Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Malam itu, ketika kegelapan membanjiri setiap celah, seorang anak laki-laki bernama Doni baru saja bergabung ke dalam deretan tak terhitung milyaran arwah yang mengambang di jurang alam kubur yang tak memiliki batas rasional. Ribuan lapisan pintu bergelombang seperti kulit makhluk tua, setiap satu menyembunyikan jejak identitas yang pernah ada, eksistensinya kini hanyalah bayangan kosong di tengah-tengah entitas yang sungguh ada, hilang di balik tirai yang tidak pernah bisa dibuka oleh tangan manusia."
"Tak seorang pun di timur yang apabila ia tak memiliki petunjuk, atau di barat yang apabila ia tak mengikuti pemandu, atau bahkan sang jenius yang mengandalkan teknologi sepenuhnya untuk mengurai rahasia alam gaib, dapat mengetahui akan kisah yang mengerikan ini. Segala-galanya dikubur dalam kedalaman yang misterius; hanya bayangan isyarat tersembunyi yang muncul sesekali, seperti nyawa yang mencoba melarikan diri dari tubuh yang membusuk."
"Mulut jenazah yang baru saja tertutup tanah mengeluarkan suara yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia; bertanyalah pada seekor burung malam, tentang suara yang seperti gemerisik cacing di dalam kayu. Nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya kini hanyalah bisikan kosong, dan sosok yang pernah ada telah berubah menjadi ketiadaan yang digerogoti keberadaan yang sebenarnya."
"Barisan jiwa yang telah membisu selama berabad-abad berdiri rapat, telinga mereka telah lapuk dan kehilangan kemampuan mendengar, namun mereka terus berusaha berbicara dengan bibir yang tidak bisa bergerak, diam dalam upaya berbicara, tuli dalam upaya menangkap getaran yang tak pernah sampai."
"Heeeeeening di bawah nisan jauh lebih sunyi daripada denging telinga yang menusuk otak; di sana, bulan tidak pernah bersinar, hanya ada matahari berwarna hitam yang memancarkan panas membakar namun tak pernah menerangi apa-apa."
"Geeeeeeelap di bawah nisan jauh lebih pekat daripada kegelapan dalam rongga mata yang dicongkel; di sana, tidak ada makanan yang bisa memenuhi lapar, hanya ada darah pekat yang warnanya hitam seperti lumpur kuburan, mengalir perlahan di antara tulang-tulang yang sudah keropos."
"Tiba-tiba, sekelebat bayangan melintas; putih seperti mayat yang baru disalurkan, tetapi ia memperoleh kemuliaan, membelah malam yang pekat dan membaur dengan angin yang membawa bau kematian. Suaranya muncul seperti bisikan dari bilik dimensi berbeda, berat dan penuh dengan beban masa lampau yang sangat jauh: "Waktunya telah tiba... Cari wanita itu... Dan dia harus tahu bahwa darah hitam itu jangan sampai mengalir kembali dalam tubuhnya..."
"Seruan itu merangkak keluar dari kedalaman yang tak terbayangkan, meninggalkan kesan dingin yang menusuk di setiap sudut tempat suara itu terdengar."
...****************...
Pagi hari, dengan jalanan aspal basah yang mengkilap seperti tertumpah minyak, menjadi pemandangan pertama untuk sebuah lembaran yang serasa ditulis dengan tinta air mata.
Suara hujan yang mengetuk kaca jendela kamar seolah-olah menjadi irama yang menyertai setiap gerakan jari Laura saat ia menumpahkan kata-kata di dalam buku catatan yang sudah agak lusuh di sudut kanan meja tulisnya. Kertas putih yang tadinya bersih kini telah dipenuhi dengan tulisan tangan yang rapi namun penuh dengan beban, di bagian atas lembar catatan, Laura bahkan sempat menggambar dengan pensil warna gambar sosok tiga gadis kecil bergaun merah, meski tak sempurna, tetapi dapat diamati; seperti mencerminkan keadaan hatinya yang penuh memori, perasaannya yang sedang bergejolak, dan jiwanya yang sedang berjuang untuk tetap tegak meskipun dunia seolah ingin menjatuhkannya.
Usia lebih seperempat abad seharusnya menjadi masa di mana impian mulai terwujud, mimpi tentang awal rumah tangga yang bahagia, titian karir yang menjanjikan, dan gerbang masa depan yang penuh warna-warni. Namun bagi Laura, usia itu kini hanya menjadi saksi bisu atas kehilangan yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
“Laura, kamu sudah berjam-jam duduk di situ. Mau aku buatkan cokelat panas?” suara lembut Amelia terdengar dari pintu yang sedikit terbuka. Wanita berambut lurus sebahu itu mengenakan hoodie warna biru muda, wajahnya penuh dengan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Ia memang selalu berusaha menghibur, dan telah menjadi sahabat Laura semenjak masa kanak-kanak, ada begitu banyak gambar yang telah mereka warnai, baik dengan diiringi tawa maupun tangis.
Laura mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang merah karena sering menangis kini mencoba menunjukkan senyuman yang lemah. “Tidak usah. Aku sudah baik-baik saja,” jawabnya dengan nada yang terdengar lesu. Namun kata-katanya hanya membuat Amelia semakin prihatin. Ia berjalan mendekat dan duduk di sebuah bangku yang di atasnya terdapat beberapa sobekan kertas, mata Amelia tertuju pada buku catatan yang masih terbuka di atas meja.
“Kamu tahu kan, kau seharusnya tidak perlu bersikap kuat di depanku? Kita sudah bersama sejak dulu, aku tahu apa yang kamu rasakan,” ujar Amelia sambil meraih tangan Laura yang dingin karena berada di dekat jendela. “Kamu sudah tiga hari tidak keluar dari kamar ini. Ariana dan Roni juga selalu menanyakan kabarmu. Mereka ingin datang mengunjungimu, tapi aku bilang kamu perlu waktu.”
Laura menarik napas dalam-dalam, matanya kembali menatap buku catatan itu. Di halaman yang terbuka, tertera tulisan: “Hari ke-3 tanpa kamu, Doni. Udara terasa lebih berat setiap hari aku bernapas tanpa adanya muara bagi semua cerita yang ingin kubagikan. Kamu selalu bilang bahwa air mata adalah tanda bahwa hati kita masih hidup, tapi kenapa rasanya setiap tetesan yang keluar dari mataku hanya membuatku semakin hampa?”
Doni adalah pria yang telah mengisi setiap sudut hidup Laura selama lebih dari 1000 hari terakhir. Mereka bertemu saat sedang mengikuti lokakarya fotografi dan pameran bertema desain di pusat seni kota, di mana Doni dengan senyumannya yang hangat berhasil membuat Laura yang biasanya pemalu menjadi terbuka dan bisa berbicara dengan lancar. Dalam waktu singkat, mereka saling mencintai dengan kedalaman yang tak terbatas. Doni adalah orang pertama yang benar-benar memahami hasrat Laura terhadap tulisan, desain, lukisan dan fotografi, yang selalu mendorongnya untuk tidak pernah menyerah pada impiannya. Mereka bahkan sudah merencanakan pernikahan yang sederhana namun penuh makna, dengan hanya keluarga dan teman-teman dekat yang diundang. Semua sudah siap, dari undangan hingga tempat resepsi yang sangat spesial, tempat yang akan disulap menjadi panggung dimana pertama kali mereka menyatakan cinta.
Namun benang takdir memiliki rajutan yang berbeda. Hari itu adalah sinar matahari terakhir yang menyinari Doni, dan malamnya adalah gerbang perpisahan. Laura menatap mata kekasihnya lebih intens langkahnya tak ingin berjarak, hatinya membelai perasaan yang menggelitik. Ketika desakan kehendak menuntunnya menjemput Doni dari kantor tempat pria itu bekerja sebagai insinyur sipil. Keduanya saat itu bahkan sempat menghabiskan waktu di sebuah kedai kopi, berbincang mesra seakan malaikat telah mempersilahkan untuk sebuah gladi perpisahan, sebelum kemudian Laura mengantarkan Doni ke rumahnya, mereka berdua sempat kembali berbincang, entah, tetapi saat itu kebersamaan mereka tak akan pernah dirasa cukup. Dan pada malam yang bagi Laura tidak seharusnya terjadi, tragedi buruk itu datang seperti kilat yang menghantam tanpa peringatan.
Sejak kejadian itu, dunia Laura remuk berkeping-keping. Ia yang biasanya ceria dan penuh semangat kini hanya bisa menghabiskan waktu di kamar persembunyiannya, menulis segala sesuatu yang ingin ia katakan pada Doni ke dalam buku catatan yang kini menjadi satu-satunya tempat untuk menyampaikan rasa rindunya. Ia bahkan menghentikan pekerjaannya sebagai desainer visual dan penulis lepas untuk majalah lokal, merasa bahwa setiap gambar dan kata yang keluar dari imajinasi dan tangannya tidak lagi memiliki makna tanpa adanya Doni yang menjadi pembaca pertama, pengamat pertama dan paling setia.
“Laura, tolong jangan terus-terusan menyendiri seperti ini. Doni tidak akan mau melihatmu seperti ini,” ujar Amelia mendesak dengan suara yang mulai bergetar. Ia juga sangat merindukan Doni, yang tidak hanya menjadi pendamping perasaan kasih Laura tetapi juga teman baik bagi mereka semua.
“Kau tidak mengerti, Ariana. Bagaimana aku bisa hidup tanpa sebuah ikatan cinta? Semua rencana kami, semua impian yang kami bangun bersama, semuanya lenyap dalam sekejap,” balas Laura sambil menahan tangisan yang ingin meledak. Ia menggenggam buku catatan itu dengan erat, seolah itu adalah benda terakhir yang menghubungkannya dengan Doni.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang lebih keras terdengar dari luar kamar. “Laura? Kita sudah datang nih! Boleh masuk?” suara Ariana terdengar ceria sekaligus perhatian. Bersamanya adalah Roni, satu-satunya teman laki-laki dalam kelompok mereka yang bekerja sebagai desainer sekaligus fotografer bebas.
Amelia berdiri dan membuka pintu, membiarkan Ariana dan Roni melangkah masuk ke kamar yang terasa sesak karena suasana yang berat. Ariana langsung mendekati Laura dan memeluknya dengan lembut, sementara Roni berdiri di dekat jendela, melihat hujan yang masih terus turun dengan raut yang terpoles kesedihan.
“Kita sudah khawatir banget sama kamu, Laura. Kamu tidak boleh menyendiri seperti ini,” ujar Amelia sambil mengusap punggung Laura yang mulai bergoyang karena tangisan yang akhirnya keluar. “Kita semua merindukan Doni, tapi kita juga tidak bisa membiarkan kamu menghancurkan dirimu sendiri.”
Laura menangis dengan lepas di pelukan Amelia, melepaskan semua beban yang telah ia tahan selama berhari-hari. Air matanya mengalir lebih deras, membasahi bajunya yang berwarna putih. Ia menangis bukan hanya karena rasa sakit kehilangan, tetapi juga karena merasa bersalah, rasa yang tumbuh dari bisikan emosional, tuntutan yang menyangkut alasan dan pertanyaan, mengapa Doni harus pergi? Sebuah desakan kesedihan dan kehilangan yang membuat ia merasa tidak layak untuk berbahagia.
Setelah beberapa saat, Laura mulai menenangkan diri, hal yang biasa terjadi pada seseorang yang sedang menangis tetapi kemudian kelelahan. Roni mendekatinya dan memberikan sapu tangan yang sudah ia siapkan. “Kamu tahu tidak, Laura? Doni pernah menunjukkan padaku beberapa foto yang dia ambil tentang kamu saat kamu sedang fokus mendesain, menulis atau mengambil gambar,” ujar Roni dengan nada yang lembut. “Dia bilang kamu adalah orang paling kuat yang pernah dia kenal, seorang wanita yang tidak pernah menyerah meskipun menghadapi rintangan besar. Dia selalu bangga padamu.”
Laura mengangkat wajahnya, memperlihatkan matanya yang merah dan sembab, namun kini ada sedikit kilatan di dalamnya. Ia melihat wajah-wajah sahabat-sahabatnya yang penuh dengan cinta dan perhatian, menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi beturan ini. Doni mungkin sudah tidak ada di dunia ini, tetapi cinta dan dukungan dari orang-orang terdekatnya masih ada dan selalu akan ada.
“Aku tahu kamu masih sakit. Dan itu tidak apa-apa,” ujar Ariana sambil duduk di tepi ranjang. “Kamu tidak perlu memaksakan diri, atau memaksa segera sembuh dan menjadi seperti dulu lagi secara instan. Akan tetapi, kamu harus mulai mencoba hidup lagi. Doni pasti ingin itu untukmu.”
Laura mengangguk perlahan, kemudian menoleh ke arah buku catatan yang masih terbuka di atas meja. Ia mengambil pena yang terletak di sebelahnya dan mulai menuliskan kata-kata baru: “Hari ke-3, dan akhirnya aku menyadari bahwa air mata yang kuhasilkan bukan hanya untuk menangisi kehilangan, tetapi juga untuk mencuci hati yang terluka agar bisa menerima cahaya lagi. Terima kasih untuk sebuah kenangan, karena telah memberiku gambaran cinta yang tak terlupakan. Dan terima kasih untuk Ariana, Amelia, dan Roni, teman-teman terbaik yang bisa kumiliki. Mungkin jalan menuju kesembuhan akan panjang dan penuh liku-liku, tetapi aku akan menghadapinya dengan tegar, seperti kebijaksanaan yang diajarkan kepadaku.”
Hujan mulai mereda perlahan, dan melalui celah tirai yang terbuka, bisa dilihat sedikit sinar matahari yang mulai muncul dari balik awan gelap. Seolah memberi tanda bahwa meskipun badai telah berlalu, jejaknya masih akan ada, tetapi busur pelangi selalu siap untuk melesatkan panah harapan baru. Laura menutup buku catatannya, kemudian melihat ke arah sahabat-sahabatnya dengan senyuman yang meskipun masih lemah, namun penuh dengan tekad untuk melangkah maju.
Ia tahu bahwa perjalanan untuk melupakan rasa sakit tidak akan mudah. Ada banyak malam yang akan datang di mana ia akan merindu, ada banyak momen di mana ingatan akan mereka berdua akan membuatnya menangis lagi. Namun ia juga tahu bahwa dengan dukungan dari orang-orang yang dicintainya, ia akan mampu menghadapi semua itu dengan kepala tegak dan hati yang semakin kuat. Buku catatan itu akan tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya, tempat untuk mencatat setiap air mata dan setiap langkah menuju kesembuhan. Karena seperti yang selalu identik dengan semangat cinta, air mata bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hati seseorang masih mampu merasakan kasih sayang dengan penghayatan tulus dan kedekatan yang penuh emosional.