NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

​Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
​Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Memori yang tak bisa lepas

Debu proyek berterbangan, bercampur dengan peluh yang mengucur deras dari dahi Ajil. Di bawah terik matahari siang yang menyengat kota, pria itu mengangkat sak semen seberat lima puluh kilogram di bahunya. Napasnya terengah, langkah kakinya gontai terseret-seret sepatu safety beralas karet yang solnya sudah menipis. Otot-otot tangannya menegang, urat-urat menonjol di balik kulitnya yang menghitam terbakar matahari. Namun, bukan beban semen itu yang membuat tubuhnya serasa hancur, melainkan beban pikiran yang terus menggerogoti kewarasannya.

Di tengah deru mesin molen yang memekakkan telinga, bayangan Ami kembali berkelebat. Tawa lembut wanita itu, caranya menyisir rambut, dan caraya menatap Ajil saat menyusui Dara, terus berputar bagai kaset rusak di dalam kepalanya. Memori itu begitu hidup, seolah jika Ajil mengulurkan tangannya, ia bisa menyentuh pipi istrinya lagi. Firasat dan rasa rindu itu begitu menyiksa hingga tanpa sadar, langkah Ajil goyah. Perhatiannya terpecah.

Bruk!

Kaki Ajil tersandung batangan besi ulir yang melintang di tanah. Tubuhnya limbung ke depan. Sak semen di bahunya terlepas, menghantam tumpukan batu bata hingga pecah berantakan. Bubuk abu-abu pekat mengepul ke udara, menutupi sebagian wajah dan pakaian kerjanya yang memang sudah lusuh.

"Ajil! Apa yang kau lakukan, hah?!" Teriakan kasar sang mandor proyek menggelegar mengalahkan suara bising mesin. Pria gempal bertopi proyek kuning itu berjalan menghampiri Ajil dengan wajah memerah menahan marah. "Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini kau merusak material! Kalau kau kerja sambil melamun, lebih baik kau angkat kaki dari proyekku sekarang juga! Perusahaan tidak mau rugi mempekerjakan mayat hidup sepertimu!"

Ajil hanya diam mematung. Ia menunduk menatap bubuk semen yang berserakan di ujung sepatu botnya. Tidak ada bantahan, tidak ada pembelaan. Energinya sudah terlalu habis terkuras oleh duka untuk sekadar berdebat. Dengan tangan gemetar yang masih dipenuhi sisa debu, Ajil memungut tas kanvas usangnya. Ia dipecat. Lagi.

Harapannya untuk mengirimkan uang susu untuk Dara dan Arzan bulan ini kembali sirna.

Malam turun menyelimuti kota dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Angin malam berhembus kasar, menerbangkan dedaunan kering dan sampah plastik di trotoar jalan raya yang masih dilintasi kendaraan. Ajil duduk di sebuah halte bus yang sepi dan remang-remang. Lampu jalan di atasnya berkedip-kedip redup, seolah ikut merasakan keputusasaan pria itu.

Tangan Ajil merogoh saku jaket parasutnya yang sudah kehilangan fungsi menahan dingin. Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit berwarna cokelat yang pinggirannya sudah mengelupas. Saat ia membuka ritsletingnya yang macet, matanya menatap nanar pada isi dompet tersebut. Kosong. Hanya tersisa selembar uang kertas berwarna hijau kusam. Dua puluh ribu rupiah. Itulah sisa dari seluruh harga dirinya bulan ini.

Perutnya berbunyi nyaring, perih melilit. Sejak pagi ia hanya mengonsumsi air putih dari keran proyek. Ia menatap uang dua puluh ribu itu cukup lama. Ia harus makan agar bisa bertahan hidup dan mencari pekerjaan lain besok pagi. Dengan langkah terseret yang terasa dua kali lipat lebih berat, Ajil bangkit dan berjalan menuju cahaya neon putih dari sebuah minimarket yang berada di seberang jalan.

Suara denting bel pintu minimarket menyambutnya. Udara dingin dari AC toko langsung menampar wajahnya yang kuyu. Ia berjalan menyusuri lorong, melewati rak-rak makanan mahal, hingga matanya tertuju pada keranjang berisi roti manis sisa kemarin yang didiskon. Ia mengambil satu bungkus roti isi cokelat yang kemasannya sudah sedikit lecek seharga delapan ribu rupiah, dan sebotol air mineral ukuran sedang. Total belanjanya tidak lebih dari dua belas ribu. Masih ada sisa delapan ribu rupiah yang ia genggam erat-erat di saku celananya.

Selesai membayar di kasir dengan tatapan kosong, Ajil keluar dari minimarket. Ia merobek bungkus roti itu dengan gigi, menggigit pinggirannya yang terasa sedikit alot. Roti cokelat yang manis itu terasa hambar di lidahnya yang sudah mati rasa.

Ia berjalan gontai menuju tepi jalan raya untuk menyeberang. Sambil mengunyah, sebelah tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah telepon pintar dengan layar yang retak di bagian ujungnya. Ibu jarinya mengusap layar, membuka kunci, dan menampilkan gambar yang menjadi latar belakang ponselnya.

Di layar itu, Ami tersenyum sangat cantik. Rambut hitam panjangnya tergerai ditiup angin. Di gendongannya, bayi Dara sedang tertidur pulas, sementara Arzan kecil memeluk kaki Ami sambil tertawa lebar ke arah kamera. Ajil ingat betul hari itu; mereka sedang piknik di taman kota. Sebuah momen sederhana yang kini nilainya jauh lebih mahal dari seluruh bongkahan berlian di dunia.

Langkah Ajil terhenti di tengah zebra cross.

Matanya terpaku pada layar ponsel. Lampu lalu lintas untuk pejalan kaki sebenarnya masih merah, dan lampu hijau untuk kendaraan telah menyala, namun Ajil tidak melihatnya. Dunia di sekitarnya seolah menjadi bisu. Suara klakson yang bersahutan, deru mesin, dan dinginnya malam menghilang. Yang ada di pandangannya hanyalah senyuman Ami. Setetes air mata jatuh membasahi layar ponselnya yang retak.

Sambil menatap lekat foto itu di tengah aspal jalanan, Ajil menggumamkan sebuah kalimat dengan suara parau yang sarat akan luka.

"Kenangan adalah harta karun terindah bagi mereka yang ditinggalkan, namun sekaligus penjara paling kejam bagi mereka yang tak mampu melangkah maju."

Ia tidak sadar. Sama sekali tidak sadar.

Di ujung jalan, sebuah mobil sedan hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Entah bagaimana, roda depan mobil itu tiba-tiba membelok tajam dengan sendirinya seolah ada tangan tak kasat mata yang memutar kemudinya secara paksa. Mobil itu kehilangan kendali, membelah lajur jalan, dan mengarah tepat ke tubuh Ajil yang masih berdiri terpaku menatap layar ponselnya.

Sinar lampu utama mobil yang menyilaukan tiba-tiba menyorot wajah Ajil. Pria itu mendongak secara refleks. Waktu seakan melambat. Suara decitan ban yang bergesekan keras dengan aspal terdengar memekakkan telinga. Namun semuanya terlambat.

BRAKKK!!

Hantaman keras itu menghancurkan tulang rusuknya seketika. Tubuh Ajil terpental ke udara bagai boneka kain yang rusak, melayang beberapa meter sebelum akhirnya menghantam aspal dengan suara tulang berderak yang mengerikan. Darah segar menyembur, menodai aspal jalanan yang dingin. Roti cokelatnya terlempar jauh. Layar ponselnya hancur berkeping-keping di samping kepalanya, namun senyuman Ami dari balik kaca yang retak itu masih menyala redup sebelum akhirnya layar tersebut mati total.

Rasa sakit yang luar biasa membakar seluruh sarafnya hanya dalam sepersekian detik, sebelum kegelapan yang absolut menelan kesadarannya. Napas Ajil terhenti. Jantungnya berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya memudar menjadi kehampaan.

Tetesan air...

Bunyi gemericik air yang sangat jernih adalah hal pertama yang menyapa pendengaran Ajil. Perlahan, kehangatan yang asing mulai meresap ke dalam pori-pori kulitnya. Tidak ada rasa sakit. Tulang rusuknya yang hancur, kepalanya yang pecah terbentur aspal, semuanya hilang tanpa bekas.

Ajil memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk terbuka. Ia tersentak pelan. Tidak ada aspal dingin. Tidak ada bau anyir darah. Tidak ada bising kendaraan.

Pria itu mendapati dirinya tengah berbaring di atas lantai marmer putih yang memancarkan pendaran cahaya keemasan. Ia buru-buru bangkit dan duduk. Matanya membelalak lebar, mencoba memproses pemandangan tidak masuk akal di sekelilingnya.

Ia berada di dalam sebuah kuil raksasa yang arsitekturnya melampaui akal sehat manusia. Panggung tempatnya berada adalah sebuah altar bundar seluas lapangan bola, terbuat dari batu kristal transparan. Di sekeliling altar itu, pilar-pilar putih setinggi puluhan meter menjulang ke atas, menyangga langit-langit yang tak terlihat ujungnya. Namun yang paling gila adalah pemandangan di luar pilar-pilar tersebut. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah lautan awan putih yang bergulung-gulung lembut bagai ombak di samudra, membiaskan cahaya matahari yang terasa hangat dan suci. Ia berada di atas langit entah berantah.

"Di... di mana aku? Apakah ini surga? Aku... aku sudah mati?" gumam Ajil, suaranya menggema di ruangan raksasa tersebut. Tiba-tiba ia teringat anak-anaknya. "Arzan... Dara... Tidak! Aku tidak boleh mati! Aku harus pulang!"

"Kau berada di batas antara keabadian dan kefanaan, Wahai Jiwa yang Terluka."

Sebuah suara lembut, namun memiliki resonansi magis yang membuat jantung Ajil bergetar, mengalun dari arah depan. Suara itu seolah tidak terdengar melalui telinga, melainkan langsung bergema di dalam kepalanya.

Ajil menoleh dengan cepat. Di ujung altar, dari balik kabut awan yang tipis, sesosok entitas melangkah maju dengan keanggunan yang absolut. Ia adalah seorang wanita dengan kecantikan yang tidak bisa dideskripsikan oleh bahasa manusia manapun. Rambutnya berwarna perak bercahaya, menjuntai menyapu lantai marmer setiap kali ia melangkah. Ia mengenakan gaun sutra berlapis-lapis berwarna putih bersih yang berkibar tanpa tertiup angin. Di keningnya, terdapat sebuah permata kristal berwarna biru samudra yang memancarkan aura kehidupan. Matanya berwarna keemasan, menatap Ajil dengan pandangan yang penuh welas asih, namun sekaligus menyimpan otoritas absolut seorang pencipta.

"Selamat datang di Kuil Alura," ucap sosok agung itu, suaranya bagai dentingan lonceng perak yang menenangkan jiwa. "Aku adalah Dewi Lumira. Pengurus sekaligus penjaga keseimbangan dunia yang dikenal sebagai Ridokan."

Ajil menatap sosok itu tanpa berkedip. Mulutnya terasa kelu. Angin dari lautan awan berhembus pelan, menerpa wajahnya yang kebingungan, menandai titik awal di mana takdir seorang kuli bangunan yang hancur akan segera dirombak menjadi sang algojo dimensi yang ditakuti seluruh semesta.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!