NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Cincin Permaisuri dan Sidang di Ujung Kota

Langkah kaki Melan terasa semakin berat saat ia digiring melewati jalanan kota yang asri menuju sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh di ujung kota.

Bangunan itu bukan sekadar gedung biasa itu adalah istana kerajaan Negeri Binatang, pusat kekuasaan dari para pemimpin kaum Manusia Binatang.

Dibandingkan dengan istana Nolan yang kaku dan penuh ornamen logam, tempat ini terasa lebih hidup dengan dinding yang terbuat dari kayu jati raksasa dan lilitan tanaman merambat yang berbunga cerah.

"Dengar, manusia," bisik Kakak Kibo, wajahnya mengeras saat mereka mendekati gerbang utama.

"Kau akan dibawa ke hadapan Yang Mulia Raja. Membawa manusia masuk ke jantung negeri kami adalah pelanggaran besar. Sebaiknya kau jaga mulutmu kalau tidak mau berakhir jadi santapan singa penjaga."

Melan menelan ludah, dadanya berdegup kencang. "Gue tahu, Mas Serigala. Nggak usah diingetin terus, gue juga udah deg-degan dari tadi," gumam Melan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Di Hadapan Sang Raja

Begitu memasuki aula utama, Melan disambut oleh barisan pengawal dengan berbagai fitur hewan ada yang memiliki tanduk kerbau yang kuat, ada pula yang memiliki cakar macan yang tajam.

Di ujung aula, duduk seorang pria dengan fisik yang sangat dominan. Ia memiliki surai rambut pirang keemasan yang lebat dan mata berwarna amber yang tajam Raja dari segala binatang.

Kakak Kibo segera berlutut dengan satu kaki, diikuti oleh rombongannya. Melan, yang tahu diri sedang berada di kandang lawan, ikut membungkuk memberi salam dengan anggun, meski hatinya terasa mau copot.

"Lapor, Yang Mulia," ujar Kakak Kibo dengan suara lantang.

"Kami membawa manusia ini dari wilayah Valerius. Dia adalah seorang penyihir yang telah menanamkan sihir hitam pada adik kami, Kibo. Kibo menolak pulang dan lebih memilih menjadi pelayan di bawah kaki wanita ini. Kami membawanya ke sini agar sihirnya dipatahkan."

Seketika, aura di dalam ruangan itu berubah menjadi sangat tegang.

Para pengawal langsung menghunuskan senjata mereka, mengarahkan tombak ke arah Melan. Suara geraman rendah terdengar dari berbagai sudut, seolah siap menerkam penyihir yang dituduhkan itu.

Melan hanya bisa tersenyum masam, kepalanya terasa pening difitnah secara konsisten sejak seminggu lalu.

"Sihir lagi, sihir lagi... Gue kasih makan enak dibilang sihir. Gue kasih kerjaan dibilang guna-guna. Nasib jadi orang baik di dunia ini kok susah banget ya," batin Melan sambil menghela napas.

Kibo mencoba maju. "Yang Mulia! Itu tidak benar! Melan bukan penyihir! Dia—"

Plak!

Kakak Kibo segera membungkam mulut adiknya dengan tangan besarnya. "Diam, Kibo! Kau sudah tidak sadar akan apa yang kau ucapkan!"

Pengakuan yang Mengguncang

Raja yang duduk di singgasana kayu itu menatap Melan dengan sangat lama. Tatapannya tidak mengandung amarah, melainkan rasa ingin tahu yang mendalam.

Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar para pengawal sedikit menurunkan senjata mereka.

"Siapa namamu, manusia?" tanya Sang Raja dengan suara berat yang menggetarkan udara di sekitarnya.

Melan menegakkan punggungnya. Ia sadar, berbohong atau menjadi pengecut tidak akan menyelamatkannya di sini. Ia harus menggunakan identitas aslinya untuk mendapatkan posisi tawar.

"Nama saya Melan, Yang Mulia," jawabnya dengan suara tenang dan jelas.

"Dan jika Anda butuh gelar lengkap saya... saya adalah Permaisuri dari Kerajaan Valerius, istri dari Raja Nolan."

Hening.

Keheningan yang terjadi begitu mendalam hingga suara sayap serangga di luar aula pun bisa terdengar. Detik berikutnya, tawa kecil pecah dari beberapa pejabat binatang yang ada di sana.

"Permaisuri Valerius?" salah satu penasihat bertelinga kancil tertawa.

"Raja Nolan itu pria yang sangat teliti dan sombong. Bagaimana mungkin istrinya berkeliaran di hutan dengan pakaian lusuh, rambut acak-acakan, dan bau keringat seperti ini? Kau pasti berbohong untuk menyelamatkan nyawamu!"

Sang Raja sendiri tampak ragu. Ia meneliti penampilan Melan dari atas sampai bawah.

Benar kata penasihatnya, penampilan Melan saat ini setelah seminggu diculik dan tidur di tanah lebih mirip pengungsi daripada seorang ratu.

Melan tidak panik. Ia ingat sesuatu yang selalu melingkar di jarinya sejak ia terbangun di dunia ini cincin yang diberikan Nolan, yang menurut Dayang Lin adalah simbol sah pernikahan mereka yang asli.

"Saya tahu penampilan saya sekarang tidak meyakinkan," ucap Melan sambil mengangkat tangan kanannya.

"Tapi benda ini tidak bisa bohong."

Ia melepaskan sebuah cincin emas putih dengan permata biru safir yang memancarkan cahaya redup namun elegan.

Di bagian dalam cincin itu, terukir lambang pedang dan mawar, segel resmi keluarga kerajaan Valerius.

"Ini adalah cincin pernikahan sah Kerajaan Valerius," tegas Melan.

"Hanya ada dua di dunia ini. Satu di jari saya, dan satu lagi di jari Raja Nolan."

Seorang pengawal mengambil cincin itu dengan hati-hati dan membawanya ke hadapan Sang Raja. Begitu melihat ukiran dan merasakan energi yang ada di dalamnya, wajah Sang Raja berubah drastis. Ia bangkit dari singgasananya, membuat semua orang di ruangan itu ikut berdiri dengan panik.

"Segel Mawar dan Pedang..." bisik Sang Raja. "Ini memang milik Valerius."

Ia menatap Melan dengan tatapan yang kini penuh dengan kekhawatiran. "Jika kau benar-benar Permaisuri Valerius... berarti saat ini kita baru saja memicu perang dengan Raja Nolan. Kau tahu betapa mengerikannya pria itu jika miliknya disentuh?"

Melan mengangkat bahunya santai, meski hatinya berteriak 'Gue juga takut sama dia, Pak!'.

"Makanya, sebelum ksatria dia datang dan meratakan tempat cantik ini, mending kita bicara baik-baik. Saya di sini bukan mau nyihir Kibo, saya cuma mau buka Mall!"

Para Manusia Binatang itu saling pandang. Mereka tidak tahu apa itu 'Mall', tapi mereka tahu satu hal pasti: mereka baru saja menculik masalah besar seberat satu kerajaan.

Diskusi di Balik Layar

Setelah pengakuan itu, Sang Raja memerintahkan pengawal untuk melepas ikatan tangan Melan.

"Beri dia pakaian yang layak dan makanan manusia yang matang," perintahnya pada pelayan.

Melan akhirnya bisa bernapas lega saat dibawa ke sebuah kamar yang sangat nyaman dengan pemandangan langsung ke hutan yang indah.

"Nah, begini dong. Dari kemarin kek dikasih kasur empuk," gumamnya sambil merebahkan diri.

Kibo menyelinap masuk ke kamar Melan setelah para ksatria serigala pergi. "Yang Mulia! Anda hebat sekali tadi! Semua orang langsung takut!"

Melan tertawa kecil. "Takut bukan karena saya, Kibo. Takut karena bos kamu yang di istana itu galaknya minta ampun. Tapi denger ya, saya nggak mau ada perang. Saya suka negeri ini. Burung-burung di sini bisa cerita, udaranya segar... ini tempat yang bagus buat bisnis."

"Bisnis lagi?" Kibo menggelengkan kepala. "Anda baru saja hampir mati, dan masih memikirkan uang?"

"Uang itu kebebasan, Kibo," jawab Melan serius. "Dengar, kalau saya bisa meyakinkan Raja kamu untuk kerja sama, kaum kamu nggak perlu lagi jadi budak di luar sana. Kita bangun jalur perdagangan resmi. Biar mereka tahu kalau Manusia Binatang itu bukan cuma kuat fisik, tapi juga cerdas."

Kibo menatap Melan dengan penuh kekaguman. Baginya, Melan memang penyihir tapi bukan penyihir jahat. Dia menyihir orang dengan harapan dan masa depan.

Namun, di luar kamar, Sang Raja Negeri Binatang sedang mengadakan pertemuan darurat.

"Siapkan utusan untuk mengirim surat ke Valerius. Katakan pada Nolan bahwa istrinya selamat dan ini hanya kesalahpahaman keluarga Kibo. Kita tidak boleh membiarkan pedang Valerius masuk ke hutan kita."

Malam Pertama di Negeri Fantasi

Malam harinya, Melan diundang makan malam resmi oleh Sang Raja. Kali ini, makanannya tidak lagi daging mentah.

Ada ikan bakar bumbu madu, buah-buahan segar yang manisnya luar biasa, dan semacam roti gandum yang sangat lembut.

"Jadi, Permaisuri Melan," Sang Raja memulai pembicaraan sambil memotong ikannya.

"Apa sebenarnya tujuanmu memperlakukan Kibo dengan begitu baik? Manusia biasanya hanya melihat kami sebagai alat."

Melan meletakkan gelas jusnya. "Saya sedang membangun Mall Nusantara, Yang Mulia. Sebuah tempat di mana siapapun manusia, peri, atau manusia binatang bisa datang dan mendapatkan apa yang mereka butuhkan tanpa rasa takut dihakimi. Kibo punya bakat, indra pendengarannya luar biasa. Dia bukan alat, dia aset berharga bagi saya."

Sang Raja tampak termenung. "Sebuah tempat untuk semua ras... itu terdengar seperti mimpi yang mustahil. Kebencian antara ras kita sudah tertanam selama ratusan tahun."

"Tembok setinggi apapun bisa diruntuhkan kalau kita punya kunci yang pas," sahut Melan percaya diri.

"Dan kunci saya adalah... keuntungan bersama. Semua orang suka uang, semua orang suka hidup nyaman. Kalau kita bisa kasih itu ke mereka, kebencian itu bakal terlupakan pelan-pelan."

Sang Raja tersenyum tipis. "Kau memang unik, Melan. Tidak heran Nolan yang kaku itu bisa memilihmu. Baiklah, aku akan menahanmu di sini sampai Nolan datang menjemputmu. Dan selama kau di sini, tunjukkan padaku lebih banyak soal 'bisnis' yang kau maksud itu."

Melan tersenyum lebar. Yes! Satu langkah lagi menuju ekspansi bisnis internasional!

Namun, di tengah kegembiraannya, Melan tiba-tiba teringat Nolan. Kira-kira si Kulkas Dua Pintu itu lagi ngapain ya? Apa dia marah karena gue ilang? Atau malah seneng karena nggak ada yang berisik di meja makan?

1
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!