Seri ketiga dari kisah Cinta Tak Perna Salah Mengisahkan seorang guru relawan yang memilih hidup jauh dari orangtuanya. karena kecintaannya terhadap anak - anak. Maria Theresia namanya gadis Kalimantan ber darah campur China . Dan dia di cintai oleh laki - laki asli papua bernama Roy Denis.
Apakah kisah cinta mereka bisa abadi selamanya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Semua orang tidak tahu, tujuan Mia mau ditugaskan ke Papua, selain karena jiwa petualang yang sedari kecil di asah oleh papinya, karena hobi dari orangtua tersebut. Juga ada hal yang tersembunyi yang hanya di ketahui oleh dirinya, yaitu ketertarikan Mia kepada pria - pria berkulit agak gelap sampai gelap. Menurut pikiran Mia, mereka sangat seksi. Dan di daerah ini, dia melihat banyak pria - pria seperti itu.
Dan hari ini Mia resmi bekerja membantu dewan guru dan staf administrasi disekolah menengah atas negeri satu, dalam menyambut tamu - tamu Forkopimda (Forum koordinasi pimpinan daerah) yang terdiri dari Bupati, komandan - komandan angkatan bersenjata, kejaksaan dan ketua DPRD. Bersama dengan pejabat - pejabat eselon empat, tiga dan dua di lingkungan pemerintah daerah. Karena kedatangan mereka adakah mer3smikan laboratorium saint yang akan digunakan oleh Mia untuk mendidik anak - anak putra dan putri daerah yang diambil dari beberapa sekolah untuk di ajar agar bisa berorestasi.
Acara mulai dan dilanjutkan dengan peresmian ruangan komputer dan laboratorium saint. Dan penyerahan secara resmi dua puluh lima unit komputer lengkap. Sekolah ini akan menjadi tempat anak - anak asli sini, akan belajar saint oleh instruktur yang sudah tiba.
Ketika sedang mengecek dua ruangan bantuan ini. Bupati lewat ajudannya meminta untuk dikenalkan dengan Instruktur atau pengajar yang direkrut oleh yayasan pendidikan terkenal itu. Ajudan yang diketahui bernama Roy Denis Sam S.IP (Sarjana Ilmu Pemerintahan). Maka oleh kepala sekolah Mia yang sedari tadi hanya menyimak dan mengamati pun di kenalkan.
"Ibu Mia di cari sama Bupati??" Mia di antar oleh ajudan bupati untuk bertemu dengan beliau.
" Permisi pak, ini tenaga pengajarnya."
"Saya Maria Theresia Johan."
"Johan??? Marga ibu guru. Tetapi sabar sepertinya usianya masih muda, betul ??"
"Iya pak Johan marga saya. Dan usia baru dua puluh satu tahun."
"Nona Maria???"
"Mia pak."
"Oke nona Mia asli manado??"
"Tidak pak, saya orang kalimantan, tepatnya China Kalimantan."
Mia mulai memperkenalkan program kerjanya yang sudah dia rancang di Jakarta bersama tim inti dan apa yang mau dia lakukan disini, serta targetnya apa. Bupati takjub dengan penjelasan dari gadis kalimantan ini. Bukan hanya bapak bupati namun semua yang ada di ruangan itu. Terlebih Roy ajudan bapak bupati.
Mia sudah mulai mengajar disekolah ini. Penampilan Mia yang berbeda dengan guru - guru yang lain membuat dia di kalangan murid - murid di sekolah ini menjadikan Mia idola. Yuli orangtua angkatnya saja takjub dengan apa yang Mia lakukan. Anak - anak yang malas di sekolah ini banyak yang berubah, mereka mulai mengurangi kemalasan mereka, agar setiap hari bisa melihat ibu guru yang manis ini.
Mia sudah mulai terbiasa dengan lingkungan disini. Yayasan memberi dia gaji sangat fantastik, namun jika dibelanjakan di sini nilai itu tidak seberapa. Transportasi ojek saja bisa lima kali lipat dengan tempat - tempat biasa di daerah Papua lainnya. Sudah sebulan dia mengajar disini.
Hari ini, Mia pulangnya sore hari. Dia sedang menunggu ojek yang lewat, agar bisa di tumpangi ke rumah. Tiba - tiba sebuah motor berhenti tak jauh darinya. Ketika dibuka helm, Mia seperti mengenal orang yang berhenti dan menawarkan tumpangan.
"Mau pulang ibu guru?" Mia tersenyum. Namun dia berusaha mengenali siapa laki - laki yang menggunakan baju seragam korpri ini, karena ini hari kamis.
"Saya Roy ajudannya Bupati." Mia sadar. Bahwa yang berhenti dengan motor besar itu adalah ajudan Bupati.
"Iya, saya lagi menunggu ojek pulang pak Roy??"
"Kalau tidak keberatan saya bisa mengantar bu guru??"
"Tetapi saya mau mampir di toko yang jual sembako dan ke pasar."
"Kalau ibu guru tidak keberatan saya bisa mengantar."
"Terima kasih."
Akhirnya hari ini Mia pulang kerja di antar oleh Roy. Mereka mampir ke toko membeli beberapa bahan makanan, besok dia berencana membawa makanan agar bisa menikmati bersama anak - anak yang les dengannya. Mereka tidak banyak hanya lima belas anak. Kemudian mereka ke pasar membeli sayur - sayur.
"Ibu guru???"
"Hallo Maria. Ko buat apa disini???"
"Itu mama saya ibu guru, dia jualan disini."
Mia mengelus kepala anak mudinya itu dan menuju ke jualan mamanya. Mia membeli buah markisa dan sayur untuk di buat sup. Buat makan siang bersama muridnya yang berjumlah lima belas orang itu.
Terhitung selama tiga bulan Mia bekerja disini sudah empat kali, tidak sengaja mia pulang mengajar ketemu dengan Roy dan diantar. Alasannya mereka searah. Namun akhir - akhir bulan ke empat ini. Baru Mia tahu dari guru di sekolah ini, bahwa rumah Roy tidak sejalan dengannya.
Mia sedang sibuk mempersiapkan anak - anaknya untuk mengikuti lomba di ibu kota propinsi di Jayapura. Sudah hampir satu bulan resmi Mia mempersiapkan ketiga anak berbakat dari berbagai sekolah yang ada di sini. Rencana mereka akan berangkat ke Jayapura.
Dan hari ini, Mia di undang oleh bupati di kantornya untuk menanyakan kesiapan siswa dan siswi yang ikut. Pagi - pagi sekali, Mia seperti biasa bangun pagi selesai berdoa dia ke dapur temani mama angkatnya Yuli memasak sarapan dan membantu membuat cemilan sehat buat di jual di sekolah.
"De, hari ini ketemu bupati ya??"
"Iya, kak doain ya biar tidak gugup."
"Kamu itu anak hebat yang di tempatkan disini."
"Kak Yuli terlalu membesarkan."
"Benar loh dek, anak - anak yang malas sekarang berkurang. Anak - anak istimewa juga berkurang."
"Betul kah ma?"
"Iya pa, adik kita ini hebat."
"Puji Tuhan."
Anak - anak istimewa yang di maksud disini adalah anak - anak yang jika marah akan datang ke sekolah membawa parang serta orang satu kampung. Dulu sebelum Mia ada pasti setiap bulan ada saja yang di lakukan oleh mereka. Sekolah yang seharusnya jadi tempat belajar, menjadi tempat yang seenak mereka lakukan. Mau tidur, mau bolos, mau berkelahi dan masih banyak lagi.
Pukul delapan pagi, Mia sudah berada di kantor bupati menggunakan baju drees batik. Sepatu plat warna hitam dan totebag yang senada dengan sepatu. Di dalam tasnya ada laptop, ipad dan handphone juga perlengkapan lainnya. Dengan makeup naturalnya sangat tipis sentuhan makeupnya Maria Theresia Johan sangat manis. Tadi dia ke kantor bupati di antar oleh pak Hans yang sudah dipanggil kakak, atas permintaan beliau dan istrinya. Kak Hans juga membantu Mia mengajar kelas khusus ini.
"Silahkan duduk bu."
Mia dipersilahkan duduk oleh staf pegawai yang berada disitu. Mia sedang membuat laporan yang dia akan kirim ke pusat kebetulan ada WiFi gratis. Roy sudah melihat kedatangan Mia, waktu tamu bapak bupati keluar, dia lagu membisikan ke hadiran Mia.
"Selamat pagi bapak."
"Selamat pagi. Silahkan duduk nona Mia."
Mia tersenyum dan langsung dia duduk. Sementara Roy hanya berdiri disebelah kanan kursinya bapak bupati di sofa.
"Sebelum bapak mau tanyakan yang inti. Bapak mau kenal dengan nona pemberani ini yang sudah enam bulan di sini." Mia hanya tersenyum. Staf bapak bupati datang membawa minum dan kue buat mereka.
"Betul bapak mau kenal dengan anak Mia."
"Orangtua saya di kalimantan."
"Kerja apa??"
"Bapa pengusaha, kami punya perusahaan yang bergerak di bidang properti dan pengelolaan kelapa sawit. Mama saya seorang dokter." Bupati kaget, begitu juga Roy ajudannya.
"Kenapa mau susah - susah datang ke Papua bekerja yang beresiko tinggi, keamanannya tidak menjamin." Mia tersenyum.
"Senang bapa."
"Saudaranya berapa?"
"Tiga pak, saya anak kedua perempuan sendiri."
"Adooo, kalau bapa jadi orangtua kamu, tidak akan ijinkan kamu merantau jauh seperti ini." Mia tersenyum.
Maria Theresia Johan langsung melaporkan perkembangan kesiapan anak - anak untuk ikut serta dalam lomba cerdas cermat saint . Anak dari bapak Esau Johan dan Martha Ong ini memperlihatkan apa yang diajarkan dan target yang dia mau serta kesiapan anak - anak lewat layar infocus di ruangan Bupati yang juga di hadiri oleh kepala dinas pendidikan dan jajarannya yang sengaja, baru di undang oleh bupati.
Mia dan lima anak, serta dua Orang Dinas pendidikan siap berangkat ke Jayapura dengan pesawat. Bapak Bupati ikut mengantar mereka berdelapan, otomatis ajudannya juga ikut. Mia berpenampilan sangat santai. Kak Hans selaku orang tua angkat Mia disini juga ikut mengantarnya. Tugas Mia sementara di ganti oleh kak Hans.
"Roy... Cantik kan Mia??" Yang ditanya oleh Bupati hanya tersenyum.