Amelia wanita cantik, baik, ceria dan penuh perhatian. Dia sangat menghargai Cinta, namun hatinya berkali-kali patah karena para mantan yang memberi harapan palsu.
Di sekolah Menengah Atas dia terjebak berbagai masalah saat bertemu dengan RIKI, lelaki Kasar dan Angkuh. Terkenal akan kenakalannya yang membuat Amel tak habis pikir dan berujung emosi. Akankah Amel bisa menghadapi lelaki itu?, Apa yang akan terjadi pada keduanya di saat-saat mereka tanpa sadar selalu bersama?.
yuk intip kisah mereka, Riki & Amel.
😍😍😘😘😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia desianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelas Baru
.
.
.
Tak terasa hari semakin cepat berlalu, hari ini aku memutuskan untuk kembali ke kosan, karena besok sudah mulai kembali sekolah. Dengan berat mama melepas ku pergi, ia pasti akan merindukanku lagi.
"Jangan lupa nelpon mama kalau udah sampai." pesan mama.
"Iya, ma."
Sesampainya di kosan, aku mulai merapikan ruang kamar dan dapur, baru beberapa minggu di tinggal, mereka sudah berdebu.
Kosan ku sangat kecil, hanya ada satu kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu dan dapurnya hanya di sekat oleh papan. Biaya sewanya murah, cukup untuk aku tinggali sendiri semasa sekolah.
Saat malam tiba, aku mulai berbaring di atas kasurku yang empuk dan sesekali mengecek ponsel ku.
Aku pun mendapat pesan dari paman, kalau ruang kelas ku mulai besok adalah 11.IPA'C. Hanya berharap yang terbaik untuk esok hari.
.....
.
.
.
Pagi yang indah, aku berjalan memasuki gerbang. Menuju ruang kelas yang baru, aku menaruh tas ku di kursi paling belakang yang masih kosong dan segera berbaris di lapangan karena upacara akan segera di mulai.
Barisanku lagi-lagi tidak sesuai kelas, karena aku belum mengetahui siapa teman sekelas ku sekarang ini. Upacara lagi-lagi berlangsung sangat lama, di tengah pidato ibu kepala sekolah. Seseorang membuat masalah, di barisan lelaki paling ujung terdengar perkelahian.
"Apa si berandal berkelahi lagi?" batin ku yang kini merasa cemas.
Aku bergegas menghampiri perkelahian itu, tapi untungnya bukan si berandal. Perasaanku menjadi sangat lega, aku pun kembali ke barisan ku karena guru telah melerai mereka.
Upacara berjalan kembali sampai akhir, aku dan semua murid bergegas masuk ke kelas.
Aku menjadi yang terakhir masuk ke dalam kelas karena persaingan naik tangga yang sangat ketat, saat aku masuk dan hendak berjalan ke arah tas ku berada, semua orang memperhatikan ku dengan ekspresi heran dan membuat ku bingung. Ku lihat seorang lelaki yang menaruh kepalanya di meja itu agak familiar, tapi tak terlihat wajahnya, sepertinya ia sedang tidur, aku pun tak menghiraukannya dan duduk disebelahnya.
Jam pelajaran pun dimulai, guru yang akan menjadi wali kelas kami dan sekaligus jam pelajaran pertama hari ini sudah banyak menyampaikan pesannya. Dan sekarang mulai untuk mengabsen.
"Amelia Jenniferly?"
"Hadir bu."
"Aurel agustin?"
"Hadir bu."
.
.
.
.
"Riki Chaniago?"
.... Hening yang ada.
"Riki Chaniago!" pekik ibu.
"Hoaaam ... Hadir!" pekiknya sembari menguam.
Dengan ekspresi terkejut, aku tak menyangka berteemu wajah orang yang berada di samping ku ini. Ia melihatku tanpa terkejut sedikit pun dan kembali tidur.
"Apaan ini!, sekelas?, sebangku pula?, takdir macam apa ini!" batin ku merasa frustasi.
Selama pelajaran berlangsung, aku tak membangunkannya sedikit pun, begitu juga para guru seakan membiarkannya seperti itu. Sampai bel istirahat berbunyi, semua orang merasa senang dan bergegas pergi ke kantin.
Di kelas ini ada beberapa murid yang merupakan teman sekelas ku dulu, dan ada juga yang dari kelas lain. Berharap ada seseorang yang bisa ku jadikan teman. Tapi melihat si berandal yang berada di sebelahku, siapa yang mau menghampiriku untuk berkenalan dan berteman.
"Apakah kali ini aku juga akan sendirian?" batinku.
"Kantin yok?" ajaknya dengan tiba-tiba.
"Baru bangun. Pergilah dulu."
Dia pun pergi meninggalkan ku, bagaimana dia bisa naik kelas kalau seperti itu?. Aku hanya bisa menggeleng kepala.
Saat hendak ke kantin, seseorang menghampiri.
"Hai." sapa nya.
"Hai juga."
"Nama ku Viona, nama kamu?"
"Aku Amel, mau ke kantin ya?"
"Iya, barengan aja."
Kami pun ke kantin bersama, di tengah perjalanan ke kantin kami saling bercerita satu sama lain, dia terlihat ramah, suka tersenyum, sangat manis dan cantik. Dia dulu sekelas dengan Riki, dia menceritakan bagaimana Riki di kelas dulu, tanpa sadar semua topik yang ia bicarakan adalah tentang Riki. Aku sedikit bersemangat karena ingin tau lebih tentangnya. Tapi pada akhir kalimat, dia berkata bahwa ia sangat menyukai Riki tapi cintanya tak terbalas. Membuat aku sedikit curiga, tapi baru ini pertama kali punya teman di SMA, jadi aku tak menghiraukan kecurigaan ku.
Sampai bel pun berbunyi, kami berdua bergegas kembali ke kelas. Dengan penuh tawa dan kegembiraan aku kembali ke tempat duduk ku. Tapi, aku menjadi sangat terkejut melihat meja ku yang penuh coretan bertuliskan PELAKOR.
Isi dari dalam tas ku berantakan, aku melihat sekeliling berharap menemukan sang pelaku, tapi tidak ada orang yang menghampiri. Semua orang tampak takut.
"Ulah siapa ini?" batin ku.
Kini aku hanya bisa memungut kembali barang-barang ku dan merapikan nya. Aku mencoba menghapus tulisan itu dengan air, tapi tulisan itu permanen. Aku menghentikan upaya itu karena guru sudah masuk, pelajaran pun di mulai. Tapi, aku tak melihat Riki, dia tidak masuk ke kelas sampai pelajaran akhir.
"Dimana dia?" batinku.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, semua murid memberi salam, dan berdoa sebelum pulang. Tas Riki masih ada, tapi orangnya tidak muncul. Aku membawa tasnya dan keluar kelas. Viona menghampiri ku.
"Biar aku aja yang bawa tasnya Riki, aku tau sekarang dia dimana."
"Ya udah, ini." aku memberikan tas itu padanya.
Viona pun pergi setelah menerima tas itu, sebegitu suka nya dia dengan si berandal.
Sekarang aku sudah berjalan sampai keluar pagar, dalam benak ku masih terus kepikiran, siapa yang berani menyoret meja Riki si berandal itu. Tanpa sadar langkah ku terhenti di luar gerbang, tanpa tau mengapa aku merasa cemas.
"Aduh, aku kenapa sih?, siapa yang kamu tunggu mel?, untuk apa mencemaskan si berandal itu!" batin ku mengoceh.
Tak lama kemudian terdengar suara motor yang aku yakin kalau itu adalah Riki. Benar saja, itu memang dia. Tapi, dia melaju dengan kencang seakan sedang memendam amarah. Ku lihat dia sudah memakai tas nya. Berarti Viona benar tau keberadaannya. Kini aku pun berjalan pulang.
Malam ini di penuhi bintang yang terang di langit nan gelap. Suara musik galau dari tetangga yang sedang patah hati. Membuat hati ku ikut merasakan sedih, mengingat kenangan para mantan yang menyakiti hati. Aku mudah melepaskan mereka yang aku cintai ketika mereka tak menginginkan ku lagi. Tapi, rasa sakit itu akan tersimpan selamanya di hati ku. Dan terkadang membuat aku mengingatnya kembali saat-saat suasana sepi seperti ini.
Aku duduk di luar kosan, memandang langit gelap itu sembari memeluk erat boneka kesayangan ku. Aku suka sekali memandang hamparan bintang yang memenuhi langit. Mereka terlihat cantik dan mempesona.
Aku menghargai setiap hubungan yang ku jalani, mencintai mereka dengan segenap hati. Tapi, kenapa mereka membalasnya dengan keji, mengapa mengatakan cinta bila suatu hari akan di lupakan. Mengapa membuat semuanya terlihat tulus. Tapi, akhirnya melepaskan semuanya demi yang baru.
Seseorang mengatakan bahwa uang lebih penting dari cinta, dan aku berfikir itu adalah hal konyol yang baru aku dengar.
Menurutku tanpa Cinta, semuanya adalah palsu. Tapi, setelah ku pikirkan, perkataannya tidak lah sepenuhnya salah.
Cinta dan Uang itu berdampingan, seperti saudara yang beda Ibu namun satu Ayah.
Mereka saling terkait dalam kehidupan ini. Seringkali kita tak bisa menganggap mereka saudara, tapi sebenarnya mereka adalah saudara.
Mereka sering bertengkar bila sang ayah pilih kasih di antara keduanya. Seringkali mereka akur ketika sang Ayah memedulikan keduanya. Bila ingin selaras maka cara menghadapinya harus lah berbeda, janganlah melakukan perbandingan.
Tapi, hargailah keduanya. Peganglah cinta sebagai ketulusan, kebaikan dan rasa kasih sayang yang penuh. Pakailah uang sebagai kebutuhan hidup, sehari-hari dan saat-saat membutuhkan.
Maka mereka akan bersama tanpa ada perkelahian, pemberontakan dan kekejaman, bila kita tak menghargai di antara keduanya. maka, mereka akan berkelahi sehingga menimbulkan hal yang mengecewakan.
Perumpamaan yang panjang ini mengalir saja dari pikiran ku malam ini. Aku memiliki Cinta tapi tidak punya uang, membuat aku mengalami kekecewaan. Sedangkan Riki mempunyai Uang tapi tidak memiliki cinta, sehingga membuatnya mengalami penderitaan.
Akankah suatu hari kami bisa mendapatkan apa yang kami inginkan?.
.....
Hello readers, thank you.
Tolong like, comment di bawah ya... Love you...❤
semangat ya Up ceritanya
semangat up karya nya ya 🔥