Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Tawa dan Ketakutan
Ponsel Gita berdering, Gita hanya melirik melihat siapa yang telepon. Nomor tak dikenal lagi, Gita tahu pasti siapa yang menelepon.
"kenapa gak diangkat?" tanya Rafael. "aku gak kenal mungkin orang iseng." sahitnya lemah.
Rafael membuka dan memberikan bubur ayam kepada Gita. Rafael melihat tangan Gita gemetar saat menerima mangkuk yang ia serahkan. Akhirnya ia duduk dan mengambil kembali bubur dari Gita lalu menyuapi Gita.
"aaak..."
Gita menggeleng, "aku bisa sendiri." tolaknya.
"bisa apanya, tangan kamu aja gemeteran. Cepetan buak mulut tangan aku capek nih " akhirnya Gita melahap bubur yang di siapkan Rafael.
"nah, gini kan pinter yang nurut." Rafael mengusap kepala Gita. Gita melirik judes.
"kamu kok jadi cerewet banget sih!" kata Gita setelah menelan bubur dengan susah payah.
"karena kamu susah diatur. Ingat aku ini suami kamu." Rafael pura-pura garang, tapi wajahnya malah jadi lucu.
"iya suami, tapi cuman dalam kontrak." Gita mengingatkan. Rafael terdiam beberapa saat.
"sudah ah makannya kenyang." baru tiga sendok, Gita sudah merasa mual. Rafael menyipit, "satu kali lagi..... Eh nggak dua kali, biar cepet sembuh terus bobo." omel Rafael seperti emak-emak.
Gita tertawa pelan. "kamu jadi kayak ibu aku " kata Gita yang spontan memukul Rafael pelan.
"dih mukul-mukul. Uda baru pulang kerja, di rumah istri sakit, sekarang Uda dirawat malah mukul-mukul." Rafael masih nyerocos, Gita semakin terpingkal. sepertinya Rafael kerasukan leak waktu di Bali, jadi banyak banget bicaranya.
"Gimana syutingnya lancar?" tanya Gita.
Rafael mengangkat alis, "Cemburu?"
"dih enggak ya." Gita menarik bibirnya kebawah.
"Bilang aja sih nggak usah gengsi." Rafael menarik turunkan alisnya.
"Ye..."Gita melempar Rafael dengan bantal.
"Lancar.."
"Pasti Sherly cantik banget ya." Gita melirik Rafael.
Rafael menaikkan alisnya. "cemburu?"
"dih, ogah." Gita melempar boneka beruangnya pada Rafael.
"jujur aja sih." kata Rafael sambil menaik turunkan alisnya. Bibir Gita tertarik ke bawah mengejek.
" Kalo aku bilang cantik....gimana?" goda Rafael.
"ya, gapapa sih." Gita memutar memutar bola matanya.
"cantik lah cantik banget malah." kata Rafael sambil melirik Gita. Gita mengangguk setuju.
"kamu fans si Sherly?" tanya Rafael
"gak sih, aku sebel malah sama dia. Karena dia dirumorkan Deket sama Diego Andreas suamiku." mata Gita berbinar saat menyebut nama Diego.
"Apa Diego, cuma gitu doang! Gantengan juga gue." wajah Rafael cemberut, lalu berdiri.
"ih, kamu kenama." Gita tertawa renyah. Rafael ikut senang melihatnya, keadaan Gita sudah lebih baik. Tidak seperti tadi yang mirip mayat hidup.
"mau makan laper, cepet sembuh. Jangan nyusahin." kata Rafael. Gita tertawa lagi.
Ketika Rafael akan pergi, Gita menarik lengan jaket Rafael.
" makasih ya ...makasih sudah rawat aku." Gita tersenyum tulus. Untuk pertama kalinya Rafael tertegun, melihat yang ternyata senyum Gita cukup manis. Sedangkan Gita, hatinya menghangat kali ini ia melihat sisi lain dari seorang Rafael.
Malamnya Rafael kekamar Gita untuk melihat keadaan Gita. Ia menatap wajah Gita yang tertidur, tenang dan cantik. Rafael mengerjapkan mata. Matanya mengamati Gita namun hati dan pikirannya berisik sekali.
Satu jam kemudian.
Rafael tadinya berniat melihat keadaan Gita, Malah ketiduran dengan bersandar di kursi sebelah Gita. Gita yang terbangun karena haus malah fokus pada cara tidur Rafael.
Tangannya terjuntai ke bawah sedangkan mulutnya terbuka ke atas dan mendengkur
"Unger.....iiiihhh....Unger," kira-kira seperti itulah suara dengkuran Rafael.
"Pfft...." Gita langsung mengambil ponsel dan merekamnya. Gita menge-zoom mulut Rafael yang menganga.
"buahahahhaha." Rafael terbangun karena suara tertawa Gita yang cukup keras.
Mata Rafael mengerjap, melihat Gita tertawa setan Rafael semakin bingung.
"kenapa sih?" tanya Rafael bingung. Gita mengacungkan ponselnya lalu menunjukkan video yang baru saja ia rekam kepada Rafael. Rafael hampir saja merebut ponsel itu dari tangan Gita, sialnya Rafael kurang cepat. Gita terus menghindari Rafael hingga tidak sengaja Gita menginjak kaki Rafael, Rafael yang kesakitan tidak bisa menjaga keseimbangan tangannya malah meraih lengan Gita. Lalu mereka jatuh bersamaan di atas kasur, dengan posisi Gita menindih Rafael.
Mata mereka beradu, deru napas saling bersautan Bahakan mereka dapat mendengar detak jantung satu dengan yang lain. Cukup lama. Rafael menelan salivanya
"Kamu berat juga ya," senyum nakal tercetak di bibir Rafael. Sontak Gita mendelik lalu bangkit dari atas tubuh Rafael.
"sial ... " Rafael yang tau, Gita akan mengamuk segera berlari dan menutup pintu kamar Gita. Sejurus kemudian, pipi Gita memerah bukan karena demam tapi karena malu.
Rafael yang berlari langsung menuju kamarnya, ia memegang dadanya mencoba mengatur detak jantungnya.
...****************...
Pagi datang perlahan bersama cahaya yang merayap menembus gorden kamar Gita. Gita merenggangkan ototnya untuk pertama kalinya ia tidur nyenyak. Tanpa ada mimpi buruk dari bayang-bayang masa lalu. Gita mencium bau masakan.
"dapur." Gita segera keluar kamar dan menuju dapur.
Gita membeku ditempat. Rafael berdiri di dapur dengan celemek warna hitam bertuliskan kiss the chef.
Rambutnya masih berantakan, dengan kaos polos warna hitam lengan pendek yang sedikit memperlihatkan otot lengannya, Sementara tangannya sibuk memegang spatula.
Masalahnya.....
Dapur terlihat seperti habis perang, kulit telur dimana-mana, roti gosong, dan asap tipis mengepul diatas teflon. Gita langsung panik
"YA AMPUN RAFAEL!" Jerit Gita.
Rafael refleks menoleh "kenapa?" lalu bertanya dengan wajah polos.
"itu gosong!" tunjuk Gita.
Rafael melihat teflon lalu buru-buru mematikan kompor.
"Sedikit." kata Rafael santai
"Sedikit mana? Ini Uda kayak arang."
Rafael berdecih "Aku gak bisa masak."
"Terus ngapain maksa?" tanya Gita emosi, melihat wajah Rafael yang datar.
Rafael menunjuk sofa dengan spatula. "Uda duduk aja pasien."
Gita tertawa ngakak, dan makin ngakak saat melihat celemek Rafael.
"ini celemek kamu beli dimana?" lalu ngakak lagi, sampai terbatuk hebat. "uhuk-uhuk." Rafael memijat tengkuk
"CK .... Sudah jangan ketawa terus." Gita masih tertawa.
Rafael menarik kursi agar Gita duduk, Rafael mengambil piring dan memberikannya ke pada Gita
Gita menatap piring dan Rafael bergantian.
"Kamu yakin ini makanan?" Gita menyerngit, telur goreng yang bentuknya aneh, sosis yang terlalu matang, dan roti panggang. Bukan, roti arang lebih tepatnya.
"kalo bukan makanan yang pajangan." sahut Rafael sambil menuangkan susu di gelas Gita.
"kamu mau bunuh aku?" Gita menahan tawa.
"kurang ajar ya, kamu gak tau effort aku sebesar apa?!" omel Rafael. Gita makin ngakak.
"Oke-oke, aku makan tapi.... Rotinya aku gak mau." Gita menjeda kata-katanya saat melihat penampakan roti arang itu
Gita menggigit, sosis yang ternyata keras seperti karet.
"ah..... Ini sih gigi aku bisa patah." kata Gita sambil nyengir.
Rafael mencebik, "gak usah dimakan buang aja." gita tertawa lagi.
"Jangan dong, sini aku makan." Gita menyuap telur dadar mata kanan mengedip.
"Asin gila.... Kayak minum air laut! Kamu kasih garam sebanyak apa?" tanya Gita yang giginya terasa ngilu.
"satu sendok doang padahal." perkataan Rafael sukses membuat Gita melongo.
"makasih ya, tapi lebih baik kamu akting aja gak usah masak. Ancur dunia ini nantinya!" Gita mulai hiperbola.
"kamu sudah sembuh?" tanya Rafael. "lumayan." jawab Gita.
"pantes " kata Rafael membuang semua masakannya ke tempat sampah.
"kenapa?" tanya Gita. "sintingnya kumat lagi;" spontan Gita meninju lengan Rafael.
"Tapi makasih ya, berkat kamu aku jadi sembuh." senyum itu lagi pikir Rafael. Senyum yang membuat jantungnya serasa jumpalitan. Rafael tersenyum beberapa detik, lalu memperlihatkan muka datarnya.
"aku gak cocok dipuji " Gita terkikik pelan.
Setelah menyantap sarapan kacau buatan Rafael Gita memilih untuk beristirahat sedangkan Rafael siap-siap syuting pukul 10 nanti.
Namun baru saja ia akan masuk kamar. Bel berbunyi, Gita melihat siapa yang datang ternyata security membawa paket untuk dirinya.
"siapa git?" tanya Rafael.
"security." jawab Gita menenteng paper bag.
"Kamu pesan sesuatu?" tanya Rafael sambil memasang jam tangannya.
"enggak." Gita membuka paper bag itu hati-hati.
Rafael yang penasaran mendekati Gita, untuk melihat isi paperbag tersebut.
Didalamnya ada, obat demam, vitamin dan beberapa cemilan kesukaan Gita. Dan secarik kertas, bertuliskan.
Semoga cepat sembuh
Arjusena.
Tubuh Gita membeku. Arjusena tau tempat tinggalnya. Tidak ada yang tau termasuk teman-temannya. Bulu kuduknya meremang.
"Siapa Arjusena?" suara Rafael tepat di telinga kanan Gita.
Gita tak menjawab ia menelan ludah melihat Rafael.