Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Perjalanan bulan madu penuh masalah.
"Nah, itu dia anak kita berdua datang."
Ethan menyunggingkan senyum lebar, tampak begitu bahagia seolah pernikahan ini memang dikehendakinya sepenuhnya. Dengan baik ia menggenggam tangan Nayla, berjalan bersamanya menuju meja makan, dan tak melepaskannya sedikit pun meski kini mereka berdiri di hadapan kedua orang tuanya.
"Selamat pagi, Daddy Mommy,"
"Ah, pagi Sayang. Ayo duduklah, mari kita sarapan bersama. Nayla Sayang, apa yang kamu inginkan untuk sarapan?" tanya Bu Yohana lembut.
Nayla tersenyum haru. Satu hal yang paling dia nikmati dari momen ini adalah kembali merasakan kehangatan kasih sayang orang tua, perhatian yang begitu tulus kepadanya.
"Saya minta vanilla latte dan roti bakar selai cokelat saja, Mom,"
"Kalau aku kue waffle cokelat dan es kopi, sekalian salad sayur untuk istriku," tambah Ethan sambil menutup buku menu dan menyerahkannya kembali kepada pelayan.
"Baik, akan kami siapkan segera, Tuan Muda."
"Berapa lama kalian berencana tinggal di Hawai?" tanya Pak Victor sambil menyesap teh hangatnya.
"Mungkin empat atau lima hari saja, Dad, aku tak bisa mengambil cuti terlalu lama, masih banyak pekerjaan numpuk di kantor," jawab Ethan sopan.
"Sayang sekali. Padahal semakin lama berbulan madu, semakin indah kenangannya, bukan begitu, Suamiku?" Bu Yohana menatap suaminya sambil tersenyum menggoda.
"Benar sekali kata Ibumu," timpal Pak Victor sambil terkekeh menatap pasangan pengantin baru itu. "Lagipula Daddy sudah meminta menyiapkan hotel di sana untuk menjamu kalian sebaik mungkin. Sayang sekali jika hanya lima hari saja."
Nayla hanya diam menyimak sejak tadi. Sesekali dia melirik ke arah Ethan yang tampak tak tenang menyantap makanannya, tangannya berulang kali mengusap rambut gelisah.
"Jangan lupa bawa oleh-oleh saat pulang nanti ya," pesan Bu Yohana kembali bersuara.
"Siap, Mommy. Apa saja yang Mommy dan Daddy inginkan?" tanya Nayla berusaha menjadi menantu yang ramah dan menyenangkan. "Maksud Ibu..." Bu Yohana tersenyum penuh makna. "...jangan terlalu lama menunda memberi kami cucu, alangkah baiknya jika sepulang dari Hawai sudah ada kabar gembira dari kalian berdua." Wajah Nayla seketika memerah padam hingga ke telinga.
"Mommy, Daddy... benar-benar susah permintaannya..." gumam Ethan berusaha mengalihkan pembicaraan sambil menahan rasa canggung.
"Apanya yang susah? kamu dan Nayla tinggal tinggal berjuang tiap hari, pasti segera hasil" Bu Yohana mencebik.
"Memang ada yang keliru Than? Mommy kamu benar, kamu itu sudah cukup pantas menjadi seorang Ayah, dan istrimu pun pasti setuju, bukan begitu Sayang?"
"I-iya... tentu saja..." jawab Nayla pelan sambil tersipu malu.
Dalam hati dia merutuk kesal. Benar-benar orang tua Ethan ini. Padahal semalam mereka tidur terpisah, dan kini sudah dituntut harus segera memiliki keturunan. Seolah-olah memiliki anak itu seperti membuat dari tanah liat sehari bisa jadi.
Penerbangan berjam-jam dari Jakarta akhirnya terlewati. Saat senja mulai beranjak malam, mereka tiba di Hotel grand Palace yang terletak tak jauh dari Pantai Waikiki, Honolulu — Hawai.
Begitu masuk ke dalam kamar bernuansa putih yang bersih dan terang, Nayla merasa kagum. Dari balkon luasnya terhampar pemandangan samudra biru yang begitu indah memukau.
"Wah... lautnya luar biasa cantik! Aku ingin berjalan-jalan di pantai nanti sore," seru Nayla riang. Ia bersandar pada pagar pembatas balkon, merentangkan kedua tangannya, dan berputar pelan seakan ikut menari bersama tiupan angin sore yang sejuk.
"Cih... dasar udik, kamu tidak pernah melihat pemandangan indah!" sahut suara ketus dari arah pintu.
Nayla menoleh dan mendelik tajam ke arah Ethan yang berdiri bersedekap di sana dengan wajah tak suka.
"Hei! Apa urusanmu?! Indah atau tidak, itu hakku untuk menikmatinya!"
"Kamu ini sepertinya belum pernah ke luar negeri ya? Tingkahmu melompat-lompat seperti anak kecil saja tadi, itu memalukan," ejek Ethan sinis.
Wajah Nayla memerah menahan amarah. Mulut pria itu memang setajam pisau, tak pernah ada lembutnya sedikit pun.
"Lebih baik begitu daripada kamu yang selalu tampil sempurna di depan orang lain, padahal aslinya pengecut!"
"Apa maksudmu?! Selalu saja kau mencari-cari alasan untuk bertengkar denganku!"
"Yang suka mengajak ribut itu kamu, Tuan Ethan! Sudahlah, aku tak punya waktu untuk berdebat denganmu. Aku mandi dulu."
"Kamu tidur di sofa malam ini! Kamar ini kamarku!"
"Terserah kamu saja!" Nayla melengos pergi, membanting pintu kamar mandi dengan keras setelah mengambil pakaian gantinya, tak sudi menanggapi teriakan Ethan lagi.
"Aduh... kenapa aku bisa menikah dengan wanita judes, keras kepala itu ya? Mommy dan Daddy sungguh tega menjodohkanku dengan gadis yang membuatku menderita begini..." gerutu Ethan kesal seorang diri.
"Ah... aku lapar sekali. Kenapa pesanan makanan belum datang juga sih?"
Ethan seakan tak mendengar, ia tetap duduk tenang menatap layar laptop di hadapannya, sibuk memeriksa laporan pekerjaan yang dikirimkan sekretaris dan asistennya di Jakarta. Daripada meladeni keluhan Nayla, lebih baik ia menyelesaikan urusan kantornya.
"Ethan... kamu tidak memesan makanan lewat layanan kamar ya? Sudah hampir jam delapan malam dan aku lapar," keluh Nayla tak tahan lagi.
"Itu salahmu sendiri. Mengapa tidak makan di pesawat tadi? Kalau lapar pergi saja ke restoran di luar sana. Jangan menggangguku."
Nayla menggembungkan pipinya kesal. Dijawab begitu saja dengan ketus, padahal dia bertanya dengan sopan. Apa salahnya mengeluh lapar jika memang sudah waktunya makan malam?
"Sudahlah... aku cari makan di restoran luar saja. Dasar kejam, tak punya hati," gumamnya kesal. Ethan melirik sekilas sejenak, lalu merogoh saku dan melemparkan selembar uang dolar ke arahnya.
"Pergilah. Makanlah sepuas hatimu. Jangan kembali sebelum kenyang."
"Huh! Kejam dan tak punya perasaan!"
"Sejak tadi mulutmu tak henti memakiku ya?" Nayla merebut uang itu dengan kesal, berjalan menuju pintu, lalu membantingnya keras hingga terdengar bunyi berdentum di seluruh ruangan.
"Ya Tuhan... dosa apa yang kualami hingga harus menikah dengan wanita yang jadi-jadian dan kasar begini?" gumam Ethan sambil menggeleng kepala, lalu kembali menatap layar laptopnya. Dia tak peduli lagi, biarkan saja gadis itu pergi, biarkan dia berjuang sendiri di negeri asing yang tak ia kenal. Biarkan ia kesulitan berbahasa Inggris, biarkan ia belajar mandiri. Tak peduli baginya.
"Bagaimana cara memesan makanan ya..." gumam Nayla bingung. dia membuka ponselnya dan mencoba menerjemahkan kalimat yang ingin diucapkannya. Di sebuah kedai sederhana di tepi pantai, pelayan datang membawakan buku menu.
"Ehm... maaf... saya pesan... roti dadar kentang dan jus jeruk," ucap Nayla terbata-bata dalam bahasa Inggris yang kacau.
"Baik, Nona. Ada pesanan lain?"
"Tidak... terima kasih..." Nayla tersenyum canggung dan mengangguk pelan, dia menghela napas lega saat pelayan itu pergi.
"Aduh... bahasa Inggrisku sungguh berantakan sekali," batinnya. Ia tampak gugup dan canggung, wajar saja — ini pertama kalinya dia berada di luar Indonesia
"Permisi... bolehkah saya duduk di sini?"
Nayla mendongak kaget. Seorang pria tampan bertopi terbalik sedang berdiri di samping mejanya sambil membawa gelas minuman. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang fasih dan lembut. Hatinya seketika merasa senang dan tak lagi merasa asing di negeri jauh ini.