NovelToon NovelToon
Takdir Cinta

Takdir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.

Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.

Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.

namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.

Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.

Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.

Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pulang ke rumah mbah

Setelah menempuh perjalanan hampir 5 jam, akhirnya Yiwa sampai juga ke tempat tujuan. Atau bisa dibilang belum sih, karena ia harus naik ojek lagi untuk sampai kerumah mbahnya.

Begitu keluar dari stasiun, ia langsung menghampiri pangkalan ojek terdekat. Sebenarnya Yiwa maunya naik taksi. Tapi ia selalu ditolak saat mengatakan kemana tujuannya. Mereka bilang jalan ke Waduk Bening gak bisa dilewati mobil. Yiwa jadi sedikit ragu, emang desanya se-pelosok itu ya?

"Ke Desa Waduk Bening bisa, Pak?" tanya Yiwa pada salah satu tukang ojek yang ada disana.

Beberapa tukang ojek yang mendengar pun ikut menoleh. Tatapan mereka antara penasaran dan bingung. Pasalnya Desa Waduk Bening itu terkenal sangat sulit menerima pendatang baru.

Di daerah tersebut memang ada beberapa desa, tapi Desa Waduk Bening inilah yang paling beda. Selain letaknya yang cukup terpisah oleh area hutan, desa itu juga punya kepercayaan yang cukup rumit di era modern ini. Jadi mereka jarang sekali, atau bahkan tidak pernah menerima penumpang dari kota ke desa itu.

"Waduk Bening ya? Kalo sampai perbatasan desanya bisa, Mbak. Tapi kalo sampai masuk ke desanya agak sulit. Soalnya jalannya turun naik." jawab tukang ojek itu. Setengah jujur setengah bohong sebenarnya.

"Dari kota ya, mbak?" tanya seorang tukang ojek lainnya.

Yiwa melirik sekilas, lalu hanya mengangguk karena malas menanggapi berlebihan. "Gak papa deh!"

"Yakin mau nganter kamu, Rud?" bisik temennya pada Rudi, tukang ojek yang dipesan Yiwa.

"Gak apa-apa. Cuma sampai perbatasan. Kasian dari kota." jawab Rudi.

Meskipun mereka berbisik-bisik, tapi tetap saja Yiwa bisa mendengarnya.

"Mbak beneran mau ke desa itu?" tanya salah satu dari tukang ojek disana.

"Iya!Jadi anter nggak, pak?" tanya Yiwa.

Rudi pun segera mengangguk. "Kopernya biar taruh depan aja, mbak." Yiwa hanya mengangguk dan manut ajalah. Soalnya badannya sudah capek dan lengket semua. Ia ingin cepat sampai rumah mbah. Lalu mandi dan tidur.

Akhirnya perjalanan naik motor yang harus ditempuh kurang lebih empat puluh lima menit itu berakhir juga. Begitu motor sudah berhenti, Yiwa pun segera turun dari motor dan merenggangkan tubuhnya sebentar.

Tangannya sangat kebas karena harus memegangi tas tentengnya erat-erat. Pinggangnya jangan lupa, sudah pegal bukan main karena ia duduk terlalu tegang. Apalagi pantatnya panas banget.

Ini kalau ada aplikasinya sudah Yiwa kasih bintang satu kayaknya. Ngebut banget, mana Yiwa juga harus berjuang megangin tas tentengnya yang terancam terbang lagi.

Tapi, ya sudahlah. Yang penting cepat sampai rumah mbah.

"Ini gapura masuk desanya, mbak. untuk alamat mbahnya nanti bisa tanya warga aja. soalnya saya juga gak begitu tahu."

"Iya, Pak. Ini uangnya dan terima kasih ya, pak!"

Setelah menurunkan koper dan menerima uangnya, tukang ojek itu pun langsung meninggalkan Yiwa sendirian tanpa mengatakan apa-apa lagi. Menyisakan Yiwa yang berdiri di depan gapura dengan koper ditangan kirinya dan tas tenteng yang ia taruh di atas koper.

"Pantes gak ada taksi yang mau anter. Orang desanya harus lewati hutan dulu. Mana jalannya rusak lagi!"

Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku.

"What the Fuck! Gak ada sinyal?!" kesalnya.

"Jangan sampai gue terjebak ditempat gak ada sinyal!" Ia mencoba mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, siapa tahu ada sinyal nyantol.

"Sialan! bener-bener gak ada!" Yiwa menyerah. Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku kembali dan menyeret kopernya dengan kasar. Berjalan memasuki desa dengan perasaan kesal dan lelah yang bercampur jadi satu.

Saat ia berbelok melewati gapura, tanpa ia sadari ujung kopernya menyenggol sebuah wadah dari daun pisang. Wadah itu diletakkan di pinggir bawah gapura dan Yiwa tidak menyadari adanya benda itu. Yiwa terus berjalan memasuki desa dan meninggalkan wadah yang isinya sudah berserakan di tanah.

Angin tenang itu mendadak berhembus cukup kencang. Sampai-sampai tubuh Yiwa agak terhuyung ke samping.

"Aduh! kenceng banget anginnya!"

Yiwa segera berjalan lebih cepat masuk ke dalam pemukiman. "Kok sepi banget desanya!"

Ia melihat jam tangannya. "Udah jam setengah enam sih. Pantes sepi, mana makin gelap lagi."

"Mbak?"

"Eh! Anjir!" Yiwa sampai berjengit kaget saat tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari belakang. Ia spontan menoleh.

"Mbak mau kemana ya?"

Yiwa memperhatikan orang dihadapannya itu. Seorang pria paruh baya. Pakai sarung dan baju kaos lengan panjang jangan lupa sandal jepit itu. "untungnya ada orang yang masih di luar."

"Saya mau ke rumah mbah Sekarti. Bapak tahu?"

Bapak itu terdiam sebentar. "oh, tahu. Mbak lurus saja, lalu belok kiri. Rumah Bude Sekarti yang paling ujung agak jauh dari rumah lainnya. Dan ada pohon rambutan di depan rumahnya."

"Oh? makasih ya, pak."

Bapak itu melihat sekeliling sebentar. "Sebaiknya mbak segera ke rumah Bude Sekar. Malam-malam tidak baik masih di luar seperti ini."

"Iya, Pak. saya pergi dulu." Yiwa langsung menyeret kopernya meninggalkan bapak-bapak itu.

Setelah cukup jauh, Yiwa kembali menoleh melihat ke tempat bapak-bapak tadi. "Lah dia sendiri ngapain malem-malem masih diluar?"

Jalanan benar-benar sudah sepi. Memang sih ada lampu jalanan, tapi warnanya kuning. Jadi suasananya cukup remang. Apalagi rumah-rumah juga sudah tertutup semua.

Sebenarnya Yiwa cukup skeptis dengan hal-hal berbau mistis. Makanya ia tidak ragu untuk berangkat siang padahal ia tahu bakal sampai tujuan pada malam hari.

"apa ini ya?" Ia berhenti tepat didepan rumah yang didepannya ada pohon rambutan. "Sial, beneran di ujung, gak ada tetangga."

Ia pun melangkah masuk ke halaman dan berhenti tepat di depan pintu.

Tok tok tok

"Mbah Sekar!" panggilnya.

Ceklek

Pintu terbuka separuh. Yiwa langsung mundur selangkah kebelakang saat yang keluar bukan Mbah Sekar nya. Melainkan seorang laki-laki muda dan tinggi.

Laki-laki itu melirik barang bawaan Yiwa. Lalu matanya kembali menatap Yiwa. "Cari siapa?"

Yiwa cukup terkejut dengan suara laki-laki dihadapannya itu. Begitu berat dan tatapannya yang eumm, mengintimidasi.

Tapi, namanya juga Yiwa, ia sudah banyak menghadapi berbagai jenis cowok. Dari yang garang sampe yang melambai pun sudah pernah ia pacari. Maklum, jiwa anak kota yang modern, selalu ingin mencoba hal baru.

 "Mbah Sekar,"

Ada raut heran pada wajahnya. "Rumah mbah Sekar bukan disini. Rumahnya tidak jauh dari gapura. Rumah warna biru."

"Tapi tadi gue dikasih tahu orang kalau rumah Mbah Sekar disini." protesnya.

"Kamu yakin itu orang?"

Yiwa mendengus mendengarnya. "Ya kalau bukan orang emang apalagi, kucing gitu? Heran!"

laki-laki itu tidak menjawab. Ia justru berbalik dan mengunci pintu rumahnya dari luar.

"Biar saya antar."

Bahkan ia tidak perlu repot-repot menunggu jawaban dari Yiwa karena ia sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Yiwa yang masih mencerna situasi.

Mau tidak mau, Yiwa buru-buru berjalan menyusulnya. Ia tidak berniat berjalan di samping laki-laki itu. Yiwa lebih memilih berjalan dibelakangnya. Karena jujur ia juga malas harus berjalan berdampingan dengan orang yang sangat kaku ini. Beneran canggung abis.

Tak jauh didepan mereka sudah mulai terlihat gapura dan bapak-bapak yang tadi. Bapak itu berdiri membelakangi mereka.

Yiwa hendak membuka mulutnya untuk memanggil, tapi Laki-laki yang mengantarnya tadi seolah tahu apa yang akan dilakukan Yiwa pun segera menghentikan. "Tidak usah kamu panggil. Buruan masuk ke rumah." Laki-laki itu menunjuk rumah di sebelah kiri mereka.

Yiwa menoleh sebentar melihat rumahnya, kemudian mengangguk. "Terima kasih."

Ia langsung menarik kopernya menuju rumah bercat biru itu. Sebelum ia mengetuk pintu, Yiwa menoleh sebentar ke belakang.

Ia memperhatikan laki-laki itu berjalan dengan tenang menuju gapura. Saat akan melewati bapak-bapak tadi, Laki-laki itu berhenti sebentar tepat di depannya. Respon bapak-bapak itu cukup aneh. Ia seperti menunduk ketakutan dan segera berjalan menjauh. Lalu laki-laki itu kembali berjalan menuju gapura.

"Aneh! "

Tok tok tok

"Mbah Sekar!"

Setelah ketukan ke tiga, akhirnya pintu terbuka. Seorang wanita tua berjalan keluar.

"Loh, Nduk Yiwa? Sudah sampai? Mbah kira besok pagi baru sampai. Diantar siapa nduk?"

Mbah Sekar membuka sedikit lebih lebar pintu rumahnya dan merangkul cucu kesayangannya itu masuk kedalam rumah, lalu segera mengunci kembali pintunya.

Yiwa segera duduk bersandar di kursi panjang yang terletak di ruang tamu. "Tadi diantar om sampai stasiun, terus naik ojek sampai depan gapura."

"Aduh! di jalan gak kenapa-kenapa kan, nduk?"

Yiwa menggeleng. Ia memilih tidak menceritakan kejadian barusan yang ia di tipu bapak-bapak. "enggak kok, Mbah. Kamar Yiwa sebelah mana, Mbah?"

"Itu samping kamar Mbah. Kamu segera mandi. Sudah makan belum?"

"Yiwa masih kenyang, Mbah. Habis mandi mau tidur aja. "

Mbah Sekar mengangguk. " Yasudah. Kamu segera mandi. Habis itu istirahat. "

...♡Bersambung♡...

1
Ana Dww
maaf yiwa, aku adalah Nara yang setiap pulang dari pergi agak jauh harus mandi
Ana Dww
Lanjuttt kakk
Ana Dww
Aku suka karena emang ada horor, romantis dan komedinyaaa
Ana Dww
🤣🤣🤣
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣
Ana Dww
heeeyy siapa lagi ini
Ana Dww
Woy, kram kamar mandi kosku sering bocir dikit malam hari 😭😭😭😭
seren_dpty: positif thinking aja, mungkin lagi di buat mainan🤭
total 1 replies
Ana Dww
Yiwa, kita sama tidur terlalu hening bikin pikiran berisik
Ana Dww: 🤣 biar nanti tidurnya sambil mimpi kicau mania
total 2 replies
Ana Dww
waittt
Ana Dww
Kak, ini cerita horor romantiskah?
seren_dpty: iyaps betull
total 1 replies
Ana Dww
Waaahhh , suka sama ceritanya
seren_dpty: makasih ya kakkk
total 1 replies
Ana Dww
Waaah keren kak 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!