" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
EPISODE 11: AMUKAN MARAH DAN TELINGA TETANGGA
Intan melangkah masuk dengan pikiran yang kacau balau. Otaknya seakan berhenti bekerja.
'Ada apa dengan suamiku ini? Apakah dia cuma marah karena melihat aku mengobrol santai dengan Langit tadi? Kalau itu alasannya, mungkin aku bisa mengerti. Tapi kalau dia sampai menuduh aku selingkuh... aku tidak akan terima!'
Tanpa sadar langkah kakinya semakin cepat, hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan pintu rumahnya sendiri.
"Ceklek."
Pintu terbuka. Tampak Jaji sedang duduk dengan pose angkuh di ruang tamu, satu kakinya diinjakkan ke kursi, wajahnya murka bagaikan raksasa yang siap melahap mangsa.
Intan segera menutup dan mengunci pintu dari dalam.
'Permasalahan ini harus selesai hari ini juga. Tidak bisa ditunda-tunda lagi,' batinnya tegas.
"Ada apa sebenarnya Pih? Kenapa marah-marah begitu di luar tadi?" tanya Intan lembut namun tegas seraya mendekat.
Jaji diam membisu. Sebenarnya akal sehatnya sempat berbisik mengikuti saran Pardi untuk berpura-pura biasa saja. Namun, bayangan wajah Intan yang memerah tersipu malu saat bersama Langit tadi terus menghantuinya. Rasa cemburu buta itu berhasil menutupi seluruh logika dan rasionalitasnya.
"MANA ANAK-ANAK?!" bentak Jaji tiba-tiba dengan nada suara yang tertekan menahan amarah.
"Aku titipkan di rumah Bu Wati," jawab Intan ketus. "Aku tidak mau mereka jadi pelampiasan emosimu yang tidak jelas asal usulnya!"
Jaji semakin terpancing emosinya mendengar jawaban itu.
'Dasar wanita licik! Dia sengaja menitipkan anak-anak di situ agar mereka dekat dengan Langit! Agar anak-anak lebih sayang ke bocah sialan itu daripada ke ayahnya sendiri!'
"DASAR ISTRI DURHAKA! PENGHIANAT! SETAN! DUNGU BODOH! WANITA TUKANG SELINGKUH YANG TAK TAU DIRU!"
Cacian dan makian meluncur deras tanpa filter dari mulut Jaji.
"BRAAKKKK!!!!"
Dengan kasar ia menggebrak meja di hadapannya hingga kaca meja itu pecah berkeping-keping. Darah segar langsung mengalir dari tangannya yang terluka, namun pria itu seakan tak merasakan sakit sama sekali.
Intan hanya bergeming, berdiri tegak mematung di tempatnya.
Sebenarnya ia bingung, apa kesalahan besar yang sudah ia perbuat hingga diperlakukan seperti ini? Namun, cacian dan makian seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari baginya selama hampir 4 tahun berumah tangga. Ia sudah tahu sifat suaminya, kalau sudah marah, semua kata-kata kotor akan keluar, dan biasanya amarah itu sering kali berimbas juga pada anak-anak jika mereka ada di dekatnya.
"APA KESALAHANKU PIH?! HAH?! SAMPAI KAU MENCACI MAKI DIRIKU SEPERTI INI?!" tanya Intan akhirnya, sorot matanya tajam menantang. Tak ada lagi keramahan di sana.
"WANITA LACURRR!!! KAU SUDAH SELINGKUH DENGAN LELAKI BRENGSEK CUCUNYA WATI TUA ITU HAH?!" teriak Jaji melotot.
"KAU SUDAH BERKHIAYAT WANITA MURAHAN! DASAR PELACUR KOTORRR!!"
Hati Intan terasa diremas-remas sakit.
'Sakit... Pasti sangat sakit. Dihina lacur oleh suami sendiri, disebut murahan oleh orang yang seharusnya melindungi, diumpat seperti binatang oleh pemimpin rumah tangga yang seharusnya menuntun ke jalan benar. Ya Tuhan, betapa hancurnya perasaanku saat ini...'
Meski hatinya hancur lebur, Intan mencoba tetap tegar. Ia mengelus dadanya pelan menenangkan diri, memilih untuk tidak membalas makian itu dengan emosi yang sama.
"TIDAK! BUKAN SEPERTI ITU PIH! KAU SALAH PAHAM BESAR-BESARAN!" seru Intan berusaha membela diri. "AKU TIDAK MELAKUKAN APA-APA YANG SALAH! TAPI KENAPA KAU LANGSUNG MENGHAKIMI KU TANPA MAU DENGARKAN PENJELASAN DULU?! INI TIDAK ADIL! SANGAT SAKIT HATI!"
"AKU TAHU KAU MARAH, TAPI TOLONG DENGARKAN AKU SEKALI SAJA! SEMUA YANG KAU LIHAT ATAU DENGAR ITU CUMAN SALAH PAHAM! AKU TIDAK AKAN PERNAH MENYAKITI KAMU PIH, TAPI KENAPA KAU TIDAK BERI AKU KESEMPATAN BUAT JELASKAN?!"
Air mata mulai menetes, namun suaranya tetap berusaha keras terdengar.
"HATIKU RASANYA DITIMPA BATU BESAR SEKARANG... KAU MARAH PADAKU PADAHAL AKU TIDAK BERSALAH SAMA SEKALI! TOLONGLAH DUDUK BERSAMA AKU, DENGARKAN APA YANG SEBENARNYA TERJADI!"
"AKU TIDAK BUTUH PENJELASAN DARI KAMU!!" teriak Jaji memotong keras. "SEMUYA BUKTI SUDAH ADA DI TANGANKU! NANTI JUGA KAU AKAN LIHAT SENDIRI! ALASAN APA LAGI YANG INGIN KAU CARI?!"
Dengan kasar Jaji bangkit dari duduknya, lalu berjalan masuk menuju kamar mandi untuk membersihkan darah di tangannya, meninggalkan Intan yang terpaku diam di tengah ruangan yang berantakan.
RUMAH YANG BERANTAKAN
Tak lama berselang, suara bantingan barang mulai terdengar bertubi-tubi dari dalam kamar utama.
"DUG!! DERR!! BRUK!!"
Jaji melampiaskan kekesalannya dengan menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya. Bantal guling dilempar sembarangan, vas bunga dihantamkan ke lantai hingga pecah, gorden dikoyak-koyak, bahkan meja rias Intan pun dijungkirbalikkan.
Suara pecahan kaca dan kayu bergemeretak memenuhi seluruh sudut rumah.
Namun anehnya, Intan hanya diam mematung di tempatnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia sudah terbiasa. Setiap kali suaminya marah besar, begini lah jadinya. Rumah yang tadi rapi dan bersih, dalam sekejap berubah menjadi kapal pecah. Ia tahu, melawan atau menangis saat ini hanya akan membuat Jaji semakin menjadi-jadi. Biarkan saja dia puas menghancurkan barang, asal tidak menyentuh fisik dirinya saat ini.
WARGA BERKERUMUN
Suara kegaduhan itu ternyata terdengar sangat jelas hingga ke luar rumah.
Beberapa tetangga yang tadi sudah mendengar Jaji berteriak di depan rumah Nenek Wati, kini mulai bergerak mendekat. Rasa penasaran mereka memuncak.
Mereka berhenti tepat di depan pagar rumah Jaji dan Intan. Ada yang berdiri bersandar di tiang listrik, ada yang menggendong anak, dan ada pula yang sengaja datang dari rumah sebelah hanya untuk menguping.
"Waduh... Keras banget suaranya, kayaknya lagi perang dunia deh di dalem," bisik salah satu ibu-ibu.
"Iya tuh... Dengar gak? Tadi Pak Jaji teriak-teriak sebut nama Langit sama Teh Intan. Kelihatannya sih masalah besar, soal perselingkuhan kayaknya," sahut yang lain.
"Kasihan ya Teh Intan... Suaminya kalau marah emang galak banget orangnya. Tapi ya gimana lagi, namanya juga hidup bertetangga, kalau ada keributan ya otomatis jadi bahan omongan semua warga."
"Ssttt... Diam dulu, dengerin deh..."
Mereka semua memasang telinga lebar-lebar, menangkap setiap teriakan dan suara bantingan barang, lalu membicarakannya pelan-pelan. Berita tentang keributan ini semakin cepat menyebar, dan nama Intan serta Langit semakin tercoreng di mata masyarakat desa, walau sebenarnya belum ada yang tahu kebenarannya secara pasti.
Di ruang tamu, Intan menimbang-nimbang kembali kata-kata terakhir suaminya.
'Bukti... Katanya bukti sudah ada di tangannya...'
Pikirannya melayang kembali ke kejadian malam tadi. Pertemuan di jendela kamar, janji-janji manis, dan kedekatan mereka yang mungkin terlihat salah pengertian oleh mata yang memandang.
'Kalau itu yang dijadikan bukti... Ya aku akui aku salah. Aku siap terima konsekuensinya.'
Namun dalam hati kecilnya ia bersyukur.
'Untunglah malam itu pikiranku masih waras dan bisa mengendalikan diri. Seandainya sampai terjadi hubungan terlarang dengan Langit... Bukan cuma aku yang hancur, aku juga pasti sudah menjerumuskan bocah itu ke dalam lumpur dosa yang tak berdasar.'
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.