Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki tanpa perasaan
"Hari ini kita akan pulang ke rumah orangtuaku. Kalau mereka tanya tentang malam pertama kita, kamu harus jawab kalau kita udah ngelakuin 'hal' itu. Ngerti, kan?"
Aliya mengangguk mengerti. Dia berusaha terlihat baik-baik saja meski sikap Ibas masih sama dinginnya seperti tadi malam.
"Kalau gitu, ayo kita pulang!" ajak Ibas. "Nih, koper aku tolong bawain!" lanjutnya seraya mendorong koper besar yang entah apa isinya kepada Aliya.
Dia melangkah lebih dulu tanpa mempedulikan sang istri. Di belakangnya, Aliya mengekor dengan susah payah karena langkahnya yang tidak selebar langkah Ibas. Ditambah lagi, koper besar Ibas sungguh sangat berat. Aliya benar-benar merasa kerepotan.
"Ck, bisa cepetan dikit nggak, sih? Lelet amat jadi orang," omel Ibas yang sudah masuk lift sementara Aliya masih tertinggal cukup jauh.
"Iya, Mas. Sebentar," sahut Aliya yang susah payah membawa koper Ibas sekaligus tas jinjing miliknya.
Karena tidak sabaran, Ibas pun menekan tombol lift hingga pintu benda kotak tersebut tertutup rapat sebelum Aliya tiba.
Padahal, jaraknya tinggal lima langkah lagi. Tapi, Ibas dengan teganya malah meninggalkan Aliya begitu saja.
"Mas..." pekik Aliya panik.
Dia berusaha menekan tombol lift. Berharap, pintu itu bisa terbuka kembali. Sayangnya, sudah terlambat.
Terpaksa, Aliya harus menaiki lift yang lain agar tiba lebih cepat di lobi hotel.
"Kenapa lama banget, sih?" gerutu Ibas setelah Aliya akhirnya tiba di lobi.
"Kenapa Mas Ibas malah ninggalin aku?" tanya Aliya. Gadis itu terlihat berkeringat dan kelelahan.
"Siapa suruh kamu lelet," jawab Ibas dengan nada ketus.
Pria itu kembali melangkah lebih dulu dibanding Aliya. Sekali lagi, dia tak peduli, meski sang istri kewalahan membawakan koper besarnya.
"Naik!" titah Ibas.
"Kopernya gimana, Mas?" tanya Aliya.
"Ya, kamu masukin ke dalam bagasi dong, Aliya! Masa' gitu aja mesti diajarin, sih?" sahut Ibas.
"Tapi, ini berat banget, Mas. Sebenarnya, Mas Ibas bawa apa aja, sih? Batu?"
Mata Ibas sedikit terbelalak karena kaget. Pasalnya, dia tak menyangka jika Aliya akan menebak dengan benar.
Isi koper besar miliknya memang batu. Dia sengaja mengisi kopernya dengan batu karena ingin mengerjai Aliya.
Menurutnya, itu adalah bentuk balas dendam untuk perempuan yang berani merebut posisi Nadia sebagai istrinya.
"Nggak usah banyak protes! Buruan taro kopernya di bagasi! Kalau nggak, aku tinggal nih!" ujarnya disertai ancaman.
Susah payah, Aliya menaikkan koper tersebut ke dalam bagasi. Ibas yang melirik lewat kaca spion tampak tertawa cekikikan tanpa suara. Puas rasanya mengerjai Aliya.
"Nanti, pas sampe rumah, kamu jangan berani jelek-jelekin aku di depan Ayah dan Bunda, ya!Awas aja kalau kamu berani."
"Iya, Mas," angguk Aliya.
Gadis itu menghela napas panjang. Hari kedua, masih belum ada perkembangan. Ibas masih sama seperti kemarin. Bedanya, hari ini pria itu cukup banyak bicara.
Sesampainya di rumah orangtuanya, Ibas segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Aliya.
"Ayo turun!" ajak Ibas. tangannya terulur, menunggu Aliya untuk menyambutnya.
Sang istri tertegun. Aliya merasa jika dirinya sedang bermimpi. Perubahan sikap Ibas hampir membuatnya lupa bagaimana jahatnya pria itu memperlakukan dia sebelumnya.
"Aliya? Kenapa malah ngelamun, sih? Buruan turun!"
Aliya tersentak dari lamunannya. Sedikit kagok, dia menerima uluran tangan Ibas kemudian turun dari mobil.
"Jangan lupa pasang muka senyum!" bisik Ibas.
Aliya pun segera melakukan hal yang diperintahkan suaminya. Dia tersenyum saat beberapa ART menyambutnya di depan rumah.
"Ya ampun, anak-anak Bunda sudah datang rupanya," sambut Nyonya Saraswati. Dia menghampiri anak dan menantunya dengan tidak sabaran.
"Gimana tadi malam? Seru, nggak?" tanya Nyonya Saraswati.
Menantunya tampak kebingungan. Aliya tidak tahu harus menjawab apa.
"Bunda mau tahu aja," sahut Ibas. "Pokoknya, Ibas pastikan, Bunda akan menimang cucu secepatnya."
Mendengar kalimat sang suami, Aliya sontak menoleh karena terkejut. Apa-apaan ini? Bagaimana mungkin Ibas bisa berbohong seperti ini kepada Ibunya sendiri?
Bukankah, Ibas bilang jika dia tak akan pernah jatuh cinta pada Aliya? Tapi, kata-kata Ibas barusan seperti mengisyaratkan bahwa mereka pasti akan memiliki anak secepatnya.
Tapi, bagaimana mungkin mereka memiliki seorang anak jika tak saling cinta?
"Benar begitu, Aliya?" tanya Nyonya Saraswati kepada sang menantu.
Aliya terlihat bingung harus menjawab apa. Ibas yang berdiri di sebelahnya pun langsung mencubit pinggangnya.
"Bilang aja iya," bisik Ibas.
Aliya pun terpaksa mengatakan 'iya' sesuai perintah sang suami.
"Kalau begitu, kalian istirahat dulu aja ya, di kamar! Bunda akan minta ke Bi Surti untuk segera siapin makanan."
"Oke, Bun!" angguk Ibas. Dia segera menarik tangan Aliya menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Sesampainya didalam kamar, Ibas langsung melepaskan tangan Aliya. Ekspresinya terlihat jijik. Sebungkus tisu basah dia ambil dari laci nakas kemudian mengelap tangannya seolah baru saja menyentuh sesuatu yang sangat kotor.
"Harus banget ya, di lap kayak gitu?" tanya Aliya.
"Ya iyalah. Namanya juga habis pegang sesuatu yang kotor, kan?"
Degh!
Dada Aliya mendadak terasa nyeri. Sepasang mata indahnya tampak mulai memerah.
"Nggak usah pasang ekspresi sedih begitu! Percuma! Sampai kapanpun, Aku nggak akan pernah simpati sama kamu."
Aliya menarik napas panjang untuk mengusir sesak didalam dadanya. Dia pun tampak tersenyum kecil.
"Mas, aku pasti akan bikin jatuh cinta sama aku," lirihnya sambil tersenyum getir.
Seingatnya, Ibas yang dulu tidaklah seperti ini. Ibas yang dulu adalah lelaki yang baik hati dengan tutur kata yang begitu lembut.
Ibas bahkan selalu melindunginya saat dirinya mengalami perundungan di sekolah dulu. Sayangnya, saat Ibas lulus SMA, dia dan Ibas tak pernah bertemu lagi hingga hari pernikahan mereka akhirnya ditetapkan sebelum sang Ayah meninggal dunia.
"Coba aja!" sahut Ibas sambil merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Pria itu tampak memainkan ponselnya. Tak lama, sebuah panggilan masuk membuat senyum Ibas langsung merekah lebar.
"Halo, Sayang!" sapa seorang wanita dengan nada yang begitu ceria.
Tubuh Aliya sontak membeku. Ia tak bisa bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri sekarang.
"Gimana sama pernikahan kamu? Lancar?" lanjut wanita itu bertanya.
"Ya, lancar," jawab Ibas seolah tak peduli pada keberadaan Aliya. Dia bahkan tidak perlu sembunyi-sembunyi hanya demi mengangkat telepon dari sang kekasih. Semuanya dia lakukan tepat dihadapan istri sahnya.
"Jadi, sekarang kartu bank kamu udah nggak dibekukan lagi, kan?"
"Ya iya dong, Sayang! Sekarang, kartu bank aku udah bisa digunain kayak biasanya."
"Syukurlah kalau gitu," ujar perempuan itu seraya bernapas lega.
"Sayang, kapan kamu balik?" tanya Ibas kepada sang kekasih.
"Mungkin, dua bulan lagi. Kamu yang sabar, ya!" jawab perempuan tersebut. "Tapi, kalau aku pulang nanti, gimana sama perempuan itu?"
"Aku kan udah bilang kalau aku akan ceraiin dia demi kamu."
"Tapi, gimana kalau Ayah kamu marah lagi sama kamu?"
"Kamu nggak usah pedulikan soal itu. Masalah Ayah, biar aku aja yang urus."
Tanpa sadar, Aliya mengepalkan tangannya dengan erat hingga kuku-kukunya yang sedikit panjang menusuk telapak tangannya.
Hatinya sakit sekali. Namun, untuk mengajukan protes, dia juga tak memiliki kemampuan.
Yang bisa dia lakukan hanyalah menangis. Dan, Ibas yang melihat air matanya mengalir deras justru tersenyum senang.
"Nadia... i love you! Aku berharap kamu bisa secepatnya ada di sini, Sayang!" ucapnya penuh penekanan seraya tersenyum mengejek ke arah Aliya.
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺