Gadis cantik dan giat berasal dari keluarga sederhana terpaksa menyetujui persyaratan majikannya, nikah kontrak karena gadis itu membutuhkan biaya untuk rumah sakit Ayah ya, dan di saat masalah seperti itu gadis itu juga beruntung karena mendapat mertua yang perhatian dan baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syakira edianwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Richo mengikuti Nia dari belakang.
Nia terlebih dahulu sampai di kamar Richo.
Dia mulai membuka lemari pakaian Richo, tapi dia Bingung mau milih yang mana, baju yang akan di bawa untuk di pakai Richo.
"ceklek"
Pintu kamar itu terbuka itu adalah Richo.
"Saya hanya ingin ngambil handphone saya," ucap Richo saat Nia menoleh ke arah nya.
"Kebetulan deh pak Richo di sini, saya bingung harus bawa baju bapak yang mana," ucap Nia.
Lalu Richo berjalan arah Nia yang sedang di depan Lemari itu, dan semakin dekat.
" deg deg deg "
"Dia mau ngapain?" tanya Nia dalam batin nya,
sambil menutup mata nya.
Richo melihat Nia yang seperti ketakutan niat di hati nya ingin mengerjai Nia.
Tiba-tiba tangan Richo menyenggol pinggang Nia.
"Bapak jangan macem-macem yah sama saya," ucap Nia tegas.
"Siapa yang mau macem-macem sama kamu, bukan nya kamu yang bilang kesaya kalau kamu bingung mau pilih baju yang mana," ucap Richo.
Seketika pikiran Nia kembali.
"Kamu betah banget yah dekat saya, apa kamu tidak mau pergi dari hadapan saya?" tanya Richo.
Nia segera pergi, namun belum sempat Nia pergi dari depan Richo.
Tangan Richo Langsung mengurung Nia di depan nya,
Nia kaget.
"Bapak mau ngapain," tanya Nia terkejut.
Dan langsung mencium kening Nia seketika Nia yang tadi mau berontak menjadi kaku, karena Richo mencium nya tiba-tiba.
"Jangan pernah dekat dengan pria lain, karena kamu adalah calon istri ku," ucap Richo.
"Kenapa berada di dekat pak Richo
sangat nyaman?" batin Nia.
Segera Nia pergi dari depan Richo.
Dan Richo pun mulai memilih baju ya
sambil tersenyum.
Baju yang di pilih di letakkan di kasur, biar bisa di susun ke koper Milik Richo, walau tidak banyak karena mereka disana hanya dua hari.
Nia mulai menyusun baju-baju itu ke koper.
Menyusun baju pun selesai.
Richo sedang sibuk dengan handphone nya di sofa
sambil mencuri-curi pandang ke arah Nia.
Nia keluar dari kamar Richo menuju kamar nya.
untuk menyiap kan baju nya.
Semua nyA telah selesai.
Dia pun menelepon ke orang tua nya.
niat untuk mempertanyakan kesehatan orang tua nya
Tut......Tut...... Tut......
Akhirnya telepon terjawab.
"Halo ibu,"
"Iya halo nak,"
"Gimna keadaan ayah Bu?"
"Ayah sekarang sudah mendingan nak."
"Alhamdulillah."
"Kamu dapat uang dari mana nak
sebanyak itu, maaf kan ibu yah nak.
harus nyusahin kamu."
"Enggak kok buk, justru Nia senang bisa berbakti kepada ibu dan Ayah,"
Percakapan mereka pun berlanjut.
...----------------...
Telepon pun mati .
Nia sedih, bagaimana kalau orang tua nya tau,
kalau dia rela nikah kontrak demi pengobatan ayah nya.
Pasti orang tua nya sedih.
Duar......duar.... duar...
suara petir bersautan di luar bercampur petir, tidak lama listrik pun mati.
Nia ketakutan karena tidak ada cahaya sama sekali.
Nia pobiaa gelap, dia mempunyai masa lalu yang membuat dia takut gelap.
dia menangis.
"Siapa pun tolong, hidup kan listrik nya,"
hiks..hiks..hiks."
dia duduk di sudut kamar ya, Sambil memeluk kaki nya, dan menutup Kuping.
Namu suara tangis nya, tidak juga berhenti setiap petir besar dia selalu terkejut dan berteriak.
Duar....
Nia berteriak, Nia sudah ketakutan
dan badan nya sudah gemetar.
Seketika Richo Mendengar teriakan Nia, walau tidak jelas.
namun hati Richo cemas akan keadaan Nia.
Tampa fikir panjang, dia membuka pintu kamar Nia.
Dia menggunakan senter handphone nya, dia melihat Nia yang sedang menangis ketakutan di sudut kamar nya.
Richo langsung memeluk Nia
"Tenang kamu jangan takut ada saya di sini," ucap Richo
sambil mengelus-ngelus pundak Nia.
Seketika Nia langsung tenang dalam pelukan Richo.
Namun petir dan hujan tak kunjung berhenti,
listrik masih mati.
Dan tiba-tiba senter handphone Richo mati,
dia melihat handphone nya, ternyata habis batre.
"Sial..." ucap Richo.
"Ayok sebaiknya kamu tidur, ini udah malam," ucap Richo
"Tapi saya takut pak, saya takut," ucap Nia sambil menenggelamkan wajah nya di dada Richo.
"Tidak usah takut saya disini,"
Richo membawa Nia ke atas tempat tidur Nia dan menidurkan Nia disana, saat Richo hendak pergi,
tangan nya di tahan oleh Nia.
"Pak saya takut, jangan tinggalkan saya," ucap Nia.
"Iyah," jawab Richo.
Sambil naik ke kasur memeluk Nia dari belakang.
Nia kaget, karena pelukan Richo dia ingin melepaskan nya, tapi hati nya merasa nyaman di peluk oleh Richo. dan juga pelukan itu membuat rasa takut Nia hilang.
"Tidur lah sudah malam," bisik Richo ke kuping Nia.
Nia mulai menutup mata nya dan terjun alam mimpi yah.
Sementara Richo tidak bisa tidur karena jantung nya sangat berdebar kencang ketika Nia berbalik kearah Richo
dan hadap - hadapan.
Sekarang Nia lah yang memeluk Richo .
"Kenapa setiap dekat dengan gadis ini, hati ku selalu tenang dan nyaman, lain hal nya, waktu aku bersama dengan Clara," batin Richo.
Richo mulai tertidur
jam 12 malam listrik hidup.
Pagi hari Nia terbangun, dia melihat Richo tertidur di samping nya dengan nyenyak.
Dia memperhatikan wajah Richo dia tersenyum.
"Pak Richo," panggil Nia lembut membangun kan calon suami nya itu.
"Ayok bangun pak, sudah pagi kita akan berangkat sebentar lagi, apa bapak tidak mandi?" tanya Nia.
Richo membuka mata nya, dia melihat Nia sedang duduk di samping nya.
Dia tersenyum melihat wajah cantik Nia saat bangun tidur.
"Hooammmm" Richo menguap.
Richo duduk menghadap Nia
tapi Nia masih memperhatikan Richo.
"Kamu juga mandilah, saya akan kembali ke kamar saya,ucap Richo.
Lalu bergegas pergi ke luar.
Nia masuk ke kamar mandi untuk mandi dan Richo pun mulai dengan ritual siap-siap nya.
Mereka sudah di dalam mobil.
Supir pribadi Duduk Paling depan, Nia dan Richo duduk di belakang supir.
Perjalanan menuju ke kampung Nia membutuhkan waktu sehari maka ya Richo membawa supir.
Di dalam mobil tidak ada percakapan.
Nia sibuk melempar kan pandangan nya pada jalanan di luar,
sementara Richo sibuk dengan handphone nya.
Jam menunjukkan pukul 12 : 00.
Waktu nya makan siang, mereka berhenti di sebuah rumah makan.
"Kamu mau makan apa," tanya Richo pada Nia.
"Ikut bapak saja," jawab Nia.
Richo memesan makanan ayam bumbu dengan jus alpukat
kesukaan nya.
"Kau gantilah panggilan mu pada saya saat di depan orang lain, saya sudah memperingati mu, kalau sekali lagi kau mengulangi nya, akan saya beri hukuman," ucap Richo dengan sedikit kesal.
"Jadi saya harus manggil apa?" tanya Nia.
"Sayang." jawab Richo Singkat.
"Hah aku harus manggil sayang sama majikan ku sendiri," batin Nia.
"Baik pak," jawab Nia.
Makanan yang di pesan pun datang
sementara supir, makan di meja yang lain.
Makanan di santap dengan lahap, habis makan.
Mereka melanjutkan perjalanan nya setelah selesai makan.
Mereka sudah sampai di tempat tujuan,
ya' itu Rumah Sakit yang ada di kampung Nia
walaupun di kampung namun Di tempat Nia Sudah termasuk maju dan tidak di pelosok sekali namun karena Nia hanya orang biasa keluarga nya sangat beda dari orang lain.
Mereka langsung ke rumah sakit dimana ayah Nia di rawat.
Mereka memasuki Rumah Sakit itu, sepanjang perjalanan.
mata pengunjung mau pun karyawan Rumah Sakit itu
melihat ke arah mereka berdua, dengan penasaran.
Mereka bertanya pada perawat dimana ayah Nia di rawat,
Perawat memberi tahu,saat sudah dekat.
Nia melihat adiknya duduk di luar di kursi tunggu.
...----------------...
**Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya, jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, Jika ada saran tulis di kolom komentar ya, jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.
Like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
Terimakasih**