Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Keesokan harinya.
Jims perlahan membuka matanya. Pandangannya langsung tertuju pada sosok di samping tempat tidur—James. Dalam sekejap, ekspresi wajahnya berubah. Tatapannya dipenuhi amarah yang tidak wajar
“Kenapa… kau ada di sini?” ucapnya pelan, suaranya serak namun penuh kebencian.
James tertegun. “Jims? Kau sudah sadar—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Jims tiba-tiba bangkit dan mendorong tubuh ayahnya dengan kasar. “Jangan sentuh aku!” bentaknya.
James mundur beberapa langkah, wajahnya penuh kebingungan. “Apa yang kau lakukan?!”
Namun Jims tidak menjawab. Ia langsung menyerang. Tangannya melayangkan pukulan ke arah James tanpa ragu.
James terpaksa menahan serangan itu. “Sadarlah, Jims!” serunya.
Namun Jims seperti kehilangan kendali. Ia kembali menyerang dengan lebih brutal.
“Dasar kau… iblis! Kau pantas mati!” teriak Jims dengan mata merah penuh kebencian.
James terdesak. Ia menahan serangan demi melindungi dirinya. Namun Jims terus mengamuk tanpa henti.
Dalam keadaan terpaksa, James mendorongnya kuat lalu menendang tubuh putranya untuk menjauh.
“Brak!”
Tubuh Jims terpental dan jatuh ke lantai, namun ia masih berusaha bangkit, napasnya memburu dan tatapannya tetap liar, seolah tidak mengenali siapa yang ada di hadapannya.
“Kau adalah penjahat, mati sana!” teriak Jims dengan penuh amarah. Ia meraih kursi di dekatnya lalu melemparkannya ke arah ayahnya.
James terkejut, refleks menghindar. Kursi itu menghantam lantai dengan keras.
“Jims, hentikan!” bentaknya, namun anaknya sama sekali tidak mendengar.
Melihat Jims kembali hendak menyerang, James dengan cepat mengeluarkan pistol dari balik jasnya. Tangannya sedikit bergetar, tapi ia tetap mengarahkannya ke bawah.
“Berhenti!” teriaknya.
“Dor!”
Suara tembakan menggema, peluru menghantam lantai tepat di depan Jims.
Gerakan Jims terhenti seketika.
Napasnya memburu, matanya masih penuh kebencian, namun tubuhnya sedikit membeku.
James menatapnya tajam, dadanya naik turun menahan emosi.
“Aku tidak ingin melukaimu… tapi kalau kau terus seperti ini, aku tidak punya pilihan!” ucapnya tegas.
Namun di dalam hatinya, kegelisahan mulai muncul.
“Ada apa denganmu? Aku adalah papamu,” kata James, suaranya mulai goyah.
Jims memundurkan langkahnya, lalu tersandung dan jatuh. Ia menggeser tubuhnya menjauh dengan napas memburu.
“Kau yang menahanku dan menyiksaku! Kenapa tidak membunuhku saja?! Aku tidak bersalah padamu!” teriaknya histeris, matanya penuh ketakutan. “Kalau kau membenci James Fung, bunuh saja dia! Jangan menyentuhku!”
James membeku.
“Jims… apa kau tidak mengenaliku? Aku adalah James Fung, papamu!” katanya, mencoba mendekat perlahan.
Namun Jims justru semakin panik.
“Pergi! Pergi!” teriaknya sambil menggeleng keras. “Kau bunuh saja papaku! Semua ini bagian dari rencananya! Dia bahkan menganggapku tidak berguna!”
James tertegun, wajahnya berubah pucat.
“Bunuh saja dia… lalu kita bagi dua semua asetnya… bagaimana?” lanjut Jims dengan suara bergetar, tatapannya kosong seolah melihat orang lain.
Ruangan itu mendadak sunyi.
James menatap putranya dengan campuran amarah dan keterkejutan.
Ia akhirnya menyadari sifat asli dari anaknya
“Apa kau sadar apa yang sedang kau bicarakan?” tanya James, suaranya menegang.
“Aku beritahu padamu… James Fung bukan pria baik,” ucap Jims dengan napas tersengal. “Dia berambisi tinggi. Yang dia inginkan hanya kekuasaan, dan dia mengorbankan semua orang. Keluarganya sendiri pun jadi korban… salah satunya aku. Demi mencapai puncak, dia bisa melakukan apa pun.”
Wajah James mengeras.
“Panggil dokter ke mari!” perintahnya keras kepada para penjaga di luar.
Namun tanpa dia sadari...
Di luar, lorong panjang itu kosong.
Tak satu pun penjaga terlihat.
Di ujung lorong, sesosok pria berdiri bersandar santai.
Nathan.
Ia mengisap rokoknya perlahan, asap tipis keluar dari bibirnya. Tatapannya dingin, mengarah ke pintu ruangan itu.
Ia sudah mengetahui semuanya.
Dan semua ini—
Memang sesuai dengan keinginannya.
“Jims, aku adalah papamu… bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Kau mengharapkan kematianku?” tanya James, suaranya bergetar.
Jims menatapnya penuh kebencian. Tanpa ragu, ia bangkit, meraih vas bunga di dekatnya, lalu berlari menyerang.
Refleks—
“Dor!”
Suara tembakan memecah ruangan.
James tanpa sadar menarik pelatuk, peluru melesat dan mengenai jantung putra semata wayangnya.
Langkah Jims terhenti.
Vas bunga yang ia pegang terlepas dari genggaman, jatuh dan pecah berserakan di lantai.
Matanya melebar.
Perlahan ia menunduk, melihat darah yang mulai membasahi pakaiannya.
Tubuhnya goyah.
James membelalakkan mata, pistol di tangannya terjatuh begitu saja.
“Tidak… tidak…” gumamnya pelan.
Detik berikutnya—
Jims tumbang ke lantai.
Tubuhnya tergeletak tak bergerak, mata terbuka, darah mengalir semakin banyak.
“Jims!” teriak James panik, berlari menghampiri.
Ia berlutut di samping tubuh anaknya, mengguncangnya dengan tangan gemetar.
“Jims, buka matamu… Papa tidak sengaja… Papa tidak sengaja…” ucapnya dengan suara hancur.
Tangannya berlumuran darah.
Air matanya jatuh tanpa henti.
Namun tubuh di hadapannya tetap diam.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada lagi napas.
Dan untuk pertama kalinya—
James Fung kehilangan segalanya.
Di luar, Nathan tersenyum tipis. Puntung rokoknya ia buang ke lantai, lalu diinjak perlahan hingga padam.
“Tuan, sepertinya tuan muda telah…” ujar Marcus ragu, suaranya merendah.
Nathan tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin, tanpa sedikit pun emosi.
“Panggil mereka untuk menonton adegan… seorang ayah yang membunuh anaknya sendiri,” perintahnya tenang.
Marcus terdiam sejenak.
“Baik, Tuan,” jawabnya akhirnya.
Ia segera berbalik dan pergi menjalankan perintah.
Sementara Nathan tetap berdiri di sana.
Menunggu.
Menikmati setiap detik dari rencana yang telah ia susun dengan sempurna.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???