"Akan ku gunakan kekuatanku untuk melindungi orang-orang. Meskipun aku harus meminjam kekuatan dari iblis sekalipun."
Bercerita tentang seorang yang menjalani reinkarnasi disebuah dunia fantasi dimana sihir, legenda, dan mahluk mitologi adalah sebuah hal yang biasa ditemui sehari-hari.
Dengan harapan menjalani kehidupan yang aman dan nyaman, ia menjalani hari sebagai pahlawan tanpa tanding, seseorang yang "tak terkalahkan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Atmareja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11 Perpisahan | Ibu kota | Babak Baru
Sore menjelang. Dari kejauhan terlihat tembok batu yang menjulang. Beberapa kereta juga penunggang kuda berjalan di depan kami. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang hendak memasuki ibu kota.
Akhirnya kami tiba di ibu kota kerajaan Rhoaria, kota Kaov.
...*** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** ***...
Kota Kaov, pintu gerbang ibu kota di sore hari.
Di depan pintu gerbang, beberapa prajurit tampak bersiaga. Di antara mereka beberapa memakai zirah besi. Aku yakin mereka adalah ksatria kerajaan.
Dengan pedang menggantung di pinggang mereka terlihat mengawasi setiap orang yang hendak masuk ke dalam ibu kota. Bahkan sesekali mereka. Sementara pekerjaan menggeledah diserahkan kepada prajurit bisa, mereka tampak lebih seperti unit pendukung.
Mendekati pintu masuk, kereta kami berhenti sejenak, setelah mereka melihat tuan Alex dan guruku, mereka memberi hormat dan mempersilahkan kami untuk melanjutkan perjalanan kami menuju bagian dalam tembok.
Kereta membawa kami ke kediaman keluarga Ramvoldus. Jalanan yang dibuat dengan konstruksi baik, toko-toko dan rumah-rumah yang menegaskan kesan mewah serta orang-orang yang berjalan hilir mudik dengan pakaian yang bagus, menandakan ini distrik mewah di lingkungan ibu kota.
"Apakah ini distrik mewah ibu kota?"
Aku berniat mencari jawaban.
"Bisa dibilang seperti itu."
Guruku menjawab dengan sedikit senyuman.
"Ibu kota disusun dengan tata kota yang baik. Terbagi menjadi empat wilayah dan satu wilayah utama, wilayah tengah atau wilayah istana."
"Ke 4 wilayah tersebut adalah Wilayah Timur, wilayah pintu masuk. Merupakan Wilayah kekuasaan keluarga baldwin, disana terdapat pasar, pusat kerajinan tangan dan alat tempur."
Aku memperhatikan penjelasan guruku dengan seksama.
"Wilayah Barat adalah wilayah keluarga Hammond. Wilayah perumahan elit. Di Sana tempat para bangsawan tinggal. Namun tidak termasuk keluarga Leon. Keluarga ayahmu tidak tinggal disana."
"Kalau begitu dimana mereka tinggal?" Mereka tinggal di wilayah tengah. Wilayah istana. Karena keluarga Leon adalah salah satu dari empat keluarga penjaga gerbang. Mereka bertugas menjaga gerbang istana dengan tugas nya masing-masing. Keluarga Leon memiliki keistimewaan dari tiga lainnya. Keluarga Leon adalah pemimpin dari ketiganya. Juga merupakan keluarga penasehat kerajaan untuk bidang keamanan negara"
Mungkin itulah sebabnya tak ada siapapun yang berkunjung ke rumah kami. Karena mereka pasti sangat sibuk.
"Sedangkan wilayah Utara adalah kekuasaan keluarga Ramvoldus, keluarga kami. Wilayah kami merupakan wilayah pendidikan dan kesehatan. Sehingga kami juga berperan sebagai penasehat raja untuk berbagai bidang karena anggota keluarga kami memiliki kemampuan-kemampuan di bidang sihir dan ilmu pengetahuan."
Jadi alasan kenapa guruku adalah seorang imam besar adalah karena keluarga nya adalah keluarga penyihir yang menguasai sihir tingkat tinggi.
"Untuk wilayah Selatan, adalah wilayah keluarga Robles. Merupakan Wilayah kantoran. Mereka sangat licik."
Untuk saat ini kami menuju utara. Tak lama kami pun sampai di depan sebuah rumah besar terlihat sangat cantik meskipun bangunan tua. Berbagai ornamen menghias disana-sini.
Kereta akhirnya berhenti. Disambut dengan pelayan yang berbaris menyambut kedatangan kami.
"Selamat datang kembali tuan dan nona."
Para pelayan dengan kompak menyambut. Kemudian seorang bapak-bapak sekitaran usia 40an akhir tampil kedepan menyambut kami, sepertinya dia adalah kepala pelayan di rumah ini.
"Selamat datang kembali tuan dan nona." Sambil membungkukkan tubuhnya.
"Terimakasih Robert."
Guruku menjawab dengan senyuman.
"Apakah semua baik-baik saja selama aku pergi?"
"Semuanya baik-baik saja tuan."
"Baguslah kalau begitu."
"Iya tuan."
Tak lama setelah kami keluar dari kereta,sebuah langkah kaki terdengar tergesa menuju ke arah kami.
Sebuah sosok dengan cepat menuju ke arah guruku dan menangkap tubuhnya dengan sebuah pelukan.
"Cordelia sayang!!!"
Lagi-lagi wanita tersebut melakukan apa yang tuan Alex lakukan, menggosok-gosokkan pipinya
"Aahhh,, ibu."
"Kenapa kau lama sekali, ibu kesepian disini."
Guruku sepertinya tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa pasrah.
"Ara,,, siapa ini?
Sepintas aku merasakan Dejavu.
"Sayang, apakah kau membawakan menantu untukku? Tapi dia terlihat masih kecil."
"Ehemmm, di muridku ibu."
"Aaaahhh, sayang sekali. Aku tak pernah melihat kau membawa pria ke rumah. Saat kau membawa pria, itu hanyalah murid mu. Sayang sekali."
Aku melihat wajah guruku yang memerah.
"Ibuuuu,,,"
Sepertinya guruku bisa berperilaku manja juga.
"Nah anak muda siapa namamu?"
"Aku Milo, milo Leon."
Sepertinya sebelumnya yang terjadi dengan tuan Alex. Dia pun mengalihkan pandangan mata nya k pada guruku dan tuan Alex, kemudian mereka m ngangguk.
"Ara, jadi kau putranya Alfred?"
"Benar sekali. Salam hormat nyonya."
"Aahhh, dia memang manis sekali. Hei hei Cordelia sayang, bolehkah dia untuk ku?"
Apa???? Ada apa ini?? Aku bukan barang, aku bukan mainan.
"Ibuuuu,,,."
"Maaf maaf aku hanya bercanda."
"Sudahlah ayo kita masuk."
Tuan Alex menyudahi perbincangan.
Kami berjalan menyusuri selasar. Dimana tampak sekali bangunan ini bangunan megah nan mewah. Aku tak bisa menahan kepalaku dari menatap sekitar.
Kemudian kami masuk ke dalam sebuah ruangan besar. Entah ruangan apa ini.
Tuan Alex memanggil seorang pelayan, kemudian menyuruhku mengikuti pelayanan tersebut untuk masuk ke kamarku.
"Jadi aku diberi kamarku sendiri. Aku kira aku akan tinggal di asrama."
Aku bergumam sendiri. Sementara sang pelayan tidak memperdulikan hal itu.
"Silahkan masuk tuan! Mulai sekarang ini adalah kamar anda."
Aku membuka pintu dan memasuki ruangannya. Waahhh, aku sangat terkejut. Seperti ini ternyata kamar para bangsawan. Meskipun aku sering melihat gambarannya di kehidupanku sebelumnya. Namun merasakan sendiri memiliki sensasi yang berbeda.
"Jadi ini kamarku? Besar sekali. Apakah ini tidak berlebihan untukku?"
"Tidak tuan. Sama sekali tidak. Anda sekarang adalah bagian dari keluarga ini. Anda pantas untuk mendapatkannya. Sebaliknya, jika kami tidak memberikan penghormatan seperti ini kepada anda, maka kami mempermalukan diri kami sendiri."
Waah, ternyata kehidupan bangsawan itu rumit.
"Nama saya anna. Panggil saya jika anda memerlukan sesuatu. Saya pamit dulu tuan, terima kasih."
Kemudian dia pergi dan menutup pintu dari luar.
Masih dengan rasa kagum, aku berjalan-jalan memutari kamarku. Meskipun darah bangsawan mengalir di tubuhku, namun aku belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.
Aku meletakkan barang-barang ku di atas meja dan segera melemparkan tubuhku di atas tempat tidur yang besar itu. Kelembutannya dan sensasi rasa empuk ini sangat menenangkan. Rasanya hari ini aku ingin tidur seharian. Bermalas-malasan ditempat tidur merupakan kemewahan terbaik bagiku.
Tanpa kusadari aku tertidur pulas di kasurku yang empuk ini. Sensasi hangat dan halus terasa. Aku tak tahu berapa lama aku tertidur hingga suara ketukan keras di pintu membangun kanku.
"Tuan Milo!! Tuan Milo!! Apakah anda di dalam?"
Suara itu membangunkanku dari segala sensasi nikmat yang kurasakan. Aku pun membuka mataku dan segera menjawab.
"Iya aku ada disini, tunggu sebentar!"
"Baik."
Sementara tubuhku masih belum ku gerakan aku merasakan sensasi yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Tanganku menyentuh sebuah benda bulat kenyal dengan sensasi hangat yang nikmat. Aku sedikit meremasnya mencari tahu benda apakah itu. Dan ketika aku mengarahkan pandanganku ke samping, seorang wanita tertidur pulas di sampingku dengan tangan kananku memegang dadanya.
"Uwaaaaa!!!"
Aku menjerit kaget.
Dia perlahan bangun dengan santainya.
"Selamat pagi Milo."
Selamat pagi kepalamu. Aku tak bisa berkata-kata lalu dengan reflek melompat dari tempat tidur.
"Ada apa tuan?"
Anna yang dari tadi menunggu diluar memaksa masuk.
"Maaf, tuan, nona, saya permisi."
Dengan ekspresi dingin dan terkejutnya, anna kembali menutup pintu dan terdengar seperti berlari menjauh. Tentu saja, itu adalah reaksi normal dari seorang pelayan yang memergoki tuannya sedang berada di atas ranjang di kamar seorang lelaki.
Aahh, betapa memalukannya ini. Ini pasti jadi pergunjingan. Habis sudah, aku tak bisa lagi menikahi Windy. Kesucianku ternoda. Aku pun tidak bisa memperlihatkan wajahku pada anna. Dia pasti mengira aku bocah mesum, seorang ******** penjahat kelamin. Aargghh sungguh memalukan.
Aku menjatuhkan diriku, berlutut dan menutupi wajahku. Aku sangat merasa bersalah terhadap windy. Aku merasa telah berselingkuh darinya.
"Kau!!! Kau!! Apa yang telah kau lakukan disini guru!!!" Aku berteriak.
"Aahh begitu, tadi aku kesini untuk mengajakmu jalan-jalan sebentar ternyata kau tertidur pulas. Jadi kuputuskan untuk ikut tidur juga."
Haaahh??? Segampang itukah dia memutuskan.
Sialan. Sebenarnya kemana imam besar yang suci dan berwibawa itu pergi.
"Araara,,, Cordelia sayang, kau ternyata cukup agresif ya sayang. Huhuhu."
Aku tahu itu suara siapa. Ini akan menjadi bencana. Aku menoleh dan rona wajah penuh kepuasan terlihat darinya. Ini gawat, sangat gawat. Hidupku akan hancur setelah ini. Aku tertunduk lesu.
"Aahhh ibuuu,,,kami hanya kebetulan tertidur."
"Enaknya jadi muda, huhuhu."
Ah sudahlah, aku tak ingin mendengar apapun lagi, aku sudah tidak bisa apa-apa.
Mereka kemudian pergi dimana guruku menyeretku dari kamar menuju ruang makan.
*** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** *** ***
Di ruang makan keluarga Ramvoldus. Sang tuan besar sudah ada disana ditemani oleh Robert yang berdiri di sudut ruangan.
Aku masih belum sepenuhnya sadarkan diri. Kejadian tadi sangat membuatku terpukul. Ekspresi wajahku kosong.
Melihat hal tersebut tuan Alex mengirimkan pertanyaan nya.
"Apakah Milo baik-baik saja??"
"Arara,,,dia baik-baik saja ayah. Mungkin dia sedikit kecapekan setelah tidur siang bersama dengan Cordelia."
Ehhh???!!! Aaapa ini??? Aku semakin terpuruk, semakin terjatuh. Aku ingin mati saja.
"Ibuuu."
Guruku merajuk.
"Itu tidak seperti yang kalian pikirkan, aku hanya kebetulan tertidur. Kami tidak melakukan apa-apa."
Dia membusungkan pipinya yang memerah.
Yah, ini semua salahmu, guru mesum.
"Hahaha. Bagus bagus."
Ruang makan terdengar lebih riuh dengan suara tawa dari tuan dan nyonya besar rumah ini. Sementara guruku terus berusaha menyangkal, aku semakin membatu. Semua ini gara-gara guru mesum itu.
Setelah selesai dengan makanan kami, tuan besar keluarga Ramvoldus meminta kami untuk tinggal sejenak. Nampaknya dia ingin menyampaikan sesuatu. Jika ini adalah urusan keluarga, bukankah aku tidak semestinya ada disini? Entahlah.
Bagi yg suka novel fantasi & romance mampir yuk,,,,
“That Time One Summoned Class In The Another World”
PREMIS:
Mengenai dunia paralel. Mc dibenci oleh Heroine, tapi si Heroine lama-kelamaan suka sama Mc. ]