Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.
Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.
Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eleven
Semua gelap, tak ada cahaya. Yang bisa Sheilla lihatlah hanyalah kegelapan, bahkan untuk melihat tangannya sendiri saja ia tak bisa.
Dalam hati, ia bertanya-tanya, sebenarnya ia ini berada di mana? Kenapa semuanya sangat gelap?
Memberanikan diri untuk melangkahkan kaki, Sheilla merasakan sesuatu yang lembut menyentuh telapak kakinya.
Tempat yang tadinya hanya di isi kegelapan, tiba-tiba berubah menjadi sebuah taman bunga yang indah, dengan langit yang cerah dan satu pohon besar yang berdiri sendirian di sana.
Kaki jenjang Sheilla berjalan menuju pohon itu secara otomatis, mendudukan diri di atas ayunan yang tergantung di dahan kokok itu.
Sheilla bisa merasakan jika seseorang menyentuh kedua tapi ayunan itu, mengayunkan ia pelan.
Sheilla sontak menoleh, terkejut melihat siapa sosok yang mendorong ayunan untuk nya itu.
"Jangan pernah memikirkan apa yang orang lain katakan, ini hidup mu. Mereka tidak ada urusan dengan hidup mu." Laki-laki itu tersenyum, suara beratnya terdengar sangat menenangkan.
Sheilla memejamkan mata, menikmati semilir angin juga bisikan halus sosok itu. "Kamu adalah gadis kuat, ingat itu."
Tanpa sadar Sheilla pun mengangguk.
•
•
"Shei!! Sheilla!!" Nathan langsung menggenggam tangan sang adik ketika dilihat nya suatu pergerakan dari gadis itu, walau hanya sedikit gerakan jari.
Arjun yang mendengar suara Nathan pun langsung mendekat, tak lupa memencet tombol di samping ranjang guna memanggil anggota ARMI yang lain.
Mereka semua langsung berkumpul mengelilingi ranjang Sheilla tepat ketika gadis itu mulai membuka mata.
Silaunya lampu yang masih menyala membuat Sheilla menyipitkan mata.
"Sheilla, sayang." Bi Jina langsung mendekat, duduk di samping ranjang, mengusap dahi Sheilla yang basah karena keringat.
"Mau minum, nak?" Sheilla mengangguk, dan Bi Jina pun langsung mengambil minum di atas nakas untuk Sheilla.
Gadis itu menghabiskan satu gelas air dalam sekali teguk, mungkin karena sudah sekitar 3 hari lebih ia tak membasahi tenggorokan nya dengan benda cair berwarna bening itu.
Pak Gio, atau yang akrab di panggil Papa oleh anak-anak ARMI itu mendekat, merentangkan tangan, mengundang Sheilla untuk masuk kedalam dekapan nya.
Tanpa banyak pikir, Sheilla langsung memeluk sosok laki-laki yang selalu menjadi pelindung baginya selain Kakak-kakaknya, dan Anak ARMI yang lain.
"Putri papa yang kuat, jangan sampai tumbang oke?" Papa Gio mengusap lembut punggung anak perempuan satu-satunya.
"Shei takut pa, Shei..." Sheilla tak sanggup melanjutkan ucapan nya, dan papa Gio mengerti itu.
"Baiklah, papa mengerti. Semua orang memiliki batas kekuatan nya masing-masing, mereka memiliki rasa takut dan kelemahan yang berbeda. Begitu juga dengan putri papa yang kuat."
Mama Jina turut mengusap kepala Sheilla, ia juga memberikan pelukan pada putri serta suaminya.
Melihat itu membuat Nathan termenung, ia tak ingat kapan terakhir kali ia dan kedua orang tuanya terlihat harmonis seperti itu.
Ia mengerti jika Sheilla jauh lebih nyaman berada di sini, karena tempat ini adalah rumah yang sebenarnya. Disini adalah keluarga dan kasih sayang yang hangat seperti rumah pada umumnya.
Sejujurnya Nathan iri dengan Sheilla, adiknya itu telah menemukan rumah yang tepat untuk nya, sedangkan Nathan? ia masih berkelana tak tahu arah.
Selama ini, Satu-satunya tempat Nathan untuk kembali hanyalah kedua sahabatnya dan Bi Ina, sang pembantu yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri.
•
•
•
Sudah tiga hari ini Ryan pulang dengan keadaan lemas, seakan tidak memiliki energi untuk hidup.
Muka datar bak temboknya tetap sama, hanya saja auranya yang sedikit berbeda. Terasa hampa.
"Loh, bang, udah pulang? ayo ganti baju, nanti langsung ke ruang makan, mommy tungguin."
Ryan menggeleng, menolak ajakan sang ibu. "Ryan gak laper, mom."
"Makan gak harus nunggu laper, bang." Namun lagi-lagi Ryan menggeleng.
"Dengerin ucapan mommy kamu, jangan buat istri saya sedih." Suara dingin dari ruang tengah membuat Ryan menghela nafas.
Daddy itu suka sekali ikut campur, dasar tucin. Tua-tua bucin!!
Jika daddy nya sudah bukan suara, maka tak ada yang bisa Ryan lakukan selain menurut, karena pria tua super bucin itu sungguh mengerikan. Tidak ada yang bisa menentang nya, kecuali sang ibu negara; Syifaya Alexander.
Syifa sejak tadi terus memperhatikan sang putra yang makan, namun terlihat sama sekali tak berselera. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiran putra semata wayangnya.
"Abang kenapa bang? ada masalah di sekolah?" Ryan hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kalau ada masalah cerita sama mommy ya, mommy siap kok buat dengerin cerita abang." Ryan hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun.
"Kalau mommy ngomong tuh di jawab, yang sopan," Tegur sang ayah dengan suara tegas.
"Dad," Nyonya Syifa melirik suaminya tajam.
Suaminya itu terlalu keras, hanya karena hal kecil saja ia bisa sangat marah kepada Ryan. Apalagi jika itu sudah menyangkut dirinya.
Suara dentingan sendok dan garpu terdengar, Ryan telah menyudahi acara makan siang nya.
"Mom, gimana kalau Ryan jatuh cinta sama seseorang?"
"Hah??" Bukan hanya Syifa, namun Rendy; ayah Ryan pun sama di buat terkejutnya dengan ungkapan sang anak.
•
•
•
Merasa jika keadaan nya sudah membaik, Sheila pun memutuskan untuk kembali bersekolah, itupun setelah semalaman ia merayu kakak-kakak dan adik-adiknya. Kalau mama dan papa nya sih santai aja selama ada yang mantau Sheilla di sekolah.
Dan jadilah Vicky di pindah kan ke SMA Raharja untuk memantau Sheilla, setidaknya mereka jauh lebih percaya pada Vicky ketimbang anak buah Arjun. Karena Vicky kan jauh bisa lalu ada bergerak.
Bukan hanya anak ARMI yang mengirim Vicky, Nathan juga mengirim Alena untuk mengawasi Sheilla.
Oh ayolah! Sheilla itu bukan anak kecil yang butuh di awasi! dia juga bisa jaga diri kok. Iya, jaga diri sampai trauma nya kambuh.
Seperti biasa, Sheilla pagi itu pergi ke sekolah menaiki bus, di pantau oleh Alena yang duduk tidak jauh dari Sheilla.
"Sheilla, kamu udah pulang dari rumah nenek kamu?"
Sheilla lantas menoleh ketika suara yang tak lagi asing baginya terdengar. Ia tersenyum melihat laki-laki berjas OSIS SMA Raharja.
"Iya, baru pulang kemarin sore."
Laki-laki itu mengangguk paham, "Boleh duduk di sini gak?" Izin si lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Adnan.
Sheilla mengangguk tanda mengizinkan.
Alena yang berada tak jauh dari sana terus memperhatikan interaksi Adnan dan Sheilla, mata nya memicing ketika laki-laki itu tertawa sambil berbicara dengan sang kakak.
"Awas aja kalau dia termasuk orang-orang yang suka ngebully kak Sheilla, gue habisi tuh orang!" Gumam Alena yang lebih terdengar seperti ancaman.
•
•
•
Sheilla merasa risih ketika setiap pergerakan nya selalu di awasi, entah itu oleh Vicky, Alena dan anak buah Arjun. Membuat Sheilla malas keluar kelas saja.
"Gak istirahat?" Tanya laki-laki berwajah tembok dengan nama lengkap Ryandra Leonard Alexander.
"Lagi males aja."
"Sana ke kantin, makan!" Perintah Ryan.
Kedua alis Sheilla menukik tajam, "Gak mau." Gadis itu mengalihkan pandangan.
Terdengar suara decitan kursi, Sheilla tak tahu apa yang Ryan lakukan ia tak peduli. Namun ketika tangan nya tiba-tiba di tarik, Sheilla langsung menatap tajam laki-laki itu.
"Ayo ke kantin, makan."
"Apa sih, jangan maksa deh. Udah di bilang gak mau juga."
Netra hijau Ryan menatap dalam netra biru sheilla, membuat gadis itu salah tingkah tanpa sadar.
"Makan, jangan sampai lo sakit."
Setelah itu Ryan langsung menyeret Sheilla keluar kelas, menuju ke kantin. Sedangkan gadis itu hanya diam menerima setiap perlakuan Ryan, entahlah ia masih salting tentang tatapan tadi.
Sejak tadi seluruh pasang mata selalu memperhatikan mereka, namun Ryan tak peduli. Laki-laki itu abai pada keadaan sekitar. Mata elangnya mengedar menelusuri seisi kantin, sampai sebuah suara memanggilnya.
"WOY RYAN! SINI BARENG KITA!" Yudha melambaikan tangan nya heboh.
"Wah, seger banget nih mukanya, gak kayak kemarin-kemarin," Komentar nya setelah Ryan dan Sheilla sampai di meja mereka.
"Sheilla, sini duduk sampai abang Yudha ada." Yudha mengedipkan mata genit.
"Udah Tuy, ada yang marah tuh." Ander menunjuk Ryan dengan dagunya, mengundang tawa Atuh A.K.A Yudha karena telah berhasil mengerjai temannya itu.
Ryan memutar bola mata malas, "Pesenin gue makan sana."
"Dih, nyuruh. Lo kira gue ini babu lo apa?" Tolak Yudha dengan penuh keberanian, namun langsung menciut setelah Ryan menatap nya tajam.
"Ya udah, mau apa kalian?"
"Kayak biasa."
"Kalau dedek Sheilla mau apa?"
"Nasi goreng aja."
"Wokeh, pesanan akan segera datang."
Yudha pergi meninggalkan mereka untuk memesan makanan.
Sheilla mengalihkan pandangan, netra matanya langsung melihat keberadaan Alena di pojok nanti dan sedang memperhatikan dirinya.
Menoleh ke sisi lain, Sheilla melihat Vicky yang mengambil duduk paling dekat dengan pintu masuk. Laki-laki itu juga tengah memantaunya.
Menghela nafas, Sheilla akhirnya memilih untuk memperhatikan Ryan dan teman-teman nya mengobrol.
•
•
•
Byur...
Tadi sih niatnya Amanda mau pura-pura kesandung terus numpahin kuah mie nya ke Sheilla, namun seseorang malah menepis tangannya hingga kuat mie itu mengenai dirinya sendiri.
"Akhh!! lo apa-apaan sih!" Gadis itu jelas marah, sedangkan sang pelaku hanya menatap nya santai.
"Tadi lo hampir numpahin kuah mie nya ke cewek ini."
Amanda mengerutkan kening tajam, "Tapi kenapa harus nepis ke gue?"
Sosok di hadapan nya mengangkat bahu acuh, "Reflek aja kalik, gitu aja marah."
"Lo!!"
"Dasar cowok banci!!"
Alena melotot tak terima, "GUE CEWEK, GOBLOK!" Teriaknya pada Amanda dan antek-antek nya yang sudah berjalan menjauh.
Alena gak habis pikir, ia memakai seragam cewek. Bet namanya juga tertulis jelas 'Alena Nadira' , apakah mereka semua buta huruf atau apa?!
"Awas aja tuh orang kalau ganggu lo lagi, gue bunuh tuh cewek!"
Sheilla memegang bahu Alena, "Udah biarin aja."
"Orang kayak gitu tuh gak bisa di biarin, entar ngelunjak."
Tiba-tiba Alena terdiam, membuat Sheilla menatap bingung adik nya itu.
"Apa jangan-jangan mereka lagi yang bikin trauma lo kambuh?!"
ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭