Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan satu malam
"Ahh…"
Raisa Maureen mengerjap pelan, kepalanya masih terasa berat. Ia menoleh ke samping—dan seketika tubuhnya menegang.
"Ini… apa yang terjadi semalam…?" gumamnya lirih, suaranya bergetar.
Matanya membesar saat menyadari siapa yang ada di sampingnya.
"Mas Evan…?"
Napas Raisa tercekat. Dengan ragu, ia mengintip ke balik selimut, lalu menelan ludahnya kasar.
"Aku… dan dia… bahkan nggak pakai apa-apa…?"
"Aaaaa!" teriak Raisa tiba-tiba, spontan menendang tubuh Evan sampai pria itu jatuh dari ranjang.
"Auuh...sakit!" Evan meringis dari lantai. "Kamu kenapa sih, teriak-teriak pagi-pagi? Padahal semalam—"
"Mas!" Raisa buru-buru memotong, wajahnya merah padam. Ia menutup matanya dengan kedua tangan, tapi masih mengintip dari sela-sela jari. "Kenapa nggak pakai celana sih?!"
Evan malah menghela napas santai, sama sekali tidak terlihat panik.
"Bukannya kita udah saling lihat… bahkan lebih dari itu?"
"Ihh, mas Evan mesum!" Raisa meraih bantal dan melemparkannya. "Keluar dari kamar aku sekarang juga!"
Evan menangkap bantal itu, lalu menyeringai tipis.
"Wah, habis dipakai langsung dibuang nih? Semalam siapa yang—"
"Mas, diem!" Raisa makin panik. "Kalau mama sama papa tiba-tiba masuk gimana?! Mereka bisa mikir macam-macam!"
Evan bangkit perlahan, menatap Raisa dengan ekspresi serius.
"Bukannya… kita memang sudah melakukan sesuatu?"
Raisa terdiam sesaat, lalu menggigit bibirnya gelisah.
"Itu karena mas semalam mabuk!" balasnya cepat. "Kita… kita melakukan hal yang nggak seharusnya…"
Evan mendekat sedikit, matanya menyelidik.
"Kamu… nyesel?"
"Iya!" jawab Raisa tanpa ragu, meski suaranya bergetar. "Karena mas bukan suami aku…"
Hening sejenak.
Evan menatapnya lebih dalam.
"Lalu… kenapa kamu masih perawan—" ia menggantung kalimatnya, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan, "bukannya kamu sudah menikah dengan Aditya lima bulan lalu?"
Raisa mengernyit, bingung.
"Maksud mas… apa?"
Evan menatapnya tajam.
"Semalam… kamu berdarah, kan?"
Raisa langsung membeku.
"Aku…"
Kalimatnya terhenti. Dadanya naik turun, pikirannya kacau, seolah mencoba memahami sesuatu yang bahkan ia sendiri belum siap untuk mengakuinya.
"Lima bulan menikah… rasanya nggak mungkin kalian nggak pernah melakukan hubungan sebagai suami istri. Apalagi… suami kamu baru meninggal dua minggu lalu, ditusuk pria lain," ucap Evan pelan, tapi penuh tekanan.
Raisa langsung menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca.
"Mas Aditya nggak mau menyakiti aku…" suaranya lirih, hampir seperti berbisik.
Evan mengernyit, bingung dengan jawaban itu.
"Menyakiti?" ulangnya, sedikit mendekat. "Bukan begitu maksudnya, Raisa… hubungan suami istri itu bukan soal menyakiti."
Raisa menunduk, jemarinya saling meremas gelisah di atas selimut.
"Aku tahu…" katanya pelan. "Tapi mas Aditya selalu bilang… dia mau nunggu aku benar-benar siap. Dia nggak pernah maksa… bahkan sedikit pun."
Evan terdiam sejenak, menatap wajah Raisa yang terlihat rapuh.
"Jadi selama lima bulan… kalian benar-benar nggak pernah melakukan hubungan intim…?" tanyanya memastikan.
Raisa menggeleng lagi, kali ini lebih pelan.
"Nggak pernah…" jawabnya jujur, suaranya bergetar. "Dia selalu jaga aku. Bahkan di malam pertama pun… dia cuma peluk aku, bilang kalau aku nggak perlu takut."
Evan menghela napas panjang, seolah mencoba mencerna semuanya.
"Tapi semalam kamu menikmatinya bukan takut…" gumamnya.
Raisa langsung menutup wajahnya, malu sekaligus bingung.
"Jangan bahas itu, mas…" katanya cepat. "Aku juga nggak ngerti kenapa semuanya bisa sejauh itu…"
Evan menatapnya dalam, suaranya melembut.
"Karena kita sama-sama kehilangan kendali…"
Raisa terdiam. Dadanya terasa sesak.
"Dan kamu berdarah semalam…" lanjut Evan hati-hati. "Itu artinya—"
"Cukup, mas…" potong Raisa cepat, suaranya hampir pecah. "Aku nggak mau mikirin itu sekarang…"
Hening sejenak.
Evan akhirnya mengangguk pelan, lalu berkata lebih lembut,
"Oke… aku nggak akan maksa kamu bahas sekarang."
Raisa menarik napas dalam, tubuhnya masih gemetar. Selimut dipeluknya erat seolah itu satu-satunya pelindung yang ia punya saat ini.
Evan menatapnya serius, nada suaranya kini jauh lebih tegas.
"Tapi satu hal… kalau sampai kamu hamil, aku bakal tanggung jawab. Semalam… kita nggak pakai pengaman."
Kalimat itu seperti petir di siang bolong bagi Raisa.
Ia terdiam, matanya membesar.
"Benar juga…" batinnya mulai kacau. "Gimana kalau aku hamil… sementara suami aku baru aja meninggal…?"
Jantungnya berdegup kencang, pikirannya berlari ke segala kemungkinan buruk.
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya