NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 02

Ruang keluarga rumah Pak Hendra terasa lebih dingin daripada kamar hotel tadi.

Bukan karena AC.

Karena semua mata di ruangan itu memandang Kirana seperti ia bukan manusia, melainkan noda yang jatuh di karpet mahal.

Bu Ratna duduk di sofa utama dengan punggung tegak. Nadira duduk di sampingnya, menangis tanpa suara sambil menggenggam tisu. Pak Hendra berdiri dekat jendela, wajahnya merah karena marah. Di sisi lain, Bowo dan Bu Farida, orang tua asuh Kirana, berdiri dengan wajah seolah merekalah yang paling dipermalukan.

Raka berdiri tidak jauh dari pintu.

Kirana berdiri di tengah ruangan.

Sendirian.

"Aku tidak pernah menyangka," kata Bu Ratna perlahan. "Aku sudah tahu kamu membawa masalah sejak bayi. Tapi sampai merebut calon suami kakakmu sendiri, itu di luar akal sehat."

Kirana menatap perempuan itu.

Bu Ratna selalu memakai suara pelan saat menghina. Justru karena itu kalimatnya terasa lebih tajam.

"Aku tidak merebut siapa pun."

Pak Hendra membalik badan. "Diam!"

Kirana terdiam.

Satu bentakan itu cukup untuk mengembalikan ingatan masa kecil. Saat ia membawa rapor bagus, Pak Hendra tidak melihatnya. Saat Nadira mendapat nilai seni tertinggi, rumah ini mengadakan makan malam. Saat ia jatuh dari sepeda, Bu Farida berkata ia cari perhatian. Saat Nadira mengadu, semua orang percaya.

Tidak ada yang berubah.

Nadira mengusap air mata. "Pa, jangan terlalu keras. Kirana mungkin khilaf."

Kirana hampir tertawa.

Khilaf.

Kata itu diletakkan Nadira seperti kain putih di atas pisau.

"Kamu tahu aku dijebak," kata Kirana.

Nadira menoleh. Wajahnya pucat, tapi matanya berani. "Aku sudah cukup terluka, Kirana. Jangan tambah dengan fitnah."

"Minuman itu dari kamu."

"Semalam semua orang minum."

"Pelayan yang mengantarku ke kamar juga orangmu."

Nadira menarik napas gemetar. "Aku minta pelayan mengantarmu karena kamu hampir pingsan. Apa salahku peduli pada adikku?"

Bu Farida langsung maju setengah langkah. "Kirana, cukup! Dari kecil mulutmu memang susah dijaga. Mbak Nadira sudah baik, kamu malah menuduh."

Kirana memandang perempuan yang membesarkannya. "Bu, semalam aku tidak sadar."

"Perempuan baik-baik tidak akan sampai begitu walaupun tidak sadar."

Kalimat itu membuat ruangan hening sebentar.

Kirana merasa pipinya panas, tapi ia tidak menangis.

Tidak di depan mereka.

Pak Hendra mendekat. "Video itu sudah masuk ke grup keluarga. Beberapa akun gosip juga mulai mengunggah potongannya. Kamu tahu apa akibatnya?"

"Aku tahu."

"Kamu tidak tahu!" Suara Pak Hendra meninggi. "Nama keluarga kami bisa hancur."

Kirana menatapnya lama.

Keluarga kami.

Bukan keluarga kita.

Ia tersenyum tipis. "Sejak kapan nama keluarga itu termasuk aku?"

Pak Hendra mengangkat tangan.

Raka bergerak.

Cepat sekali sampai orang-orang baru sadar saat ia sudah berdiri di samping Kirana. Tangannya menahan pergelangan tangan Pak Hendra sebelum tamparan itu turun.

Wajah Pak Hendra mengeras. "Lepaskan."

Raka menatapnya datar. "Memukul orang tidak menyelesaikan masalah."

"Ini rumah saya."

"Dan dia bukan karung pasir."

Bu Ratna berdiri. "Raka, kamu jangan lupa posisimu. Keluarga ini mau menerima kamu karena almarhum Papa Hendra pernah berjanji pada keluargamu. Jangan bersikap seolah kamu punya hak mengatur kami."

Raka melepaskan tangan Pak Hendra perlahan.

Ia tidak menjawab.

Kirana melihat itu dan merasa aneh. Laki-laki ini tampak miskin. Tidak punya posisi. Tapi cara diamnya membuat orang lain justru gelisah.

Nadira berdiri sambil memeluk dirinya sendiri. "Pa, Ma, aku tidak sanggup menikah dengan Raka setelah ini."

Bu Ratna segera memeluk bahunya. "Tentu saja kamu tidak harus."

Pak Hendra terdiam.

Kirana tahu arah pembicaraan ini sebelum mereka mengatakannya.

Benar saja, Bu Farida segera berkata, "Kalau begitu, supaya aib ini tidak melebar, mungkin Kirana yang harus bertanggung jawab."

Kirana menoleh pelan.

Bu Farida menunduk sok sedih. "Bagaimanapun, dia yang ditemukan bersama Raka. Masyarakat sudah melihat. Kalau tidak ada penyelesaian, orang akan terus bicara."

Bowo ikut mengangguk. "Betul. Lebih baik dibuat sah. Keluarga juga tidak terlalu malu."

Kirana merasa udara habis.

Mereka tidak sedang mencari kebenaran.

Mereka mencari tempat membuang malu.

"Jadi maksud kalian," kata Kirana pelan, "Nadira menjebakku, lalu aku yang harus menikah dengan laki-laki yang ingin dia buang?"

Nadira tersentak. "Kirana!"

Pak Hendra menatap tajam. "Jaga mulutmu."

Bu Ratna berkata, "Tidak ada yang menjebakmu. Fakta yang terlihat jelas hanya satu. Kamu berada di kamar Raka."

Kirana menunjuk Raka. "Dia juga korban."

Semua mata berpindah ke Raka.

Raka menatap Nadira. "Saya minum dari gelas yang kamu berikan."

Wajah Nadira berubah sedikit.

Bu Ratna segera memotong. "Jangan mengarang. Nadira tidak mungkin melakukan hal serendah itu."

"Kenapa tidak mungkin?" tanya Kirana. "Karena dia anak sah? Karena dia Nadira yang selalu kalian banggakan?"

Pak Hendra membanting gelas di meja. Air tumpah ke karpet.

"Kamu sudah mempermalukan keluarga ini dan masih berani melawan?"

Kirana menggenggam ujung bajunya. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

"Kebenaranmu tidak ada nilainya kalau tidak ada bukti."

Kalimat Pak Hendra membuat Kirana terdiam.

Itu benar.

Ia tidak punya bukti. Nadira pasti sudah mengatur semuanya. Kamera hotel, pelayan, minuman, bahkan orang-orang yang datang merekam.

Pak Hendra menarik napas kasar. "Lamaran Nadira dan Raka dibatalkan. Untuk meredam gosip, Raka akan bertanggung jawab pada Kirana."

Nadira menunduk, tapi Kirana melihat sudut bibirnya bergerak.

Menang.

Bu Ratna menatap Raka. "Kamu mau, kan?"

Raka menyandarkan bahu ke dinding. "Kalau Kirana mau."

Jawaban itu membuat ruangan berubah.

Semua orang kira Raka akan menerima begitu saja, seperti orang miskin yang diberi kesempatan masuk keluarga kaya. Tapi ia justru meletakkan keputusan di tangan Kirana.

Kirana menatapnya.

Raka membalas tatapannya. Tenang. Tidak memaksa.

Pak Hendra berkata, "Kirana tidak punya pilihan."

Raka menoleh. "Semua orang punya pilihan."

"Kamu pikir kamu siapa?"

"Saat ini?" Raka tersenyum tipis. "Laki-laki yang ikut diseret dalam permainan keluarga Anda."

Bu Ratna tampak tersinggung. "Jaga bicaramu."

Kirana tiba-tiba merasa lelah.

Ia ingin pulang. Tapi pulang ke mana? Rumah Bu Farida selalu penuh hinaan. Rumah Pak Hendra tidak pernah menjadi rumahnya. Hotel sudah menjadi awal aibnya.

Ia menatap Nadira.

Nadira berdiri cantik dengan blus mahal dan wajah korban. Sejak kecil perempuan itu selalu mengambil apa pun yang ia punya, bahkan saat Kirana tidak punya apa-apa.

Kali ini Nadira ingin membuang Raka kepadanya.

Baik.

Kirana menatap Pak Hendra. "Kalau aku menerima, kalian semua harus berhenti memakai namaku untuk menutupi kebusukan kalian."

Bu Ratna mencibir. "Dengar bahasanya."

"Dan aku tidak mau tinggal di rumah ini."

Pak Hendra tertawa dingin. "Siapa juga yang memintamu tinggal di sini?"

"Aku juga tidak mau uang kalian."

Nadira mengangkat wajah. "Kirana, jangan sok kuat. Kamu baru pulang. Kamu belum punya apa-apa."

"Aku punya tangan. Aku bisa kerja."

Bu Farida mendengus. "Kerja apa? Masak di dapur hotel?"

Kirana menatapnya. "Iya. Masak. Pekerjaan halal."

Raka menunduk sedikit. Senyumnya nyaris tidak terlihat.

Pak Hendra mengambil kartu dari meja, lalu melemparkannya ke arah Kirana. Kartu itu jatuh di lantai dekat kakinya.

"Ada dua puluh juta. Ambil. Anggap saja bantuan terakhir."

Kirana melihat kartu itu.

Dua puluh juta akan memudahkannya. Kontrakan, makan, transport, semuanya. Ia bahkan belum tahu besok harus mulai dari mana.

Namun jika ia mengambilnya, mereka akan mengingatkan hal itu seumur hidup.

Kirana membungkuk.

Semua orang mengira ia akan mengambil kartu itu.

Ia justru mengambil tasnya yang terjatuh, lalu berdiri lagi.

"Simpan uang itu. Aku tidak mau aib kalian dibayar murah."

Pak Hendra membeku.

Bu Ratna memucat karena marah.

Nadira menatapnya seperti ingin mencakar wajahnya.

Kirana menoleh pada Raka. "Kamu ikut atau tidak?"

Raka mengambil jaketnya dari kursi. "Ikut."

"Kamu punya tempat tinggal?"

"Tidak."

Jawaban itu membuat Bu Farida tertawa sinis. "Lihat? Kamu mau bawa laki-laki seperti itu ke mana?"

Kirana menatap pintu.

"Ke mana saja asal bukan rumah ini."

Raka berjalan di sampingnya.

Saat mereka melewati Nadira, Nadira berbisik pelan, hanya cukup terdengar oleh Kirana.

"Selamat menikmati sisa hidupmu dengan laki-laki miskin."

Kirana berhenti sebentar.

Ia menatap Nadira dari samping.

"Terima kasih. Setidaknya aku tidak harus menikah dengan laki-laki yang kubenci."

Wajah Nadira mengeras.

Kirana keluar dari rumah itu tanpa menoleh.

Di teras, panas Jakarta menyambutnya. Suara kendaraan dari jalan besar terdengar ramai. Dunia di luar rumah Pak Hendra tetap berjalan, seolah hidup Kirana baru saja tidak dihancurkan.

Raka berdiri di sampingnya.

"Jadi," katanya, "kita ke mana?"

Kirana menghela napas.

"Cari kontrakan."

"Kita?"

Kirana menatapnya tajam. "Kamu tadi dengar sendiri. Mereka sudah memutuskan aku harus bertanggung jawab atas kamu."

"Aku bisa bertanggung jawab atas diriku sendiri."

"Kelihatannya tidak."

Raka hampir tertawa.

Kirana melangkah menuju gerbang.

"Mulai hari ini, jangan bikin aku menyesal membawamu keluar."

Raka mengikutinya.

Di belakang mereka, dari jendela lantai dua, Nadira menatap dengan mata penuh kebencian.

Ia berhasil membuang Raka.

Tapi melihat Kirana pergi dengan kepala tegak, entah kenapa Nadira tidak merasa menang.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!