Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Semalam
Keesokan harinya,
Arkan terbangun dengan kepala yang terasa berdenyut.
Ia tersentak saat menyadari dirinya tidak mengenakan busana.
"Apa? Kenapa aku seperti ini? wanita itu?dimana dia?"
Arkan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Bercak merah seperti darah dan cairan putih terlihat di seprai,
Apa yang sudah kulakukan pada pelayan itu? Aku benar-benar hilang kendali..."
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Nama 'Baskara Mahendra' terpampang di layar.
"Kamu di mana?! Kenapa tidak pulang semalaman, Arkan?
Ayah menyuruhmu mencari istri dan memberikan cucu, bukan kelayapan!
Kita butuh pewaris untuk penerusmu!"
Arkan tidak membalas. Ia mematikan teleponnya dengan kasar.
Pikirannya buntu.
dimana wanita semalam? Kenapa dia menghilang? aku bahkan tidak mengingat wajahnya, apalagi namanya.
Sepanjang perjalanan ke kantor,
Arkan tidak bisa fokus.
Bayangan samar tentang wanita yang ia renggut paksa malam itu terus menghantuinya.
Sementara zevanya kembali ke hotel dengan Langkah kaki yang terasa berat,
ia kembali memasuki lobi hotel untuk bekerja.
Meski tubuhnya terasa remuk dan hatinya hancur,
ia tidak punya pilihan.
Ia harus bekerja.
Dengan sisa keberanian yang ada,
ia merapikan seragamnya,
berusaha menutupi bercak kemerahan di lehernya dengan kerah baju yang dikancing tinggi.
Matanya tertuju pada pintu kamar yang semalam menjadi saksi bisu kehancurannya.
Dengan tangan gemetar,
Zevanya memberanikan diri mendekat.
Ia menarik napas panjang,
lalu perlahan membuka pintu yang sedikit terbuka itu.
Kosong.
Pria itu sudah tidak ada.
Kamar itu tampak berantakan,
sprei yang terlihat bercak darah dan cairan putih beserta aroma maskulin bercampur alkohol masih tertinggal,
membuat zevanya mengingat kejadian kenikmatan semalam.
"Dia sudah pergi,"
gumam zevanya.
Zevanya terduduk di tepi ranjang.
Ia menyentuh permukaan kasur yang masih terasa dingin.
"Jika sesuatu terjadi padaku nanti... aku bahkan tidak bisa menyalahkannya.
Aku tidak mampu menolaknya semalam, meski dia memaksaku dengan begitu keras."
Air mata kembali menetes.
Penyesalan itu datang bertubi-tubi.
Bagaimana mungkin aku membiarkan diriku terjebak dalam situasi seperti ini?
"Bodoh... Zevanya, kamu benar-benar bodoh,"
Tangis Zevanya.
"Bagaimana ini? Aku benar-benar tidak ingat wajahnya.
Yang kuingat hanya sorot matanya yang tajam dan dingin..."
Ia mencoba mencari cari detail kecil.
Sebuah jam tangan mewah? Atau mungkin kartu nama?
Ia mulai mencari di sekitar meja dan bawah bantal,
berharap pria itu meninggalkan sesuatu—bukan untuk menuntut.
tapi setidaknya dia tahu wajah atau nama pria yang semalam tidur bersama nya.
Namun, hasilnya nihil.
Pria itu pergi seolah-olah Zevanya hanyalah mimpi buruk yang harus segera dilupakan.
Sementara itu,
di perusahaan milik keluarga Mahendra,
mobil mewah yang berwarna hitam legam berhenti tepat di depan pintu lobi.
Arkananta Mahendra turun dengan kacamata hitam,
menutupi matanya yang masih sedikit merah karena sisa mabuk semalam.
Ia menghentikan asisten pribadinya Rio,
yang sudah menunggunya dengan berkas di tangan.
"Rio, cari tahu siapa pelayan wanita yang bertugas membersihkan hotel lantai empat semalam tempat saya Menginap,"
perintah Arkan dengan suara dingin tanpa ekspresi.
Rio sedikit terkejut,
namun segera mengangguk patuh.
"Baik, Tuan Arkan. Ada masalah dengan pelayanan mereka?"
Arkan terdiam sejenak.
Ia teringat sentuhan tangan yang gemetar dan desahan pelan di kamar terkunci itu.
Sesuatu yang seharusnya hanya pelampiasan,
justru meninggalkan rasa penasaran yang aneh di hatinya.
"Hanya... ada sesuatu yang tertinggal di sana," jawab Arkan.
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪