka tampak Kenny dan Gavin yang notabenya sebagai anggota club yang ku dirikan.
“Anak orang Kai, kamu jangan membuat dia menangis”. Ucap Gavin sembari bersandar didinding menatapku heran dengan menggelengkan kepalanya. Setelah Gavin mengucapkan beberapa kata yang mampu membuat lidahku kelu, aku sedikit terkejut kala mengetahui ia menangis. Tapi, aku tidak tahu harus berkata apa kepada Kenny dan Gavin.
“Dia cantik”. Gumam Kenny. Aku menatapnya sinis hingga gelak tawa datang dari Kenny sebab ekspresiku.
“Kau tidak bisa membohongi perasaanmu sendiri”. Kenny menepuk pundakku. “Kurang ajar!”. Umpatku.
“Haish, daripada menggalau seperti ini...’. Tukas Gavin seraya melangkahkan kaki panjangnya menuju alat musik drum.
“Ayo bermain aransemen lagu!”. Lanjutnya mengajak, ia juga sudah menggenggam stick drum. “Ayo”. Seru Kenny.
Kami bertiga menghabiskan waktu dengan alat-alat musik, aku memainkan piano, lain dengan Kenny ia memilih memainkan gitar elektrik. Kami meng-cover banyak lagu, sampai tak terasa empat jam telah berlalu.
“Bagaimana perasaanmu?”. Tanya Gavin kepadaku.
“Lebih baik”. Singkat tanpa ekspresi lain selain muka datar, yah itulah aku.
“Kalau kamu memang sedang ‘tidak baik-baik saja’ datanglah kepada seorang konsultan cinta, itulah saya Kenny Antara Dikta”. Aku menggeleng diiringi tawa melihat tingkah laku pria keturunan Swiss ini yang berada diluar ekspektasi.
“Konsultan cinta katanya, semua pacarmu saja memutuskan hubungan denganmu, apa yang akan di konsultasikan, apa cara disakiti perempuan”. Cibir Gavin, yah memang kenyataannya Kenny sering ditinggal sebab terlalu banyak wanita di genggamannya.
“Lebih baik aku daripada kau, aku banyak wanita sedang kau cinta yang selalu bertepuk sebelah tangan, gitu saja kau bangga, malu”. Balas Kenny mencibir Gavin.
“Sudahlah lebih baik aku”. Sergahku ditengah perdebatan mereka berdua.
“Apa yang lebih baik?, kau saja tidak pernah memiliki wanita”. Timpal Kenny.
“Penasaran”. Kenny dan Gavin dibuat geram olehku, mereka membujukku untuk mengatakan apa yang lebih baik, menurutku itu hanyalah suatu hal yang sepele.
“Lebih baik aku karena aku lelaki setia”. Timpalku yang mampu membuat mereka terbatuk-batuk meski tak berdahak.
Aku sangat bersyukur memiliki tiga sahabat yang penuh dengan tingkah kocak mereka, suasana hatiku juga sudah cukup membaik berkat mereka yang berusaha menghiburku. Mereka mencairkan bongkahan es yang membekukan hatiku, bahkan memadamkan api yang menggerogoti nuraniku, itulah mereka.