"Bukan berarti apa yang dekat dengan kita adalah yang terbaik, bisa jadi kebaikan itu ada jauh dari kita ataupun tidak terlihat"
Aku pergi karena sangat menyayangi kalian, suatu saat nanti jika masih ada kesempatan aku akan menjemput kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsih Mom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan yang sulit
Ternyata sudah ada beberapa informasi yang sudah Tio kumpulkan untuk Tuannya. Tentang keberadaan Haya dan keluarganya, di tambah dengan sikap Anita yang terlihat mencurigakan.
Seperti sudah diatur, Anita berencana mengajak Santana untuk berlibur ke suatu tempat. Dan untuk kali itu Santana tidak bisa menolaknya karena liburan itu merupakan sebagian rencana Anita untuk bisa menjauhkan Santana dengan Haya.
Sebelum Anita datang ke kota kecil, Dia sedikit banyak sudah mencari tahu tentang masa lalu Santana dan semua yang ada hubungan dengan masa lalunya dulu. Dia meminta Papa Santana agar pertunangan lebih dipercepat lagi.
Bukan hanya itu Anita juga sudah bekerja lebih dulu untuk melancarkan rencananya dengan merekrut Rosa dan kakaknya sebagai anak buah dan orang kepercayaannya.
Di dalam kamar hotel Santana yang baru saja membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur karena terlalu lelah, dengan langkah pelan tanpa suara Anita masuk dan mendekatinya.
"Mas, apa kamu capek hari ini?"
Sontak wajah Santana menjadi berubah, Dia membuka matanya dengan lebar untuk memastikan apa benar suara itu adalah suara Anita.
Begitu kedua matanya terbuka, wajah yang terlihat mesum wanita yang sama sekali tidak Dia inginkan itu berada tepat di hadapannya.
"Kamu... kenapa kamu ada di sini, bagaimana kamu bisa masuk?"
Dengan senyum genit dan tangan jahilnya, Anita menjelaskan bagaimana dengan mudahnya Dia bisa mengakses apapun fasilitas yang Santana gunakan di hotel itu. Karena memang selama Santana berada di kota kecil Dia tinggal di hotel milik orang tua Anita dalam waktu yang cukup lama.
"Singkirkan tanganmu dari tubuhku Anita, bukannya aku sudah pernah bilang kalau sedikitpun aku tidak akan pernah menoleh pada mu sekeras apapun perjuanganmu!"
Santana berdiri dengan cepat dan menghempaskan tubuh Anita yang sebagian sudah menindih tubuhnya. Dengan cepat Santana mengambil HP yang ada di meja dekat tempat tidurnya dan berjalan keluar. Tetapi Anita dengan lantang memintanya untuk berhenti.
"Tunggu Santana, bukannya kamu bertahan di kota ini hanya ingin tahu bagaimana keadaan istri dan anak mu!?"
Terpaksa Santana menghentikan langkah kakinya dan berbalik ke arah Anita.
"Apa maksud kamu Anita, apa yang sudah kamu perbuat pada mereka?"
Anita berjalan seperti Singa betina yang akan menerkam mangsanya. Dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Santana Dia membisikkan kalimat yang membuat Santana menjadi lemah dan menuruti apa permintaannya.
"Bagaimana, apa kamu setuju dengan kesepakatan ini?"
Dengan nada bicara yang sedikit gemetar karena menahan amarah, Santana menyetujui permintaan Anita.
"Baiklah kapan kita berangkat?"
"Ohh... tidak usah terburu-buru sayang, aku ingin malam ini kita tidur bersama, bagaimana?"
Santana berusaha keras menolak keinginan Anita yang satu itu. Tapi Anita masih saja bersikeras dengan mengandalkan kunci kelemahan Santana dan mengancamnya.
"Baik.. Baik... Oke! tapi jangan harap aku akan menyentuhmu!"
Dengan penuh amarah Santana masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
Dengan percaya dirinya, Anita berbaring di tempat tidur Santana dengan pose ikan duyung nya.
Beralih cerita, di rumah yang sudah dikontrak Rosa untuk Haya dan Antoni suasana terlihat sedikit agak tegang. Di ruang tamu duduk Rosa bersama kakak nya Dio serta Haya. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting. Raut wajah Haya pun kadang terlihat sedih kadang pula terlihat serius. Cukup lama waktu mereka berbincang pada malam itu.
"Bagaimana Mba, apa kamu setuju dengan apa yang kami sampaikan?"
Haya menghela nafas panjang sebelum Dia menjawab pertanyaan Rosa.
"Dek Rosa, masalahnya bukan setuju atau tidaknya, tapi Mba sudah terlalu banyak merepotkan kalian. Bukan dari segi materi saja tapi kalian sudah banyak meluangkan waktu dan tenaga untuk kesembuhan suami saya."
Dio dan Rosa saling pandang sejenak sebelum Dia mengeluarkan selembar kertas perjanjian.
Sebenarnya Haya sempat menaruh curiga dengan kebaikan mereka, cuma di sisi lain Dia juga ingin suaminya bisa sembuh dan keluarganya bisa berkumpul kembali.
(Sebenarnya apa yang diinginkan mereka dariku, kenapa mereka begitu baik padaku?)
Dio dengan pelan mengeluarkan lembaran kertas perjanjian antara mereka.
"Sebelum kamu menyetujui apa yang kami sampaikan tadi, tolong baca dulu isi perjanjian ini!"
Dengan ragu Haya mengambil kertas pemberian Dio dan membacanya.
Surat perjanjian dengan point-point yang sebenarnya begitu memberatkan Haya, membuat Dia kembali berfikir lagi dengan apa yang harus Dia putuskan.
(Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin Mas Indro bisa kembali seperti dulu lagi tapi biaya untuk semua itu sangat besar, dan jika aku tidak bisa mengembalikannya aku harus merelakan anak-anak ku untuk mereka)
"Dio, bisakah kita bernegosiasi lagi untuk point-point yang ada di perjanjian ini?"
"Memang apa yang masih perlu dipertimbangkan lagi?"
Jari Haya menunjuk salah satu point tentang jangka waktu yang diberikan padanya untuk mengembalikan semua biaya pengobatan Indro.
"Saya ingin ini diperpanjang lagi menjadi 5 tahun."
"WHAT...!?.. mana mungkinlah, bukannya kami juga sudah bilang kalau paling lama kami tinggal di negara ini hanya 3 tahun? Dan ini pun sudah berkurang dengan kemarin kami merawat suami kamu!"
Seperti tidak ada pilihan lain, Haya pun menyetujui perjanjian itu dengan jangka waktu pengembalian biaya hanya 1 tahun. Dengan harapan setelah suaminya sembuh nanti, Dia akan dibantu untuk melunasi hutang-hutang nya. Tanpa di suruh lagi Haya mengambil pulpen dan menandatanganinya.
Selesai dengan kesepakan antara mereka, Dio keluar menghubungi Anita. Mungkin karena Anita tidak mau terganggu waktunya saat bersama Santana, telepon dari Dio tidak direspon sama sekali.
Sedikit kecewa dengan hal itu tanpa menunggu ijin dari Anita lagi , Dio menghubungi pihak Rumah Sakit tempat Indro dirawat supaya mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk keberangkatan perpindahan pengobatan nya.
Haya kembali masuk ke kamar dan memeluk Antoni yang sudah tertidur pulas.
(maafkan Bunda sayang, bukan berarti Bunda sudah tidak sayang lagi pada kalian tapi kita memang harus sama-sama berjuang agar keluarga kita bisa utuh lagi seperti dulu)
Haya memejamkan kedua matanya sesaat sebelum Dia mulai mengemasi baju dan barang-barang yang akan dibawanya untuk mendampingi pengobatan Indro. Begitu sulit baginya untuk menjalani ini semua bahkan Dia sampai melewatkan tentang kabar bagaimana dan di mana Nur sekarang.
(Nur Bunda yakin kamu masih hidup ,hanya doa yang bisa Bunda berikan padamu semoga kamu selalu dalam lindungan Nya. Bunda janji jika Ayah sudah sembuh kami pasti akan mencarimu)
Tanpa Dia ketahui ternyata Rosa melihatnya dari celah pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Rosa seperti orang yang merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya.
(sebenarnya ada masalah apa Dia dengan Anita, kenapa Anita ingin sekali menginginkan Mba Haya pergi jauh tanpa ada jejak)
Lamunan Rosa buyar saat Haya menyapanya dari dalam kamar.
"Kamu kenapa ada di sini Dek?"
"Hem... saya hanya ingin memastikan apakah Mba Haya sudah tidur apa belum karena besok harus berangkat lebih awal untuk mengantar Mas Indro."
"Iya saya tahu Dek, kalau begitu saya tidur sekarang."
Dengan masuknya Haya ke dalam kamar, Rosa pun kembali ke kamarnya pula untuk istirahat.