NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Sejak Nayla Datang”

Suasana di ruang makan terasa hangat. Gelak tawa Oma sejak tadi mengisi ruangan, mendengarkan cerita Nayla dan Arkan tanpa henti.

Arkan dengan gaya andalannya melipat kedua tangan di dada, mata terpejam, wajah berpaling, dan bibir cemberut. Tingkahnya justru membuat suasana semakin hidup.

Oma dan Nayla tak mampu menahan tawa. Bahkan, di sela-sela itu, Ayah Arkan sempat tersenyum sekilas—singkat, namun cukup untuk terlihat berbeda dari biasanya.

Di kejauhan, Bibi Rani yang memperhatikan ikut tersenyum. Hatinya terasa hangat. Baru kali ini ia melihat keluarga yang dilayaninya tertawa sebahagia ini.

Bahkan tuan besarnya... yang biasanya dingin tanpa ekspresi, kini sempat tersenyum.

Ia menunduk haru.

Sepertinya, kedatangan Nona Nayla memang membawa kebahagiaan ke rumah ini, batinnya.

Sementara itu, Arkan mulai menunjukkan tanda-tanda “bahaya”.

Matanya berkaca-kaca, bibirnya makin maju, dan hidungnya mulai kembang-kempis.

Nayla dan Oma saling pandang, lalu berdehem hampir bersamaan.

“Arkan sayang...” rayu Nayla lembut.

“Hmmph!” Arkan mendengus, wajahnya makin manyun.

“Arkan sayang, kita kan lagi berbagi kebahagiaan sama Oma. Jangan nangis, dong...”

“Tapi... tapi kan... hukh...” ia menahan tangis.

“Ceritanya yang di pantai aja...” katanya dengan muka memberengut.

“Yang itu... jangan diceritain...” sambungnya pelan.

Ia menunduk.

Mengingat bagaimana ia kesulitan melepas baju sendiri... dan ternyata bajunya bau karena muntahnya sendiri.

Nayla dan Oma saling lirik. Tawa mereka hampir pecah lagi, tapi kali ini ditahan mati-matian.

Bahkan Ayah Arkan yang sejak tadi diam, tampak menahan senyum. Ia melipat bibirnya tipis, lalu mengalihkan pandangan, seolah tidak ingin terlihat.

Raut wajah Arkan benar-benar terlalu lucu.

Nayla menyerah.

“Sebentar ya... Kakak ke kamar mandi. Kakak mau pipis,” ucapnya cepat, lalu langsung berlari sambil menutup mulutnya.

“Oma juga...” sahut Oma tak kalah cepat. “Perut Oma tiba-tiba mules.”

Namun yang dipegang kedua tangannya justru mulutnya, menahan tawa yang hampir meledak.

Tinggalah Arkan dan Ayahnya di meja makan.

Arkan masih cemberut, sesekali mengusap matanya.

Ayah Arkan menatapnya sekilas.

“Masih mau nangis?” tanyanya datar.

Arkan langsung menggeleng cepat.

“Enggak...”

Hening sejenak.

“Papah...”

“Hmm.”

“Yang tadi... jangan diceritain lagi ya...”

Ayah Arkan tidak langsung menjawab.

Tatapannya sempat bergeser ke arah pintu, tempat Nayla tadi pergi.

“Kalau malu, jangan diulang,” ucapnya singkat.

Arkan menunduk.

“Iya...”

Beberapa detik berlalu.

“Papah...”

“Apa lagi?”

Arkan ragu sejenak.

“Kak Nayla... boleh di sini terus nggak?”

Pertanyaan itu membuat Ayah Arkan terdiam.

Cukup lama.

“Kenapa?” tanyanya akhirnya.

Arkan mengangkat bahu kecilnya.

“Soalnya... seru.”

Jawaban polos itu membuatnya kembali diam.

Seru.

Satu kata sederhana... tapi terasa asing.

“Lihat nanti,” jawabnya singkat.

Tak lama, suara langkah kaki kembali terdengar.

Ayah Arkan kembali pada sikap semula—tenang, datar.

Namun saat Nayla kembali ke ruangan—

Tatapannya tertahan satu detik lebih lama dari biasanya.

“Oh... Arkan sudah nggak ngambek?”

Nayla menatap Arkan yang kini sedang menyuapkan potongan daging dari piringnya sendiri.

Arkan sempat melirik, lalu buru-buru membuang muka—seolah ingin menunjukkan bahwa ia masih marah.

Namun beberapa detik kemudian, ia kembali mencuri pandang.

Nayla hanya tersenyum simpul, lalu melanjutkan makannya dengan tenang.

Suasana makan pun kembali hangat. Sesekali obrolan ringan terdengar, diselingi tawa kecil yang tertahan.

Kali ini, Nayla tidak lagi menyinggung cerita-cerita yang bisa membuat Arkan malu.

Padahal... sebenarnya masih banyak.

Saat Arkan terguling-guling disapu ombak.

Atau ketika ia tersungkur dengan wajah penuh pasir.

Mengingat itu saja sudah cukup membuat Nayla ingin tertawa lagi.

Namun ia menahannya.

Ia tahu, jika itu dibahas lagi—

Arkan pasti akan kembali cemberut.

Dan entah kenapa...

Nayla tidak ingin melihat wajah itu lagi.

**

Selesai makan, Oma mengajak Nayla dan Arkan ke ruang keluarga.

Mereka duduk bersama, melanjutkan obrolan ringan. Sesekali tawa kecil terdengar, mengisi ruangan yang terasa hangat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Oma merasakan kembali suasana keluarga seperti ini.

Hangat. Ringan. Nyaman.

Biasanya, ia memang bercerita pada Siska atau Bibi Rani. Namun entah mengapa, selalu ada jarak yang tak terlihat.

Berbeda dengan Nayla.

Gadis itu hanya bersikap biasa saja—tanpa dibuat-buat. Namun justru itu yang membuat Oma merasa nyaman.

Seolah ia benar-benar didengarkan.

Karena perasaan itu, perlahan Oma mulai membuka masa lalunya.

“Dulu... saat Ayahnya Kael meninggal, Kael masih sangat kecil. Bahkan baru bisa berjalan,” ucap Oma pelan.

“Suami Oma seorang perwira. Ia meninggal saat menjalankan tugas.”

Nayla terdiam, mendengarkan dengan saksama.

“Sejak saat itu, Kael tumbuh tanpa sosok ayah. Dan Oma...” ia berhenti sejenak, “harus menghadapi semuanya sendiri.”

Oma menarik napas panjang.

“Perusahaan itu sebenarnya milik Ayah Oma. Saat itu, kondisi beliau sedang drop... dan bisnis keluarga berada di titik yang sulit.”

Tatapannya menerawang.

“Suami Oma tidak meninggalkan banyak harta. Jadi... mau tidak mau, Oma harus kembali ke dunia bisnis yang dulu diajarkan oleh Ayah.”

Tangannya saling menggenggam.

“Padahal sudah 8 tahun Oma tidak terlibat dengan dunia bisnis. Tapi saat itu, tidak ada pilihan lain.”

Nayla tetap diam, memberi ruang.

Setiap orang punya kesulitannya sendiri, batinnya pelan.

“Setahun setelah suami Oma meninggal, Oma mulai mengambil alih perusahaan. Semuanya tidak mudah... hampir sepuluh tahun Oma bertahan mati-matian.”

Suaranya mulai melemah.

“Gali lubang, tutup lubang. Bertahan sebisa mungkin...”

Ia menunduk.

“Dan selama itu... Oma tidak benar-benar hadir untuk Kael.”

Hening.

“Oma sengaja menyibukkan diri. Karena kalau tidak... Oma akan terus tenggelam dalam kesedihan.”

Senyumnya tipis, namun terasa pahit.

“Saat Oma sadar... semuanya sudah terlambat.”

“Kael sudah tumbuh menjadi sosok yang dingin. Tertutup. Sulit dijangkau.”

Nayla menahan napas.

“Oma mencoba mendekat. Meminta maaf. Tapi Kael sudah punya dunianya sendiri... ambisinya sendiri.”

Beberapa detik berlalu.

“Bahkan Oma baru tahu... saat usianya 14 tahun, Kael sudah lulus SMA.”

Nayla sedikit terkejut.

“Dia sangat mirip ayahnya yang seorang perwira Rusia. Tegas... dan jauh.”

Nayla menatap dalam diam.

Pantas... mukanya Rusia banget batinnya.

Oma kembali bersuara pelan,

“Kamu mungkin bertanya-tanya... kenapa tidak ada foto keluarga di rumah ini.”

Ia menghela napas panjang.

“Kael tidak suka foto keluarga.”

“Dulu... dia selalu difoto sendirian.”

Air mata mulai jatuh dari sudut matanya.

Tanpa ragu, Nayla langsung mendekat dan memeluk Oma dengan lembut.

Di sisi lain, Arkan ikut mendekat, memeluk Oma dari samping.

Pelukan kecil, namun penuh makna.

Nayla menatap mereka berdua.

Oma... Ayah Arkan... dan Arkan...

Mereka semua... bertahan dengan caranya masing-masing.

Setelah beberapa saat, suasana perlahan kembali tenang.

Oma melepaskan pelukannya, lalu menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.

Tatapannya beralih pada Nayla dan Arkan.

Senyum tipis terukir di wajahnya—hangat, namun masih menyisakan haru.

“Terima kasih...” ucapnya pelan.

Nayla sedikit terkejut.

“Terima kasih... karena sudah hadir di hidup Oma.”

Tangannya menggenggam tangan Nayla dengan lembut, lalu meremasnya pelan.

“Kamu membawa sesuatu yang sudah lama hilang di rumah ini...”

Nayla terdiam.

Oma kemudian menoleh pada Arkan.

“Dan kamu juga...” lanjutnya sambil mengusap kepala Arkan.

Arkan hanya menatap polos.

“Oma jadi bisa tertawa lagi seperti ini...”

Arkan tersenyum kecil, lalu tanpa ragu memeluk Oma lagi.

Nayla ikut tersenyum hangat melihatnya.

Namun di dalam hatinya—

Ada sesuatu yang terasa mengganjal.

Apa benar... aku akan tetap di sini? batinnya pelan.

Ia tidak mengucapkannya.

Namun untuk pertama kalinya—

Pergi... terasa tidak semudah sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!