Aisyah Safitri, menerima pinangan dari Hanif, seorang dosen yang terkenal soleh dan baik hati.
Awal pernikahan mereka, memang terlihat seperti rumah tangga orang lain pada umumnya, yang bergitu romantis dan harmonis.
Tapi siapa sangka, dibalik keharmonisannya itu, tersimpan sebuah rahasia, yang membuat rumah tangga mereka berada di ujung tanduk.
Akankah perceraian terjadi di antara keduanya? Dan mampukah, Aisyah mempertahankan rumah tangganya? Apa sih rahasia penyebab itu semua?
Yang penasaran, yuk lanjut baca aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan Pertama
Setelah selesai melaksanakan solat duha, Aisyah pergi ke ruang TV, ia mendudukkan tubuhnya diatas sofa. Sambil membaca sebuah novel fisik berjudul ‘Kekasih Surga’.
Tak terasa, air matanya menetes membasahi lembaran buku yang sedang dibacanya. Aisyah begitu menghayati isi ceritanya.
"Kasihan sekali istri ini, kenapa suaminya tega sekali mendua dengan yang lebih muda," gumam Aisyah. Sepertinya ia sudah tak ingin melanjutkan bacaannya.
Aisyah pun pergi ke dapur, untuk mengambil beberapa buah didalam kulkas. Selagi Aisyah mencuci beberapa buah anggur, Aisyah kembali melamun. Dan tiba-tiba, ia teringat akan ponselnya.
"Ah iya, sekarang kan sudah hari ke 8 ponsel Aisyah ada di tukang servis. Kenapa aku bisa lupa ya?" gumamnya, mematikan keran air. Dan segera menyimpan buah anggur itu di samping wasbak.
"Seharusnya, dari kemarin sudah Aisyah ambil. Ya sudah sekarang saja Aisyah ke tukang servis nya." Aisyah, segera pergi ke kamarnya, bersiap untuk pergi keluar.
Dengan tampilan gamis syar'i berwarna biru wardah, dan perpaduan kerudung syar'i berwarna senada, dengan line hitam di bagian sisi kerudungnya, membuat tampilan Aisyah begitu sejuk dipandang, layaknya bidadari salihah.
Aisyah, pergi menaiki angkutan umum, karena jarak tempat servis dengan kompleks perumahannya cukuplah dekat.
***
Sementara itu, di kampus Perguruan Tinggi Ilmu Agama, Hanif baru saja selesai dengan kelas pertamanya. Kini ia sedang berjalan di koridor kampus. Melewati setiap kelas, hendak menuju kelas berikutnya.
Ketika Hanif membuka pintu kelas, tiba-tiba, seorang siswi jatuh terpental, karena terdorong oleh pintu, yang didorong oleh Hanif.
"Astagfirullah maaf, maaf, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Hanif, kepada siswi, yang tengah jatuh tersungkur di lantai.
"Tidak apa-apa Pak," ucap Siswi yang bernama Khodijah itu.
Hanif, menjulurkan tangannya, berniat untuk membantu siswinya, namun Khadijah menolaknya, ia lebih memilih untuk bangun sendiri.
"Maaf Pak, apa saya boleh izin untuk keluar dulu?" tanya Khadijah, Hanif pun memperbolehkannya.
Khadijah pun segera berlalu meninggalkan kelasnya. Karena ada sesuatu urusan penting di luar. Kini Hanif, duduk di kursi khusus dosen. Dan ia segera memulai kelasnya.
***
Aisyah, sudah sampai di toko servis. Ia segera menanyakan masalah ponselnya kepada tukang servis yang ada di toko itu. Tukang servis itu pun segera mengambilkan ponsel milik Aisyah, yang sudah selesai di perbaiki. Aisyah pun segera melakukan transaksi pembayarannya terlebih dahulu. Kemudian ia segera pergi meninggalkan toko itu.
"Alhamdulillah, sudah bagus," ucapnya, tersenyum bahagia. Sejenak Aisyah, melihat ke sekeliling, mencari apotek terdekat yang ada di sana.
"Nah itu, apoteknya," ucap Aisyah, sambil melangkah menuju zebra cross. Kini matanya, terfokus kepada salah seorang wanita paruh baya, yang hendak menyeberang di zebra cross itu.
Wanita itu, terlihat kesulitan untuk menyeberang, langkahnya terlihat seperti ragu-ragu. Ketika Aisyah semakin mendekat, wanita paruh baya itu, melangkahkan kakinya, hendak ke tengah jalan.
Namun penglihatan Aisyah, kini di tunjukan, ke salah satu mobil, yang melaju cepat dari arah kiri.
"Bu!" Aisyah segera berlari dan menarik lengan wanita paruh baya, yang hampir terserempet itu.
"Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah," ucap wanita paruh baya itu, yang kehilangan keseimbangan tubuhnya, karena ada seseorang yang menariknya.
"Maaf Bu, Ibu tidak apa-apa kan?" tanya Aisyah, yang masih memegang sebelah lengan wanita itu.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah Alhamdulillah," ucapnya dengan nafas tersengal, dan perasaan berdebar.
"Ibu, tidak apa-apa Nak, Alhamdulillah, terima kasih sudah nolongin Ibu," ucap Bu Ustazah Nawawi.
"Ibu tadi tidak tahu, kalau dari sebelah kiri, ada mobil yang melaju cepat. Kalau tidak di tarik, Ibu tak tahu, hal apa yang akan menimpa Ibu. Ibu ucapkan sekali lagi, terima kasih ya Nak," sambung Bu Nawawi.
Aisyah, mengangguk tersenyum. "Iya Bu lain kali, Ibu harus lebih berhati-hati ya."
"Ibu mau ke mana?" tanya Aisyah begitu ramah.
"Em ... I-Ibu mau ke apotek itu." tunjuknya.
"Ya sudah, kemari tangan Ibu, biar saya gandeng, kebetulan saya juga mau pergi ke apotek itu," ucap Aisyah, menggandeng lengan Bu Nawawi. Bu Nawa pun tersenyum, dan mengiyakan ajakan Aisyah. Mereka pun segera menyeberang dengan begitu hati-hati, dan segera berjalan menuju apotek.
Sesampainya di apotek, mereka berdua segera membeli obat, yang mereka butuhkan. Dan segera melakukan pembayaran. Kemudian mereka keluar dari toko itu.
"Ibu datang kesini sendirian?" tanya Aisyah, yang berjalan beriringan dengan Bu Nawawi.
"Emh tidak, tadi Ibu di antar sama anak Ibu, tapi setelah itu dia pergi dulu menemui adiknya di kampus," tutur Bu Nawa.
"Oh... begitu."
"Oh iya, Adek ini namanya siapa? Kita belum kenalan kan ya," tutur Bu Nawawi.
"Oh iya lupa hehe, nama saya Aisyah Bu," ucap Aisyah, menjulurkan tangannya.
"Saya Bu Nawawi, panggil saja Bu Nawa." Bu Nawa menjabat tangan Aisyah sejenak dan melepaskannya kembali.
Mau menyamakan. Aisyah ya beda level lah Nara kamu mah ga ada apa apanya
Kamu selingkuh Hanif
Biar Aisyah sama Adam aja
minta ke Aisah baik2
jngan pake cra yg keji , jahat