Berharap bisa lari dari kenyataan yang ada, namun justru membuat Killa terjatuh ke dalam kejadian yang tidak pernah dia duga dan itu membuatnya sangat terpukul.
Hubungan yang tidak pernah dia ingat dengan seorang pria bule, membuat Killa memilih untuk pergi sejauh mungkin. Hingga Killa memilih kembali dengan membawa seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
Killa pikir, setelah dirinya pergi lama meninggalkan negaranya, dia akan kembali dengan tenang dan memulai hidup baru bersama putranya. Akan tetapi, ternyata tidak segampang itu. Dia dipertemukan kembali dengan seorang pria yang wajahnya masih melekat di ingatan Killa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 12. Rindu
Hari ini Killa ada kegiatan ke luar kota. Terpaksa ia harus meninggalkan Gara bersama pak Tarjo dan istrinya. Sementara Nadia ia ajak pergi untuk menemani dirinya menghadiri seminar yang diselenggarakan di Surabaya.
Bisa saja Killa mengabaikan undangan untuk butiknya tersebut. Tetapi Killa juga tidak akan membuang kesempatan untuk menambah wawasannya dalam hal desain untuk musim panas yang akan datang sebentar lagi.
"Kamu udah bawa semua yang akan kita butuhkan nanti di sana, Nad?" tanya Killa sebelum mobil mereka berangkat. Kali ini Killa menggunakan sopir. Tidak mengemudikan sendiri.
"Semua sudah siap, Mbak," jawab Nadia.
Meskipun bukan lulusan di universitas ternama, tetapi bakat dan ketrampilan Nadia tidak bisa di anggap remeh. Killa pun lebih suka orang yang seperti Nadia. Jujur dan apa adanya. Yang lebih penting lagi, wanita itu mau terus belajar dan tidak pernah membantah. Selalu mencatat poin penting yang dia sampaikan.
"Berangkat, Pak." Perintahnya pada sang sopir.
Orang yang diperkerjakan oleh Killa beberapa minggu tersebut pun mengangguk dan mulai melajukan mobil menuju bandara.
Sesampainya di Luminous Hotel, Killa dan Nadia di sambut lalu diarahkan ke kamar mereka sebelum nanti malam menghadiri acara yang diadakan di hotel ini.
Killa segera menghubungi putranya setelah selesai membersihkan diri. Wanita itu juga tidak lupa membuka pintu balkon yang ada di kamarnya saat ini.
Pada nada sambung yang pertama, tidak mendapat sahutan. Killa ulang lagi hingga Gara menjawab telpon darinya.
"Iya, Mi? Mami udah sampai?" cecar anak kecil itu langsung.
"Udah, Boy. Kamu sedang ngapain? Kok lama jawab telpon dari Mami?" Kali ini gilaran Killa yang menelisik wajah putranya melalui layar ponsel. Menerka apa yang sedang Gara lakukan.
Tahu apa yang ditanyakan oleh maminya, Gara pun mengarahkan layar ponselnya ke arah meja makan. Di mana tempat yang biasanya bersih, kini terlihat begitu berantakan. Padahal baru saja Killa tinggal beberapa jam.
"Kamu sedang buat apa, Boy?" Killa mengernyitkan kening.
"Sedang buat nasi goreng ala Gara, Mi. Diajarin Bu Minah," ujar Gara sembari memperlihatkan hasil kreasinya.
"Jangan terlalu larut nanti ya tidurnya. Mami nggak pulang. Kemungkinan besok baru pulang," ujar Killa mengingatkan anaknya.
"Siap Mami!" Sahut Gara begitu semangat.
Dari kecil sudah sering ditinggal oleh Killa untuk bekerja, menjadikan Gara terbiasa tanpa maminya di sisinya.
Setelah memberi kabar pada putranya, Killa melangkah ke arah balkon. Menghirup udara yang terasa begitu sejuk. Karena hari memaski petang, keadan langit disekitar pun mulai tampak jingga. Begitu indah.
"Semoga ke depannya seindah ini," ujar Killa menatap langit yang tampal begitu cantik.
Bosen menunggu di kamar sendirian, Killa memutuskan untuk pergi keluar dari kamar. Berniat melihat ke arah sekitar. Membunuh rasa bosannya karena tidak ada Gara di dekatnya.
Jika Gara terbiasa tanpa dirinya di sisi, berbeda dengan Killa yang selalu mencari putranya tersebut jika dirinya dalam keadaan senggang.
"Mbak Killa mau ke mana?" tanya Nadia ketika berpapasan dengan Killa di lobby. Wanita itu sepertinya habis membeli sesuatu dari mart yang ada di lantai satu gedung ini.
"Nggak ada. Cuma mau lihat-lihat aja. Kamu habis ngapain?" Killa balik bertanya pada Nadia. Di mana wanita itu membawa sesuatu yang terbungkus tas plastik di tangannya.
"Ah, saya habis beli roti ini, Mbak. Tiba-tiba saja tamu saya datang dan saya nggak ada persiapan sebelumnya," ungkap Nadia sembari memperlihatkan apa yang dia beli.
"Suka sakit nggak?" Killa tampak khawatir ketika mengetahui Nadia mendapat tamu bulanannya. Bukannya apa. Sepengalaman Killa, perutnya akan terasa sangat sakit sampai di bagian punggung juga.
"Enggak, Mbak. Biasa saja," jawab Nadia. Membuat Killa merasa sedikit lega.
Kemudian Killa melanjutkan langkahnya untuk berkeliling melihat lihat sekitar. Wanita itu juga menolak ketika Nadia menawarkan diri menemani. Killa lebih suka sendirian.
Di saat Killa sampai di sebuah taman, dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat. Gegas, Killa langsung putar arah agar ketahuan jika dirinya habis melihat pasangan yang terlalu vulgar dalam bersikap.
Namun, baru beberapa melangkah, Killa menabrak seseorang yang ada di depannya.
Bruk!
Tubuh Killa yang tidak seimbang pun terhuyung ke belakang. Beruntung orang yang dia tabrak dengan sigap meraih tubuhnya dan menahan agar tidak terjatuh.
"Makasih," ucap Killa tanpa menatap ke arah orang tersebut setelah menarik diri. Wanita itu segera merapikan bajunya, di mana belahan di dada sedikit terbuka.
Sementara itu, orang yang tidak sengaja bertabrakan dengan Killa, menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. Bahkan orang itu sampai mematung. Tatapan matanya menyiratkan rindu yang teramat dalam.