Gak ada kata-kata, kecuali, sehat selalu buat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSECURE (Perasaan Aneh)
🐥SELAMAT MEMBACA🐥
.
.
.
"ABIE______!" Pekik wanita mungil itu tak percaya, sorot matanya menatap nanar ke arah anak muda yang kini ada di hadapanya.
"Hay, kak Syafa." Abie menyapanya dengan ramah.
"Haaaaaaah, serius, kau Abie?" Tanya lagi.
"Iya." Jawab Abie dengan senyuman paling manis yang keluar dari bibir tipisnya.
"Nooooooww...!" Shafa segera berlari menjauhi Abie dan masuk kedalam kamarnya, hal itu sontak membuat Abie merasa heran.
Dan beberapa menit kemudian Shafa keluar dengan jacket tebal berwarna biru dan rambut yang sudah tersisir rapih serta lipstick tipis mengukir di bibir mungilnya.
"Tamunya gak di suruh masuk, nih?" Tanya Abie tanpa basa-basi.
"Ohh, iya lupa. Maaf maaf!" Wanita itu benar-benar terlihat gugup. "Ma-mari masuk!" Serunya dengan wajah yang merah merona.
Abie segera duduk di kursi sofa sederhana milik si wanita itu, sementara bola mata Shafa seolah tak mau berhenti menatap wajah Abie.
"Astafirullah. Kau benar-benar manusia atau anak jin?" Tanya Shafa memberanikan diri.
"Kak, aku AUS!" Pinta Abie, lelaki muda itu justru tak menjawab pertanyaan Shafa.
"Ba-baiklah, Abie mau minum apa?"
"Jus jeruk ada?"
"A-ada. Bentar ya!" Secepat kilat Shafa berlalu dari hadapan Abie sedangkan Abie tersenyum geli melihat tingkah tak biasa dari wanita yang ada di hadapanya kini.
"Ini perdesaan rasa kota." Batin Abie. "Ramenya luar biasa." Tambahnya seraya menatap keluar jendela begitu banyak anak kecil sedang bermain kejar kejaran satu hal yang tak pernah di lakukan Abie selama ini.
Tak lama kemudian, Shafa hadir kembali di hadapan Abie dengan membawa segelas jus jeruk dan pisang goreng di tanganya. Saat wanita mungil itu menaruh minuman di meja, mata Abie menatapnya dengan sangat tajam.
"Imuuut!" Ceplosnya tanpa sadar yang membuat dada Shafa bergetar luar biasa.
"Silahkan di minum, Bie!" Serunya.
Abie pun tersenyum geli, wanita itu benar-benar salah tingkah saat betatap muka denganya. "Kakak, kenapa?" Tanya Abie lagi.
"Gak apa-apa. Kau benar-benar manusia? Bibir merah amat, kulit putih mulus, rambut hitam lembut. Macam artis korea." Puji si Shafa yang membuat Abie tertawa.
"Kakak, kan, bilang waktu itu, jangan-jangan kamu hitam legam, dekil lagi yang lebih parah kakak mengira aku ini wanita."
"I-iya, maaf!" Pintanya lalu tertunduk lesu wanita itu benar-benar malu. Jantung berdetak tak seirama, ada debar tak biasa memenuhi benaknya.
Sebenarnya dugup jantung Abie juga bedetak lebih cepat dari biasanya. Namun anak muda itu mampu menutupinya dengan sangat sempurna, hingga yang terlihat Shafalah yang salah tingkah di hadapanya.
"Bie, kamu orang mana sih? Kok kayak orang arab?" Tanya Shafa polos.
"Papaku orang Turki, mamaku orang Malaysia!" Jelas Abie.
"😱..........!!! Gila lu, gue gak salah denger, kan?" Shafa menjauhkan sedikit tubuhnya dari si Abie.
"Kenapa, kak, ada yang salahkah?" Abie tersenyum penuh arti.
"Gue INSECURE lah. lu serius, anak orang?" Tanya Shafa kepo. "Demi apa pun ya, gue temenan sama banyak cowok cakep tapi kulitnya gak seputih kulit elu, bibirnya gak merah begitu. Lah elu, astaga gue rasa Aliando kalah putih ma elu." Ceplosnya yang membuat Abie tertawa.
Benar, sejujurnya Shafa tak bisa membohongi dirinya, betapa dia gugup bertatap muka dengan Abie, lelaki muda yang hampir satu bulan ini dia caci maki tanpa henti, bahkan Shafa meragukan bahwa Abie adalah laki-laki, sebab dia benar-benar sangat manja selama Shafa megenalnya di dunia maya.
"Kak Shafa cantik." Puji Abie tiba-tiba yang membuat Shafa merasa terhina.
"Lu kalau mau balik caci maki gue gak apa-apa, Bie. Gue terima dah!"
"Apa yang perlu ku caci, kakak benar-benar cantik," ucap Abie lagi.
Shafa tak terlalu perduli dengan pujian yang Abie berikan. Karena Shafa takutnya Abie hanya membuatnya kepedean. "Bisa jadi." Gumam Shafa dalam hati.
Abie menikmati segarnya jus jeruk di hadapanya dengan sorot mata yang tak mau pergi menatap wanita mungil itu. Sedangkan Shafa coba menata perasaanya yang di penuhi rasa malu.
"Kak ngobrol di luar yuk!" Ajak Abie.
Shafa hanya mengangguk setujuh dan keduanya pun segera beranjak dari tampat duduk secara bersamaan.
Lagi-lagi Shafa harus merasakan insecure kembali manakala tinggi tubuh Abie di atas rata-rata, bahkan Shafa berfikir walau dia naik meja pun, tak akan setara tingginya dengan si Abie itu.
"Ya ampun, Bie! Tinggimu berapa sih?" Tanya Shafa yang di sambut tawa dari Abie lagi.
"183. Kenapa memangnya, Kak?"
"Gue makin gak pede di samping elu!"
"😂... Biasa aja keles. Kakak berani caci maki, Bie di Chat, katanya berdiri di hadapan kakak dulu baru percaya kalau aku kagak ngibul. Laaah, sekarang aku udah berdiri di hadapan kakak, tapi kenapa justru kakak yang gak pede." Ucap Abie.
"Iya masalahnya elu kegantengan, Boy😭..!"
"😂... Gue penjahat wanita, elu aja yang kagak tau," gumam Abie dalam hati. "Tapi kenapa, rasanya aneh sekali saat menatap wajah anda, bahkan tak ada sedikit pun, terbesit dalam benaku untuk mempermainkanmu." Batin Abie kelu, ada rasa aneh memenuhi perasaanya.
Abie dan Shafa pun keluar dari rumah. Anak muda itu menatap pemandangan indah yang luar biasa di hadapanya. (MACAM SELEB MASUK KAMPONG😅).
Sejauh mata memandang, Abie melihat apa yang tak pernah dia lihat. Ayam yang berjalan mengiring anaknya, bebek yang berenang di sungai depan rumah bahkan kambing yang secara liar makan rumput di sekitar rumah Shafa. "Luar biasa." Batin Abie lagi.
Wanita mungil itu menatap heran, seseorang yang tertidur di mobil milik Abie. "Siapa dia?" Tanya Shafa.
"Sahabatku, namanya Dani!" Jelas Abie dan segera duduk di kursi yang berada di bawah pohon.
Dani masih tertidur dengan pulasnya di mobil. Bagaimana tidak, suasana pedesaan benar-benar membuat nyaman.
"Bie." Panggil wanita itu yang membuat Abie tersenyum sendu.
"Iya, kak. Ada apa?" Sorot matanya menatap tajam wajah Shafa.
"Ya Allah, tatapanmu. Jangan lama-lama, nanti aku jatuh cinta, dan itu di larang keras!" Tegas Shafa yang di anggap Abie bercanda.
Hari itu Abie dan Shafa menghabiskan waktu bersama, saling bertukar cérita dan berbagi tawa. "Kak." Abie memanggil seraya menggengam tangan Shafa. Dan seketika saja wanita itu melepasnya secara pelan.
"Ada apa, Bie?" Tanyanya yang menangkap sinyal aneh dari sikap anak muda itu.
"Aku minta maaf! Karena kemarin aku ember dan memberi tahu keadaan kakak yang sebenarnya.😌.
"Sudah terlanjur dan aku berharap mereka mau berteman denganku karena tulus, bukan karena kasihan." Curhat Shafa yang membuat Abie merasa bersalah.
"Kakak hebat, biasa membuat orang tertawa dan menghibur, padahal kakak sedang tak baik-baik saja. Aku salut."
"😊....!" Wajah Shafa merah merona, bagai melayang-layang di udara.
"Aku suka senyumu, manis." Ucap Abie lagi.
"Aaah masya!"
"Iya. Bahkan tanpa make up dan tampilan yang apa adanya saja, kakak tetap terlihat sangat cantik, jujur siapa pun tak akan menyangka kalau usia kak Shafa sudah 25 tahun, tubuh mungil paras cantik membuat kakak terlihat seperti anak 17 tahun.
"🤔🤔 Benarkah....????????"
(ITU KATA-KATA BUKAN HALU YA, TAPI ABIE SENDIRI YANG BILANG BEGITU, GAK TAU DIA JUJUR ATAU BOHONG😅).
bank abie maaf ya waktu itu gak sengaja kepencet unfollow jadi ilang pertemanan kita pdhal banyak yg pingin diobrolin.
Tetap semangat dan selalu positif thingking meski semua bergantung takdir yang kuasa
Semoga dipermudahkan, dikuatkan dan selalu ikhlaskan hati
Apapun serba mungkin jika Yang Kuàsa berkehendak
sepertinya ortunya jg mengingkari kenyataan🤔
kangeeeeeeeennnnn 🥰
mdh2n Abang selalu d beri kesehatan yahhh
aku gabung d GC tp baru tau segala nya hari ini 😭😭😭😭
yg sabar ka Desi buat ngasih semangat k bang BIE 💪💪💪💪