NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan di Antara Lorong Belanja

SUV hitam itu terus melaju membelah jalanan aspal yang mulai menanjak, meninggalkan kebisingan kota dan beralih ke rimbunnya pepohonan hijau yang berjajar di sepanjang jalan menuju perbukitan. Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan yang nyaman menyelimuti sepasang suami istri itu. Namun, Isaac menyadari satu hal; sejak mereka meninggalkan supermarket, Luna tidak berhenti tersenyum.

Luna menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong namun penuh binar kebahagiaan. Sesekali ia tertawa kecil tanpa suara, seolah sedang menonton sebuah film komedi romantis yang hanya diputar di dalam kepalanya.

Isaac melirik istrinya dari spion tengah, lalu beralih menatapnya langsung sejenak sebelum kembali fokus pada jalanan. "Ada apa, Sayang? Sepertinya pemandangan jalan raya ini jauh lebih menarik dari biasanya sampai kau tidak berhenti tersenyum seperti itu."

Luna tersentak kecil, lalu menoleh ke arah Isaac dengan mata yang berbinar-binar. "Ah, tidak. Aku hanya... aku masih terbayang bayi laki-laki di supermarket tadi, Mas. Kau ingat bagaimana dia mengoceh saat aku memegang tangannya? Suaranya sangat lucu, seperti sedang bercerita tentang betapa beratnya hidup menjadi seorang bayi."

Isaac terkekeh, tangannya yang bebas meraih jemari Luna dan menggenggamnya erat. "Dia memang menggemaskan. Tapi sepertinya efeknya padamu cukup dahsyat, ya?"

"Sangat dahsyat, Mas," sahut Luna antusias. Ia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arah suaminya. "Tiba-tiba saja di kepalaku muncul banyak sekali bayangan. Aku membayangkan... bagaimana jika yang tadi itu adalah anak kita sendiri? Jika suatu saat nanti aku hamil, lalu aku melahirkan... aku penasaran seperti apa rupa bayi kita nanti?"

Isaac tersenyum tipis, mendengarkan dengan penuh perhatian. "Menurutmu dia akan lebih mirip siapa?"

"Hmm..." Luna tampak berpikir keras. "Kalau dia laki-laki, aku ingin dia memiliki rahang tegas dan tatapan mata yang dalam sepertimu. Tapi kalau dia perempuan, mungkin aku ingin dia memiliki hidung dan senyumku. Tapi yang paling membuatku penasaran adalah suaranya. Apakah dia akan cerewet sepertiku, atau pendiam dan berwibawa sepertimu?"

"Kalau dia cerewet sepertimu, panti akan menjadi tempat yang sangat bising, Luna," goda Isaac sembari melirik jahil.

"Mas! Aku tidak secerewet itu!" Luna memukul pelan lengan Isaac, yang hanya dibalas dengan tawa jantan dari sang suami. "Tapi serius, Mas. Tadi aku sempat melirik lorong pakaian bayi. Ya ampun, ukurannya sangat kecil! Aku tidak bisa membayangkan diriku berbelanja baju-baju mungil, sepatu kecil yang hanya seukuran jempolmu, dan topi-topi lucu. Aku pasti akan kalap belanja jika itu untuk anak kita."

Isaac mengangguk setuju. "Aku bisa membayangkan itu. Kau yang biasanya sangat teliti membandingkan harga snack anak-anak panti, mungkin akan langsung memborong satu toko jika melihat baju bayi yang menurutmu lucu."

"Tentu saja! Siapa yang bisa tahan melihat keimutan seperti itu?" Luna kembali menyandarkan kepalanya di jok mobil, matanya menatap langit-langit mobil seolah sedang memproyeksikan masa depan di sana. "Aku membayangkan saat-saat kita bangun pagi, bukan lagi karena alarm, tapi karena tangisannya. Kita akan berebut siapa yang harus mengganti popoknya, atau siapa yang akan menggendongnya untuk melihat matahari terbit di balkon panti."

Mendengar penuturan Luna yang begitu detail, Isaac merasakan sebuah getaran emosional di dadanya. Ia tidak pernah mengira bahwa keinginan Luna untuk memiliki anak akan sedalam ini.

"Kau sudah memikirkan nama?" tanya Isaac tiba-kira.

Luna terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Belum secara spesifik. Tapi aku ingin nama yang memiliki arti 'kedamaian' atau 'anugerah'. Karena kehadirannya nanti benar-benar sebuah anugerah setelah semua perjalanan panjang yang kita lalui."

"Nama yang bagus," puji Isaac. "Tapi kau harus siap, Luna. Memiliki bayi berarti waktu tidurmu akan berkurang. Kau tidak bisa lagi bermanja-manja padaku sepanjang waktu karena ada makhluk kecil yang akan menyita perhatianmu."

Luna menoleh, menatap Isaac dengan tatapan lembut namun menggoda. "Oh, jadi kau cemburu pada calon anakmu sendiri bahkan sebelum dia ada?"

Isaac berdehem, mencoba menyembunyikan rasa gengsinya. "Aku tidak cemburu. Aku hanya mengingatkan realitanya."

"Bohong," goda Luna sembari mencubit pipi Isaac. "Kau pasti tetap akan menjadi ayah yang paling protektif. Aku bisa membayangkanmu, Pak Isaac sang arsitek hebat, sedang duduk di lantai memainkan mainan bunyi-bunyian hanya untuk membuatnya berhenti menangis. Itu pemandangan yang sangat ingin kulihat."

Isaac tersenyum, membayangkan dirinya sendiri dalam posisi itu. "Jika itu untuk anak kita, aku tidak keberatan terlihat konyol, Luna. Aku akan membangunkan istana paling megah untuknya, bahkan jika itu hanya dari balok kayu mainan."

Percakapan itu terus berlanjut seiring dengan mobil yang semakin mendekati kawasan pegunungan. Udara di dalam mobil perlahan mendingin, namun suasana di antara mereka justru semakin hangat. Bagi Luna, perjalanan pulang kali ini bukan lagi sekadar kembali ke rutinitas, melainkan sebuah perjalanan menuju fase baru dalam hidupnya.

"Mas..." panggil Luna lagi setelah beberapa saat hening.

"Ya?"

"Terima kasih karena tidak pernah memaksaku soal ini dulu. Terima kasih karena menungguku sampai aku benar-benar siap dan menginginkannya sendiri."

Isaac membawa tangan Luna ke bibirnya, mencium punggung tangan istrinya dengan penuh hormat. "Aku mencintaimu, Luna. Kebahagiaanmu adalah prioritasku. Aku tidak ingin kau merasa terbebani dengan ekspektasi apa pun. Sekarang, saat kita berdua menginginkannya, aku merasa ini adalah waktu yang paling tepat."

Luna tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca karena haru. "Aku sangat tidak sabar, Mas. Aku ingin segera sampai di rumah, melihat anak-anak, lalu... yah, menyiapkan segalanya untuk masa depan kita."

"Kita akan sampai dalam sepuluh menit lagi," ujar Isaac sembari mempercepat laju mobilnya sedikit. "Dan panti tidak akan pernah sama lagi setelah ini. Akan ada lebih banyak cinta, lebih banyak tawa, dan semoga... akan ada anggota keluarga baru yang akan memanggil kita Papa dan Mama."

Luna mengangguk mantap, hatinya terasa penuh. Ia kembali menatap keluar jendela, melihat pohon-pohon pinus yang melambai ditiup angin, seolah ikut merayakan harapan yang sedang tumbuh di dalam hatinya. Di dalam SUV hitam itu, di tengah perjalanan pulang yang sederhana, sebuah mimpi besar telah dipancangkan—mimpi tentang sebuah kehidupan baru yang akan melengkapi kebahagiaan di perbukitan The Dendra Foundation.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!