Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.
Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.
Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.
Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Pranikah
Setelah merasa lebih tenang, Amara pun memberanikan diri untuk menatap Sagara lebih tegas. Instingnya yang tajam dapat menangkap motif terselubung dari ucapan Sagara dengan mudah.
"Pernikahan macam apa yang Anda inginkan, Tuan Sagara?" tanya Amara sedikit menantang meski belum memiliki jawaban pasti.
"Panggil saja Sagara. Aku butuh pernikahan untuk mencairkan warisanku. Aku butuh itu untuk mengembangkan bisnis dan mencari kekasihku yang menghilang seminggu sebelum pernikahan kami," jawab Sagara datar tanpa ekspresi.
"Lalu, apa keuntungannya untukku, Sagara?" tanya Amara tanpa basa-basi meski sebenarnya ia penasaran mengapa lelaki kaya itu ditinggal kekasihnya.
"Cerdik," puji Sagara sedikit terkesan dengan ketegasan Amara yang dapat menangkap maksud dan berani menyampaikannya secara terus terang.
"Untuk biaya rumah sakit, lunas dan kamu nggak usah mengganti. Anggap saja aku sedang menunaikan nafkah lahirku sebagai suami, jika kamu bersedia. Aku tidak akan macam-macam denganmu dan kamu nggak harus melayaniku seperti istri pada umumnya. Lalu, akan kubebaskan kamu dari pernikahan kontrak ini kalau kekasihku sudah kembali. Kamu bisa hidup normal dan kujamin untuk hakmu setelah bercerai. Selain itu... kamu boleh meminta apa pun selagi aku mampu memenuhinya," papar Sagara begitu lancar.
Amara pun menyimak dengan takzim. Kepalanya mangut-mangut seperti anak TK sedang diberi instruksi oleh gurunya.
"Aku boleh tetap kerja?" tanya Amara penuh harap.
"Terserah. Kamu nggak kerja juga aku bisa memenuhi kebutuhanmu. Kalau mau kerja, aku nggak melarang. Mau tetap bekerja di tempat sebelumnya juga nggak masalah," jawab Sagara tegas dan bijak.
Amara pun diam sesaat. Ia mulai menimbang berbagai kemungkinan, sedangkan Sagara masih menunggu dengan dingin dan sabar.
"Boleh minta satu hal?" tanya Amara melembut.
Sagara pun mengangguk sembari mengedipkan mata sekali. Kemudian, ia menajamkan tatapannya kepada Amara sebagai tanda siap mendengar dengan saksama.
"Bantu aku cari pekerjaan di kota," pinta Amara lirih dengan tangan menangkup di depan wajah.
Sagara menautkan alis. Bibir kanan atasnya sedikit terangkat. Cukup lama ia menunggu lanjutan dari kalimat Amara namun tak ada juga.
"Udah? Itu aja?" tanya Sagara bingung.
"Iya," jawab Amara sambil melipat tangannya di meja.
Sagara pun memejamkan mata sejenak sembari menarik napas dalam-dalam. Kemudian, ia mengembuskan perlahan dengan perasaan lebih lega. Senyum tipis menyungging di bibirnya yang seperti malas untuk bergerak. Ia pun mengikuti Amara dengan melipat tangannya di atas meja.
"Astaga. Kupikir permintaan sesulit apa sampai kamu meminta dengan wajah seserius itu," ucap Sagara dengan sedikit nada mengeluh namun lebih bersahabat dari sebelumnya.
"Mencari kerja itu sulit loh," protes Amara melirik Sagara sedikit sinis.
"Sulit? Kamu bilang mencari kerja sulit?" tanya Sagara dengan ekspresi meremehkan.
Aih dasar orang kaya. Songong kali mulutnya. Dia mah dari lahir ceprot saja udah dijamin pekerjaan sampek dana pensiunnya. Nggak ngerti gimana sulitnya cari kerja dan mendapat gaji yang layak. Gerutu batin Amara sedikit iri.
"Mau kerja apa?" tambah Sagara mencondongkan badannya ke arah Amara dengan tatapan yang tiba-tiba menghangat.
Amara pun sedikit canggung melihat Sagara cukup antusias menunggu jawabannya. Jantungnya mendadak berdetak lebih kencang tatkala melihat perubahan dari tatapan lelaki itu.
"Memang segampang itu?" tanya Amara tak percaya.
"Kalau kamu mau menikah denganku, kamu bisa pilih pekerjaan sesukamu," tawar Sagara lebih serius.
"Apa nggak bahaya kalau kekasihmu kembali dan kamu sudah menikah?" tanya Amara bimbang.
"Dia paham bahwa hati dan perasaanku hanya miliknya. Mau aku menikahi empat perempuan lain pun, aku nggak akan bisa lepas dari dia. Dia pasti akan memahami, menikahi perempuan lain adalah satu batu loncatanku untuk masa depan kami. Makanya, kamu harus mempersiapkan diri untuk perpisahan kita. Aku nggak tahu kapan dia akan kembali," jawab Sagara sangat percaya diri dan matanya berbinar penuh kebanggaan.
Beruntung sekali perempuan itu. Dicintai dan diperjuangkan secara ugal-ugalan. Andaikan Raka... Aih sudahlah. Lupakan. Dia udah jadi suami orang, Mara. sambat batin Amara sedikit mengenang kisah cintanya yang lebih tragis dari sekadar ditinggalkan.
Cukup lama Amara diam dan terlarut dalam lamunan hingga membuat Sagara bingung. Ia pun tersadar kembali ketika jitakan Sagara mendarat pelan di keningnya.
"Ih... Kenapa dijitak segala?" keluh Amara sambil mengusap keningnya meski sebenarnya tak sakit.
"Dengerin nggak sih?" tanya Sagara penuh penekanan.
"Denger kok. Cuma bingung gimana nanggapinnya. Oh iya, one more question," ucap Amara sambil mengacungkan jari telunjuknya.
Sagara pun mengangkat kedua alisnya. Kemudian, mengiyakan dengan isyarat anggukan.
"Kalau kita menikah dan aku tidak harus melayanimu. Terus aku ngapain? Apa nggak dibilang durhaka sama keluargamu?" tanya Amara tak dapat membayangkan sama sekali.
"Di depan keluargaku, kita bisa berakting layaknya suami istri romantis. Di luar, ya kita masing-masing. Mungkin juga, kita perlu merahasiakan pernikahan kita dari banyak orang. Cukup keluarga kita yang tahu. Nanti, kamu fokus aja ke dirimu sendiri dan kembangkan semua potensimu. Aku akan support penuh secara finansial. Aku nggak akan mengekangmu. Aku nggak akan merusakmu. Jadi, kalau nanti tiba saat kita berpisah, kamu sudah bisa lebih mandiri dan punya kehidupan lebih baik dibanding saat ini," tegas Sagara sedetail mungkin.
Pernikahan macam apa ini? Dia support penuh untuk mempersiapkan perpisahan yang lebih baik? Sekilas greenflag banget dalam hal tanggung jawab, tapi gila sih ini. Gitu ya jadi orang kaya. Apa saja bisa dibeli, bahkan pernikahan. Amara membatin dengan rasa terheran-heran mendengar penuturan Sagara.
Amara berpikir sejenak. Bola matanya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri membuat ekspresinya sedikit dramatis. Beberapa kali juga matanya menyipit dan membola seperti sedang ada perdebatan sengit di kepalanya.
"Baik. Deal," cetus Amara nekat sambil berdiri dan mengulurkan tangan sebagai tanda sepakat.
Sagara tersenyum dan menyusul berdiri. Dengan lega, ia segera menjabat tangan Amara mantap. Pikirannya pun berangsur tenang karena tinggal memikirkan bagaimana menemukan Denisa, kekasihnya yang sudah berbulan-bulan hilang.
"Deal," sahut Sagara dengan wajah berseri-seri.
Maafkah aku, Ibu, Bapak, Nenek. Aku terpaksa jadi istri kontrak sementara karena sepertinya nggak ada pilihan lain yang lebih baik untuk saat ini. Aku nggak bisa terus bertahan di desa karena gajiku jauh dari kata layak dan aku benar-benar nggak tahan lagi dengan ucapan mereka. Raka sudah menikah. Aku nggak punya harapan lagi selain tetap hidup dan bekerja. Biarkan aku move on dengan cara seperti ini. Bukan dengan lelaki lain, tapi dengan menyibukkan diri dengan hal baru. Aku ingin menjauh dari segala tentang Raka. Rintih hati Amara.
...****************...
Tak mau buang-buang waktu, Sagara dan Amara pun langsung membuat perjanjian pranikah. Bahkan, Sagara sudah mempersiapkan dua materai untuk menjaga legalitas perjanjian mereka. Poin paling pertama dalam perjanjian itu adalah "dilarang saling jatuh cinta". Poin tersebut sangat ditekankan di awal karena memang pernikahan mereka bukan bertujuan untuk selamanya. Selain itu, mereka juga menuliskan batasan privasi masing-masing yang tidak dapat diganggu gugat. Pokoknya ditulis sedetail mungkin sampai dalam hal cara bersikap ketika bertemu keluarga, bertemu teman, dan sedang berdua. Mereka berdua sepertinya memang benar-benar gila hingga menghabiskan satu jam untuk menulis perjanjian yang mereka yakini akan benar-benar ditepati.
Setelah perjanjian pranikah ditandatangani, Sagara membawa Amara menemui keluarganya tanpa menunggu besok-besok. Awalnya, ia ingin membawa Amara ke salon dan membelikannya pakaian baru. Namun, ia mengurungkan niat itu kala merasa penampilan casual Amara yang hanya memakai celana jeans dipadu hoodie cream dengan cepol ekor kuda sepertinya lebih natural. Ia pun merasa tak masalah dengan penampilan Amara karena ya itu seperti duplikat dia versi beda gender saja. Mungkin, keluarganya akan lebih percaya dengan penampilan apa adanya itu.
Sesampainya di kediaman keluarga Sagara, mendadak kaki Amara terasa lemas. Wajahnya pun memucat seakan melihat hal yang sangat mengerikan. Tangannya pun dingin dan gemetar menahan perasaan takut yang sulit dijelaskan. Ia tak pernah membayangkan akan masuk ke rumah sebesar dan setinggi harapan orang tua. Mendadak, nyalinya menciut dan menyesal telah menerima perjanjian itu.
Bahkan setelah turun dari mobil Sagara, langkah Amara benar-benar goyah. Lantai marmer eksklusif di teras saja seolah melirik sinis dan enggan diinjak sepatu 50.000 miliknya. Ia pun hanya diam sambil berharap bahwa itu hanya mimpi dan ingin segera terjaga.
"Ayo masuk!" ajak Sagara berdiri di samping Amara yang masih bungkam.
"Batalin aja deh. Aku nggak bisa," sahut Amara dengan suara datar dan tatapan kosong ke depan.
"Nggak bisa lah. Kita udah buat kesepakatan di atas materai. Awas aja kalau mangkir," ancam Sagara tak mau tahu.
"Aku takut mempermalukan kamu dan keluargamu, Sagara," tegas Amara masih setengah mengawang pikirannya.
"Aku udah biasa mempermalukan keluargaku. Jadi, santai aja. Mereka udah biasa dipermalukan," sahut Sagara berusaha meyakinkan.
Amara pun menoleh ke Sagara. Tanpa babibu, ia pun langsung menabok lengan Sagara dengan keras.
"Aih... Kamu nggak ngerti. Aku nggak bisa. Gap kita terlalu jauh, Sagara. Aku makan singkong, kamu makan keju. Kita nggak bisa bersatu di piring yang sama. Terlalu jauh dari kata realistis," tukas Amara merasa rendah diri.
"Isss.... Nggak usah banyak cingcong. Mau jalan sendiri, diseret, atau digendong?" tawar Sagara tak menerima negosiasi lagi.
"Kabur aja kayaknya deh," jawab Amara tak bisa memutuskan.
"Kalau udah masuk sini, kamu nggak akan bisa pergi tanpa seizinku," ucap Sagara dengan tatapan mengintimidasi.
"Tapi..." bantah Amara tak diindahkan lagi oleh Sagara.
Dengan cepat, Sagara pun menggenggam tangan Amara dan menarik gadis itu untuk masuk ke rumah keluarga besarnya. Ia pun tak memedulikan Amara yang terus meronta lirih di belakangnya. Semakin gadis itu mencoba melepaskan diri, ia pun makin mengeratkan cekalannya.
Sesampainya di ruang keluarga, ternyata Opa Hendra sedang berdiskusi dengan Oma Sari dan orang tua Sagara, Bu Ning dan Pak Darma. Kehadiran Sagara pun langsung menyita perhatian mereka dan meredam diskusi seketika. Ruang keluarga pun diliputi hening sesaat. Kemudian berganti menjadi tegang dengan napas yang memburu.
"Sagara mau menikah!" ungkap Sagara dengan lantang di depan keluarganya sambil menunjukkan Amara yang terus menunduk.
Saat Amara mengangkat kepala, Bu Ning dan Pak Darma pun sontak saja berdiri dengan tatapan sangsi. Berbeda dengan respon Oma dan Opa Sagara yang tetap duduk di tempat namun tatapan mereka seakan ingin menelanjangi Amara dari ujung rambut sampai kaki.
Tanpa sepatah kata pun, Bu Ning berlari meninggalkan ruang keluarga menuju kamar dengan ekspresi yang sangat ganjil. Tak ada pamit atau sapaan hangat. Rasanya, hening menjadi lebih mencekam di ruangan itu setelah kepergian Bu Ning.
Amara tentu langsung mencelos melihat sikap Bu Ning yang menunjukkan gelagat macam tak suka. Terlebih, saat melihat Pak Darma yang menatapnya sembari menggelengkan kepala. Itu membuat ketakutan akan penolakan kian membuncah.
Apa aku harus memperjuangkan restu untuk kedua kalinya? Tapi, tidak, tidak. Ini hanya pernikahan kontrak jadi nggak perlu berpikir sejauh itu. Tapi, nggak nyaman kalau seperti ini. Ucap Amara pada diri sendiri.
"Nggak ada opsi lain?" tanya Pak Darma mencoba menggoyahkan pendirian putranya.