Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.
Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.
Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.
Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.
Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam
Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2 Tujuh Tahun Kemudian
"Luruskan tanganmu, Sean! Lihat ke depan sana! Jangan sampai kau salah bidik!" teriakan Venus menggema di ruang latihan.
Tak ada lagi sisa kelembutan dari wanita yang tujuh tahun lalu menangis di helikopter. Kini, ia berdiri dengan punggung tegak, tangan bersedekap, dan tatapan sedingin es yang mengawasi setiap inci gerakan bocah di depannya.
Sean Kingsley, bocah berusia enam tahun dengan rambut gelap yang berantakan, hanya bisa menghela napas panjang. Tangannya yang mungil memegang pistol kaliber kecil yang sudah dimodifikasi agar sesuai dengan genggamannya.
"Mama, aku lelah. Bisakah aku istirahat sebentar? Aku ini anakmu, bukan robot yang bisa terus berlatih tanpa makan," ucap Sean tanpa menoleh, suaranya terdengar terlalu dewasa untuk anak seusianya.
"Dunia ini tidak akan memberimu waktu untuk makan jika musuh sudah menarik pelatuknya, Sean. Fokus!" balas Venus tanpa kompromi.
Sean memutar bola matanya dengan malas, sebuah gestur pembangkangan yang sangat mirip dengan seseorang di masa lalu Venus. "Tapi perutku berbunyi lebih keras daripada suara perintahmu, Ma. Bagaimana aku bisa fokus jika lambungku sedang melakukan orkestra?"
"Sean Carson, fokus!" bentak Venus lagi, suaranya naik satu oktaf.
DOR!
Sentakan kaget karena teriakan ibunya membuat jari Sean menarik pelatuk lebih cepat dari yang seharusnya.
Peluru itu melesat, melenceng jauh dari papan target, dan meluncur lurus ke arah pojok ruangan di mana Leo sedang duduk bersantai di sofa tua sambil menikmati kopi sorenya.
Prang!
Gelas keramik di tangan Leo hancur berkeping-keping. Kopi panas meluncur ke celana jeansnya, membuat pria itu melompat berdiri dengan wajah pucat pasi.
"Oh shit! Sean! Kau hampir membuat pamanmu tidak bisa punya keturunan!" teriak Leo sambil mengibaskan celananya yang basah.
Sean menurunkan senjatanya, lalu berbalik menatap Leo dengan wajah datar tanpa dosa. "Maaf, Paman Leo. Tapi secara teknis, itu salah mama. Dia berteriak tepat di telingaku. Secara mekanis, otot jariku bereaksi terhadap kejutan akustik."
Leo melongo. Ia menatap Venus, lalu kembali menatap keponakannya. "Mekanis? Kejutan akustik? Dari mana kau belajar kata-kata itu, Bocah Nakal? Kau seharusnya belajar mengeja bola, bukan teori balistik!"
"Aku sudah tamat membaca ensiklopedia senjata milik Paman minggu lalu saat Paman tertidur sambil mendengkur," jawab Sean santai sambil meletakkan pistolnya di atas meja dengan posisi yang sangat aman. "Dan Paman, mendengkurmu itu lebih berisik daripada suara tembakanku tadi."
Venus memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Sean, jangan menjawab pamanmu seperti itu."
"Aku tidak menjawab, Ma. Aku hanya memberikan fakta observasi," sahut Sean sambil berjalan menuju Leo. Ia menatap sisa-sisa gelas yang pecah, lalu mendongak menatap pamannya. "Lagipula, Paman Leo seharusnya berterima kasih. Refleks Paman sangat lambat. Jika itu tadi musuh sungguhan, Paman sudah jadi sejarah sekarang. Mungkin aku harus melatih Paman juga."
Leo mendengus, antara kesal dan kagum. "Lihat ini, Venus. Dia benar-benar fotokopi kakakku. Mulutnya, otaknya, bahkan cara dia meremehkan orang lain... ini mengerikan."
"Aku lapar, Paman. Buatkan aku sandwich. Tanpa pinggiran roti, dan kejunya harus dua lapis," perintah Sean sambil menarik-narik ujung baju Leo.
"Hei! Aku ini pamanmu, eksekutor paling ditakuti di wilayah ini, bukan pelayan restoran!" protes Leo, meski kakinya mulai melangkah menuju dapur karena tidak tahan dengan tatapan menuntut keponakannya.
"Eksekutor yang hampir menangis karena kopinya tumpah?" Sean terkekeh pelan, lalu melirik ibunya yang masih terdiam. "Ma, jangan menatapku seperti itu. Aku tahu aku salah bidik tadi. Tapi besok, aku janji akan mengenai tepat di tengah. Sekarang, bolehkah robot kecil ini mendapatkan energinya?"
Venus menghela napas, dinding pertahanannya runtuh seketika. Ia mendekat dan mengusap rambut Sean yang berkeringat. "Satu sandwich saja. Setelah itu, kau harus belajar bahasa Mandarin dengan Leo."
"Mandarin? Bukankah kita sudah aman di sini?" tanya Sean, matanya yang tajam menatap Venus seolah bisa membaca kegelisahan di hati ibunya.
"Di dunia kita, tidak ada tempat yang benar-benar aman, Sean," bisik Venus.
Sean terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku tahu. Itulah kenapa aku belajar menembak. Agar suatu saat nanti, tidak ada lagi yang bisa memaksamu pergi dari rumah sambil menangis, seperti yang sering kau ceritakan dalam mimpimu, Ma."
Kata-kata bocah enam tahun itu menghantam dada Venus lebih keras daripada peluru manapun. Ia hanya bisa terdiam menatap Sean yang berjalan menyusul Leo ke dapur.
Venus menyadari bahwa meski ia berusaha menyembunyikan masa lalu, darah Dante yang mengalir di tubuh Sean telah membentuk bocah itu menjadi pelindung alami untuknya.
******
"Mama akan mulai bekerja besok, setelah mengambil cuti beberapa hari," ucap Venus menghampiri Sean yang sedang asyik mengunyah sandwich dengan dua lapis keju ekstra. "Ingat, Sean. Jangan pergi ke mana pun tanpa izin Mama. Mengerti?"
"Hmm," gumam Sean tanpa menoleh, fokus menghabiskan makanan favoritnya.
Venus terdiam sesaat, matanya melembut melihat cara Sean memegang rotinya. Persis seperti Dante.
Kenapa putranya ini selalu menjadi pengingat hidup tentang pria itu? Setiap gerak-gerik Sean adalah bayang-bayang Dante yang berusaha ia lupakan.
Jika Dante masih hidup, Venus yakin suaminya akan membalikkan dunia untuk menemukannya. Namun, tujuh tahun tanpa kabar adalah jawaban yang pahit.
"Mama seharusnya di rumah saja, tidak perlu bekerja," celetuk Sean tiba-tiba, memecah lamunan Venus. "Biar paman Leo saja yang mencari banyak uang untuk kita. Dia kan laki-laki."
Uhuk!
Leo yang sedang menyesap kopi di balik meja makan tersedak hebat. Ia segera mengusap wajahnya yang tertutup topeng kulit, sebuah penyamaran wajah rusak dan menyeramkan yang membuatnya tampak seperti korban kebakaran.
"Kenapa harus aku? Mamamu ini juga wanita tangguh, tahu!" protes Leo kesal. "Lagipula, mencari uang dengan wajah seperti ini tidak mudah, Sean. Kau tahu berapa banyak wanita yang lari ketakutan melihatku?"
Sean menatap pamannya datar. "Bukankah Paman bilang dulu Papa menitipkan kami padamu? Sebagai pemegang mandat, Paman harusnya bekerja lebih keras. Lagipula, wajah jelek itu kan cuma pilihan gaya hidup Paman yang aneh."
"Kau!" Leo menunjuk Sean dengan jari gemetar. "Wajah ini penyamaran, Bocah! Demi keamanan kalian!"
"Tetap saja, itu tidak efisien," balas Sean santai sambil mengelap mulutnya.
"Sudahlah, berhenti bertengkar," potong Venus.
Venus mulai mengenakan topeng kulit miliknya sendiri, sebuah samaran luka bakar yang menyelimuti separuh wajah cantiknya.
Besok, ia akan melangkah ke markas kepolisian pusat sebagai detektif baru. Itu adalah satu-satunya cara untuk mengakses database rahasia dan jaringan intelijen guna mencari tahu satu hal, apakah Dante benar-benar sudah tiada atau masih hidup.
"Bisakah kalian berdua melepaskan topeng penyamaran itu? Menggelikan!" ejek Sean sambil bersedekap. "Kalian terlihat seperti penjahat di film horor murah."
"Diam!" sahut Venus dan Leo bersamaan.
Sean mendengus, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Terserahlah. Tapi ingat, Ma, jika kau bekerja sebagai detektif dan mereka tidak bisa melihat betapa cantiknya dirimu, itu kerugian bagi departemen mereka," ucapnya. "Dan Paman... tolong, cari pacar yang buta agar dia tidak pingsan melihat topengmu."
"Anak ini benar-benar minta dijewer," gerutu Leo.
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
gimana donk??
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎