Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 – KEMBALINYA MASTER SEKTE
Sinar matahari pagi baru mulai menyinari markas sekte ketika sebuah sosok wanita muncul dari balik kabut yang menyelimuti lereng pegunungan. Rambutnya panjang seperti sutra putih yang mengkilap, jatuh lembut hingga pinggul. Gaunnya berwarna ungu muda dengan aksen emas yang menyala lembut, dan wajahnya cantik dengan mata biru yang dalam seperti lautan malam. Udara di sekitarnya terasa sejuk namun tidak menusuk, dengan aroma bunga sakura yang menyebar perlahan.
“Dia kembali…” bisik salah seorang anggota sekte dengan suara penuh kagum. “Master kita sudah keluar dari pengasingan.”
Nam Ling berdiri tegak, merasakan energi yang kuat namun tenang dari sosok tersebut. Ia tahu bahwa ini adalah sosok yang dulu memimpin sekte dengan kebijaksanaan, sebelum terpaksa mengasingkan diri untuk mencegah kekuatan jahat menguasainya.
“Selamat datang kembali, Master Liya,” ucap Nam Ling dengan rasa hormat, sedikit menundukkan kepala.
Wanita itu yang bernama Liya mengangguk dengan senyum lembut. Suaranya seperti dentingan kristal yang lembut namun jelas terdengar. “Terima kasih, Nam Ling. Aku telah mendengar semua yang kamu lakukan – bagaimana kamu membantu sekte ini kembali ke jalan yang benar dan melindungi Desa Hua dari bahaya.”
Ia berjalan maju dengan langkah yang anggun, menyentuh setiap batu dan reruntuhan yang baru saja diperbaiki. Setiap kali tangannya menyentuh permukaan batu, cahaya keemasan tipis muncul dan membuatnya tampak lebih bersih. “Aku terpaksa pergi dulu untuk mengendalikan energi gelap yang hampir menguasai diriku,” jelasnya sambil menatap jauh ke arah pegunungan. “Selama di pengasingan, aku belajar bagaimana menyatu dengan kekuatan alam tanpa harus menguasainya.”
Seorang anggota sekte datang mendekat dengan wajah penuh haru. “Kami sudah menunggu kamu, Master. Tanpa kamu, kami tersesat dan hampir membawa kehancuran pada diri sendiri serta desa di sekitarnya.”
Liya tersenyum hangat, menyentuh pundak anggota tersebut. “Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Yang penting adalah kita punya keberanian untuk bangkit dan memperbaikinya.”
Saat itu, tanah mulai bergoyang perlahan. Dari balik reruntuhan bangunan paling dalam markas, muncul getaran energi gelap yang lebih kuat dari yang pernah mereka temui. “Ada yang tidak puas dengan kedamaian yang kita bangun,” ucap Liya dengan ekspresi yang menjadi lebih tegas. “Mereka ingin membangkitkan kekuatan lama yang seharusnya tetap tertidur.”
Nam Ling segera mengeluarkan Pedang Abadi, cahaya merah menyala terang. “Kita tidak akan biarkan mereka merusak apa yang sudah kita bangun.”
Liya mengangguk, lalu mengangkat tangannya ke atas. Cahaya biru muda mulai menyebar dari telapak tangannya, menyatu dengan cahaya merah dari pedang Nam Ling. “Kekuatan sejati ada pada kesatuan,” ucapnya dengan suara yang menggema. “Mari kita tunjukkan bahwa kita bisa mengalahkan kegelapan tanpa harus menjadi seperti mereka.”
Mereka bergerak bersama ke arah sumber getaran. Di sana, sebuah batu nisan besar mulai terbuka perlahan, mengeluarkan energi gelap yang mencoba menyebar ke segala arah. Namun sebelum bisa menjangkau siapa pun, cahaya dari Liya dan Nam Ling menyatu membentuk perisai yang kuat, menahan dan mulai menetralkan energi jahat tersebut.
Setelah beberapa saat, energi gelap benar-benar hilang, dan batu nisan kembali menutup dengan sendirinya. Udara menjadi segar kembali, dan aroma bunga sakura semakin kuat menyebar di udara.
“Sekarang semua aman,” ucap Liya dengan senyum lega. “Kekuatan lama tersebut sudah tidak akan pernah bangun lagi.”
Nam Ling mengangguk, merasakan bahwa kedamaian yang mereka bangun kini semakin kokoh. “Kita bisa bekerja sama – sekte ini dan Desa Hua – untuk menjaga wilayah ini agar tetap aman.”
Liya tersenyum, melihat sekeliling markas yang kini penuh dengan harapan. “Aku akan tinggal di sini untuk membimbing sekte menjadi penjaga alam yang benar,” ucapnya. “Dan jika desa membutuhkan bantuan, kami akan selalu siap membantu.”
Yue Xin yang telah menyaksikan seluruh peristiwa datang mendekat dengan mata penuh kagum. “Kamu sangat cantik dan kuat, Bu Liya. Bolehkah aku belajar padamu tentang cara mengendalikan energi alam?”
Liya meraih tangan Yue Xin dengan lembut. “Tentu saja, anakku. Keterampilanmu dalam melihat jalur energi adalah anugerah besar. Bersama kita bisa melindungi yang kita cintai.”
Matahari mulai tinggi menyinari seluruh markas, dan semua orang merasakan kedamaian yang sungguhan menyelimuti setiap sudut. Mereka tahu bahwa dengan kehadiran Master Liya dan kerja sama yang kuat, masa depan akan lebih baik dan penuh harapan.