Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 2
Pagi harinya seperti biasa, tak ada sarapan apapun di atas meja dapur. Sudah bisa tapi entah kenapa hari ini rasanya hatiku makin sedih.
"Ini ada lowongan kerja."
Aku menerima selembar kertas itu dari tangan ibuku.
"Kenapa ga ibu kasih saja pada kak Toni? Dia kan-"
"Suttt... Kalo kamu ga mau ya ga usah."
Ibu berlalu dari hadapanku. Aku membaca poster itu.
"Jadi kasir toko ya? Tapi lokasinya lumayan jauh dari rumah. Kalo nambah biaya buat naik angkot pengeluaran nya juga jadi nambah besar dong."
Aku mengurungkan niatku untuk melamar pekerjaan itu. Walaupun sepertinya gajinya lebih lumayan dari tempat kerjaku sekarang. Tapi jika dihitung-hitung pengeluarannya juga tambah besar karena ada ongkos naik angkotnya.
Aku meletakkan kertas itu dimeja. Meminum segelas air putih, lalu bersiap berangkat kerja.
...----------------...
Setelah sampai di warung bakso tempat kerjaku, aku langsung ke belakang. Menaruh tas slempangku di meja. Warungnya tidak buka pagi-pagi tapi aku harus berangkat pagi karna harus siap-siap sampai warungnya buka. Apalagi menjual makanan pasti persiapannya banyak.
"Manda, nanti saya ada acara sampai jam 12. Jadi, kamu jaga sendiri ga papa ya? Kalo semisal ramai sekali kamu telpon saya."
Aku mengangguk saja. Sebelum berangkat kerja saja aku merasa sudah lelah sekali. Apalagi di tambah hari ini aku harus berjaga sendirian. Semoga saja tak ramai seperti kemarin. Ucapku dalam hati.
Aku masih sibuk mencuci bahan-bahan yang akan dipotong. Sedangkan bosku, mba Nia sedang membuat baksonya.
Setelah semua selesai, mba Nia segera berpamitan untuk pergi.
Aku sendiri, tapi pekerjaanku belum selesai. Aku masih harus mengisi persausan yang habis. Mengisi kembali perbumbuan dan memotong sayuran.
Warung sudah dibuka. Walaupun baru 2 bulan tapi kemajuanku dalam melayani pelanggan dan meracik bakso sudah cukup mahir. Makanya, mba Nia bisa meninggalkanku sendirian di warungnya.
Hampir tengah hari aku sendirian. Semua terkendali. Pelanggan tak terlalu ramai siang ini. Bahkan aku masih bisa mencuci bekas mangkok di kran samping gerobak baksonya. Alias di depan. Tak mungkin kan kalau aku tinggal ke belakang.
Samar-samar aku mendengar orang yang sedang ribut. Suaranya tak begitu jelas, mungkin asalnya dari persimpangan di jalan depan.
"Ibu, itu ramai-ramai ada apa ya?" Aku bertanya pada ibu-ibu yang lewat di depan warung bakso. Rasa penasaranku muncul padahal biasanya aku cuek soal seperti ini.
"Oh, kamu yang adiknya Toni itu ya? Itu Toni habis nyerempet mobil orang." Kata ibu itu sambil menunjuk diriku. Nadanya seperti baru teringat hal besar.
"Nyerempet?"
"Iya itu mau dibawa ke polisi?"
Aku heran. Separah apa sampai mau dibawa ke polisi juga? Katanya kan cuma nyerempet, yang pasti hanya tergores saja kan?
Ibu itu sudah berlalu pergi setelah memerintahku untuk segera liat kejadian itu. Aku tak bisa langsung pergi. Aku masih bekerja.
"Biar ibu yang urus masalah ini." Gumamku seadanya karena warungnya kedatangan pelanggan.
"Nak, baksonya dua ya. Minumnya teh dingin tawar semua 2."
Aku mengangguk. Segera membuatkan pesanannya agar tak menunggu terlalu lama.
"Salah sendiri sih itu main bela diri sendiri. Udah tau salah malah ngeyel. Ya dilaporin ke polisi. Kapoklah."
"Iya! Malah omongannya lebih tinggi dari yang punya mobil. Saya aja kalo digituin marah juga itu."
Sembari membuatkan pesanan. Aku juga ikut mendengarkan obrolan pelangganku.
"Di denda banyak itu pasti buat benerin mobilnya. Mobil bagus begitu mahal pasti biaya bengkelnya."
"Iya ya. Aneh. Tumben ada mobil sebagus itu masuk desa ini."
"Heh! Itu kan mobil yang katanya punyanya orang yang mau beli sawahnya pak Kades. Mau bangun toko katanya."
Aku selesai membuatkan pesanan mereka.
'sepertinya nanti di rumah bakal ada masalah deh' gumamku dalam hati. Masalah kakaknya Toni.
"Manda!"
Aku terkejut. Ternyata bosnya Nia sudah kembali ke warung lagi.
"Kamu sudah tau berita soal kakakmu? Aku kaget sekali dijalan masih ramai orang."
Aku mengernyit heran. Apakah masalahnya serepot itu sampai memakan waktu yang lumayan lama? Bukannya kakaknya mau dibawa ke kantor polisi? Harusnya langsung dibawa saja, biar urusan kelar.
"Ah! Kamu pasti belum tau kan? Ibumu ngamuk-ngamuk di jalan sana karena kakakmu mau dibawa ke polisi." Cerita mba Nia sembari duduk di kursi depan gerobaknya.
"Ibuku juga disana?"
"Iya! Pasti bentar lagi bakal kesini cari kamu."
"Sudahlah mba. Aku sebenernya capek mba."
Mba Nia bangkit dari duduknya mengelus pundakku. Mungkin merasa iba padaku.
"Mba yang liat aja capek Man, apalagi kamu yang ngejalanin."
Aku mengangguk sedih. "Tapi disisi lain aku juga kasian sama mereka mba. Ga tau serba salah aja aku dimata mereka."
"Kalo ada kerjaan yang jauh, kamu mending ambil aja Manda. Seenggaknya kamu ga liat mereka. Pasti itu kakakmu juga ujung-ujungnya disuruh cepet nyari kerja sama ibumu."
Aku diam saja. Ide itu belum terlintas di otakku saat ini.
"Entahlah mba. Nanti saja mikirinnya."
Mba Nia mengangguk saja. Membiarkanku sendirian.
Seharian aku hanya terdiam. Mba Nia pun seperti mengertiku makanya dia diam saja.
Piliranku bercabang. Antara masalah kakaknya, uang tabungannya yang terus terpakai dan omongan mba Nia tadi soal mencari kerja yang agak jauh dari rumah.
"Ini gajimu hari ini."
Setelah hari yang terasa sangat panjang ini, aku menerima uang itu dari tangan bosku.
"Makasih mba."
"Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Kalau nanti kakakmu atau ibumu minta bantuanmu soal masalah tadi, bilang saja kamu belum digaji hari ini. Taruh gajimu. Biar mereka sadar kalau tanpa kamu mereka ga bisa apa-apa."
Aku hanya mengangguk. Tak berniat menjawab. Setelah berpamitan pada mba Nia, aku langsung bergegas pulang. Tak lupa mampir ke warteg untuk membeli nasi seperti biasa. 3 bungkus.
"Assalamualaikum." Ucapku seraya membuka pintu rumah.
Dari luar sudah terdengar suara ibu yang menangis menjerit-jerit. Sedangkan kakakku juga ikut-ikutan berbicara dengan nada keras.
Aku tak berniat menyapa atau apapun. Karena pasti ujung-ujungnya dia juga diseret-seret masalah kakaknya.
"Manda!"
Niatku yang ingin langsung masuk kamar terhenti oleh suara tinggi ibunya.
"Ga ada sopan santunnya sama sekali. Ada orang yang lebih tua bukannya permisi main nyelonong saja!"
Aku menghembuskan nafasku pelan. 'Tuhan tolong hilangkan diriku sekarang'
"Sini! Duduk kamu! Dan kamu Toni duduk dan diam!"
Ibu mendorong kakakku untuk duduk. Aku duduk di depan mereka. Tak mau menatap muka mereka, aku memutuskan sibuk dengan tasku.
"Manda. Tadi kakakmu kena masalah."
'kan! Sudah kuduga masalah ini.'
Aku diam saja. Mempersilahkan ibuku untuk melanjutkan ucapannya.
"Dia mau dilaporkan polisi. Padahal masalah sepele." Ibu mulai terisak. Entah hanya tipuan atau memang benar adanya dia sedang sedih.
"Iya! Masa kakakmu ini mau dipenjara katanya." Kakakku menambahkan.
"Kenapa?" Tanyaku pura-pura tidak tau.
"Kakak ga sengaja nyerempet mobil. Padahal cuma lecet sedikit. Tapi orangnya songong mau ngelaporin kakakmu ke polisi." Jelas kak Toni. Ibu masih terisak.
"Kok bisa?"
"Jalanan kecil tapi motornya ga mau minggir man." Muka kakakku murung. Tapi aku bisa liat jika itu hanya tipuan di depanku. "Kakak di denda. Suruh bayar biaya bengkel."
"Bayar lah kak. Biar ga dilaporin ke polisi." Aku hendak bangkit pergi ke kamar.
"Kakak ga punya uangnya."
"Kerja kak."
Ibu menghadangku untuk pergi. "Bantu kakakmu sekali ini aja man."
"Kenapa ga ibu aja yang bantu kakak?"
Ibu geram. "Kalo ibu ada uang udah bayar dari tadi Manda."
Aku berbalik badan. Tersenyum. "Nah! Makanya kerja. Jangan ngandelin aku mulu. Kalo ada apa-apa bingung kan?"
Plak
Ibu menamparku. Pipiku panas seketika.
"Apa salahnya kamu bantu keluargamu sendiri hah!"
Aku tertawa. "Keluarga? Keluarga yang hanya. Butuh uangnya saja begitu?" Air mataku merembes keluar. Aku tak ingin terlihat cengeng sekarang.
"Keterlaluan kamu Manda."
Aku tak memperdulikan lagi. Aku lari ke kamarku. Aku sudah tidak tahan.