Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
HAPPY READING
"Ning Moza". Suara yang selalu dirindukan oleh kediaman Abah.
"Mas Haidar?! ".terkejutnya Ning Moza lalu berlari menghambur dalam pelukan Gus Haidar.
Siapa kediaman Abah yang tidak merindukan Gus Haidar?. Bahkan sudah 2 tahun Gus Haidar tidak pulang ke Indonesia. Alasanya hanya satu Gus Haidar ingin menyandang gelar S-3 ny Amerika kembali ke Indonesia, ia ingin membuktikan pada Abah dan Umik.
Satu tahun yang lalu
"Mulih o kono Mas, wes dangu awakmu tinggal di negaranya orang".kata umik ketika sedang bercakap dengan Gus Haidar lewat telepon.
"Injih Mik, nanggung, sebentar lagi Haidar pulang. Setelah S-3 Haidar akan_".
" Mau sampek S-3 mu rampung?".kata Abah memotong perkataan Gus Haidar.
"Injih Bah, S-3 selesai. Haidar mantuk".
"Apa kamu ndak pengen ketemu Abah sama Umik?". Tanyanya Umik
"Leres Mik, Haidar rindu Abah Umik, sama adik adik Haidar".
"Yo kenopo ndak wangsul wae? Moza kuwi sering nanyain kamu. Kapan kamu wangsul e wes dangu kok ra Wangsul-wangsul?".
"Injih Mik, secepatnya. Ridhonya Abah Umik InsyaAllah tahun ini Haidar sampun sedoyo" kata Gus Haidar dengan menyakinkan Abah sama Umik.
***
"Mas Haidar kapan pulang nya kok Moza nggak tau?".Tanya Ning Moza dengan cembetut.
"Ya gimana kamu tau loh. Orang kamu sam Bang Raffi di rumahnya Bu dhe kok".
"Ya tapikan Mas Haidar bisa kasih tau Moza kalo mau pulang". Kesalnya Ning Moza. Pasalnya Gus Haidar sudah dirumah 3 hari tanpa memberi tahu dirinya.
"Mau kasih suprise buat adiknya Mas yang suka nanya-nanya ke Umik. Umik kapan Mas Haidar pulang Mik, Moza kangen pengen ketemu kan udah 2 tahun nggak pulang".
"Ish.Apaan sih?. Umikkkkkkk..... ".kata Ning Moza dengan menghampiri Umik yang sedang di ruang keluarga bersama Abah, Gus Raffi, dan Gus syafiq.
"Ada apa tetiak-teriak panggil Umik?".Tanya Gus Syafiq dengan nadanya uang dingin itu. Mampu membuat Ning Moza menundukkan kepalanya.
"Ndak ada apa-apa" jawabnya Ning Moza seadanya yang masih dengan menundukkan kepalanya.
Kalau mirsani itu bukan seperti itu. Lihat Moza jadi takut sama kamu Fiq".Tegurnya Gus Raffi, Gus Syafiq hanya diam.
"Sudah-sudah Ada apa, Nduk?". Tanya Abah lembut.
"Mboten wonten nopo-nopo Abah" kata Ning Moza dengan duduk di samping Umik.
"Kenapa Mas mu tah?". Tebaknya Umik pas sasaran, ketika Gus Haidar sedang berdiri di ambang pintu.
"Iya Umik. Umik kok mboten sanjang kalo Mas Haidar wangsul".
"Umik mau ngasih tau, tapi di larang Mas mu jarene ape kasih kamu suprise".
"Suprise dari mana coba mik? Bikin kesel itu baru bener".
"Yasudah loh. Ya masa gitu wae ngerajuk, nggak tak kasih oleh-oleh kalo gitu".godanya Gus Haidar.
*****
Suasana malam yang indah mampu membuat Ning Moza merasa betah berdiri di balkon kamarnya dengan menikmati angin malam.
"Ning". Suara yang sangat familiar di penginderaan Ning Moza.
"Masuk" kata Ning Moza dengan menatap Gus Syafiq yang sedang berdiri di ambang pintu kamar Ning Moza.
"Wonten nopo? "Akhirnya Ning Moza lah yang memulai percakapan, awalnya Ning Moza ingin Gus Syafiq yang memulai tapi itu tidak mungkin. Ning Moza sudah sangat hapal diluar kepala dengan Abang nya itu yang cuek nya super duper.
"Duduk dulu" kata Gus Syafiq menepuk sofa disamping nya.
Ning Moza menurut saja. Dari pada nanti memunculkan keributan.yah, walaupun itu tidak mungkin terjadi.
"Ngampuntene soal tadi sore. Abang ndak bermaksud untuk marah sama kamu". Kata Gus Syafiq dengan menatap Ning Moza datar.
"Iya ndak pa-pa. Lagian Moza nya aja yang lebay sape kaya gitu".
"Abang mau nanya sesuatu sama kamu" kata Gus Syafiq dengan tatapanya yang masih datar.
"Monggo".
"Kamu beneran mau meneruskan sekolah di Jakarta?". Tanya Gus Syafiq membuat Ning Moza yang awalnya menundukkan kepalanya dengan cepat menatap Gus Syafiq dengan tatapan yang tak bisa di mengerti oleh Gus Syafiq.
"Kenapa Bang Syafiq nanya kaya gitu? Kan Bang Syafiq sudah tau kalau itu salah satu impian Moza".
"Iya Abang tahu, apa tidak kejauhan? Jakarta itu lumayan jauh dari disni" kata Gus Syafiq
"Hehehe". Tawanya Ning Moza "Kenapa malah tertawa? Ini serius! ".
"Iya-iya Moza minta maaf. Moza ndak bermaksud apa-apa, cuman Jakarta itu ndak jauh kok. Lagian Bang Syafiq sendiri yang bilang pada Moza kalo Moza harus kejar impian Moza. Abang nggak lupa kan?dan Jakarta adalah salah satunya" jelas Ning Moza
"Mana mungkin Abang lupa?".
"Ya sudah berati no problem kan?".
"Memangnya kamu yakin?".
"InsyaAllah Moza yakin. Moza juga sudah sholat istikharah dan hasil nya Alhamdulillah seperti yang Moza inginkan".
"Kenapa nggak waktu kuliah saja?".
"Dan kenapa Bang Syafiq baru sekarang nanya soal Jakarta?. Abang nggak setuju kalo Moza ke Jakarta?".
"Ya.Abang memang tidak setuju".
"Kenapa? Abang nggak suka liat Moza meraih impian Moza?! Kenapa baru sekarang Abang bilang kalo nggak setuju kenapa nggak jauh-jauh hari?! 3 hari lagi Moza berangkat. Apa dengan segampang itu Bang Syafiq bilang nggak setuju, lalu Moza bakalan membatalkan keberangkatan ke Jakarta?! _".
"NGGAK GITU!!. DENGERIN ABANG NING_".
*DENGERIN APA?! DENGERIN ABANG KALO ABANG BAKALAN MEMBATALKAN SEMUANYA?! NGGAK SEGAMPANG ITU!!".
"MOZA!!" Bentak Gus Syafiq membuat Ning Moza menundukkan kepalanya.
"Abang nggak bermaksud seperti itu. Abang cuman ingin kasih kamu saran_".
"Dan Moza nggak akan turuti saran Bang Syafiq".
"OK TERSERAH KAMU!! LAKUKAN SEMAU KAMU!!" Bentuknya Gus Syafiq lagi. Kau Gus Syafiq meninggalkan Ning Moza yang sudah dibanjiri air mata.
*****
Setelah insiden malam itu, membuat Gus Syafiq dan Ning Moza tidak saling tegur sapa. Padahal besok hari dimana Ning Moza harus berangkat ke Jakarta. Keduanya tidak ada yang mau ngalah. Sama-sama memenangkan egonya walaupun hanya untuk sekedar tersenyum ketika berpapasan.
"Ning".panggilnya Mbak Dania mbak2 ndalem yang dikhususkan untuk membantu Ning Moza.
" Ada apa mbak?" kata Ning Moza
"Emmm.Ning sampun baikan dereng kalehan Gus Syafiq?".Tanya mbak Dania
"Bang Syafiq yang mulai duluan mbak".jawabnya Ning Moza dengan menatap mbak Dania sekilas.
"Nopo mboten nyuwun maaf e riyen kaleh Gus Syafiq? Menurut e kulo Gus Syafiq itu niatnya bagus kok".
"Mbak Dania kenapa belain Bang Syafiq?".
"Mbak teh ndak bermaksud belain Gus Syafiq. Cuman kalo nunggu Gus Syafiq itu lama. Masak berantem? Kan berantem ndak boleh apalagi sampai lebih dari tiga hari".
"Intinya itu sama aja mbak. Mbak Dania belain Bang Syafiq".
"Mboten Ning".sangkalnya mbak Diana
"Udah mbak, Moza nggak mau bahas tentang merapikan buku bukunya yang akan di bawa ke Jakartaa nanti, itung itungkan buat prepare ke Jakarta.