Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah yang baru saja digali. Orang-orang berdiri mengelilingi liang lahat, mengenakan pakaian serba hitam. Suasana sunyi, hanya diisi suara isak tangis yang tertahan.
Di tengah semuanya tubuh Nadin perlahan diturunkan ke dalam tanah.
“Pelan-pelan…” Suara itu terdengar lirih, namun terasa berat.
Bu Hana langsung menangis histeris.
“Nadin … anak Ibu…” tubuhnya melemas, Arsyi langsung memeluknya erat.
“Ibu … sabar, Bu…” meski ia sendiri tak mampu menahan tangisnya, air matanya jatuh tanpa henti. Matanya tak pernah lepas dari liang itu. Dari tempat di mana kakaknya akan benar-benar pergi selamanya.
Harsa berdiri di depan, matanya merah, wajahnya pucat, tapi tak ada suara keluar dari bibirnya. Ia hanya menatap, menatap tubuh istrinya yang kini perlahan tertutup tanah.
Setiap sekop yang menjatuhkan tanah, seolah menghantam dadanya. Hingga akhirnya semua selesai. Nisan terpasang, nama itu tertulis jelas.
Harsa tak bergerak, semua orang mulai mundur perlahan. Di depan nisan itu, tangannya mencengkeram tanah yang masih basah.
“Nadin…” suaranya pecah untuk pertama kalinya di tempat itu. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.
“Kamu jahat…” bisiknya dengan suara bergetar. “Kamu ninggalin aku … ninggalin anak kita…” Tangannya mengepal.
“Kamu bilang kita akan pulang sama-sama…”
Suara itu semakin hancur.
“Sekarang aku pulang sendiri … bawa anak kita … tanpa kamu…” Ia menunduk, bahunya bergetar. Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah.
Semua orang terdiam, tak ada yang berani mendekat. Karena, mereka tahu itu bukan sekadar tangisan. Itu kehilangan yang tak bisa digantikan.
Beberapa saat kemudian, Harsa perlahan berdiri. Wajahnya masih basah oleh air mata. Namun, tatapannya berubah dia menoleh ke arah keluarga yang masih berdiri tak jauh dari sana.
“Ada yang harus saya sampaikan.” Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang diam. Arsyi mengangkat wajahnya. Bu Hana menatap dengan mata sembab. Tuan Hendra dan Nyonya Ratih saling berpandangan.
Harsa menarik napas panjang.
“Sebelum Nadin meninggal…” Kalimat itu membuat semua orang menegang.
“Ia meninggalkan sebuah wasiat.”
Angin berhembus pelan, seolah ikut mendengarkan.
“Apa maksudnya?” tanya Bu Hana pelan, suaranya masih bergetar.
Harsa menatap ke arah makam Nadin sejenak, lalu kembali berbicara.
“Dia … meminta saya menikahi Arsyi.”
Semua membeku, seolah waktu berhenti.
“Apa?” suara Arsyi nyaris tak terdengar.
Bu Hana langsung menggeleng.
“Tidak … tidak mungkin…” air matanya kembali jatuh. “Tidak mungkin anak saya mengatakan itu…”
Nyonya Ratih terdiam sementara Tuan Hendra menatap Harsa dalam.
Harsa melanjutkan,
“Dia ingin … anak kami punya ibu.” Suaranya serak semua orang saling berpandangan.
Arsyi mundur satu langkah.
“Tidak…” ia menggeleng cepat. “Tidak … Kak Nadin tidak mungkin…
Air matanya jatuh lagi.
“Aku … aku tidak mungkin…”
Suara Harsa kembali terdengar dan kali ini lebih tegas.
“Saya sendiri menolak wasiat itu!"
Semua kembali terdiam, Harsa menatap lurus ke depan.
“Apapun alasannya … saya tidak akan menikah lagi!" Kalimat itu jatuh dengan pasti.
“Saya tidak butuh pengganti.” Tatapannya kembali ke nisan Nadin.
“Dan tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan dia.”
Angin kembali berhembus, membawa keheningan yang terasa berat.
Nyonya Ratih melangkah maju.
“Harsa…” suaranya lembut, mencoba menenangkan. “Ibu mengerti perasaan kamu, tapi—”
“Tidak, Bu.” Harsa memotong pelan. “Ini bukan soal waktu tetapi ini soal hati.”
Tuan Hendra ikut berbicara.
“Nak … ini bukan hanya tentang kamu.”
Harsa menoleh.
“Ini tentang anakmu." Kalimat itu membuat Harsa terdiam.
“Melodi butuh seorang ibu,” lanjut Tuan Hendra. “Dan Nadin … sudah memilih.”
Bu Hana langsung menyela dengan suara bergetar.
“Tapi itu tidak berarti harus Arsyi!” tangisnya pecah lagi. “Saya baru saja kehilangan satu anak … saya tidak mau kehilangan yang lain dengan cara seperti ini…”
Arsyi menunduk, tangannya mengepal.
“Aku juga tidak mau…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
Semua kembali hening.
“Untuk sekarang…” ucapnya pelan. “Saya hanya ingin jadi ayah untuk anak saya.”
Ia menatap makam Nadin sekali lagi.
“Dan tetap jadi suami … untuknya." Kalimat itu begitu sederhana. Harsa, lalu berbalik mengambil anaknya dalma gendongan sang ibu dan pergi meninggalkan pemakaman yang penuh duka itu.
Di belakangnya, Arsyi masih berdiri diam. Menatap nisan itu, air matanya kembali jatuh.
“Kak…” bisiknya pelan. “Kenapa harus aku?” Tak ada jawaban, hanya angin sore yang membawa aroma malam yang akan segera tiba. Dan tanah yang telah menutup segalanya.
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂