Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.
Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.
Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.
Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Sebelum dimulai, waktu dan lokasi di luar negeri karena lagi bosen menulis di Indonesia terus. HAPPY READING ya guys!!!
"Sejujurnya Katie Wilson, Tante harus akui kalau kamu sama sekali tidak berbakat jadi orang yang hidup tenang dan jauh dari urusan duniawi."
Katie sudah terbiasa dengan kebiasaan tantenya yang suka bicara blak-blakan. Dia memilih mengabaikan komentar itu dan fokus menyelesaikan pemberian vaksin pada balita yang sedang menangis kencang di atas meja periksa.
"Dia sehat-sehat saja," ucap Katie sambil menyerahkan balita itu kembali ke ibunya yang masih muda. "Bawa ke sini lagi dalam waktu enam minggu untuk dosis kedua ya. Atau bisa lebih cepat kalau ada yang bikin khawatir."
"Terima kasih, Dokter Katie. Terima kasih, Tante Margaret," ucap wanita itu dengan senyum malu-malu sebelum melangkah pergi.
Katie menghela napas lega sambil melihat ke arah klinik yang mulai sepi. "Aku sempat berpikir pasiennya tidak akan habis-habis. Aku benar-benar butuh es teh sekarang, rasanya haus sekali."
"Yang Tante butuhkan sekarang adalah jawaban," sahut Tante Margaret dengan nada serius.
Sambil membantu Katie membereskan sisa-sisa peralatan medis di klinik, Tante Margaret terus memperhatikannya.
Katie tersenyum tulus ke arah tantenya. "Kalau begitu, kenapa Tante tidak tanya saja apa yang mau Tante tahu?"
Di luar dugaan, tantenya tidak balas tersenyum.
"Ini bukan bahan bercandaan, Katie. Kalau kamu tidak mau fokus ke kehidupan pengabdian yang tenang, sebenarnya apa yang kamu cari dalam hidup ini?"
"Tante Margaret, aku gerah, capek, badanku kotor, dan..."
"Dan kamu mencoba menghindari pertanyaanku," potong Tante Margaret cepat. "Tante serius. Sudah saatnya kamu memikirkan hal ini baik-baik."
"Aku akan memikirkannya, segera setelah—"
"Sekarang." Suara Tante Margaret terdengar tegas dan tidak bisa dibantah. Katie pun menyerah. Percuma mendebat tantenya kalau suasana hatinya sudah seperti ini. Lebih baik diikuti saja maunya.
"Apa yang aku mau dalam hidup?" Katie mengulangi pertanyaan itu sambil menatap ke luar jendela klinik, ke arah sekumpulan anak kecil yang sedang asyik bermain di bawah sinar matahari yang terik.
"Anak-anak," ucap Katie pelan, lalu mengulanginya lagi karena kata itu terdengar sangat pas di telinganya. "Anak-anak. Aku ingin punya anak sendiri. Mungkin tiga, atau empat."
Tantenya mengangguk. "Itu masuk akal. Salah satu alasan kenapa kamu menjadi perawat anak yang hebat adalah empati besarmu pada mereka. Tapi Tante harus ingatkan, kalau mau punya anak, kamu butuh seorang pria."
"Oh ya? Masa?" Katie menyeringai ke arah wanita tua itu.
"Sudah saatnya ada yang memberitahumu hal ini," sahut Tante Margaret ketus. "Lagipula, kamu tidak akan mungkin menemukan calon suami di klinik terpencil yang isinya cuma relawan dan orang-orang sibuk seperti ini."
Katie merasa pundaknya menegang. Perasaan minder yang sudah sangat akrab baginya kembali muncul dari dalam hati. "Sepertinya aku memang tidak akan bisa menemukannya di mana pun."
"Omong kosong!" balas Tante Margaret dengan semangat. "Wanita semanis kamu?"
Katie meniup sehelai rambut merah gelapnya yang keluar dari cepol dan menutupi wajah. Ia menunduk menatap seragamnya yang kusut dan penuh noda setelah seharian menangani banyak pasien anak.
"Tante membela aku karena Tante sayang saja, jadi logikanya agak tidak jalan," gumam Katie. "Lagipula, mungkin aku memang sudah menghabiskan empat tahun terakhir di sini, tapi kalau Tante ingat, sebelumnya aku tinggal di kota besar dengan jutaan pria di sana. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan keinginan sedikit pun untuk menikahiku."
"Dan itu salah siapa? Kamu selalu saja terlalu sensitif karena merasa sedikit berisi—"
"Gendut," koreksi Katie. "Aku bukan sedikit berisi. Aku gendut."
"Terserah!" Tante Margaret mengibaskan tangan, tidak peduli. "Intinya adalah sekarang kamu sudah tidak kelebihan berat badan lagi. Tidak ada yang menghalangimu untuk pergi keluar dan mencari pria untuk menjadi ayah dari anak-anak yang kamu impikan itu."
Katie menahan napas. Kalau dia cuma butuh "pendonor", mungkin tantenya benar. Tapi bukan itu saja yang dia mau. Dia ingin lebih, jauh lebih banyak. Dia ingin seseorang yang tertarik padanya sebagai manusia, bukan sekadar pasangan. Seseorang untuk diajak bicara, berbagi harapan, dan ketakutan. Seseorang untuk membangun masa depan bersama.
Sayangnya, kalau melihat dari cerita teman-temannya yang masih jomblo, pria seperti itu lebih langka daripada mukjizat.
Dan bahkan jika sebuah keajaiban terjadi dan dia bertemu pria yang sesuai kriterianya, itu tetap tidak akan membantu. Katie tidak punya ide sedikit pun tentang bagaimana cara menarik perhatian pria. Dan itulah inti masalahnya.
Dia tidak tahu cara menggoda, cara mengobrol, atau cara menjalin hubungan dengan pria. Dia sama sekali tidak punya pengalaman. Baginya, pria mungkin sudah dianggap seperti spesies lain yang sangat asing.
"Bagus, kalau begitu kita sudah sepakat," sahut Tante Margaret tiba-tiba.
Tante Margaret menganggap diamnya Katie sebagai tanda setuju. "Kamu akan pulang ke Hamilton, cari suami, dan punya anak-anak yang bisa meramaikan masa tua Tante. Apalagi sekarang mau musim gugur, pemandangan di Pennsylvania pasti sedang cantik-cantiknya," tambahnya sebagai rayuan.
Katie tersenyum tipis, meski terasa berat. Seandainya saja semuanya semudah ucapan tantenya. Tante Margaret sepertinya memang tidak pernah merasakan rasa minder dan ragu yang selalu menghantui Katie.
"Tante akan pesankan tiket pesawatmu sore ini."
Katie terbelalak. "Sore ini? Kenapa buru-buru sekali?"
"Kamu tidak akan bertambah muda. Kalau menunggu waktu yang benar-benar pas, kamu tidak akan pernah pergi dari sini. Tempat ini akan selalu punya masalah atau krisis baru."
Tante Margaret berbalik untuk pergi, lalu tiba-tiba berhenti sambil berdecak kesal. "Hampir saja Tante lupa tujuan awal ke sini. Ada surat untukmu di tas surat." Ia mengeluarkan amplop putih panjang dari saku dan menyerahkannya kepada Katie.
Dengan antusias, Katie melihat alamat pengirimnya, berharap itu surat dari teman lama. Namun, ekspresinya langsung berubah masam.
"Kabar buruk?" tanya Tante Margaret.
"Bukan, cuma berita lama. Ini dari firma hukum yang mau membeli tanah rumah Mama dan Papa. Ingat kan, aku pernah cerita soal tawaran mereka? Katanya ada klien yang mau membangun pabrik atau semacamnya di sana."
"Kamu masih tetap tidak mau menjualnya?"
"Iya. Aku tumbuh besar di rumah itu. Meski Mama dan Papa sudah meninggal dan aku sudah tidak tinggal di sana sejak lulus SMA, aku tetap menganggapnya sebagai rumah. Kalau aku menjualnya, aku merasa tidak punya tempat tinggal lagi." Rasa panik mendadak menyerang hati Katie.
"Itu alasan tambahan kenapa kamu harus segera cari suami. Manusia itu seharusnya merasa 'memiliki' satu sama lain, bukan terikat pada sebuah tempat," ucap Tante Margaret sambil melangkah pergi.
Beruntung sekali kalau aku bisa sepercaya diri itu, batin Katie. Ia berharap setidaknya punya sedikit saja ketegasan seperti tantenya. Ia menyandarkan punggungnya ke meja periksa dan merobek amplop itu.
Katie membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas di dalamnya. Seperti dugaannya, itu adalah tawaran lain untuk membeli asetnya, hampir sama persis dengan surat-surat yang dia terima selama delapan belas bulan terakhir. Satu-satunya yang berubah hanya harga yang mereka tawarkan.
Katie mengerutkan kening saat melihat lebih dekat coretan tanda tangan di bagian bawah kertas. Ternyata ada satu hal lagi yang berbeda—tanda tangannya. Bukannya ditandatangani oleh pengacara bernama Blandings seperti surat-surat sebelumnya, surat kali ini ditandatangani langsung oleh pimpinan perusahaan yang menginginkan tanahnya, yaitu M.J. Barrington.
"M.J. Barrington," gumamnya. Mark Joseph Barrington? Mungkinkah ini Mark—maksudnya, Mark Barrington yang dia kenal? Bukan berarti Mark pernah menjadi miliknya. Faktanya, saat mereka masih kecil, Mark seolah tidak memiliki siapa pun. Katie tidak ingat pernah melihat orang dewasa menemani Mark di acara sekolah, atau berdiri di pinggir lapangan untuk menyemangatinya saat ada pertandingan olahraga. Mark selalu terlihat sendirian, baik secara fisik maupun mental.
Namun di balik sikap dinginnya, Mark punya sisi yang sangat baik. Sisi yang Katie temukan saat dia masih kelas dua SD. Waktu itu, Katie sedang berdiri di taman bermain setelah sekolah sambil menangis karena dua anak laki-laki kelas lima mengambil boneka kesayangannya dan membenturkan kepala boneka itu ke aspal, sambil mengejek bahwa anak gendut tidak pantas punya boneka.
Seolah menjawab tangisannya, Mark muncul dari gedung sekolah dan datang menyelamatkannya. Mark menghajar salah satu anak itu sampai mimisan, mengusir mereka berdua, lalu memberi tahu Katie bahwa menangis tidak akan membantu apa pun. Hanya tindakan nyata yang bisa menyelesaikan masalah.
Setelah kejadian itu, Mark selalu mengantarnya pulang sekolah, yang secara otomatis menghentikan ejekan jahat yang selama ini Katie terima. Tidak hanya itu, Katie jadi punya teman. Meski Mark orangnya agak kaku, kenyataan bahwa dia tidak pernah sekalipun mengejek fisik Katie membuatnya terlihat sempurna di mata Katie. Pertemanan mereka bertahan sampai akhirnya Mark pergi kuliah dan mereka kehilangan kontak.
Katie menatap kembali tanda tangan di kertas itu. Mungkinkah itu Mark? Apa Mark benar-benar berhasil membangun perusahaan besar dari nol? Katie mengakui bahwa hal itu sangat mungkin terjadi. Jika ada satu orang yang punya ambisi dan kemauan keras untuk sukses, orang itu adalah Mark.
Sambil melamun, ia memasukkan surat itu ke dalam sakunya. Alih-alih menulis surat balasan untuk menolak tawaran mereka seperti yang biasa ia lakukan, Katie memutuskan untuk menemui langsung M.J. Barrington ini setibanya ia di Hamilton nanti. Rasanya akan sangat menarik untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok di balik nama itu.