NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11: Tidak Seperti yang Diharapkan

^^^Selasa, 21 Agustus^^^

Hari itu tiba juga.

Bel pulang berbunyi lima menit yang lalu, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang beranjak dari bangku. Azril menatap jam dinding. Jarum panjang menunjuk angka dua. Jarum pendek menunjuk angka tiga. Pukul 15.10. Di luar, siswa-siswa lain sudah berhamburan pulang, tapi di dalam kelas XII IPS 2, keempat sahabat itu masih duduk diam. Menunggu.

Elang bangkit lebih dulu. "Gue duluan. Kalian gak usah—"

"Udah basi, Lang." Bima memotong, ikut berdiri. Tangan kanannya yang diperban ia kepalkan—perih, tapi ia tahan. "Kita udah janji."

Faris menutup notebook-nya pelan. Ia berdiri. Tangannya tidak gemetar. Setidaknya, belum.

Azril adalah yang terakhir berdiri. Ia merogoh sakunya—inhaler masih di sana. Ia tidak tahu apakah ia akan membutuhkannya. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak malu membawanya. "Yuk," katanya pelan.

Mereka berempat berjalan keluar kelas. Koridor sudah sepi. Hanya suara langkah kaki mereka yang menggema di dinding-dinding kosong. Azril ingat, dulu ia berjalan di koridor ini sendirian—hari pertama pindah, tidak kenal siapa-siapa, berharap tidak ada yang memperhatikannya. Sekarang ia berjalan bersama tiga orang lain, dan ia tidak lagi ingin bersembunyi.

Mereka menuju lapangan belakang. Tempat yang sama di mana Bima memukul samsak setelah membela Azril di hari pertama. Tempat yang sama di mana Azril memberikan es batu untuk lebam di pelipis Bima. Dulu mereka hanya berdua. Sekarang mereka berempat.

Marcel sudah di sana.

Ia berdiri di tengah lapangan dengan tangan di saku celana, senyum sinis terukir sempurna di bibirnya. Di belakangnya, lima anak buahnya berdiri dengan postur siap—Riko dan Bara yang selalu setia, ditambah tiga anggota Geng Bhayangkara lain yang belum pernah Azril lihat sebelumnya. Total enam orang. Lebih banyak dari jumlah mereka.

"Wah, tepat waktu." Marcel melangkah maju, matanya menyapu keempat orang di hadapannya. "Elang. Si Culun. Si Sok Jagoan. Si Bisu. Lengkap."

"Gue udah bilang, Marcel." Suara Elang datar, tapi ada ketegangan di rahangnya. "Gue gak bakal balik."

"Dan gue udah bilang," Marcel membalas, langkahnya semakin mendekat, "hari ini adalah hari terakhir lo minta maaf." Ia berhenti tepat di depan Elang, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Elang. "Jadi... mana?"

"Gak ada."

Satu kata. Tapi cukup untuk membuat senyum Marcel menghilang.

"Lo yakin?"

"Gue yakin."

Hening. Angin sore berembus pelan, membawa debu lapangan yang beterbangan. Lalu Marcel mundur selangkah. Ia menghela napas panjang. Dan ketika ia berbicara lagi, suaranya dingin.

"Kalian semua denger sendiri. Dia pilih jalannya." Ia menoleh ke anak buahnya. "Kasih pelajaran."

Semuanya terjadi begitu cepat.

Riko dan Bara bergerak duluan. Tinju Riko melayang ke arah Elang, tapi Elang menangkisnya dengan lengan kiri. Bara mencoba menendang dari samping—Bima sudah di sana, menahannya dengan bahu. Suara benturan tubuh menggema di lapangan kosong.

Tapi tiga lainnya ikut masuk.

Satu orang—yang belakangan Azril tahu bernama Dimas—menghantam pipi Elang dengan tinju keras. Elang terhuyung, darah mulai mengalir dari sudut bibirnya. Satu lagi—Toni—menghantam perut Bima dari samping. Bima meringis, tapi tidak jatuh. Ia membalas dengan pukulan ke arah rahang Toni, tapi tangannya yang diperban membuat pukulannya tidak sekuat biasanya.

"BIMA! AWAS!"

Azril berteriak saat melihat Marcel bergerak ke arah Bima. Tapi terlambat. Marcel menendang lutut Bima dari belakang. Bima jatuh berlutut, tapi ia masih mencoba bangkit. Marcel menendang lagi—kali ini ke arah perutnya. Bima terkapar.

"BIM!"

Elang ingin menolong, tapi Riko dan Dimas menahannya. Satu memegang lengannya, satu lagi memiting lehernya. Elang meronta, tapi dua lawan terlalu banyak.

Azril berdiri terpaku. Kaki kecilnya terasa lemas. Jantungnya berdebar kencang—terlalu kencang. Tangannya gemetar. Gue harus bantu. Gue harus—

Ia berlari.

Tidak ada rencana. Tidak ada strategi. Hanya dorongan buta untuk melakukan sesuatu—apa pun. Ia mendorong tubuhnya ke arah Riko yang sedang memiting Elang. Bahunya membentur pinggang Riko. Tidak kuat. Riko hanya terhuyung sedikit, lalu mendorongnya kasar.

"Awas lo, Culun!"

Tinju Riko mendarat di pelipis Azril. Kacamatanya terlempar. Dunianya berputar. Ia jatuh ke tanah, pipinya membentur debu lapangan. Rasanya seperti ada lonceng besar yang berdentang di dalam kepalanya.

"AZRIL!"

Faris melihat semuanya. Azril jatuh. Bima terkapar. Elang dipiting dua orang. Tubuhnya gemetar hebat. Keringat dingin mengucur deras, membasahi seluruh tubuhnya. Dadanya naik turun cepat—terlalu cepat. Matanya bergerak liar.

Gue harus lari. Gue harus kabur. Gue gak bisa—

Tapi kakinya bergerak.

Bukan menjauh. Tapi mendekat.

Ia tidak tahu apa yang ia lakukan. Tangannya masih memegang notebook-nya—satu-satunya benda yang selalu ia bawa. Tanpa berpikir, ia mengayunkan notebook itu ke arah Bara yang berdiri paling dekat.

Buk.

Bara menoleh. Tidak sakit. Hanya kaget. Lalu ia tertawa. "Si Bisu mau apa? Mukul pake buku?"

Ia mendorong Faris dengan satu tangan. Tubuh Faris terhempas ke tanah. Notebook-nya terlepas, mendarat beberapa meter darinya, halaman-halamannya terbuka tertiup angin.

Tapi Faris tidak melihat notebook-nya. Ia melihat Azril yang tergeletak di dekatnya. Kacamatanya hilang. Darah mengalir dari pelipisnya. Matanya setengah terbuka, tapi napasnya...

Napasnya tidak beraturan.

"Zril..." Suara Faris keluar. Serak. Hampir tidak terdengar. "Zril... napas lo—"

Azril tidak menjawab. Tangannya merogoh saku celana—inhaler. Ia mencoba meraihnya, tapi jari-jarinya gemetar terlalu hebat. Inhaler itu jatuh dari genggamannya, menggelinding ke samping.

Faris merangkak. Lututnya tergores aspal. Tangannya gemetar hebat. Ia meraih inhaler itu, memungutnya dengan jari-jari yang hampir tidak bisa menggenggam, lalu menaruhnya di tangan Azril.

"Pake... pake sekarang..."

Azril menggenggam inhaler itu. Satu tekan. Dua tekan. Napasnya mulai teratur. Tapi tubuhnya masih gemetar. Matanya berkaca-kaca—bukan hanya karena sakit, tapi karena malu.

Semua orang ngeliatin gue. Semua orang tau sekarang kalo gue penyakitan.

Tapi tidak ada yang menertawakannya.

Karena di saat yang sama, Elang akhirnya berhasil melepaskan diri. Ia mendorong Dimas dengan bahunya, lalu menendang Riko tepat di lutut. Riko jatuh. Elang berdiri di depan Azril, Faris, dan Bima—bertiga tergeletak di tanah, babak belur, tapi masih bernapas.

"Udah, Marcel." Suara Elang serak. "Lo menang. Gue kalah. Apa lagi yang lo mau?"

Marcel menatap mereka. Empat orang tergeletak di tanah. Pakaian kotor. Wajah berdarah. Tapi tidak ada yang menyerah. Tidak ada yang meminta ampun. Bahkan yang paling lemah—si Culun dan si Bisu—memilih untuk melawan.

Sesuatu bergerak di wajah Marcel. Bukan iba. Bukan menyesal. Tapi... lelah.

"Lo semua bodoh," katanya akhirnya. Suaranya tidak lagi dingin—hanya kosong. "Buang-buang waktu bela Elang. Dia bukan siapa-siapa."

"Dia temen kita." Bima bangkit, satu lutut masih di tanah. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Tapi ia tersenyum—senyum kecil yang lelah. "Itu cukup."

Marcel menatap Bima. Lalu Elang. Lalu Azril yang masih terengah-engah dengan inhaler di tangan. Lalu Faris yang merangkak mencari notebook-nya.

Ia menghela napas.

"Bawa mereka ke gudang."

...~•~•~•~...

Gudang sekolah terletak di belakang lapangan, dekat pagar pembatas. Tempat ini sudah lama tidak terpakai—bau debu dan kayu lapuk memenuhi udara. Tumpukan kursi rusak berjejer di sudut. Papan tulis retak bersandar di dinding. Jendela kecil di bagian atas menjadi satu-satunya sumber cahaya.

Empat tubuh terhempas ke lantai semen.

Marcel berdiri di ambang pintu, siluetnya hitam melawan cahaya sore. Anak buahnya menunggu di luar.

"Lo semua bisa keluar kalo udah bisa beresin ini sendiri." Suaranya datar. "Tapi kalo gue jadi lo... gue bakal mikir ulang. Bela Elang cuma bikin lo semua hancur."

Ia berbalik. Pintu gudang tertutup dengan suara berderit, lalu hening.

Hanya suara napas mereka yang tersisa.

Bima adalah yang pertama bergerak. Ia mendorong tubuhnya ke posisi duduk, bersandar ke tumpukan kursi rusak. Tangannya yang diperban sekarang kotor dan sedikit berdarah—lukanya mungkin terbuka lagi. Ia menatap langit-langit gudang yang penuh sarang laba-laba.

Lalu ia tertawa.

Bukan tawa riang seperti biasanya. Tapi tawa pelan—lelah, getir, tapi tulus.

"Gak kayak yang kita harapin ya."

Azril yang masih tergeletak di lantai, dengan inhaler di tangan dan kacamata entah di mana, tiba-tiba merasa sudut bibirnya terangkat. "Lo... lo masih bisa ketawa?"

"Harus, Zril. Daripada nangis."

Elang bersandar ke dinding. Bibirnya berdarah. Pipinya mulai membiru. Tapi ia tidak mengeluh. Ia malah menatap Bima, lalu menggeleng pelan. "Lo gila."

"Emang." Bima menyeringai, lalu meringis karena bibirnya perih. "Tapi lo ikut gila juga. Ngajak berantem enam orang cuma berdua."

"Bertiga," koreksi Azril pelan. Ia masih di lantai, tapi ia mengangkat tangannya yang memegang inhaler. "Gue ikut... walaupun cuma numbuk pake bahu."

"Berempat."

Suara itu serak. Hampir tidak terdengar. Tapi semua orang mendengarnya.

Faris duduk di sudut, notebook-nya sudah kembali di tangannya. Ia menatap mereka bertiga, lalu mengulang—kali ini lebih keras. "Berempat. Gue... gue juga ikut."

Bima menatap Faris. Lalu ia tertawa lagi—kali ini lebih keras, lebih lepas. "RIS! LO AKHIRNYA NGOMONG!"

Faris tersentak. Ia baru sadar apa yang baru saja ia lakukan. Tangannya langsung menutup mulutnya sendiri, matanya membesar. Tapi Bima sudah merangkak mendekat, menepuk bahunya dengan tangan kiri—tangan yang tidak diperban.

"Lo ngomong, Ris. Lo ngomong."

"Gue... gue..." Faris tergagap. Tapi kemudian sesuatu terjadi. Bahunya yang biasanya tegang mulai turun. Dan perlahan—sangat perlahan—ia terkekeh. Kekeh kecil yang bergetar, tapi nyata.

Azril melihatnya. Lalu ia ikut tertawa. Tertawa kecil yang membuat dadanya sedikit sesak, tapi kali ini bukan karena asma. Elang, yang paling jarang menunjukkan emosi, menggelengkan kepala lagi. Tapi sudut bibirnya—yang berdarah itu—terangkat.

Mereka berempat tertawa di dalam gudang.

Babak belur. Berlumuran debu. Terkunci.

Tapi tertawa.

...~•~•~•~...

Sementara itu, di ruang OSIS, Aini duduk di belakang meja kerjanya dengan setumpuk dokumen yang belum tersentuh.

Rapat sudah selesai. Anggota OSIS yang lain sudah pulang. Tapi Aini masih di sana, menatap layar ponselnya yang gelap.

Pikirannya tidak di sini. Pikirannya di lapangan belakang. Pada kakaknya. Pada Azril. Pada Bima dan Faris.

Ia sudah mencoba mengirim pesan pada Elang. Tidak dibalas. Pada Azril. Tidak dibalas. Pada Bima. Tidak dibalas.

Tangannya gemetar.

Besok adalah hari terakhir dia minta maaf. Kalau besok belum minta maaf juga... kelar hidup kalian.

Suara Marcel terngiang di kepalanya. Ia mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja, ritme yang tidak beraturan. Matanya melirik jam dinding. Pukul 16.30. Mereka belum juga membalas pesan.

Di mana mereka? Kenapa tidak ada yang—

Ponselnya bergetar.

Aini langsung meraihnya. Tapi itu hanya pesan dari anggota OSIS yang menanyakan tentang jadwal rapat minggu depan. Bukan dari Elang. Bukan dari Azril.

Ia meletakkan ponselnya dengan kasar. Dadanya sesak. Pikirannya melayang ke mana-mana—ke skenario terburuk, ke hal-hal yang tidak ingin ia bayangkan.

Kak, kamu di mana?

...~•~•~•~...

Kembali di gudang, tawa itu perlahan mereda. Tapi keheningan yang tersisa bukanlah keheningan yang canggung. Ini keheningan yang nyaman. Keheningan empat orang yang baru saja kalah, tapi merasa lebih dekat dari sebelumnya.

"Tangan lo," Elang tiba-tiba berkata, menatap perban Bima yang sekarang kotor dan sedikit berdarah. "Itu pasti bukan karena mecahin piring."

Itu bukan pertanyaan.

Bima terdiam. Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang diperban tidak rapi, tangan yang kemarin berdarah di lantai rumahnya. "Gue..."

"Lo gak harus cerita sekarang," Azril memotong pelan. Ia masih di lantai, tapi ia sudah duduk bersila. Kacamatanya sudah ditemukan—Faris yang mengambilkannya tadi. Lensanya retak sedikit di sudut kiri, tapi masih bisa dipakai. "Tapi kalo lo mau cerita... kita di sini."

Bima menatap Azril. Lalu Faris yang mengangguk pelan. Lalu Elang yang menatapnya dengan mata yang—untuk pertama kalinya—tidak dingin.

Ia menghela napas panjang.

"Gue... gue gak mecahin piring." Suaranya pelan. "Itu... pecahan botol. Dari bokap gue."

Tidak ada yang menjawab. Tapi tidak ada yang berpaling.

"Bokap gue... dia suka mabuk. Kalo dia mabuk, dia marah-marah. Kalo dia marah, dia mukul. Gue udah biasa." Bima tertawa kecil—tawa yang tidak lucu. "Tangan gue kena pecahan botol kemaren. Bukan pertama kalinya."

Azril merasakan dadanya sesak. Bukan karena asma. Tapi karena sesuatu yang lain. Ia ingat semua momen Bima yang ceria, yang heboh, yang selalu menjadi jangkar untuk mereka semua. Dan ia baru sadar—di balik semua itu, Bima menyimpan ini sendirian.

"Bim..."

"Gapapa, Zril." Bima menyeka bibirnya yang berdarah. "Gue udah biasa. Yang penting... gue punya kalian. Itu... itu yang bikin gue tetep waras."

Faris membuka notebook-nya. Tangannya masih gemetar, tapi ia menulis dengan hati-hati:

[Kita semua punya sesuatu yang kita sembunyiin. Azril punya asma. Elang punya masa lalu. Bima punya... ini. Dan gue... gue gak bisa ngomong. Tapi hari ini gue ngomong.]

Ia menunjukkan tulisan itu pada mereka semua.

Bima membacanya. Lalu ia menatap Faris. "Lo emang ngomong, Ris. Lo ngomong. Dan suara lo... suara lo penting."

Faris menunduk. Tapi kali ini ia tidak bersembunyi. Ia hanya... menerima.

"Kita semua aneh." Elang tiba-tiba bersuara. Suaranya masih serak, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. "Kita semua punya masalah. Tapi..."

Ia berhenti. Kata-katanya tersangkut.

Azril melanjutkan untuknya. "Tapi kita punya satu sama lain."

Elang menatap Azril. Lalu mengangguk.

Pintu gudang tiba-tiba berderit.

Mereka berempat menoleh. Siluet seseorang berdiri di ambang pintu, cahaya senja di belakangnya membuat wajahnya tidak terlihat jelas.

"Kak?"

Suara itu. Aini.

Ia berdiri di depan pintu gudang yang sekarang terbuka lebar. Map OSIS di tangannya jatuh ke tanah, kertas-kertas berhamburan tertiup angin. Tapi ia tidak peduli.

Matanya menatap pemandangan di depannya.

Kakaknya bersandar di dinding dengan bibir berdarah dan pipi membiru. Bima duduk di antara tumpukan kursi rusak, perbannya kotor dan berdarah. Azril di lantai dengan kacamata retak dan inhaler di tangan. Faris di sudut dengan notebook di pangkuan, wajahnya pucat tapi matanya... matanya berbeda.

"YA ALLAH... KALIAN—"

"Ai." Elang memotong. Suaranya tenang. "Gapapa."

"Gapapa?! Kakak berdarah-darah! Azril megang inhaler! Tangan Bima—" Aini tidak bisa melanjutkan. Air matanya sudah jatuh, membasahi pipinya yang pucat. "Aku... aku udah nungguin. Aku chat kalian semua. Gak ada yang bales. Aku takut... aku takut kenapa-kenapa..."

Ia berjongkok, tangannya mencengkeram pinggiran pintu gudang. Suara isakannya memenuhi ruangan kecil itu.

"Aku takut kalian... aku takut Kakak balik ke geng itu. Aku takut Azril kenapa-kenapa. Aku takut Bima... tangan Bima kenapa? Aku takut Faris... kalian semua..."

"Ai."

Bima memanggil namanya. Suaranya lembut—tidak seperti Bima yang heboh, tapi seperti kakak yang menenangkan adiknya.

"Lo liat kita? Kita babak belur. Tapi kita di sini. Bareng. Lo gak usah takut."

Aini mendongak. Matanya merah. "Tapi—"

"Elang gak balik ke geng," Azril menambahkan pelan. "Lo bisa liat sendiri. Dia di sini sama kita."

"Dia milih kita," Faris berkata—dan untuk kedua kalinya hari itu, suaranya keluar. Serak. Pelan. Tapi keluar. "Kakak lo... milih kita."

Aini menatap Faris. Mulutnya terbuka sedikit. Ia belum pernah mendengar Faris berbicara. Tidak pernah. Dan sekarang...

Ia menatap keempat orang di depannya. Babak belur. Kotor. Berdarah. Tapi mereka tersenyum. Bahkan Elang.

Perlahan, Aini menyeka air matanya. Ia berdiri, mengambil napas panjang, lalu melangkah masuk ke gudang. Ia duduk di antara mereka—di antara kakaknya dan Azril, di hadapan Bima dan Faris.

"Ceritain semuanya," katanya. "Dari awal."

Dan mereka bercerita.

...~•~•~•~...

Malam turun perlahan. Jendela kecil di bagian atas gudang menunjukkan langit yang mulai gelap, dengan bintang pertama yang muncul di ufuk timur.

Mereka masih di sana. Aini sudah mendengarkan semuanya—dari awal konfrontasi sampai mereka dilempar ke gudang. Air matanya sudah kering di pipi, meninggalkan jejak samar di kulitnya.

"Jadi Marcel... mundur?" tanyanya.

"Buat sekarang," Elang menjawab. "Tapi gue gak tau buat besok."

"Besok urusan besok," Bima menyahut, menyandarkan punggungnya ke tumpukan kursi. "Yang penting hari ini... kita masih di sini."

Azril menatap inhaler di tangannya. Benda kecil biru yang selama ini ia sembunyikan, sekarang tergeletak di telapak tangannya. Semua orang sudah melihatnya. Semua orang sudah tahu.

Dan tidak ada yang pergi.

"Gue... gue minta maaf," katanya pelan. "Gue gak cerita dari awal. Soal asma gue."

"Zril." Bima menoleh ke arahnya. "Lo kira gue marah? Lo kira kita semua marah?"

Azril tidak menjawab.

"Justru lo keren," Bima melanjutkan. "Lo hadepin semua ini—Marcel, lomba pidato, latihan—sambil nyimpen itu sendirian. Lo lebih kuat dari yang lo kira."

"Tapi gue lemah. Gue gak bisa napas tanpa ini." Ia mengangkat inhalernya.

"Lo pake inhaler bukan berarti lo lemah." Suara Aini terdengar pelan di sampingnya. "Lo pake inhaler berarti lo berjuang. Itu beda."

Azril menatap Aini. Gadis itu menatapnya balik, matanya masih merah, tapi tatapannya teguh.

"Dan lo menang catur," Faris menambahkan. Kali ini ia menulis di notebook-nya—suaranya mungkin sudah terlalu lelah untuk bicara lagi. [Lo menang catur sambil nyimpen ini. Itu keren.]

"Lo denger sendiri." Elang menatap Azril. "Lo kuat, Zril. Lo cuma belum nyadar."

Azril menatap teman-temannya satu per satu. Lalu ia menunduk, menatap inhaler di tangannya. Benda yang selama ini ia anggap sebagai simbol kelemahan.

Tapi sekarang... sekarang benda itu terasa berbeda.

"Makasih," bisiknya. Suaranya hampir tidak terdengar. Tapi semua orang mendengarnya.

Di luar, bintang-bintang mulai bermunculan. Satu per satu. Seperti mereka berempat—mungkin tidak bersinar terang seperti matahari, tapi cukup untuk menerangi gelap.

...~•~•~•~...

Satu jam kemudian, mereka akhirnya keluar dari gudang.

Satpam sekolah—Pak Dani—menemukan mereka saat sedang berpatroli. Wajahnya berubah dari kaget menjadi khawatir, lalu menjadi marah—bukan pada mereka, tapi pada situasi yang membuat empat siswa terluka di dalam gudang.

"Kalian harus ke UKS. Sekarang."

"Enggak usah, Pak. Kita—"

"SEKARANG."

Mereka berlima berjalan menuju UKS dengan langkah gontai. Bima merangkul Faris yang masih sedikit pincang. Elang berjalan di samping Aini yang masih memegangi lengannya—seolah takut kakaknya akan menghilang kalau ia melepaskan. Azril di paling belakang, kacamatanya masih retak, tapi ia bisa melihat dengan cukup jelas.

Di UKS, mereka diobati satu per satu. Luka Bima dibersihkan dan diperban ulang—kali ini dengan rapi. Pipi Elang dikompres. Pelipis Azril diberi obat luka. Lutut Faris diplester.

Mereka duduk berdampingan di ranjang UKS. Lima orang. Tidak muat sebenarnya, tapi mereka memaksakan diri.

"Besok," Bima memulai, "kita ke sekolah kayak biasa. Kepala tegak."

"Marcel?" Aini bertanya ragu.

"Marcel urusan nanti." Elang menatap ke depan. "Yang penting... gue gak sendiri."

"Lo gak akan pernah sendiri, Kak." Aini menyandarkan kepalanya ke bahu Elang. "Ada aku. Ada Bima. Ada Azril. Ada Faris."

"Dan lo," Bima menambahkan, menunjuk Aini. "Lo juga bagian dari kita sekarang."

Aini tersenyum. Senyum pertama sejak pagi tadi.

Faris membuka notebook-nya. Ia menulis sesuatu, lalu menunjukkannya pada semua orang:

[Besok kita makan di kantin lagi. Kayak biasa. Aini ikut.]

"Wah, Faris ngundang cewek! Awas Ris nanti yang punya cemburu!" Bima tertawa, lalu meringis karena bibirnya perih. "Aduh, jangan bikin gue ketawa. Sakit."

Semuanya tertawa—kecuali Bima yang setengah menahan sakit dan setengah ikut tertawa. Bahkan Elang terkekeh pelan.

Di luar jendela UKS, malam sudah sepenuhnya gelap. Tapi di dalam ruangan kecil itu, ada cahaya. Cahaya dari lima orang yang baru saja melewati hari terburuk—dan terbaik—dalam hidup mereka.

Tidak seperti yang diharapkan.

Tapi mungkin... justru lebih baik.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!