Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ziva Menjadi Asisten Dadakan
Mansion Volkov pagi itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Bukan karena ada serangan musuh atau pengiriman senjata gelap, melainkan karena Aiden Volkov sedang mengalami krisis yang belum pernah ia hadapi sebelumnya: Aiden kehilangan tiga sekretaris eksekutifnya dalam waktu bersamaan. Sekretaris pertama mengundurkan diri karena trauma melihat Aiden menembak lampu ruang rapat, sekretaris kedua dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung saat melihat Marco membersihkan darah di karpet, dan yang ketiga... yah, dia ketahuan menjadi mata-mata keluarga Moretti dan kini sedang "beristirahat" di dasar danau Como.
Aiden berdiri di tengah ruang kerjanya, menatap tumpukan dokumen yang tingginya sudah menyamai tinggi badan Ziva.
"Marco, aku butuh seseorang yang bisa mengatur jadwal pertemuan dengan Konsul Jenderal Rusia hari ini. Dan orang itu harus bersih dari koneksi mafia lain," perintah Aiden sambil merapikan jasnya.
Marco melirik ke arah pintu, di mana Ziva sedang sibuk mencoba membersihkan sisa-sisa coretan spidol pink di tato naga Aiden menggunakan minyak kayu putih. "Tuan... satu-satunya orang yang saat ini benar-benar bersih dan ada di sini hanya... Nona Ziva."
Aiden menoleh ke arah Ziva. Ziva berhenti menggosok tangan Aiden dan menengadah dengan wajah polos. "Apa lihat-lihat? Gue tahu gue cantik hari ini pakai bando telinga kucing."
Aiden memejamkan mata sejenak, berdoa pada leluhurnya agar ia tidak menyesali keputusan ini. "Ziva, hari ini kau bukan hanya asisten 'pajangan'. Kau akan menjadi sekretaris pribadiku untuk pertemuan diplomatik paling penting tahun ini. Kau harus mencatat, mengatur waktu, dan yang paling penting: jangan sampai tamu kita merasa ingin melompat dari balkon."
"Gampang itu, Bang Don! Cuma nyatet kan? Dulu gue sekretaris kelas pas SMA. Tugas gue cuma nulis siapa yang telat sama siapa yang kentut di kelas," Ziva menepuk dadanya bangga.
Aiden memaksa Ziva mengenakan pakaian formal yang lebih pantas. Ziva berakhir dengan rok span hitam yang sangat ketat dan kemeja putih yang dikancingkan hingga leher. Ia juga memakai kacamata berbingkai hitam agar terlihat "intelek".
"Bang, ini roknya sempit banget. Gue kalau mau lari dikejar anjing pasti langsung jatuh tersungkur," keluh Ziva sambil berjalan kaku seperti penguin.
"Kau tidak akan dikejar anjing, Ziva. Kau hanya akan duduk dan terlihat profesional," jawab Aiden sambil menyerahkan sebuah tablet canggih padanya. "Gunakan ini untuk mencatat poin-poin penting."
"Siap, Bos! Semua omongan mereka bakal gue transkip sampai ke titik komanya!"
Pertemuan berlangsung di sebuah ruangan tertutup di pusat kota Milan. Tamunya adalah Ivan Petrov, seorang pria Rusia dengan kumis tebal dan tatapan yang bisa membekukan air. Ia dikenal sebagai diplomat yang sangat kaku dan tidak suka basa-basi.
Aiden duduk berhadapan dengan Ivan. Ziva duduk di samping Aiden, membuka tabletnya dengan gaya yang sangat serius.
"Volkov, kau membawa wajah baru hari ini," ucap Ivan dalam bahasa Rusia yang berat.
"Ini Zivanna. Sekretaris pribadiku yang baru," Aiden menjawab dengan bahasa yang sama.
Ziva yang tidak mengerti bahasa Rusia, hanya mengangguk-angguk cepat. Ia mulai mengetik di tabletnya.
Catatan Ziva:
Si Kumis Tebal ini mukanya mirip banget sama Pak RT di kampung gue yang suka nagih iuran sampah.
Aroma parfumnya bau-bau balsem otot. Kayaknya dia lagi encok.
Bang Don ganteng banget kalau ngomong bahasa alien begini.
Ivan mulai berbicara tentang jalur perdagangan gas dan perlindungan keamanan di perbatasan. Pembicaraan menjadi sangat teknis dan membosankan. Ziva mulai merasa mengantuk. Ia mulai menggambar karikatur Ivan yang sedang mengejar seekor ayam di tabletnya.
Tiba-tiba, Ivan memukul meja. "Aku tidak setuju dengan persentase itu, Volkov! Ini penghinaan bagi negaraku!"
Aiden tetap tenang, namun suaranya mendingin. "Itu adalah tawaran terbaik yang bisa kuberikan, Petrov. Jangan biarkan keserakahan membutakan logikamu."
Suasana mendadak tegang. Para pengawal Ivan di belakang mulai meletakkan tangan di balik jas mereka. Aiden juga sudah bersiap.
Ziva yang kaget karena suara gebrakan meja, langsung bereaksi. Ia teringat tugasnya untuk "mengatur waktu".
"EHM! PERMISI!" Ziva berdiri tiba-tiba, membuat semua orang terdiam.
Aiden menatap Ziva dengan tatapan 'apa-yang-kau-lakukan-bodoh'.
"Bang Kumis... maksud saya, Tuan Petrov. Bapak tahu nggak sekarang jam berapa?" tanya Ziva dalam bahasa Inggris yang medok.
Ivan mengerutkan kening. "Jam dua siang. Kenapa?"
"Nah! Itu dia masalahnya! Jam dua siang itu waktunya gula darah turun. Bapak marah-marah begini pasti karena laper kan? Emak gue bilang, orang galak itu cuma orang laper yang belum ketemu nasi. Gimana kalau kita break dulu? Gue tadi sempet pesen martabak manis lewat aplikasi, bentar lagi nyampe tuh di lobi."
Aiden ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ia menutup wajahnya dengan tangan. "Ziva, duduk."
Namun, Ivan Petrov tertegun. Ia belum pernah melihat seseorang yang berani menyela perdebatan mafia dengan topik martabak manis. "Martabak... manis? Apa itu?"
"Wah, Bapak ketinggalan zaman! Itu makanan surga! Adonan tepung, dikasih mentega banyak-banyak, terus pake cokelat kacang keju. Sekali gigit, emosi bapak langsung ilang, yang ada cuma rasa sayang," Ziva menjelaskan dengan gerakan tangan yang ekspresif.
Ivan menatap Aiden. "Sekretarismu ini... sangat berani atau sangat gila?"
"Dua-duanya," jawab Aiden pasrah.
Sepuluh menit kemudian, martabak manis benar-benar tiba di ruangan itu. Harum aroma mentega wisman memenuhi ruangan yang tadinya penuh dengan aura permusuhan. Ziva dengan lincah menyajikan martabak itu di atas piring porselen mahal milik hotel.
"Nih, Pak Petrov. Cobain yang keju susu. Ini favorit gue kalau lagi galau karena dompet kering," Ziva menyodorkan piring ke depan Ivan.
Ivan mencicipi satu potong kecil. Matanya membelalak. Ia mengambil potongan kedua, lalu ketiga. "Ini... ini luar biasa. Kenapa negaraku tidak punya teknologi makanan seperti ini?"
Suasana tegang tadi mencair seketika. Ivan yang tadinya keras kepala, kini tampak lebih santai sambil mengunyah martabak.
"Oke, Volkov. Demi sekretarismu yang aneh ini dan makanan ini, aku akan menerima tawarannya. Tapi dengan satu syarat," ucap Ivan.
Aiden mengangkat alisnya. "Apa itu?"
"Berikan aku resep makanan ini dan kirimkan satu koki ke Moskow untuk mengajari koki pribadiku."
Ziva langsung menyambar, "Beressss! Nanti gue kasih kontak bibi gue di kampung, dia jagonya martabak!"
Aiden hanya bisa menggelengkan kepala. Pertemuan yang seharusnya berakhir dengan baku tembak atau kegagalan diplomasi, justru sukses besar hanya karena kolesterol dan karbohidrat.
Setelah pertemuan selesai, mereka kembali ke kantor pusat Volkov. Aiden harus menandatangani beberapa berkas penting sebelum hari berakhir. Ziva, yang merasa sudah sukses besar sebagai asisten, mulai merasa terlalu nyaman.
"Bang Don, liat nih! Catatan gue lengkap banget!" Ziva menyerahkan tabletnya.
Aiden melihat layar tablet itu dan hampir terkena serangan jantung. Di sana bukan tertulis poin-poin kesepakatan, melainkan gambar karikatur Ivan Petrov yang memakai rok tutu dan tulisan besar: KUMISNYA KAYAK SAPU IJUK.
"Ziva... jika Petrov melihat ini, dia akan menyatakan perang pada kita," ucap Aiden dengan suara bergetar.
"Kan dia nggak liat, Bang! Aman lah. Yang penting kan tadi dia udah tanda tangan," jawab Ziva santai sambil memutar-mutar kursi kerja Aiden yang mahal.
Namun, kekacauan belum berakhir. Ziva mencoba membantu merapikan dokumen di meja Aiden. Tanpa sengaja, lengannya menyenggol segelas kopi espresso yang masih penuh. Cairan hitam itu tumpah tepat di atas kontrak kerja sama dengan pemerintah Italia yang sangat rahasia.
"ALAMAK! KOPI GUE TUMPAH KE KERTAS LU, BANG!" teriak Ziva panik.
Ia mencoba mengelapnya menggunakan ujung rok spannya yang mahal, namun justru membuat noda kopi itu semakin menyebar dan membuat tulisan di kontrak itu luntur total.
Aiden berdiri membisu. Dokumen itu adalah hasil negosiasi selama enam bulan. Dan sekarang, dokumen itu terlihat seperti peta harta karun yang sudah direndam di selokan.
"Ziva... keluar," ucap Aiden pelan, namun nadanya sangat berbahaya.
"Bang, gue bisa jelasin! Ini kopinya emang nakal, masa dia tumpah sendiri—"
"KELUAR!"
Ziva langsung lari terbirit-birit keluar ruangan, meninggalkan Aiden yang sedang menatap kontrak hancur itu dengan tatapan kosong.
Sore harinya, Aiden masih duduk di mejanya dengan perasaan frustrasi. Ia harus menghubungi pihak kementerian dan menjelaskan kenapa kontrak mereka berbau kopi dan tidak terbaca.
Tiba-tiba, Ziva masuk kembali dengan wajah yang sangat sedih. Ia tidak lagi memakai bando telinga kucing. Di tangannya, ia membawa sebuah dokumen baru yang ditulis tangan dengan sangat rapi di atas kertas HVS biasa.
"Apa ini?" tanya Aiden dingin.
"Gue... gue tulis ulang kontraknya, Bang. Gue inget semua isinya karena tadi gue sempet baca pas lu lagi telponan. Gue tulis pake pulpen gel biar nggak luntur lagi. Gue juga udah tanda tanganin pake nama lu, tapi gue kasih lope-lope dikit biar manis," Ziva meletakkan kertas itu di depan Aiden.
Aiden mengambil kertas itu. Ia tertegun. Ziva benar-benar menulis ulang seluruh poin kontrak yang rumit itu secara akurat. Meski ada beberapa kesalahan ejaan dan gambar hati di samping tanda tangannya, isinya sempurna.
Aiden menyadari sesuatu. Ziva memiliki ingatan fotografis yang luar biasa, sebuah bakat yang bahkan tidak ia sadari sendiri.
"Kau menulis ini semua dari ingatanmu?" tanya Aiden, suaranya melembut.
Ziva mengangguk lesu. "Maafin gue ya, Bang. Gue emang asisten beban. Gue mending jadi kurir seblak lagi aja kalau lu mau pecat gue."
Aiden menarik napas panjang. Ia berdiri dan berjalan mendekati Ziva. Bukannya marah, ia justru mengacak rambut Ziva dengan gemas.
"Aku tidak akan memecatmu, Ziva. Seorang asisten yang bisa memenangkan hati diplomat Rusia dengan martabat martabak dan menulis ulang kontrak negara dari ingatan... dia terlalu berharga untuk dilepaskan."
Ziva mendongak, matanya berbinar. "Beneran, Bang? Lu nggak marah soal kopinya?"
"Marah sih tetap. Tapi kau sudah menebusnya. Sekarang, ambil kembali bandomu. Kau terlihat aneh tanpa telinga kucing itu."
Ziva langsung sumringah. "ASIAP, BOS! Nanti malam gue bikinin seblak spesial buat lu sebagai tanda terima kasih!"
Aiden hanya bisa pasrah. "Asal jangan tumpah di atas keyboard komputerku, Ziva."
Malam itu, di kantor pusat Volkov, sang Raja Mafia menyadari bahwa memiliki asisten dadakan seperti Ziva adalah sebuah bencana yang indah. Ziva membawa kekacauan, tapi ia juga membawa solusi yang tidak pernah terpikirkan oleh logika bisnis mana pun. Dan bagi Aiden, kekacauan itulah yang membuat hidupnya terasa jauh lebih berwarna daripada sekadar tumpukan dokumen hitam putih.
"Bang Don," panggil Ziva saat mereka hendak pulang.
"Apa lagi?"
"Tadi Pak Petrov minta nomor WA gue. Gue kasih nomor Marco, nggak apa-apa kan?"
Aiden tertawa lepas. "Keputusan yang sangat bagus, Ziva. Sangat bagus."