Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WAJAH KECIL YANG MENGHENTIKAN WAKTU
BAB 16 — WAJAH KECIL YANG MENGHENTIKAN WAKTU
Sore itu, suasana Jakarta terasa begitu padat, panas, dan bising.
Jalanan di depan komplek perumahan ramai sekali. Deru motor dan mobil silih berganti, suara klakson bersahutan, serta hiruk-pikuk pedagang kaki lima menciptakan suasana khas kota besar.
Leo berjalan di samping ibunya sambil melompat-lompat kecil penuh semangat, tangannya menggenggam tangan Keisha erat.
“Mama, nanti beli es krim cokelat ya?”
“Iya, asal kamu jangan rewel.”
“Aku enggak pernah rewel kok,” bantah anak itu dengan wajah polos.
“Barusan siapa yang ngambek di rumah minta dibelikan mainan?” goda Keisha.
Leo terkikik lalu menyembunyikan wajah di lengan baju ibunya, membuat Keisha tersenyum tipis. Hanya Leo yang selalu bisa membuat beban di dadanya terasa jauh lebih ringan.
Mereka berhenti tepat di garis penyeberangan saat lampu sinyal masih berwarna merah.
Matanya Leo tiba-tiba tertuju pada sebuah kios mainan kecil di seberang jalan.
“Mama! Lihat! Ada mobil-mobilan!” serunya antusias.
“Nanti dulu ya, tunggu lampunya hijau.”
“Tapi itu lucu banget, Ma...”
“Leo, dengar kata Mama,” tegur Keisha lembut namun tegas.
Anak itu mendesah panjang dengan gaya dramatis persis seperti orang dewasa yang kecewa, membuat Keisha tertawa kecil melihatnya.
Di saat yang sama, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat beberapa meter dari zebra cross tersebut.
Di dalam kabin mobil yang dingin dan tenang, Arsen sedang sibuk membaca laporan penting di tablet yang ia pegang.
“Jadwal makan malam dengan klien hari ini dipindah ke pukul delapan, Tuan. Masih tetap jadi?” tanya asistennya dari kursi depan dengan hati-hati.
“Hm.”
“Dan pihak keluarga Wijaya menanyakan soal kerjasama proyek baru—”
“Tolak,” potong Arsen dingin tanpa menoleh.
Asisten itu langsung diam dan menutup mulut, tak berani menambah pertanyaan lagi.
Arsen menutup layar tablet di tangannya, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil dengan wajah datar dan bosan.
Matanya bergerak malas menyapu kerumunan orang di trotoar...
Hingga tiba-tiba berhenti total.
Di sana, berdiri seorang anak laki-laki kecil yang sedang menunjuk-nunjuk sesuatu dengan antusias.
Wajah anak itu...
Tubuh Arsen seketika menegang kaku.
Rahangnya mengeras seketika.
Tatapan matanya berubah tajam dan membeku.
Anak itu memiliki mata yang sangat familiar.
Alis yang tegas.
Tatapan yang lurus dan tajam.
Bentuk bibir dan garis rahang yang anehnya... sangat ia hafal di luar kepala.
Seolah-olah ia sedang melihat cermin... versi kecil dari dirinya sendiri yang berusia lima tahun.
Arsen menatap tanpa berkedip sama sekali, napasnya tertahan di dada.
“Aneh...” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Lalu anak kecil itu menoleh ke samping untuk bicara pada seseorang di sebelahnya...
Dan seketika itu juga, dunia milik Arsen seakan berhenti berputar.
Di samping anak itu, berdiri seorang wanita dengan rambut diikat sederhana, mengenakan pakaian kasual yang sederhana namun tetap cantik, sedang tersenyum sambil memegang tangan si kecil.
Keisha.
Tablet yang ada di tangannya terlepas dan jatuh menimpa jok kulit mobil dengan suara pelan, namun ia tak peduli.
“Buka pintu,” ucapnya dengan suara rendah yang terdengar mengerikan.
“Tuan? Mau turun sekarang?” tanya asistennya bingung.
“SEKARANG!”
Keisha sedang merapikan anak rambut Leo yang berantakan tertiup angin, ketika tiba-tiba bulu kuduknya meremang seluruhnya.
Entah kenapa, ia merasakan sensasi aneh... seakan ada sepasang mata yang sedang menatapnya tajam dari jarak jauh.
Ia menoleh perlahan ke arah jalan raya di sebelahnya.
Dan napasnya seketika tercekat dan berhenti total.
Di dalam mobil hitam mewah yang berhenti di lampu merah itu...
Arsen duduk di sana, menatap lurus tepat ke arah matanya.
Mata mereka bertemu.
Dalam sepersekian detik, lima tahun waktu seakan lenyap begitu saja.
Wajah pria itu kini terlihat lebih dewasa, garis rahangnya lebih tegas, auranya lebih tajam dan dingin dari yang ia ingat.
Namun tatapan mata itu... tatapan itu sama persis.
Tatapan yang dulu pernah membuat hidupnya jungkir balik dan hancur berkeping-keping.
Jantung Keisha berdetak begitu kencang hingga rasanya ingin meledak keluar dari rongga dada.
Tidak.
Tidak sekarang.
Tidak boleh begini caranya.
Tepat saat itu, lampu penyeberangan berubah menjadi hijau.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa sadar, insting bertahan hidupnya mengambil alih. Keisha menarik tangan Leo sekuat tenaga.
“Jalan, Leo! Cepat!”
“Mama? Kenapa?”
“Ayo jalan cepet!”
Pintu mobil terbuka lebar dan Arsen melangkah turun tepat saat Keisha mulai berlari menyeberang jalan.
“KEISHA!”
Suara berat dan seraknya itu menghantam udara sore, cukup keras untuk didengar meski di tengah keramaian.
Keisha tak berani menoleh sedikit pun.
Ia menggenggam tangan anak itu makin erat, hampir mencengkeram, dan mempercepat larinya sekuat tenaga.
“Mama... kenapa lari?” tanya Leo terengah-terengah dan bingung.
“Lari terus, Sayang! Jangan berhenti!”
Arsen berjalan cepat mengejar, namun arus lalu lintas mulai bergerak kembali dan mobil-mobil menghalangi pandangan serta jalannya.
“Geser semua mobil ini! Minggir!” bentaknya pada sopir dan orang-orang di sekitarnya dengan amarah yang meledak-ledak.
Suara klakson bersahutan menjadi satu.
Keisha dan Leo sudah berhasil sampai di seberang jalan dan langsung masuk menyelinap ke sebuah gang kecil di samping ruko.
Arsen menerobos di antara celah mobil dan motor tanpa peduli pada keselamatannya sendiri.
“KEISHA!!!”
Keisha berlari dengan napas memburu dan kacau, dadanya terasa sesak luar biasa.
“Mama... tangan Leo sakit...” rengek anak kecil itu.
Mendengarnya, Keisha langsung memperlambat langkahnya, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam pelukannya dan terus berlari memeluknya erat.
Tubuhnya gemetar hebat.
Kepanikan total menguasai seluruh pikirannya.
Kenapa harus hari ini?
Kenapa harus sekarang?
Kenapa Tuhan begitu kejam mempertemukan mereka di saat seperti ini?
Ia menoleh ke belakang berkali-kali.
Gang itu tampak kosong dan sepi.
Namun ia tahu betul... pria itu tidak akan berhenti hanya karena hilang pandang sesaat.
Arsen berdiri tegak di mulut gang, napasnya naik turun dengan keras dan kasar. Matanya menatap sekeliling dengan tatapan membunuh.
Tak ada siapa-siapa di sana.
Ia terlambat hanya beberapa detik saja.
Namun anehnya, pikirannya saat ini bukan tertuju pada Keisha yang telah melarikan diri lagi.
Pikirannya tertuju sepenuhnya pada anak kecil itu.
Wajah itu.
Usia yang terlihat sekitar lima tahun.
Waktu yang tepat sejak kejadian malam itu.
Fakta bahwa Keisha menghilang begitu saja lima tahun lalu.
Dan sekarang ia muncul kembali... membawa seorang anak laki-laki yang wajahnya persis seperti fotokopi dirinya.
Semua potongan teka-teki itu langsung menyatu dengan sempurna di kepalanya, membentuk sebuah kenyataan yang menyakitkan dan membuat darahnya mendidih seketika.
Arsen tertawa kecil... tawa yang dingin, datar, dan tanpa humor sama sekali.
“Berani sekali kamu menyembunyikan hal sebesar ini dariku, Keisha...” gumamnya pelan dengan nada yang sangat mengerikan.
Matanya berubah gelap dan tajam.
Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menekan satu nomor.
“Rian.”
“Ya, Tuan? Ada perintah apa?”
“Cari semua data tentang wanita bernama Keisha. Alamat rumah, nomor telepon, segala hal. Lakukan SEKARANG!”
“Keisha yang mana, Tuan? Nama lengkapnya?”
Arsen menatap kosong ke arah kegelapan gang di depannya, suaranya terdengar berat dan penuh penekanan.
“Wanita yang baru saja... menyembunyikan anakku selama lima tahun.”
Di dalam rumah, Keisha menutup pintu kamarnya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu menguncinya rapat-rapat seolah kunci itu bisa melindunginya dari segalanya.
Leo duduk di tepi ranjang, menatap ibunya dengan wajah bingung dan sedikit takut.
“Mama... om tadi siapa? Kenapa Mama lari?”
Keisha tak mampu menjawab sepatah kata pun.
Dadanya naik turun tak beraturan.
Air mata jatuh membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi.
Melihat ibunya menangis, Leo langsung turun dari ranjang dan berjalan mendekat, lalu memeluk kaki ibunya erat-erat.
“Mama jangan takut... ada Leo di sini...”
Kalimat polos dan lugu itu seakan menjadi palu terakhir yang menghancurkan pertahanan diri Keisha.
Ia berlutut di lantai, lalu menarik tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya sekuat tenaga, menangis tersedu-sedu di bahu anaknya.
“Maafkan Mama... maafkan Mama...”
“Mama kenapa nangis?” tanya anak itu polos sambil mengusap air mata ibunya.
Karena badai terbesar yang selama lima tahun ini ia lari dan sembunyi...
Akhirnya datang juga menerpa mereka berdua.
Malam itu, di penthouse mewahnya yang sunyi dan dingin.
Arsen berdiri tegak di depan jendela kaca besar yang memperlihatkan gemerlap kota Jakarta, dengan segelas whiskey di tangan yang sama sekali tak disentuhnya.
Di atas meja kerja di depannya, tertera satu buah foto hasil cetakan dari rekaman CCTV minimarket tadi sore.
Foto itu memperlihatkan Keisha yang sedang tersenyum...
Dan berdiri tepat di sampingnya, seorang anak kecil yang wajahnya begitu sempurna mirip dengannya.
Arsen menatap wajah anak itu di dalam foto lama sekali, jemarinya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
Lalu ia berkata pelan, namun setiap katanya terdengar begitu dingin dan pasti,
“Besok pagi... aku datang menjemput apa yang menjadi milikku.”
Bersambung...