NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Malam itu, kediaman megah keluarga Mahendra di kawasan elit Menteng berubah menjadi istana kristal yang menyilaukan mata. Ratusan lampu gantung Bohemian memancarkan cahaya keemasan, memantul di atas gaun-gaun sutra dan setelan jas mahal para tamu kelas atas. Aroma bunga lili putih segar memenuhi ruangan, berpadu dengan aroma cerutu mahal dan denting gelas sampanye. Harusnya, ini adalah malam kemenangan bagi Clarissa—pesta ulang tahunnya yang ke-17 yang dirayakan dengan kemegahan yang bisa menghidupi seluruh anak panti asuhan tempat Adel tumbuh selama sepuluh tahun.

Namun bagi Adelard, malam ini hanyalah giliran kerja lembur yang menyiksa.

Dengan seragam pelayan hitam-putih yang kaku, celemek bersih yang baru disetrika, dan rambut yang diikat rapi, Adel bergerak bagaikan bayangan di balik hiruk-pikuk pesta. Ia membawa nampan berisi gelas-gelas kristal. Tangannya masih terasa perih akibat gosokan kasar saat mencoba menghilangkan noda kopi di sekolah tadi siang, namun ia harus tetap profesional. Jika satu gelas saja pecah, gajinya sebulan akan melayang untuk mengganti rugi.

"Adel! Kenapa kau melamun? Cepat bawa nampan itu ke arah balkon. Tuan Devan Dirgantara baru saja tiba, pastikan dia mendapatkan layanan terbaik!" bentak Pak Dirman, kepala pelayan, dengan suara berbisik yang tajam.

Adel mengangguk patuh. Nama 'Devan' membuat jantungnya mencelos. Devan Dirgantara bukan sekadar siswa populer di sekolah mereka. Dia adalah pewaris tunggal Dirgantara Group, satu-satunya keluarga yang kekayaannya mampu menandingi Mahendra. Devan juga merupakan tunangan tidak resmi Clarissa dalam perjodohan bisnis yang sudah dibicarakan sejak mereka kecil.

Adel melangkah menuju balkon yang lebih tenang. Di sana, seorang pemuda berdiri memunggungi keramaian, menatap gelapnya taman luas dari balik pagar balkon dengan tangan terbenam di saku celana jasnya. Posturnya tegak, bahunya lebar, memancarkan aura dominan yang membuat siapa pun merasa kerdil di hadapannya.

"Permisi, Tuan. Anda ingin minuman?" suara Adel pelan, nyaris tenggelam oleh sayup-sayup suara musik orkestra dari aula utama.

Pemuda itu berbalik perlahan. Devan memiliki wajah yang hampir terlalu sempurna untuk menjadi nyata; garis rahang yang tegas seperti pahatan marmer, hidung bangir, dan sepasang mata sekelam malam yang tampak dingin namun sangat cerdas. Mata itu menatap Adel, bukan dengan tatapan merendahkan seperti tamu lainnya, melainkan dengan tatapan menyelidik yang intens.

"Kau gadis yang di lobi sekolah tadi siang, kan?" tanya Devan dingin. Suaranya rendah dan bariton.

Adel tersentak, hampir menjatuhkan nampannya. Ia tidak menyangka pria sepopuler Devan akan mengingat seorang "gadis pel" di tengah ratusan siswa lainnya. "Saya hanya pelayan di sini, Tuan," jawab Adel, berusaha mengalihkan pandangan.

Devan maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka. Aroma kayu cendana dan *citrus* yang mahal menyerang indra penciuman Adel. "Seorang pelayan tidak akan memiliki mata yang menyimpan dendam sebesar itu, Adelard. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau menatap Tuan Mahendra seolah dia adalah sesuatu yang sangat berharga sekaligus menyakitkan bagimu?"

Adel terpaku. Belum sempat ia menjawab pertanyaan yang merobek pertahanannya itu, sebuah teriakan melengking dari dalam aula memecah suasana.

"Ayah! Ibu! Lihat aku! Bukankah aku adalah gadis tercantik di dunia malam ini?"

Clarissa Mahendra berdiri tepat di tengah aula, tepat di bawah lampu gantung kristal raksasa yang menjadi ikon rumah tersebut. Ia mengenakan gaun merah darah bertabur swarovski yang berkilau setiap kali ia bergerak. Clarissa tertawa angkuh, memamerkan kalung matahari emasnya kepada para fotografer.

Namun, mata tajam Adel menangkap sesuatu yang mengerikan. Di langit-langit aula yang tinggi, salah satu rantai baja penyangga lampu gantung raksasa itu terlihat mengendor. Mungkin karena getaran dari *speaker* musik yang terlalu kencang, atau mungkin karena kelalaian teknisi. Suara derit besi yang beradu mulai terdengar—halus, namun mematikan.

"Clarissa, menjauh dari sana!" teriak Adel tanpa sadar. Ia melepaskan nampannya hingga gelas-gelas pecah berhamburan di lantai balkon.

Semua tamu menoleh ke arah balkon dengan bingung. Clarissa justru mendengus, menatap Adel dengan jijik dari kejauhan. "Kau lagi? Apa kau mencoba merusak pesta ulang tahunku karena iri, hah? Dasar sampah miskin—"

*KRAKKK!*

Suara besi patah menggelegar di seluruh ruangan. Dalam hitungan detik, lampu kristal seberat tiga ratus kilogram itu meluncur jatuh bagaikan palu godam dari langit, tepat ke arah Clarissa yang mematung karena syok.

"Clarissa! Lari!" teriak Tuan Mahendra dari kejauhan, namun kakinya seolah tertanam di lantai karena panik.

Adel adalah yang terdekat. Tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, ia berlari sekencang mungkin di atas lantai marmer yang licin. Dengan satu lompatan penuh keberanian, Adel menerjang tubuh Clarissa, mendorongnya hingga mereka berdua terpental ke arah sofa beludru yang tebal.

*PRANGGG! BOOM!*

Suara ledakan kristal yang hancur berkeping-keping memekakkan telinga. Debu putih dan ribuan pecahan kaca terbang ke segala arah bagaikan peluru. Ruangan yang tadinya penuh tawa berganti dengan jeritan horor dan kepanikan massal.

Adel merasakan perih yang luar biasa menjalar di lengan kiri dan punggungnya. Sebuah pecahan kaca besar menyayat kulitnya saat ia menggunakan tubuhnya sendiri untuk melindungi kepala Clarissa dari serpihan maut. Darah segar yang panas mulai mengucur, merembes di seragam putihnya, dan menetes ke lantai marmer yang bersih.

"Clarissa! Sayangku!" Nyonya Mahendra berlari mendekat, langsung memeluk putrinya yang menangis histeris. Clarissa gemetar hebat, namun berkat Adel, ia tidak terluka parah sedikit pun, hanya beberapa goresan kecil di lututnya.

Adel terbaring lemas di samping tumpukan kristal yang hancur. Napasnya tersengal, pandangannya mulai berputar. Tuan Mahendra berlari mendekat. Anehnya, sebelum ia menyentuh Clarissa, matanya terpaku pada sosok Adel yang bersimbah darah.

"Panggil ambulans! Sekarang juga!" teriak Tuan Mahendra dengan suara yang bergetar hebat.

Devan adalah orang pertama yang berlutut di sisi Adel. Dengan gerakan cekatan, ia melepas jas hitam mahalnya dan membalutkannya ke lengan Adel untuk menahan pendarahan. "Tetaplah sadar, Gadis Bodoh. Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuk orang yang menghinamu?" bisik Devan dengan nada yang sulit diartikan—ada kemarahan sekaligus kekaguman di sana.

"Karena... saya tidak ingin ada orang yang mati... di hari ulang tahunnya," gumam Adel sebelum kegelapan mulai merenggut kesadarannya.

---

**RS MEDIKA UTAMA - 30 MENIT KEMUDIAN**

Kekacauan berpindah ke koridor rumah sakit elit tersebut. Nyonya Mahendra terus menangis, menuntut dokter terbaik untuk memeriksa Clarissa, sementara Tuan Mahendra mondar-mandir di depan ruang operasi darurat tempat Adel ditangani.

"Dokter! Bagaimana keadaannya?" tanya Tuan Mahendra saat Dokter Hadi, dokter kepercayaan keluarga mereka, keluar dengan wajah tegang.

"Gadis itu kehilangan banyak darah, Tuan. Golongan darahnya sangat langka, O Rhesus Negatif. Stok darah rumah sakit sedang menipis karena ada kecelakaan beruntun tadi sore. Kita butuh donor segera!"

Tuan Mahendra segera menyingsingkan lengan kemejanya. "Ambil darahku! Golongan darahku O Negatif. Aku akan memberikan sebanyak yang dibutuhkan!"

"Ayah, apa yang Ayah lakukan?" Clarissa protes dengan wajah cemberut, ia duduk di kursi roda dengan plester kecil di lututnya. "Dia hanya pelayan, Yah. Kenapa Ayah harus repot-repot menyumbangkan darah untuknya? Biarkan saja pihak panti asuhannya yang urus!"

"Diam, Clarissa! Gadis itu menyelamatkan nyawamu!" bentak Tuan Mahendra.

Dokter Hadi segera membawa Tuan Mahendra ke laboratorium untuk pengecekan cepat. Namun, sepuluh menit kemudian, Dokter Hadi keluar dengan tangan gemetar memegang selembar kertas hasil laboratorium. Wajahnya sepucat kertas.

"Tuan Mahendra... ada sesuatu yang sangat mengejutkan."

"Apa? Darahku tidak cocok? Itu tidak mungkin!"

"Bukan, Tuan. Darah Anda sangat cocok dengan gadis itu. Terlalu cocok," bisik Dokter Hadi, menarik Tuan Mahendra ke sudut yang sepi. "Tuan, saya baru saja mengecek ulang profil darah Clarissa dari *database* pasien lama kita untuk cadangan. Clarissa bergolongan darah B Positif."

Tuan Mahendra mengerutkan kening. "Lalu? Apa masalahnya?"

Dokter Hadi menelan ludah. "Tuan, Anda dan Istri Anda keduanya adalah O Negatif. Secara hukum medis dan genetika, mustahil bagi dua orang tua bergolongan darah O melahirkan anak bergolongan darah B. Benar-benar mustahil."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Tuan Mahendra. Jantungnya terasa seperti diremas tangan tak terlihat. "Apa maksudmu, Hadi?"

"Maksud saya... Clarissa secara biologis bukanlah putri Anda. Sedangkan gadis pelayan itu... Adelard... profil darah dan struktur proteinnya menunjukkan kecocokan genetik yang hampir seratus persen dengan Anda." Dokter Hadi menatap mata Tuan Mahendra dengan serius. "Saya rasa... telah terjadi kesalahan besar tujuh belas tahun yang lalu."

Di balik pilar koridor, Devan Dirgantara yang sedari tadi menyimak pembicaraan itu, menyipitkan matanya. Sebuah senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya. Rahasia paling gelap keluarga Mahendra telah terungkap.

Tuan Mahendra jatuh terduduk di kursi tunggu, menutupi wajahnya dengan tangan yang bergetar. Memori tentang suster yang ia pecat karena mencuri obat di malam kelahiran putrinya mendadak muncul. Suster itu pernah mengutuknya, berjanji akan memberikan penderitaan yang tak akan pernah bisa ia lupakan.

"Bayiku..." bisik Tuan Mahendra hancur. "Putriku yang asli... selama ini aku membiarkannya hidup sebagai pelayan di rumahku sendiri?"

Malam itu, di bawah lampu neon rumah sakit yang dingin, status "Putri Mahkota" mulai retak. Badai balas dendam dan kebenaran baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!